Mereka kembali menyusuri hutan. Karena pepohonan dan semak belukar semakin rapat, mereka mengeluarkan senjata golok mereka untuk membuat jalan dan menyingkirkan belukar ataupun dahan dahan pohon yang melintang.
Setelah cukup jauh mereka masuk me dalam hutan, tiba tiba mereka dikejutkan dengan suara pekikan yang sangat nyaring.
Koooaaakkk !!!
Koooaaakkk !!!
Kemudian tercium bau yang sangat amis. Widura, Puguh dan yang lainnya sampai harus menggunakan tenaga dalam mereka untuk menutup jalan pernafasan mereka.
Saat mereka memasuki tanah yang cukup datar dan terbuka, hanya ditumbuhi rerumputan, mereka dikejutkan dengan dua sosok siluman ular di depan mereka.
Siluman ular raksasa sebesar batang pohon kelapa dengan panjang sekitar dua puluh meter. Yang satunya sedikit lebih kecil dengan panjang sekitar lima belas meter.
Tubuh siluman ular itu yang satu sisiknya berwarna hitam legam berkilau dan mata yang berwarna merah membara. Ekornya juga berwarna merah.
Siluman yang satunya berwarna putih tulang dengan mata dan ekor yang juga berwarna merah membara.
Begitu melihat ada manusia yang mendekatinya, mereka mengangkat kepalanya hingga setinggi lima meter. Tatapan matanya lurus ke arah keenam manusia yang berhenti dalam jarak tiga puluh meter dari tempat mereka. Tatapan mata yang mengintimidasi dan membuat Widura dan kelima temannya seperti dihipnotis dan berat untuk menggerakkan tubuhnya. Ditambah lagi bau amis dari uap keabu abuan yang keluar dari seluruh permukaan kulitnya.
"Cepat lindungi seluruh tubuh kalIan dengan tenaga dalam kalian !" teriak Widura yang menyadari keadaan bahaya.
Melihat enam manusia di depannya bisa melepaskan diri dari tekanan lewat sorot matanya, kedua siluman ular raksasa itu perlahan merayap mendekat.
Sssttt .... !!!
Sssttt .... !!!
Saat jaraknya tinggal sekitar sepuluh meter, kedua ular itu mengangkat kepalanya lebih tinggi lagi. Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, kepala kedua siluman ular raksasa itu meluncur turun menyambar ke arah mereka dengan mulut terbuka lebar.
Melihat datangnya serangan itu, Widura, Puguh dan keempat murid lainnya, melompat ke belakang untuk menghindar.
Merasa serangannya gagal, kedua siluman ular itu kembali menyerang, dengan caplokan mulutnya ataupun dengan sabetan ekornya.
Diserang secara beruntun, Widura, Puguh dan empat murid yang lainnya menghindar beberapa kali, kemudian masing masing mengeluarkan senjata goloknya.
Mereka berenam mencoba membalas serangan kedua siluman ular itu, dengan melompat menjauhi kepala ular memudian menyelinap dan mengarahkan sabetan goloknya ke arah badan kedua ular itu.
Taaakkk ! Taaakkk ! Taaakkk ! Taaakkk !
Widura dan yang lainnya terkejut, bacokan mereka tidak bisa melukai badan ular itu, walaupun mereka sudah mengalirkan tenaga dalamnya ke senjata golok mereka.
Bahkan setelah berkali kali mencoba membalas serangan dengan bacokan ke beberapa bagian tubuh kedua ular itu, bukannya membuat ular itu takut atau kesakitan. Sehingga pada suatu saat, kedua ular siluman itu menyabetkan ekornya dari arah yang berbeda. Karena posisi mereka yang tidak memungkinkan untuk menghindar, mereka pun mencoba untuk menangkis datangnya sabetan ekor itu.
Taaakkk ! Taaakkk ! Taaakkk !
Senjata golok mereka terpental dengan kerasnya dan akhirnya terlepas dari genggaman mereka.
Kedua ular itu terus saja menyerang. Bahkan serangan sabetan ekor kedua ular siluman itu akhirnya membuat Darutama, Kaneko dan dua murid utama terlempar hingga pingsan. Tinggalah Puguh dan Widura.
Karena tinggal mereka berdua, mereka akhirnya berdiri saling menunggungi karena dikepung dari muka dan belakang.
Karena tinggal mereka berdua, Puguh kembali memusatkan perhatiannya pada kedua ular siluman itu.
Pada suatu saat, kepala kedua ular siluman itu meluncur mendekat dengan mulut terbuka lebar siap mencaplok mereka.
Saat kepala ular itu sudah dekat, Puguh dan Widura menghindar dengan melompat tinggi ke atas hingga kepala kedua ular siluman lewat di bawah kaki mereka.
Pada waktu yang hanya sesaat, Puguh melihat punya kesempatan untuk menyerang. Dalam posisi yang masih di atas, tubuh Puguh meluncur ke bawah dengan cepat dengan kaki kanan dalam posisi siap menendang.
Buuuggghhh !!!
Baaammm !!!
Kepala siluman ular yang seluruh lapisan kulitnya berwarna hitam mengkilat, terpental dengan sangat kuat dan membentur batang pohon yang ada di dekatnya dan kemudian jatuh berdebum dengan kerasnya, terkena tendangan kaki kanan Puguh dan tidak bergerak lagi.
Dalam waktu yang bersamaan, Widura juga melepaskan tendangan kaki kanannya ke kepala siluman ular yang berwarna putih. Kepala siluman ular yang berwarna putih itu menjadi oleng gerakannya saat tendangan Widura tepat mengenai kepalanya. Namun, tubuh Widura terpental kembali ke atas.
Saat Widura terpental ke atas, tiba tiba datang serangan sabetan ekor dari siluman ular yang berwarna putih tulang dan tepat mengenai tubuh samping Widura.
Paaack !!!
Bruuukkk !!!
Widura terpental dan jatuh di tanah dengan kerasnya hingga pandangannya menjadi nanar dan perutnya mual.
Tinggal Puguh dan siluman ular yang kulitnya berwarna putih tulang yang masih bertahan.
Melihat semua temannya pingsan, berbagai perasaan berkecamuk di pikiran dan perasaan Puguh. Hal itu membuat Puguh secara reflek mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya.
Kemudian, dengan cepat, tubuhnya melesat ke arah siluman ular berwarna putih itu dan melayangkan tendangan dan pukulan ke kepala siluman ular itu.
Kepala siluman ular itu terpental cukup jauh dan menabrak beberapa batang pohon dan kemudian tidak bergerak lagi.
Melihat siluman ular itu sudah tidak bergerak lagi, sejenak Puguh terdiam sambil berdiri. Nafasnya sedikit terengah dan badannya bergetar karena sedikit memaksakan diri dalam mengeluarkan tenaga dalamnya.
Setelah bisa menguasai perasaannya, Puguh segera menghampiri Widura dan menayakan keadaannya. Widura mengatakan kalau tubuhnya terasa lemas dan sakit di seluruh tulang tulangnya.
Setelah beberapa saat dan Widura merasa cukup baik meadaannya, mereka berdua menolong temannya dan membawa mereka ke tempat yang lebih aman dan nyaman, dengan menggotong mereka secara bergantian.
Puguh mencoba menolong mereka sebisanya hingga akhirnya mereka semua siuman.
Mereka semua hanya bisa terdiam dan duduk untuk segera memulihkan tenaga dalam mereka.
Tanpa mereka sadari, mereka beristirahat selama semalam suntuk hingga pagi hari berikutnya.
Untungnya mereka berada di sarang kedua siluman ular, sehingga tidak ada hewan buas yang berani mengganggu mereka. Juga, di sarang siluman itu, tanahnya cukup datar dan kering, sehingga cukup nyaman untuk mereka beristirahat.
Setelah waktu memasuki pagi, Widura bertanya kepada teman temannya, apakah mereka masih berniat melanjutkan perjalanan mereka.
Dengan perasaan berat, mereka menjawab kalau mereka sudah tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan.
Kemudian, dengan berat hati, Widura memutuskan untuk menyuruh mereka pulang kembali ke Padepokan. Sedangkan dia bersama dengan Puguh akan melanjutkan melakukan tugas mencari kayu hitam.
----- * -----
Setelah mengantarkan keempat temannya hingga ke pinggir hutan, Puguh dan Widura segera masuk kembali ke dalam hutan untuk melanjutkan perjalanan mereka. Tanpa terasa, hampir setengah hari mereka menerobos hutan.
Setelah melewati wilayah hutan yang cukup terjal dan curam, sampailah mereka berdua di tempat yang tanahnya basah dan berlumpur.
Tanah berlumpur itu di beberapa tempat dipenuhi dengan akar akar dari pohon pohon yang telah tumbang ataupun dari pohon pohon yang tumbuh di sekitar tempat berlumpur itu.
Jika dilihat lebih teliti lagi, air pada lumpur itu terlihat menghitam dan lebih pekat dari air biasa.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
Abdul Rouf
inti siluman nya tak di ambil thor
2024-11-11
1
Solar Lardi
mantap gan ditunggu
2024-05-31
0
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Jooosssss 👍👍
2024-02-26
0