|(13) Pengadopsian|

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.

...•...

...•...

...•...

Sebelumnya :

“Baik sudah ku putuskan aku akan menyelamatkanmu, kak Mia! Apa pun yang akan terjadi aku akan membuatmu hidup bahagia bersama kakak!” ucapku dengan tekad kuat.

...| (❁❁) |...

“Di sini?” ucap Zen sambil memandang panti asuhan yang sangat tidak layak huni dihadapannya.

Mengapa itu disebut tidak layak? Sederhana saja, tempat ini hanya rumah kecil yang tidak terawat dengan baik. Pagar halamannya sudah terkikis yang menyebabkannya sangat rentan, bahkan bisa dirusak hanya dengan satu ayunan palu.

Pohon disekitarnya bisa dibilang kering atau bahkan sudah mati (?) menyisakan daun kering yang menutupi seluruh jalan menuju rumah itu. Setelah beberapa saat berjalan, kalian akan melihat ged-rumah dengan cat yang sudah kusam atau bahkan sudah terkikis.

Atap rumah tersebut bahkan sangat menakutkan, sangat rapuh bahkan bisa saja tanpa kalian sadari itu akan jatuh menimpa kalian. Seluruh rumah hampir ditutupi dengan debu. Bahkan lantai yang kini tengah di pijaki oleh Zen berderit ringan, membuat perasaan Zen semakin was-was.

Kini dia sedang berdiri dihadapi pintu kayu besar dengan cat yang sudah terkelupas diujung bawah pintunya. Dengan perasaan takut dia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu itu dengan sangat pelan, takut jika dia kebablasan maka pintu kayu itu akan roboh dan menimpa dirinya.

‘Mengapa panti asuhan ini lebih mirip dengan rumah hantu?’ batin Zen sambil mencoba mengetuk pintunya kembali.

Jika kalian bertanya mengapa Zen bisa berada di sini, jawabannya adalah untuk mengadopsi Leo dan Lin. Bagaimana dengan sekolahnya? Tentu saja dia mengambil cuti satu hari.

‘Kebetulan sekali, hari ini adalah hari Jumat yang bertepatan dengan mata pelajaran menjengkelkan penuh satu hari full,’ batin Zen bersuka cita.

Mari kita bahas mata pelajaran apa saja yang ada di hari Jumat ini. Jam 07.30 adalah jam untuk mata pelajaran pertamanya dan itu adalah matematika wajib selama 3 jam. Lalu dilanjut jam 10.30 mata pelajaran kedua, fisika selama 2 jam.

Setelah itu istirahat selama 1 jam dan melakukan pembelajaran mandiri sampai jam 2 siang. Lalu dilanjut dengan mata pelajaran ketiga, Bahasa Inggris wajib selama 2 jam. Dan terakhir adalah pelajaran penutup yaitu kimia selama 1 jam 30 menit.

Oh untuk referensi kalian, pada hari kamis dan jumat, sekolah hanya mengadakan 1 kali istirahat.

‘Bagus, untung aku mengambil cuti pada hari yang tepat!’ batin Zen dengan air mata imajiner.

Ingat, Zen bukan anak yang pintar, dia hanya memiliki kemampuan untuk mengingat lebih baik dari manusia lainnya. Jadi jika dihadapkan dengan mata pelajaran di atas sudah bisa dipastikan dia akan melambaikan tangan menyerah dengan senang hati lebih dahulu sebelum memulai.

Ini juga salah satu alasan mengapa Zen bisa menghapal buku tua itu walaupun memiliki jumlah bab yang banyak dan ini juga alasan mengapa Zen bisa mengunakan teknik pernafasan paru-parunya dengan mudah.

Suara pintu terbuka mengalihkan atensi Zen yang sedang bersuka cita karena berhasil lolos dari mata pelajaran hantu itu.

Setelah pintu kayu itu terbuka lebar, kini dihadapannya berdiri seorang pria paruh baya dengan perut buncit yang sedang memegang botol alkohol ditangan kirinya.

'Alkohol? Apa dia minum di tengah hari seperti ini?’ batin Zen bertanya-tanya.

“Permisi, saya di sini ingin mengadopsi anak,” ucap Zen dengan senyum polos diwajahnya.

“Kamu? Kamu ingin mengadopsi anak? Apa kamu tidak salah?” tanya laki-laki itu sambil menatap Zen dengan heran.

‘Yah, tidak salah sih, bagaimanapun juga akan terdengar aneh jika anak umur 17 tahun pergi ke panti asuhan untuk mengadopsi anak,’ batin Zen.

“Iya! Apa tidak bisa?” tanya Zen menatap langsung kearah laki-laki berperut buncit itu.

“Berapa umur mu?”

“17 tahun, tahun ini.”

“Baiklah kau boleh mengadopsinya,” ucap laki-laki itu sambil membukakan pintu untuk Zen.

“Permisi,” ucap Zen lalu berjalan memasuki panti asuhan.

‘Jika dilihat dari dalam, panti asuhan ini benar-benar tidak layak untuk dipertahankan,’ batin Zen sambil melihat kondisi sekeliling.

Tak jarang di setiap jalannya dia menemukan anak yang sedang duduk dilantai kayu menggunakan baju yang tidak layak.

Bahkan di antara mereka ada anak yang terlihat sangat kurus seperti kekurangan gizi. Anak-anak itu menatap Zen seolah-olah mereka tengah waspada terhadapnya.

‘Anak-anak yang menyedihkan,’ batin Zen sambil melirik samar anak-anak yang tengah menatap dirinya.

Ah, melihat mereka membuat Zen mengingat kembali kehidupannya. Tempat kumuh tak layak huni, tubuh kurus kering kekurangan gizi, pakaian bekas bahkan tak jarang di setiap sisinya ada tambalan kain.

‘Sial, mereka semua mengingatkan ku dengan diriku,’ batin Zen mendengus dengan kesal.

Langkah kaki miliknya terhenti saat melihat anak-anak yang duduk berdempetan di sudut ruangan yang tengah menatapnya dengan waspada sekaligus takut.

‘Tatapan mata itu, khe, benar-benar membuatku merasa nostalgia,’ batin Zen.

Yah, Zen ingat, tatapan mata itu selalu dia tunjukkan saat kedua orang tuannya berdiri dihadapannya sambil mencemooh dia tentang betapa tidak berguna nya dia.

Tatapan yang mengisyaratkan jika dia marah sekaligus takut kepada dua orang yang berdiri dihadapannya.

“Oh, apa kau merasa tertarik dengan anak yang berada di sudut itu?” tanya laki-laki yang mengurus panti, membuat kesadaran Zen kembali.

“Ah, tidak! Saya di sini ingin mengadopsi Leo dan Lin,” ucap Zen dengan senyum polos ceria yang sangat tidak cocok dengan tempat kumuh dan suram itu.

“Leo dan Lin? Ah maksudmu Leo Rodriguez dan adiknya Lin Rodriguez?” tanyanya memastikan.

“Yah, apa kau bisa mengantarkan ku kepada mereka?”

“Jika kau ingin bertemu dengan Leo itu tidak bisa, dia mungkin sedang berada di tempat kerjanya, tetapi kalau Lin itu mungkin. Biasanya dia ada dikamar miliknya,” jelas laki-laki itu.

“Baik, tidak apa-apa. Kalau begitu saya akan menemui Lin saja, bisa anda tunjukan tempatnya?”

“Tentu, lewat sini.”

Tak berselang lama laki-laki itu membimbingnya hingga dia sampai di pintu kayu kecil yang bahkan ukurannya lebih kecil dibanding tinggi badan Zen. Laki-laki itu lalu mengetuk pintu kayu itu dengan kasar yang membuat Zen tersentak kaget.

‘Hoi, apa tidak apa-apa jika mengetuk sekeras itu? Bagaimana jika pintu itu roboh?’ batin Zen menanyakan perilaku laki-laki itu.

“Lin, keluarlah ada yang ingin mengadopsi mu,” ucap laki-laki itu.

Lalu pintu kayu itu terbuka sedikit dengan Lin yang hanya mengeluarkan kepala kecilnya dari balik pintu.

“Ada apa?” tanya Lin dengan dingin.

“Anak ini! Keluarlah! Ada orang yang ingin mengadopsi mu,” ucap laki-laki itu dengan kesal.

Dengan engan Lin melangkahkan dirinya untuk keluar dari kamarnya. Setelah itu Zen melihat penampilan Lin dengan sempurna.

Kemeja putih kusam yang menutupi dirinya sampai bagian pahanya yang diyakini Zen milik Leo dan rambut acak-acakan miliknya yang berbanding terbalik dengan penampilan Lin saat ditemui Zen saat itu.

Tidak, yang menarik perhatian Zen adalah memar biru di bagian pundak sebelah kananya. Itu sangat membuat mata Zen terasa sakit saat melihatnya.

‘Bagaimana bisa memar itu ada di sana? Jika aku ingat terakhir kali dia tidak mengalami memar seperti itu. Lalu jika begitu hanya ada satu kata yang menjelaskan semuanya,’ batin Zen diam-diam menatap laki-laki dengan perut buncit dengan tajam.

“Hoi, sapalah orang yang ingin mengadopsi mu ini,” ucap laki-laki itu dengan kasar sambil mendorong Lin mendekat kearah Zen.

Lin yang didorong segera menampar tangan pengurus panti itu dan menatapnya dengan sangat dingin.

“Jangan mendorongku sembarangan! Tanganmu tidak pantas untuk menyentuhku,” desis Lin sambil mencengkram erat ujung kemeja yang dipakainya.

“Dasar, anak tidak berguna! Berani sekali kau bersikap kasar seperti itu!” ucap laki-laki itu lalu mengangkat tangan kanannya untuk melayangkan tamparan kearah Lin.

Lin yang melihatnya mulai menutup mata dengan rapat dengan tubuh gemetar. Zen yang melihat tindakan berlebihan dari pengurus panti dengan sigap menahan laju tangannya dan mencengkram dengan erat yang membuat laki-laki itu berteriak kesakitan.

“Anda seharusnya tidak diperbolehkan untuk melayangkan tangan anda kepada anak kecil seperti itu,” ucap Zen dengan dingin.

Lin yang mendengar suara familier di telinganya mencoba membuka matanya dengan perlahan dan menatap orang yang kini berdiri tegap didepannya.

“Kakak….” gumam Lin menatap Zen dengan perasaan rumit.

“Oh, selamat siang Lin, bagaimana kabarmu?” tanya Zen dengan santai yang sangat tidak sesuai dengan ke adannya.

Lin yang mendengarnya tanpa sadar mengangguk pelan seakan menyatakan kalau dia baik-baik saja.

“Hehhh? Benarkah?” tanya Zen melepaskan cengkraman tangan laki-laki itu lalu beralih kearah Lin dan mensejajarkan tubuhnya supaya setara dengannya.

“Tetapi kulihat kamu tidak baik-baik saja,” ucap Zen sambil menatap memar yang ada di bahu Lin.

Lin yang menyadari tatapannya langsung menarik kemejanya untuk menutupi memar yang ada.

“Ah … itu tidak sengaja terantuk dengan meja kok, iya terantuk meja tadi,” ucap Lin berbohong dengan gugup.

“Hmmm, benarkah?” Tanya Zen lalu mengalihkan pandangannya kearah lengan kiri Lin yang terdapat memar juga.

Menyadari tatapannya Lin menjadi panik kembali dan berusaha untuk menutupi memarnya.

“Ah … itu juga tidak sengaja terantuk dengan meja,” ucap Lin sambil mengangguk-anggukan kepalanya dengan panik.

Zen yang mendengar alasannya hanya terkekeh pelan.

“Kamu tahu? Tidak baik bagi anak kecil sepertimu untuk berbohong lho,” ucap Zen dengan senyum tipis.

“Itu….” Lin menundukkan kepalanya takut sebelum mengangkat kepalanya ke atas menatap Zen.

Mata cokelat terang miliknya bergetar saat melihat pemilik panti mengangkat sebuah botol kaca (?) dan mengarahkannya langsung kearah Zen.

“Kakak, awas!” teriak Lin.

Sayang sekali, tetapi botol kaca itu mendarat lebih dahulu di kepala Zen sebelum Zen sempat menghindar. Bunyi botol kaca pecah terdengar dengan keras bahkan kepala Zen sedikit menunduk karena pukulan tersebut.

“Kakak…!” gumam Lin dengan mata yang kini sudah meneteskan air mata.

“HAHAHA, rasakan itu! Berani sekali anak muda sepertimu membantah orang yang lebih tua sepertiku, dasar tidak so-“

//Bughhh!

Sebuah pukulan dilayangkan langsung oleh Zen dengan tepat di bawah dagu laki-laki itu yang membuatnya terhuyung kebelakang. Zen menatap dingin laki-laki yang kini terbaring dihadapannya.

“Aku tidak menyangka jika laki-laki sepertimu menyerang anak-anak seperti aku ini,” ucap Zen sambil mengelap sisa air berwarna merah yang menetes dari kepalanya.

“Ck, alkohol ini terlalu menyengat,” gumam Zen dengan segera mengambil tisu yang diselipkan di saku celananya dan mengusap alkohol yang mungkin sudah tercampur dengan darahnya.

Setelah selesai dengan kegiatannya, tisu yang kini sudah berubah warna menjadi merah dia lemparkan kearah laki-laki pengurus panti yang pingsan karena pukulannya. Lalu berbalik menghadap Lin yang sedang berdiri menatapnya dengan mata berair.

“Hehhh? Apa aku menakuti mu? To-tolong jangan menangis!” ucap Zen dengan panik berusaha untuk mengelap air mata yang masih mengalir di mata Lin.

“Hiks….”

“Aigooo, hidupku….”

Setelah beberapa menit sesi tangis menangis tersebut, kini Lin sedang duduk di kursi tamu tempat ruang kerja pengurus panti tadi. Lin yang memiliki mata sembap kini sedang menatap Zen yang bergerak mencari suatu berkas di laci meja dengan bingung.

“Emm, kakak, apa tidak apa mengacak-acak tempat ini?” tanya Lin dengan bingung pasalnya kini ruangan pengurus panti yang awalnya memang sudah berantakan tambah berantakan karena Zen mengacak-acak berkas yang ada di laci meja.

“Kau tidak perlu khawatir Lin, tentu saja ini tidak apa-apa, anggap saja ini sebagai balasan untuk pengurus panti gendut itu,” ucap Zen yang masih setia mencari berkas yang diinginkannya.

“Kakak sebenarnya sedang mencari berkas apa? Biar Lin bantu carikan untuk kakak,” ucap Lin sambil turun dari kursi yang tadi didudukinya.

“Aku sedang mencari berkas pengadopsian atas nama kamu dan Leo, tidak perlu membantu, biar aku saja yang melakukannya,” ucap Zen tanpa memperhatikan Lin yang kini memasang ekspresi wajah terharu (?)

“Kakak benar-benar ingin mengadopsi kami?” tanya Lin memastikan sekali lagi.

“Tentu saja, jika tidak untuk apa aku membolos dari sekolahku?” tanya Zen yang tidak di jawab oleh Lin.

‘Sebenarnya tujuan utamaku ingin membolos adalah untuk menghindar dari jam pelajaran sesat itu sih,’ batin Zen mengingat tujuan utamanya.

‘Untung saja aku membolos, karena hari ini ada ulangan kimia! Bisa dipastikan aku sangat malas untuk memikirkan jawabannya,’ lanjut Zen dalam hati.

“Tetapi untuk apa kakak mengadopsi kami? Kami tidak berguna untuk kakak dan lagi kakak baru berumur 17 tahun … pasti berat untuk kakak mengasuh kami,” ucap Lin membuat gerakan Zen berhenti.

Lin yang melihat gerakan Zen berhenti mau tidak mau menundukkan kepalanya dengan sedih.

‘Tentu saja kakak akan merasa ragu, lagi pula orang mana yang akan mengadopsi dua orang anak saat berumur 17 tahun?’ batin Lin tanpa menyadari jika Zen sedang bergerak mendekat kearahnya.

Zen yang sudah mensejajarkan tinggi badannya dengan Lin mengangkat tangan kanannya dan meletakkan tepat di atas kepala Lin dan mengusapnya dengan pelan.

“Uhhh?” Lin yang tadinya menunduk kini menatap Zen yang berada dihadapannya.

“Lin, kamu tidak boleh mengatakan hal seperti itu lagi, semua manusia itu berguna, tidak terkecuali kamu dan kakakmu, kalian itu manusia yang berguna,” ucap Zen dengan senyum cerah.

“Tetapi … kalau aku dan kakak berguna mengapa kami ada di sini? Mengapa mama membuang kami?” tanya Lin dengan air mata yang kembali menggenang di kedua mata cantiknya.

“Err… aku tidak tahu tentang itu, mungkin saja mama mu tidak layak untuk mendapatkan anak secantik dan sepintar dirimu, begitu juga dengan kakakmu,” ucap Zen menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Yang pasti kalian itu berguna, mungkin bukan sekarang tetapi pasti ada saatnya kalian berguna entah itu untuk diri kalian sendiri maupun untuk orang lain,” ucap Zen sambil berdiri kembali, melanjutkan pencarian berkas pengadopsian Lin dan Leo.

‘Tentu saja pada masa depan mereka akan sangat berguna, aku tidak mengetahui kekuatan apa yang akan dibangkitkan oleh Lin tetapi aku merasa itu akan menjadi keuntungan besar untukku,’ batin Zen sambil mengobrak–abrik isi laci meja kembali.

‘Kami berguna?’ batin Lin sambil menyentuh tempat di mana saat kepalanya di usap oleh Zen.

‘Itu benar, kami berguna, kita semua berguna,’ batin Lin tersenyum cerah.

“Kalau begitu aku akan memban-“

“Whoaa! ketemu!” teriak Zen memotong perkataan Lin.

“Mana? Mana? Aku juga ingin melihatnya!” ujar Lin dengan semangat dan berlari menghampiri Zen.

Zen yang mendengarnya kembali berjongkok untuk membiarkan Lin melihat surat pengadopsian nya.

“Hm? Apa kita butuh tanda tangan pengurus panti juga?” tanya Lin dengan kening berkerut.

“Tentu saja, bagaimanapun juga pengadopsian tanpa tanda tangan pengurus panti atau pemilik panti itu tidak akan sah,” jawab Zen.

“Lalu bagaimana cara kita membuat agar pengurus panti menandatangani kertas ini?” tanya Lin mau tidak mau memikirkan pemilik panti yang masih pingsan di depan kamarnya.

“Hooh, selain tanda tangan ada juga cara untuk mengesahkan surat pengadopsian ini,” ujar Zen memberi tahu Lin.

“Hm? Bagaimana itu?” tanya Lin sambil memiringkan kepalanya.

“Dengan cap ibu jari! Yah walaupun itu jarang untuk digunakan tetapi itu masih berlaku di mata hukum dan ada undang-undangnya juga di negara ini," jelas Zen kepada Lin.

“Hooh, kalau begitu ayo kita lakukan, kak!” ucap Lin memandang Zen dengan senyum jahat diwajahnya.

“Tentu! Mari kita lakukan!” balas Zen dengan senyum polos dengan hawa-hawa tidak sedap.

Yah, entah apa yang mereka pikirkan tetapi sepertinya pikiran mereka terhubung di satu tempat yang sama. Yang pasti itu bukanlah hal baik.

...| (❁❁) |...

...•...

...•...

...•...

Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.

Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

Instagram : lmnr_vv

Episodes
1 |Prolog|
2 |(1) Penyebab Kematian|
3 |(2) Dimulai dari awal|
4 |(3)Rodriguez bersaudara|
5 |(4) keberuntungan besar?|
6 |(5) Tingkatan|
7 |(6) Hari yang sial dan untung|
8 |(7) Gagal menjadi anak biasa|
9 |(8) Nasib sial|
10 |(9) Dewa Sialan|
11 |(10) Max Foerster|
12 |(11)Fraksi|
13 |(12)Protagonis wanita|
14 |(13) Pengadopsian|
15 |(14) Tempat kerja aneh|
16 |(15) Pingsan berjamaah|
17 |(16) Senjata|
18 |(17) Kembar Ken & Kim|
19 |(18) Debat|
20 |(19) Masa Lalu|
21 |(20) Sang Elf|
22 |(21) Ash Artemaies|
23 |(22) Surat Pemindahan|
24 |(23) Pemindahan Transfer Pengadopsian|
25 |(24) Sabtu|
26 |(25) Latih Tanding|
27 |(26) Pemenang Latih Tanding|
28 |(27) Sudut Pandang Lain|
29 |(28) Analisa|
30 |(29) Dimulai|
31 |(30) Keadaan Ken dan Kim|
32 |(31) Pemerintah|
33 |(32) Insiden Tidak Terduga|
34 |(33) Munculnya zombie pertama|
35 |(34) Penghambat|
36 |(35) Kelompok menjengkelkan|
37 |(36) Rasa Kemanusiaan|
38 |(37) Lia Amerston|
39 |(38) Minimarket|
40 |(39) Apartemen Zen|
41 |(40) Rencana Selanjutnya|
42 |(41) Awal Cerita Asli|
43 |(42) Penyusunan Rencana|
44 |(43) Evolusi|
45 |(44) Kepribadian Ganda|
46 |(45) Cerita yang berubah|
47 |(46) Asal Usul Mia|
48 |(47) Pelajaran Pertama Untuk Leo|
49 |(48) Ini Ide yang Paling Baik Bukan?|
50 |(49) Pertengkaran di Antara Dua Saudara|
51 |(50) Hasil Akhir Rencana|
52 |(51) Penyempurnaan 2%|
53 |(52) Dua Benda Misterius|
54 |(53) Zombie Daerah Kumuh|
55 |(54) Jatuh|
56 |(55) Lari|
57 |(56) Pertengkaran?|
58 |(57) Tempat Tinggal|
59 |(58) Rencana dan Rute|
60 |(59) Pertemuan|
61 |(60) Pembicaraan|
62 |(61) Ide Bisnis|
63 |(62) Tantangan Duel|
64 |(63) Seseorang|
65 |(64) Tentara?|
66 |(65) Relasi|
67 |(66) Sama|
Episodes

Updated 67 Episodes

1
|Prolog|
2
|(1) Penyebab Kematian|
3
|(2) Dimulai dari awal|
4
|(3)Rodriguez bersaudara|
5
|(4) keberuntungan besar?|
6
|(5) Tingkatan|
7
|(6) Hari yang sial dan untung|
8
|(7) Gagal menjadi anak biasa|
9
|(8) Nasib sial|
10
|(9) Dewa Sialan|
11
|(10) Max Foerster|
12
|(11)Fraksi|
13
|(12)Protagonis wanita|
14
|(13) Pengadopsian|
15
|(14) Tempat kerja aneh|
16
|(15) Pingsan berjamaah|
17
|(16) Senjata|
18
|(17) Kembar Ken & Kim|
19
|(18) Debat|
20
|(19) Masa Lalu|
21
|(20) Sang Elf|
22
|(21) Ash Artemaies|
23
|(22) Surat Pemindahan|
24
|(23) Pemindahan Transfer Pengadopsian|
25
|(24) Sabtu|
26
|(25) Latih Tanding|
27
|(26) Pemenang Latih Tanding|
28
|(27) Sudut Pandang Lain|
29
|(28) Analisa|
30
|(29) Dimulai|
31
|(30) Keadaan Ken dan Kim|
32
|(31) Pemerintah|
33
|(32) Insiden Tidak Terduga|
34
|(33) Munculnya zombie pertama|
35
|(34) Penghambat|
36
|(35) Kelompok menjengkelkan|
37
|(36) Rasa Kemanusiaan|
38
|(37) Lia Amerston|
39
|(38) Minimarket|
40
|(39) Apartemen Zen|
41
|(40) Rencana Selanjutnya|
42
|(41) Awal Cerita Asli|
43
|(42) Penyusunan Rencana|
44
|(43) Evolusi|
45
|(44) Kepribadian Ganda|
46
|(45) Cerita yang berubah|
47
|(46) Asal Usul Mia|
48
|(47) Pelajaran Pertama Untuk Leo|
49
|(48) Ini Ide yang Paling Baik Bukan?|
50
|(49) Pertengkaran di Antara Dua Saudara|
51
|(50) Hasil Akhir Rencana|
52
|(51) Penyempurnaan 2%|
53
|(52) Dua Benda Misterius|
54
|(53) Zombie Daerah Kumuh|
55
|(54) Jatuh|
56
|(55) Lari|
57
|(56) Pertengkaran?|
58
|(57) Tempat Tinggal|
59
|(58) Rencana dan Rute|
60
|(59) Pertemuan|
61
|(60) Pembicaraan|
62
|(61) Ide Bisnis|
63
|(62) Tantangan Duel|
64
|(63) Seseorang|
65
|(64) Tentara?|
66
|(65) Relasi|
67
|(66) Sama|

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!