|(19) Masa Lalu|

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.

...•...

...•...

...•...

Sebelumnya :

Begitulah hari Zen yang berakhir dengan menyuruh Lin dan Leo untuk mengambil pakaian hampir satu orang lima pasang yang membuat kepala manajer menangis darah dengan melihat kerugian yang telah dibuat.

...| (❁❁) |...

“Kakak! Bagaimana penampilanku?” seru Lin sambal menghampiri Zen yang duduk di salah satu kursi yang tersedia.

“Hm, kurasa itu cocok untuk kalian,” ucap Zen memuji penampilan kedua anak yang baru saja berganti pakaian dengan pakaian yang diambil mereka berdua.

“Ah, terima kasih,” bisik Leo dengan wajah memerah malu.

“Tapi apa tidak apa-apa jika kita mengambil pakaian sebanyak ini?” lanjutnya merasa tidak enak.

“Tentu saja tidak apa-apa, lagi pula kamu mendengarnya sendiri bukan jika kepala manajer itu yang membiarkan kita mengambil sebebasnya?”

“Itu benar kak, lagi pula salah pegawai tidak tahu etika itu yang berani memperlakukan pembeli dengan seenaknya. Ini hanya bentuk kompensasi kepada kita saja kok,” balas Lin yang membuat Leo mengangguk pelan.

“Lalu kakak, ke mana lagi kita setelah ini?” tanya Lin dengan bersemangat yang diikuti dengan tatapan penuh antisipasi oleh Leo.

“Kalau begitu, lebih baik kalian mengikuti aku bukan?” ucap Zen dengan misterius lalu mulai melangkahkan kakinya untuk pergi.

“Emmm, rumah sakit?” tanya Lin dengan tidak yakin sambil mengamati gedung putih dihadapannya.

“Ayo kita masuk sekarang dan berhentilah terdiam di sana seperti itu,” ucap Zen sambil melangkahkan kakinya terlebih dahulu, meninggalkan kedua saudara itu sendirian.

“Kak Zen, tunggu aku!” seru Leo lalu menarik tangan Lin untuk segera mengikuti Zen.

“Ada yang bisa saya bantu, tuan?” tanya perawat yang berada di meja resepsionis.

“Ah, bisakah kalian membuatkan pemeriksaan untuk aku dan kedua anak itu?” tanya Zen sambil menunjuk Leo dan Lin yang ada di sampingnya.

“Kalau boleh tahu anda siapanya mereka berdua?”

“Saya wali dari mereka berdua.”

“Wali?” tanya perawat itu sedikit tidak yakin.

“Yah, mereka berdua adalah tetangga saya. Orang tua keduanya tidak lama ini mengalami kecelakaan yang mengakibatkan mereka di adopsi oleh paman mereka, tetapi siapa sangka jika paman mereka melakukan tindakan kekerasan kepada kedua bersaudara ini. Saya yang tidak terima dengan kekerasan yang dilakukan paman mereka, melayangkan protes untuk mengambil alih hak asuh mereka berdua mengigat hubungan keluarga kami yang kuat dengan almarhum orang tua mereka,” jelas Zen dengan panjang lebar dan jangan lupakan air mata imajiner yang mengalir di wajahnya.

“Apakah itu benar?” tanya perawat itu sambil menatap Leo dan Lin dengan iba.

Leo dan Lin yang ditatap seperti itu hanya memalingkan mukanya dengan canggung.

‘Memang benar kami sedikit disalahgunakan, tapi … tidak sampai seperti ini juga,’ batin Leo yang entah mengapa merasa malu dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Zen.

‘Kak Zen memalukan!’ batin Lin sambil memalingkan muka dengan malu.

“Tentu saja itu benar, apa kamu tidak melihat betapa kurusnya mereka? Aku khawatir jika mereka kurus seperti ini akibat kekurangan gizi,” Jelas Zen dengan raut wajah serius.

“Kasihan sekali, baiklah aku akan mendaftarkan pemeriksaan untuk mereka berdua. Tapi apa anda juga harus diperiksa tuan?”

“Tentu saja! Anda tahu nona perawat? Sebenarnya kepala saya sedikit terantuk sesuatu karena memperjuangkan hak asuh mereka kepada paman mereka itu,” jelas Zen dengan wajah sedikit memelas.

“Apa?! mengapa anda tidak memberi tahu saya dari awal? Kita harus segera memeriksa kondisi anda! Bagaimana jika anda mengalami geger otak?” seru perawat itu dengan khawatir.

“Ayo saya antarkan anda untuk segera memiliki pemeriksaan!”

“Tetapi bagaimana dengan formulir pendaftarannya?” tanya Zen dengan ragu.

“Itu tidak penting, yang paling penting adalah keselamatan dari pasien terlebih dahulu!” jelas perawat itu dengan mengebu-gebu.

“Ah … baiklah. Tapi jangan lupakan pemeriksaan untuk mereka berdua juga,” ucap Zen pasrah saat tangannya sudah ditarik oleh perawat itu untuk melakukan pemeriksaan.

“Tentu saja, anda tidak perlu khawatir tuan, untuk kedua anak itu akan saya serahkan kepada teman perawat saya untuk dirawat,” jelas perawat.

“Yang perlu anda lakukan adalah menjalani pemeriksaan fisik anda untuk mengetahui kondisi tubuh anda,” lanjutnya kembali yang membuat Zen menjadi pasrah karena semangat perawat tersebut.

Sedangkan kedua bersaudara yang ditinggalkan hanya bisa terdiam sambil menatap satu sama lain dengan canggung.

“Hahhh, aku tahu kak Zen seperti ini untuk kami, tetapi untuk melebih-lebihkan cerita seperti tadi sangat…-“

“Sudahlah kak, biarkan saja. lagi pula itu tidak terlalu berpengaruh untuk kita. Lebih baik segera ikuti kakak perawat itu untuk memeriksa kondisi kita,” ucap Lin memotong perkataan Leo.

“Hmmm, kurasa kamu benar, baiklah untuk sekali ini saja,” ucap Leo dengan gumaman kecil diujung kalimatnya.

‘Aku tidak yakin jika ini hanya terjadi sekali, entah mengapa aku selalu merasakan jika hal ini akan terus terulang di masa depan,' batin Lin yang sempat mendengar gumaman dari kakaknya.

“Yah, sepertinya pukulan tersebut tidak terlalu serius, hanya sedikit mengeluarkan pendarahan kecil dan mungkin akan mengakibatkan sedikit benjolan di kepala anda yang akan menghilang kira-kira tiga hari ke depan,” ucap dokter sambil melihat laporan dari CT scan yang diambil untuk Zen.

“Ah, begitu. Terima kasih atas pemeriksaannya dokter,” ucap Zen dengan senyuman diwajahnya.

“Tidak masalah, ini sudah merupakan tugas saya sebagai dokter, kalau begitu saya akan pergi untuk memeriksa pasien lain.”

“Sekali lagi terima kasih,” ucap Zen yang dibalas oleh senyuman dokter tersebut.

//Tok….Tok…

“Kak Zen, ini kami,” ucap Lin sambil mencondongkan kepalanya untuk melihat kedalam ruangan.

“Ah, kalian berdua. Masuklah.”

Dengan langkah pelan kedua bersaudara itu masuk dan langsung menuju ranjang rawat yang tengah diduduki oleh Zen.

“Jadi, bagaimana hasil pemeriksaan diri kalian?” tanya Zen kepada dua bersaudara itu.

“Tidak ada masalah sama sekali hanya beberapa cedera ringan yang harus diobati menggunakan salep secara rutin untuk menghilangkan pembengkakan,” jawab Leo sambil memberikan beberapa kertas yang berisi laporan dari hasil pemeriksaan mereka berdua.

“Baguslah kalau begitu, setidaknya kalian tidak mengalami kekurangan gizi,” timpal Zen sambil melihat-lihat hasil dari pemeriksaan mereka berdua.

“Apa kalian sudah menebus salepnya?” tanya Zen setelah selesai melihat-lihat kertas yang ada ditangannya.

“Belum, kami menunggumu kak. Bagaimana dengan kondisi kakak sendiri? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Lin dengan ekspresi khawatir.

“Tidak apa-apa, hanya mengalami pendarahan ringan dan semuanya baik-baik saja.”

“Maafkan aku dan terima kasih sudah melindungi Lin dari pengurus panti. Aku sudah mendengar semuanya dari Lin,” ucap Leo secara tiba-tiba.

“Tidak perlu meminta maaf, itu terasa aneh karena aku tidak melakukan apa-apa untuk kalian berdua,” jawab Zen sambil mengibas-ngibaskan tangannya dengan pelan.

“Tetapi-“

“Ya! Berhenti sampai disitu dan lebih baik kalian jelaskan apa maksud perkataan kalian yang berbanding terbalik saat kita pertama kali bertemu?” ucap Zen yang tiba-tiba mengalihkan arah pembicaraan.

Lin yang tidak ingin terkena imbasnya segera bergegas mundur kebelakang, bersembunyi di belakang tubuh kakaknya sambil menolak untuk melakukan kontak mata dengan Zen yang kini sedang menatap mereka dengan tatapan menyelidik.

“Ah … mengenai itu, apa aku harus menjelaskan semuanya kepada kakak?” tanya Leo sambil memalingkan muka dengan canggung.

“Tentu saja kalian harus memberitahuku semuanya, SEMUANYA,” ucap Zen dengan senyum mengerikan diwajahnya yang membuat nyali Leo dan Lin semakin ciut.

“Emm, bagaimana dengan awal mula kita berdua bisa berada di panti asuhan?” ucap Leo dengan sedikit tidak yakin.

“Baiklah, mulailah bercerita dan aku akan mendengarkannya,” ucap Zen.

“Awal mula aku dengan Lin bisa berada di panti asuhan dimulai sekitar 4 tahun yang lalu. Saat diriku berumur 9 tahun dan usia Lin yang baru menginjak 3 tahun,” jelas Leo.

“Aku tidak pernah mengetahui siapa ayahku, bahkan bisa dibilang aku tidak pernah melihatnya selama kehidupanku, yang kutahu adalah aku dirawat oleh wanita itu. Kakak bisa menyebut wanita itu sebagai ibuku, kurasa.”

“Kehidupanku bersama wanita itu tidak terlalu berkesan. Yang ku ketahui saat itu adalah aku harus melakukan semuanya sendiri. Wanita itu tidak akan menganggap keberadaan ku sama sekali di dalam rumah. Bahkan dia seperti tidak pernah menganggap ku ada di hadapan wajahnya.”

“Yang paling aku ingat adalah dia pernah meninggalkanku seorang diri selama satu tahun penuh,” ucap Leo dengan ekspresi penuh kesuraman.

“Tunggu, bagaimana kamu bisa bertahan sampai sekarang?” tanya Zen dengan sedikit tidak yakin.

“Yang bisa kulakukan untuk bertahan hidup hanya memakan makanan bekas yang kutemukan dari tempat sampah, bahkan tidak jarang aku akan melakukan tindakan kriminal seperti mencuri untuk mendapatkan makanan.”

“Mungkin karena terlalu terbiasa melakukan sesuatu sendiri, itu tidak terlalu aneh karena ditinggalkan olehnya selama satu tahun penuh. Yang menjadi kecemasanku hanyalah bahan makanan yang tidak ku ketahui bagaimana caranya untuk mendapatkannya,” jelas Leo sambil menghela napas dengan berat.

“Setelah satu tahun berlalu, wanita itu kembali. Dia tidak kembali sendiri, melainkan kembali sambil membawa bayi mungil di gendongannya. Yah, bayi itu adalah Lin.” ucap Leo sambil memandang Lin dibelakangnya.

“Aku mengetahuinya sejak pandangan pertama jika dia adalah adikku. Entahlah, mungkin ini yang disebut dengan insting antar saudara. Hal itu semakin memperkuat ku saat bayi itu pertama kali membuka matanya dan menatapku dengan warna cokelat terang yang hampir mirip dengan warna rambutku.”

“Kupikir wanita itu akan berubah saat membawa Lin kedalam rumah, tapi nyatanya tidak sama sekali. Dia justru mengacuhkan bayi yang dibawanya itu dan bahkan tidak memberikan ASI kepada Lin sama sekali.”

“Karena tidak tega melihat Lin terus-menerus menangis karena tidak mendapatkan ASI, aku kembali memutar otak untuk membelikannya susu bubuk. Untuk mendapatkan susu bubuk itu sangat tidak mudah, apalagi tidak mungkin bagiku untuk mencurinya secara langsung.”

“Saat sedang mencari cara untuk mendapatkan susu bubuk untuk Lin, mataku terpaku kearah para orang dewasa yang sedang mengangkut barang ke dalam truk dan mendapatkan imbalan untuk pekerjaannya."

"Mataku menjadi cerah saat melihat hal itu, dengan langkah terburu-buru aku menghampiri para pekerja itu untuk memberikan aku pekerjaan seperti mereka.”

“Orang dewasa yang melihatku mengajukan hal itu langsung menolak gagasanku mentah-mentah. Tentu saja aku tidak menyerah begitu saja, aku terus-terusan memaksa mereka untuk membiarkanku melakukan pekerjaan ini. Mungkin karena kegigihan ku atau bisa kubilang keras kepalaku, mereka akhirnya mengizinkanku untuk melakukan pekerjaan ini.”

“Yah, walaupun aku hanya diberikan tugas sederhana seperti memindahkan barang yang memiliki ukuran kecil dan ringan tentunya. Walaupun begitu aku tidak kecewa, setidaknya aku bisa menghasilkan uang dan itu cukup untuk membeli susu yang dibutuhkan oleh Lin.”

“Aku melakukan pekerjaan itu selama kurang lebih tiga tahun.” jelas Leo kepada Zen.

“Selama tiga tahun penuh? Lalu apa yang terjadi setelah tiga tahun?” tanya Zen.

“Yah, setelah itu aku dipindahkan ke panti asuhan oleh wanita itu-“

“Dia menjual kami!” potong Lin dengan ekspresi marah.

“Lin….”

“Apa? Bukankah ucapan ku benar? Wanita itu menjual kita kepada kepala panti asuhan gemuk itu! Memangnya aku tidak tahu jika kepala panti asuhan hanya mengincar uang yang didistribusikan oleh pemerintah untuknya sendiri? Karena itu kepala panti asuhan tetap mempertahankan anak-anak panti yang kumuh dan tidak terawat agar dia bisa mendapatkan simpati pemerintah dan mengambil keuntungan dari subsidi yang didistribusikan pemerintah!” ucap Lin diakhiri dengan dengusan kencang.

“Kalau kakak memang ingin mengetahui mengapa aku memiliki luka ini, itu semua karena aku ketahuan saat mengambil uang kepala panti dari brankas miliknya,” lanjut Lin.

“Dan kamu menerima pukulannya begitu saja?” tanya Zen dengan kening berkerut.

“Memangnya apa yang bisa aku lakukan saat itu?” tanya Lin dengan senyum sedih.

“Mengapa kalian tidak melaporkannya kepada pihak kepolisian?” tanya Zen setelah beberapa saat.

“Tidak ada gunanya, aku sudah pernah memberi tahu itu tetapi pihak kepolisian tidak mempercayainya,” jawab Leo.

“Hahhh, kurasa itu tidak akan berhasil dengan mudah. Yosh, kurasa aku harus mengapresiasi kalian karena bisa bertahan hidup hingga sekarang dan aku pastikan jika kepala panti itu akan masuk kedalam penjara karena sudah melakukan kekerasan terhadap anak kecil dan penipuan kepada pemerintah.”

“Apa kakak yakin? Bagaimana jika kepala panti asuhan itu bebas dari hukuman?” tanya Lin dengan tidak yakin.

“Oh, apa kamu lupa jika kita baru saja mengacak-acak berkas yang ada di ruang kepala panti asuhan itu? Dan tebak apa yang aku temukan,” tanya Zen dengan senyuman aneh diwajahnya.

“Memangnya apa yang kakak temukan? Bukankah kakak hanya membawa berkas adopsi kami berdua?” tanya Lin dengan bingung.

“Hahaha, aku tidak mungkin hanya mengambil berkas pengadopsian kalian sampai-sampai membuat ruangan itu menjadi berantakan. Ada hal lain yang kuambil dari sana. Akan lebih mudah jika kalian melihatnya sendiri,” ujar Zen sambil menyerahkan beberapa lembar kertas kearah kedua bersaudara itu.

“I-ini…?” tanya Leo dengan tidak pasti.

“Yah, seperti yang kamu baca Leo. Itu adalah bukti transaksi pengeluaran subsidi panti asuhan kalian.”

“Whoaa! Kak Zen hebat! Dengan ini kita bisa menuntut kepala panti asuhan bau itu!” seru Lin dengan penuh semangat.

“Tetapi, apa tidak apa-apa mengambil dokumen penting seperti ini?” tanya Leo dengan khawatir.

“Kurasa tidak apa-apa, lagi pula ini adalah dokumen mengenai penggelapan dana, jika kita melaporkan ini kepada pihak kepolisian kurasa cukup untuk membebaskan anak panti asuhan kalian dan membuat kepala panti menjalani hukuman di dalam penjara,” jelas Zen.

“Tetapi-”

“Sudahlah, kalian tenang saja. Aku yang akan mengurus semua ini. Lebih baik agar kita menebus salep untuk Lin sekarang dan mampir sebentar ke kantor polisi terdekat,” ucap Zen sambil bergegas untuk keluar ruang rawat.

“Itu benar kak, kurasa tidak ada salahnya untuk berbuat baik. Yah, walaupun cara yang digunakan sedikit salah,” ucap Lin untuk meyakinkan kakaknya.

“Hahh, baiklah,” jawab Leo dengan pasrah yang membuat Lin memekik dengan senang.

“Hei, kalian berdua cepatlah bergerak, ini sudah hampir jam 4 sore! Kita tidak mungkin menginap di sini bukan?” tanya Zen yang sudah berdiri di depan pintu ruang rawat.

“Eii, tentu saja tidak! Aku masih menginginkan bukti ini sampai di pihak kepolisian!” seru Lin tidak terima.

“Kalau begitu percepat langkah kaki kalian berdua, kalau tidak aku akan meninggalkan kalian berdua di sini!”

“Mana bisa seperti itu?!” seru Lin lalu mulai mengikuti Zen yang sudah mulai berjalan di hadapannya.

“Yak, kalian berdua tunggu aku juga dong!” seru Leo lalu mulai mengejar mereka berdua.

...| (❁❁) |...

...•...

...•...

...•...

Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.

Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

Instagram : lmnr_vv

Episodes
1 |Prolog|
2 |(1) Penyebab Kematian|
3 |(2) Dimulai dari awal|
4 |(3)Rodriguez bersaudara|
5 |(4) keberuntungan besar?|
6 |(5) Tingkatan|
7 |(6) Hari yang sial dan untung|
8 |(7) Gagal menjadi anak biasa|
9 |(8) Nasib sial|
10 |(9) Dewa Sialan|
11 |(10) Max Foerster|
12 |(11)Fraksi|
13 |(12)Protagonis wanita|
14 |(13) Pengadopsian|
15 |(14) Tempat kerja aneh|
16 |(15) Pingsan berjamaah|
17 |(16) Senjata|
18 |(17) Kembar Ken & Kim|
19 |(18) Debat|
20 |(19) Masa Lalu|
21 |(20) Sang Elf|
22 |(21) Ash Artemaies|
23 |(22) Surat Pemindahan|
24 |(23) Pemindahan Transfer Pengadopsian|
25 |(24) Sabtu|
26 |(25) Latih Tanding|
27 |(26) Pemenang Latih Tanding|
28 |(27) Sudut Pandang Lain|
29 |(28) Analisa|
30 |(29) Dimulai|
31 |(30) Keadaan Ken dan Kim|
32 |(31) Pemerintah|
33 |(32) Insiden Tidak Terduga|
34 |(33) Munculnya zombie pertama|
35 |(34) Penghambat|
36 |(35) Kelompok menjengkelkan|
37 |(36) Rasa Kemanusiaan|
38 |(37) Lia Amerston|
39 |(38) Minimarket|
40 |(39) Apartemen Zen|
41 |(40) Rencana Selanjutnya|
42 |(41) Awal Cerita Asli|
43 |(42) Penyusunan Rencana|
44 |(43) Evolusi|
45 |(44) Kepribadian Ganda|
46 |(45) Cerita yang berubah|
47 |(46) Asal Usul Mia|
48 |(47) Pelajaran Pertama Untuk Leo|
49 |(48) Ini Ide yang Paling Baik Bukan?|
50 |(49) Pertengkaran di Antara Dua Saudara|
51 |(50) Hasil Akhir Rencana|
52 |(51) Penyempurnaan 2%|
53 |(52) Dua Benda Misterius|
54 |(53) Zombie Daerah Kumuh|
55 |(54) Jatuh|
56 |(55) Lari|
57 |(56) Pertengkaran?|
58 |(57) Tempat Tinggal|
59 |(58) Rencana dan Rute|
60 |(59) Pertemuan|
61 |(60) Pembicaraan|
62 |(61) Ide Bisnis|
63 |(62) Tantangan Duel|
64 |(63) Seseorang|
65 |(64) Tentara?|
66 |(65) Relasi|
67 |(66) Sama|
Episodes

Updated 67 Episodes

1
|Prolog|
2
|(1) Penyebab Kematian|
3
|(2) Dimulai dari awal|
4
|(3)Rodriguez bersaudara|
5
|(4) keberuntungan besar?|
6
|(5) Tingkatan|
7
|(6) Hari yang sial dan untung|
8
|(7) Gagal menjadi anak biasa|
9
|(8) Nasib sial|
10
|(9) Dewa Sialan|
11
|(10) Max Foerster|
12
|(11)Fraksi|
13
|(12)Protagonis wanita|
14
|(13) Pengadopsian|
15
|(14) Tempat kerja aneh|
16
|(15) Pingsan berjamaah|
17
|(16) Senjata|
18
|(17) Kembar Ken & Kim|
19
|(18) Debat|
20
|(19) Masa Lalu|
21
|(20) Sang Elf|
22
|(21) Ash Artemaies|
23
|(22) Surat Pemindahan|
24
|(23) Pemindahan Transfer Pengadopsian|
25
|(24) Sabtu|
26
|(25) Latih Tanding|
27
|(26) Pemenang Latih Tanding|
28
|(27) Sudut Pandang Lain|
29
|(28) Analisa|
30
|(29) Dimulai|
31
|(30) Keadaan Ken dan Kim|
32
|(31) Pemerintah|
33
|(32) Insiden Tidak Terduga|
34
|(33) Munculnya zombie pertama|
35
|(34) Penghambat|
36
|(35) Kelompok menjengkelkan|
37
|(36) Rasa Kemanusiaan|
38
|(37) Lia Amerston|
39
|(38) Minimarket|
40
|(39) Apartemen Zen|
41
|(40) Rencana Selanjutnya|
42
|(41) Awal Cerita Asli|
43
|(42) Penyusunan Rencana|
44
|(43) Evolusi|
45
|(44) Kepribadian Ganda|
46
|(45) Cerita yang berubah|
47
|(46) Asal Usul Mia|
48
|(47) Pelajaran Pertama Untuk Leo|
49
|(48) Ini Ide yang Paling Baik Bukan?|
50
|(49) Pertengkaran di Antara Dua Saudara|
51
|(50) Hasil Akhir Rencana|
52
|(51) Penyempurnaan 2%|
53
|(52) Dua Benda Misterius|
54
|(53) Zombie Daerah Kumuh|
55
|(54) Jatuh|
56
|(55) Lari|
57
|(56) Pertengkaran?|
58
|(57) Tempat Tinggal|
59
|(58) Rencana dan Rute|
60
|(59) Pertemuan|
61
|(60) Pembicaraan|
62
|(61) Ide Bisnis|
63
|(62) Tantangan Duel|
64
|(63) Seseorang|
65
|(64) Tentara?|
66
|(65) Relasi|
67
|(66) Sama|

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!