Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
‘Mengapa perasaanku menjadi tidak enak seperti ini? Seolah-olah ada orang yang ingin mengambil uangku!’ batin Ken sambil mengusap belakang lehernya pelan.
...| (❁❁) |...
“Sebenarnya apa yang dilakukan Kim brengsek itu terhadap bisnisku! Bagaimana bisa orang bodoh diterima di kerajaan bisnisku!” seru Ken frustrasi, hilang sudah martabat anggun yang dibawanya tadi.
‘Ah, aku lupa dia baru berusia 18 tahun jika dihitung dari prestasi yang berhasil mengakuisisi perdagangan dalam waktu 7 tahun ke depan dan 4 tahun menikmati masa emasnya.Setelah itu aku tidak mengetahuinya lagi, karena aku sudah mati,’ batinku melihat dirinya yang berteriak frustrasi.
Walaupun Ken lebih tua 1 tahun dariku tetapi umurku bisa dihitung dari kehidupan pertamaku yang mati diumur 28 tahun dan dihitung dengan kedatanganku ke sini yang bisa dihitung baru 1 hari. Berarti aku lebih tua 10 tahun darinya bukan?
“Hoi! Maksudmu orang bodoh itu aku hah?!” seru kepala manajer sambil menunjukkan jari kearah Ken lalu kearah dirinya sendiri.
“Sepertinya kata bodoh memang sangat cocok denganmu, kepala manajer,” ucap Eva sambil memberikan senyum seringai menyebalkan.
“Apa yang kamu bilang?! Aku ini kepala manajer cafe ini! Beraninya kamu!” teriak kepala manajer dengan wajah merah karena amarah.
‘Oke, fiks! Kepala manajer cafe ku adalah orang bodoh,’ batinku menatap datar kearahnya.
‘Tu-tunggu, jika kepala manajer ini orang bodoh maka aku yang berhasil diperas olehnya berarti lebih bodoh darinya bukan?’ batinku lalu memandang horor kepala manajer lalu menatap tanganku sendiri yang bergetar pelan.
Eva yang melihat Zen terpaku pucat menatap lantai dibawahnya segera mendekat dan bertanya apa dia baik-baik saja.
“Zen, kamu tidak apa-apa bukan?” tanya Eva dengan khawatir.
“Aku … tidak apa-apa,” jawab Zen yang masih pucat.
‘Fisikku tidak apa-apa tetapi mental ku terguncang mengetahui jika aku lebih bodoh dari kepala manajer cafe itu,’ batin Zen seraya tersenyum sedih.
‘Rasanya aku ingin menangis saja,’ lanjut batinnya.
Sedangkan Eva yang melihat raut muka Zen yang masih pucat merasakan simpati yang mendalam dan perlahan menepuk pelan pundak miliknya tanpa mengucapkan satu patah katapun.
‘Sungguh malang sekali nasib Zen yang harus mendapatkan perilaku tidak baik dari kepala manajer bajingan itu,’ batin Eva dan menepuk pundak Zen lebih lama seolah memberikan kekuatan.
Baik, mari kita abaikan kesalahpahaman mereka berdua dan beralih kearah bos asli dengan bos abal-abal yang masih berdebat.
“Baik, otak Kim pasti terbakar karena membiarkan bajingan bodoh sepertimu masuk!” ujar Ken yang masih setia memaki orang dengan nama Kim itu.
“Sebenarnya kamu ini siapa?! Berani sekali mengatai aku bodoh! Kamu tahu aku adalah kepala manajer cafe cabang yang berada di naungan Aenass Company!” serunya dengan bangga.
Ken yang mendengar nama perusahannya disebut menatap heran sekaligus bingung kepada orang yang menjadi kepala manajernya ini.
‘Dia benar-benar bodoh atau dia adalah orang keterbelakangan mental? Jelas-jelas dia mengetahui nama perusahaan ku dan baru saja aku mengenalkan diriku apa otaknya tidak sanggup untuk berpikir jika nama perusahaan yang disebutkan sama dengan nama marga ku???’ batin Ken mengepalkan tangannya menahan untuk tidak membunuh orang dihadapannya ini.
“Aku tidak tahu makanan apa yang baru saja dimakan Kim akhir-akhir ini sampai-sampai dia memasukkan orang keterbelakangan mental di dalam perusahaan ku. Aku tahu dia tidak pernah tertarik untuk melakukan bisnis seperti ini tetapi….” ucapan Ken terputus karena dia lebih dulu menghela napas lelah dan memegang kepalanya yang berdenyut pusing.
Mari kita berdoa untuk kesehatan mental Ken agar bisa bertahan menghadapi cobaan ini semua.
Eva yang melihat tingkah bodohnya sudah tidak tahan lagi, dia melangkah mendekat sambil mengacungkan jari telunjuknya kearah kepala manajer dan berkata,
“Kamu itu bodoh atau bagaimana sih? Jelas-jelas nama lelaki itu adalah Ken Aenass, AENASS! Kamu dengar itu? Namanya sama dengan nama perusahaan yang baru saja kamu sebutkan! AENASS COMPANY! Itu berarti orang ini adalah atasanmu! Atau bahkan dia bisa saja adalah bos mu!” ucap Eva dengan menggebu-gebu.
Zen yang sudah tersadar dari ratapan nasibnya diam-diam mengacungkan ibu jarinya kearah Eva yang sedang memaki kepala manajer dengan penuh semangat.
‘Nice, kak Eva! Terus maki dia sampai kepala manajer bodoh itu terasa sangat buruk!’ batin Zen berseru semangat sebelum membeku dan memegang dadanya.
‘Sial, entah mengapa jika aku menyebut kepala manajer itu dengan kata bodoh, seperti ada benda tak kasat mata yang menembus dadaku,’ batin Zen tersenyum miris.
Ken yang mendengar makian Eva menatapnya dengan mata berbinar, dengan segera dia langkahkan kakinya berjalan mendekat kearah Eva membuat makian yang masih terlontar di mulut Eva terhenti.
“Kamu, siapa namamu?” tanya Ken dengan semangat.
“Ah, maafkan saya, nama saya Eva Osbenre, pelayan di cafe ini. maaf karena melupakan kehadiran bos dan tidak menyapanya dengan benar,” ucap Eva sambil menunduk hormat.
Ken yang mendengarnya makin melebarkan senyum dan mengibas-ngibaskan tangannya ringan.
“Tidak, tidak apa, aku memaafkan mu. Omong-omong apa lulusan terakhirmu?” tanyanya.
Eva termenung sebentar sebelum menjawabnya dengan suara sedikit dikecilkan.
“Itu … lulusan terakhir saya adalah sekolah menengah pertama,” ucap Eva sambil menunduk takut.
Bagaimana tidak, Aenass company lebih mementingkan tingkat pendidikan untuk kriteria pegawainya. Dan sekarang dia sedang ditanyai atasannya tentang lulusan terakhir sekolahnya.
Bagaimana dia tidak takut? Terlebih dia baru saja memaki orang di depan atasannya sendiri?!
‘Pendidikan ku buruk, sifat buruk ku baru saja dilihat secara langsung oleh atasanku, apa aku akan dipecat? Apa ini adalah hari terakhirku bekerja? Apa-‘ batin Eva terputus saat merasakan tangan yang menepuk pelan pundaknya, lalu mengalihkan pandanganya kearah pemilik tangan tersebut, Ken.
Bisa kalian lihat ekspresi Ken saat ini adalah campuran perasaan senang dan bangga. Ken terus menepuk pundak milik Eva dengan senyum merekah diwajahnya dan efek bunga-bunga bertebaran disekelilingnya.
“Bagus, bagus, aku menyukai kepintaran mu!” serunya lalu berhenti menepuk pundak Eva yang sedang menatapnya bingung tetapi tidak dihiraukannya.
‘Bagus, setidaknya orang lulusan sekolah menengah pertama lebih baik dari orang lulusan S2,’ batin Ken tanpa menghilangkan senyuman.
‘Ini membuatku ingat kembali jika kita tidak boleh menilai orang dari covernya saja! Buktinya orang dengan titel lulusan S2 lebih bodoh dari orang lulusan sekolah menengah pertama.’ lanjut batinnya.
‘Padahal aku ke sini untuk mengecek mengapa penghasilan cafe cabang ini lebih rendah dibandingkan yang lain, ternyata karena ada orang bodoh yang mengangkat orang bodoh kedalam kerajaan bisnisku!’ batinnya lalu memaki kembali kembali orang bernama Kim itu.
Dengan kepala yang masih berdenyut pusing, Ken melangkahkan kakinya kearah kursi tempat duduk kepala manajer yang masih terdiam membatu ditempatnya sambil menatap pucat kearah Ken.
Ken menyilang kan kakinya dan menopang kepalanya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas pangkuannya lalu seulas senyum terbit dari bibirnya.
“Baik, sepertinya perkenalanku kurang jelas, maka aku akan menjelaskannya sekali lagi. Aku harap kalian memasang telinga kalian dengan baik agar aku tidak perlu mengulang kembali perkataan ku,” ucap Ken dengan aura pebisnis nya yang menandakan jika dia serius.
Dengan gerakan anggun dia memperbaiki letak kacamata berbingkai emas miliknya. Senyum diwajahnya tidak memudar sedikitpun justru bertambah makin cerah.
“Namaku Ken Aenass, pemimpin grup Aenass Company dan hanya itu saja yang perlu kalian tahu,” ucapnya yang membuat suasana menjadi stagnan.
“Dan untukmu, kepala manajer. Selamat anda mendapatkan hadiah berupa pemecatan langsung dari atasanmu ini. Kamu tahu? Sangat sulit untuk orang sepertiku datang langsung ke tempat kejadian hanya untuk memeriksa apakah ada masalah. Seperti yang kalian lihat aku memiliki terlalu banyak cabang perusahaan untuk diurus dan tidak memiliki banyak waktu untuk mengurus cabang cafe sepeti ini,” ucapnya sambil mendengus pelan.
‘Sial jika bukan karena Kim mungkin aku tidak pernah akan datang ke tempat ini,’ batin Ken kesal.
“Ma-maafkan saya bos! Saya tidak mengetahui jika anda adalah atasan saya. Tolong jangan pecat saya!” seru Kepala manajer dengan kencang tetapi tetap tak dihiraukan oleh Ken.
‘Sial, mengapa dia bisa berteriak sekencang itu? Jika Kim ada di sini sudah dipastikan dia akan langsung dibunuh,’ batin Ken menatap kepala manajer dengan kesal.
Dengan segera dia mengeluarkan handphone dari balik saku celananya dan menekan beberapa digit angka di handphone miliknya.
“Kamu segera keruang kepala manajer dan seret mantan kepala manajer keluar tanpa memberikan dia pesangon sepeserpun! Dia sudah sangat merugikan bisnisku ini.”
“Baik tuan muda, dimohon untuk tunggu sebentar.”
Tak berselang lama pintu diketuk tiga kali dan terdengar suara pria paruh baya sekitar umur 50 tahun (?)
“Tuan muda, ini saya.”
“Ah, Jin. Masuk!” seru Ken.
Lalu pintu terbuka menampilkan pria paruh baya dengan rambut abu-abu yang sudah tertutupi beberapa helai rambut berwarna putih. Mata hitam tajamnya membuat Zen menebak dia adalah seorang pembunuh.
Laki-laki itu mengenakan setelan kepala pelayan lengkap bahkan dengan jam saku di saku celananya.
‘Ken memanggil pria paruh baya itu dengan sebutan Jin? Jika aku tidak salah ingat dia adalah Jin Volgt, kepala pelayan yang mengurus Ken dari bayi sampai sekarang dan menjabat sebagai kepala pelayan pribadinya,’ batin Zen menatap pria paruh baya dihadapannya dengan samar.
‘Jika aku tidak salah ingat ada narasi yang menyebutkan tentangnya di dalam buku, ’ batin Zen sambil mencoba mengingat narasi tersebut.
[Jin Volgt adalah nama yang diberikan oleh kepala keluarga Aenass terdahulu (Ayah Ken). Awalnya dia hanya seorang budak berumur 14 tahun yang dijual di perdagangan budak dan dibeli oleh kepala keluarga Aenass karena melihat potensi yang ada di dalamnya.
Setelah itu dia diangkat menjadi kepala pelayan pribadi keluarga Aenass sekaligus melatihnya menjadi pembunuh/assassin yang andal dan memiliki sumpah setia untuk menjaga seluruh keluarga Aenass dengan nyawanya. Dia juga orang yang mengurus Ken dan saudara kembarnya dari bayi hingga sekarang.
Setelah kepala keluarga Aenass terdahulu meninggal (Dibunuh oleh musuh) dia tetap mengabdikan dirinya dengan setia kepada Ken Aenass yang menjabat menjadi kepala keluarga diumur 13 tahun.]
Mata Zen terbelalak kaget tetapi itu hanya beberapa detik sebelum kembali dengan wajah poker face khasnya.
‘Aku melupakan jika Ken memiliki saudara kembar. Apa orang yang dimaksud Kim olehnya adalah nama saudara kembarnya? tetapi di buku tidak dijelaskan siapa namanya dan apakah dia selamat dari tragedi kiamat ini,’ batin Zen dan mulai berkecamuk lagi.
Sayang sekali lamunan Zen harus terputus saat mendengar suara Ken yang memberikan instruksi kepada Jin.
“Jin, tarik orang itu atau jika perlu seret dia keluar. Oh jangan lupa beri dia sedikit pelajaran karena sudah membuat uangku pergi sia-sia,” ucap Ken sambil menunjukkan jari kearah kepala manajer.
“Baik tuan muda,” ucap Jin menunduk hormat lalu tanpa sadar menatap Zen yang berada di belakang Eva untuk mencoba menyembunyikan kehadirannya.
‘Anak muda itu memiliki bau darah,’ batin Jin menatap tajam kearah Zen.
Zen yang menyadari jika ada orang yang menatapnya segera menolehkan kepalanya kearah orang yang melihatnya. Kedua netra berwarna hitam itu saling pandang beberapa saat sebelum Jin menimbulkan senyum ramah diwajahnya yang membuat Zen memalingkan muka.
‘Anak muda yang menarik,’ batin Jin lalu membawa (menyeret) kepala manajer yang masih memohon ampun keluar.
‘Sial, orang tua yang menakutkan, mengapa Ken bisa bertahan menghadapinya?’ batin Zen sambil bergidik ngeri.
“Hahh, untung saja Jin ikut denganku. Jika tidak akan ribet sekali urusannya,” ucap Ken menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela napas.
Lalu mata Ken melirik samar kearah Eva dan anak laki-laki yang berada dibelakangnya.
“Apa kalian masih ada urusan di sini?” tanya Ken dengan satu alis terangkat.
Eva yang mendengarnya terkesiap sebentar sambil menatap ragu kearah Zen. Zen yang menyadari tatapannya hanya memegang pelan tangan Eva seraya menatap dengan tatapan yang mengatakan untuk jangan khawatir. Eva yang melihatnya menghela napas lega.
“Itu … saya ingin meminta gaji saya untuk bulan ini,” ucap Zen berdiri 3 langkah di depan Eva.
“Gaji? Ini belum akhir bulan bukan?” tanya Ken bingung.
‘Baik Zen ini adalah saatnya kamu berpura-pura menjadi anak biasa, ingat biasa dan polos!’ batin Zen berseru menyemangati.
“Sa-saya baru saja dipecat oleh kepala manajer tadi, jadi saya kemari ingin mengambil gaji bulanan saya,” ucap Zen seraya menunjukkan amplop ditangannya yang berisi uang.
“Lalu?” tanya Ken yang masih tidak mengerti.
Tidak sebenarnya Ken bertanya-tanya mengapa Jin, kepala pelayan pribadinya itu menatap kearah pemuda ini selama beberapa detik.
‘Walaupun samar, aku masih melihatnya. tetapi mengapa Jin menatapnya? Apa ada yang menarik darinya?’ batin Ken bertanya-tanya.
Selamat Zen, niatmu untuk menjadi anak biasa yang polos telah gagal, mari kita mengheningkan cipta sejenak untuk kegagalan Zen.
Bukannya menjawab Zen menoleh samar kearah Eva yang berada dibelakangnya. Seolah mengerti, Eva berjalan menghampiri dan menepuk pelan pundak Zen.
“Aku akan menunggu di luar, kamu urus saja urusanmu,” ucap Eva lalu berjalan pergi keluar meninggalkan dua orang di ruangan tersebut.
“Uang yang diberikan oleh mantan kepala manajer hanya ada 700 ribu, seharusnya gaji pelayan di sini adalah 2 juta 400 ratus ribu. Saya di sini ingin meminta kekurangan uang yang ada,” ucap Zen sambil mengguncang pelan amplop yang berisikan uang ditangannya.
“Ah, seperti itu. Aku hanya perlu memberikan 1 juta 400 ribu lagi bukan?” tanya Ken.
“Iya, tuan,” ucap Zen dengan gugup.
‘Bagus Zen, lanjutkan akting mu ini,’ batin Zen dengan seruan semangat.
Ken yang memperhatikan pemuda didepannya gugup segera mengeluarkan uang 14 lembar 100 ribu dan memberikannya langsung kepada Zen.
“Ini, ambillah,” ucap Ken seraya menyodorkan uangnya yang langsung diterima Zen dengan gugup sekaligus senang.
“Te-terima kasih tuan,” seru Zen sambil membungkuk 90 derajat.
“Tidak perlu berterimakasih kepadaku, lagi pula itu memang hak mu dari awal. Oh, apa karyawan lain juga sering mengalami hal ini?” tanya Ken sambil mengevaluasi hasil kerja yang dilakukan oleh orang yang baru saja dipecatnya.
“Itu, kebanyakan karyawan yang tidak bisa membela diri mereka yang sering mengalami hal ini, jika tuan menanyakan jumlahnya saya tidak bisa memberitahukan secara pasti,” ucap Zen yang membuat Ken mengangguk pelan.
‘Sial, lain kali aku tidak akan membiarkan Kim menyentuh kerjaan bisnis ku lagi!’ batin Ken meringis melihat uangnya yang akan pergi.
“Apa ini pertama kalinya terjadi kepadamu?”
“Tidak tuan, sa-saya sudah pernah mengalaminya lebih dari sekali,” ucap Zen dengan kepala tertunduk.
‘Apa dia ingin menembus uang yang sering dikurangi oleh mantan kepala manajer itu?’ batin Zen bertanya-tanya.
Ken yang mendengarnya hanya bisa menghela napas pasrah untuk merelakan uangnya yang akan pergi.
“Berapa banyak?” tanya Ken langsung menatap Zen.
“A-apa?” tanya Zen dengan bingung.
“Berapa banyak uang yang sudah diambil oleh orang bodoh itu kepadamu?” tanya Ken sekali lagi.
‘Sial, mana ku tahu?! Aku sudah melupakannya sejak bumi mengalami kiamat! Dan lagi ingatanku tentang kehidupan pertamaku sudah lama memudar karena aku terkurung di ruangan hitam itu. Jadi mana kutahu berapa jumlah totalnya?!’ batin Zen berteriak frustrasi.
Zen yang tadinya menunduk langsung mengangkat wajahnya dan menatap Ken dengan senyum polos diwajahnya.
“Itu tidak diperlukan tuan. Lagi pula itu sudah lama berlalu, aku sudah melupakannya. Jika tuan ingin mengembalikan uangnya lebih baik kembalikan uang tersebut kepada karyawan lain. Itu tidak ada untungnya untukku lagi pula aku sudah dipecat,” ucap Zen dengan senyum polos yang masih terpasang diwajahnya.
‘Kumohon, kumohon tolong percayalah alasan konyol ini!” Batin Zen seraya berdoa semoga ucapan konyolnya dipercaya.
Sedangkan Ken yang mendengarkan alasan Zen hanya bisa menatap Zen dengan rumit.
‘Apa pemuda ini terlalu bodoh atau terlalu baik?’ batin Ken bertanya-tanya.
“Hahhh, baiklah karena kamu tidak menginginkannya aku tidak memaksa, tetapi aku ingin bertanya satu hal kepadamu,” ucap Ken yang langsung menyetujui alasan Zen.
‘Di-dia percaya?! Syukurlah,’ batin Zen diam-diam menghela napas lega.
‘Karena pemuda itu tidak menginginkannya, yasudah. Setidaknya uangku tidak akan berkurang,’ batin Ken sambil menghela napas lega karena uangnya tidak perlu berkurang.
“A-apa itu?”
“Apa kamu ingin bekerja kembali di sini?” tanya Ken langsung kepada pointnya.
“Huhhh?”
‘Tu-tunggu, apa aku diajak lagi olehnya untuk kembali bekerja???’ batin Zen penuh dengan tanda tanya.
“Yah, aku menawari mu kembali untuk bekerja sebagai pelayan di cafe ini,” ucap Ken seakan mengerti arti ekspresi yang diberikan Zen.
‘Lho, lho, tapikan aku memang ingin dipecat,’ batin Zen dengan ekspresi seolah ingin menangis.
‘Untuk apa juga aku bekerja jika 6 hari lagi akan terjadi kiamat?’ lanjut batinnya.
Ken yang melihat Zen ingin menangis berpikir jika dia sangat terharu karena ditawari pekerjaan kembali.
‘Sebahagia itukah dia sampai ingin menangis seperti itu?’ batin Ken bingung.
“Itu tidak perlu tuan, lagi pula saya memang sudah seharusnya dipecat karena ini memang kesalahan saya, tetapi terima kasih karena tuan sudah menawari saya kembali bekerja tetapi jawaban saya tetap sama, saya tidak akan kembali,” ucap Zen sambil menggelengkan kepalanya pelan dan mengelap sudut matanya yang berair.
‘Huhhh, benar-benar pemuda yang sangat baik sekaligus bodoh,’ batin Ken menghela napas secara terang-terangan.
“Baiklah kalau itu memang keputusanmu,” ucap Ken yang membuat Zen tersenyum cerah.
“Terima kasih tuan, saya doakan agar bisnis anda berjalan lebih baik, terutama bisnis makanan ini, saya pribadi bisa mengatakan jika bisnis makanan akan sangat menguntungkan bagi tuan!” Seru Zen dengan nada bersemangat.
‘Tentu saja, itu akan sangat menguntungkan. Makanan adalah bisnis yang sangat menguntungkan untuk dilakukan saat terjadinya kiamat,’ batin Zen tanpa sadar tersenyum lebih cerah lagi.
“Begitu, terima kasih atas saran mu. Omong-omong siapa namamu?” ucap dan tanya Ken setelah beberapa saat terdiam dengan senyum tipis diwajahnya.
“Terima kasih kembali tuan, dan nama saya Zen, Zen Westerlock.”
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments