|(3)Rodriguez bersaudara|

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.

...•...

...•...

...•...

Sebelumnya :

“Sudahlah, lebih baik tidak terlalu memperdulikannya. Bukankah sudah bagus dia ingin berubah menjadi lebih baik?” ucap Fin lalu berjalan masuk kedalam kamar apartemen milik Zen.

...| (❁❁) |...

Kutarik napas dengan perlahan dan menghembuskan nya sambil menikmati udara sejuk dan segar yang sudah lama tidak aku rasakan ini.

Dengan perlahan ku langkahkan kakiku berlari kecil sambil menikmati pemandangan di sekitar.

Target hari pertamaku adalah joging sejauh 2 km. Mengapa harus 2 km? Jawabannya sederhana, aku tidak pernah berolahraga sama sekali atau bisa kubilang aku membenci olahraga.

Jika aku langsung loncat ke 5 km, bisa dipastikan aku tidak sanggup menyelesaikannya dan kemungkinan terburuknya adalah aku bisa saja pingsan di tengah jalan karena kelelahan.

‘Ini saja aku melihat preferensi dari website. Yah, semoga saja aku bisa menyelesaikannya.’

500 meter napas milikku masih tersedia cukup banyak dan masih tidak ada tanda-tanda kelelahan dari tubuhku. 1 km napas milikku mulai terengah-engah dan keringat mulai muncul dari dahi ku, tetapi aku masih bisa berlari kecil dan mempertahankannya.

1,5 km tubuh milikku sudah mulai bergetar kelelahan dan pasokan oksigen yang ada di paru-paru milikku sudah semakin menipis. Langkah kaki milikku juga sudah berubah yang tadinya berlari pelan kini mulai berjalan pelan.

‘Sial, apa lari memang melelahkan seperti ini? Atau kekuatan fisikku saja yang terlalu lemah?’ batinku sambil mengusap keringat yang menetes dari dahi ku.

Kucari tempat duduk untuk mengistirahatkan tubuhku sejenak.

‘Jika itu dulu mungkin aku tidak akan selemah ini.’ pikirku.

Mau tak mau aku mulai mengingat kehidupan sengsara yang sudah kujalani saat awal-awal akhir dunia. Saat akhir dunia dimulai, itu adalah hari sabtu dan aku berada di sekolah menengah atas.

Ku gelengkan kepalaku pelan mencoba menepis pikiran samar yang ada.

Bagaimana jika kita mengingatnya dari kalimat yang ditulis di buku tersebut saja? Baiklah akan aku ceritakan secara singkat.

Tepat saat jam belajar mandiri bagi para siswa yang bersekolah, lebih tepatnya jam 13.00 siang, bumi memiliki fenomena aneh.

Di mana selama satu jam itu terjadi gerhana yang menyebabkan seluruh bumi menjadi gelap. Handphone, internet dan alat elektronik lainnya tidak bisa digunakan sama sekali.

Itu benar-benar keadaan yang sangat kacau sekali. Manusia tidak bisa melihat selama satu jam dan hanya bisa menyusut memeluk dirinya sendiri dipojok ruangan sambil bergetar ketakutan.

Teriakan minta tolong terdengar dari gedung ke gedung, tetapi tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka sama sekali. Baik itu orang tua, anak-anak, bahkan orang yang lewat sekalipun merasa panik dan berlarian ke seluruh arah untuk menyelamatkan diri mereka.

Para orang tua melupakan anak mereka yang menangis dan lebih memilih untuk meninggalkannya di tengah jalan. Para anak muda menabrak ke segala arah tanpa memedulikan siapa yang ditabraknya, sekalipun itu adalah orang tua yang susah untuk berjalan.

Saat itu seluruh dunia terasa kacau. Manusia-manusia itu seperti serangga yang berlarian tanpa arah. Tepat saat jam menunjukkan angka 14.01, dunia yang gelap kembali mendapatkan penerangannya.

Handphone, internet, serta alat elektronik yang bisa digunakan kembali. Para manusia yang panik mulai mendapatkan kembali ketenangannya dan secara serempak melihat kearah handphone mereka masing-masing.

Pada saat itu mereka tidak sadar sama sekali, mereka tidak sadar jika langit yang seharusnya berwarna biru di atas berubah menjadi warna merah oranye yang tampak tidak normal. Tentu saja mereka tidak sadar, mereka semua hanya terfokus dengan handphone milik mereka sendiri.

Seluruh internet menjadi ricuh, tetapi sekeliling mereka terasa sunyi. Yang terdengar adalah ketikan jari di setiap handphone.

Mereka kembali tersadar saat mendengar suara teriakan menjerit dari seorang wanita, saat itulah dunia yang baru saja damai kembali kacau.

Bagaimana tidak? Wanita yang menjerit kesakitan itu menjerit karena digigit oleh manusia di sebelahnya. Manusia yang mengigit itu tidak normal, mata miliknya berubah menjadi merah darah tanpa memiliki titik fokus.

Teriakan kesakitan melengking dengan keras, suara tolong samar yang terucap dari wanita itu tidak dihiraukan sama sekali oleh orang disekitarnya. Bahkan orang disekitarnya bergegas menjaga jarak dari orang tersebut.

Semuanya hanya melihat dengan ekspresi horor di wajah mereka tanpa niatan untuk membantu sama sekali.

Sungguh tidak bermoral sekali bukan? Jika ... jika saja mereka membantu wanita itu dan membunuh orang yang menggigitnya mungkin akhir dunia tidak akan terjadi.

Itu benar, orang yang mengigit wanita tersebut sudah terinfeksi virus zombie atau bisa dibilang dia adalah zombie pertama.

Padahal hanya satu zombie saat itu. Andai ... andai saja kerumunan orang itu mau membantu wanita itu dan sama-sama bekerja sama untuk membunuh satu zombie itu, manusia tidak perlu bersusah payah untuk menghadapi zombie di masa depan.

Tetapi mau bagaimana lagi, manusia adalah makhluk egois, tentu saja tidak akan ada yang mau membantunya dengan sukarela, terlebih menghadapi fenomena aneh itu.

Lima menit wanita itu memohon dengan menyedihkan untuk diselamatkan tetapi sayang, tidak ada satu orangpun yang tergerak olehnya. Dengan begitu wanita itu terinfeksi dan berubah menjadi zombie.

Perlu kalian tahu, proses manusia berubah menjadi zombie membutuhkan waktu sekitar lima menit. Perubahan terjadi jika kita terkena air liur orang yang terinfeksi zombie atau darah milik zombie yang memasuki luka kita.

Proses itu terjadi dengan sangat menyakitkan.

Buku itu juga menggambarkan rasa sakitnya dengan sangat mendetail, seperti detak jantung yang berdebar dua kali lebih cepat, darah yang mengalir mengalami panas yang tidak biasa seakan setiap pembuluh darah milikmu akan meledak dan terakhir adalah napas yang berangsur-angsur semakin menipis dan berakhir dengan menghilang.

Kalian harus mengalami siksaan di atas selama kurang lebih lima menit sebelum berubah menjadi zombie. Tepat setelah lima menit kalian akan berubah menjadi zombie yang tidak merasakan rasa sakit atau bisa disebut mati rasa dan tidak memiliki kewarasan.

Bahkan tidak jarang proses itu disingkat karena korban kehilangan kewarasannya lebih dahulu akibat tidak kuat dengan rasa sakit yang diderita.

Lima menit selesai, wanita itu sudah sepenuhnya terinfeksi virus zombie dan menjadi zombie. Kedua zombie itupun meraung dengan ganas dan mulai menyebarkan virusnya kepada orang terdekat.

Derap kaki mulai terdengar dengan kacau. Orang-orang berlarian ke segala arah. Teriakan, jeritan, raungan, terdengar ke segala penjuru. Dengan begitu virus zombie mulai menyebar luas, bahkan kurang dari waktu 2 jam, seluruh orang di wilayah itu sudah sepenuhnya terinfeksi dan berubah menjadi zombie.

Tetapi ada satu pertanyaan yang tidak aku mengerti bahkan setelah selesai membaca buku itu sampai akhir.

‘Siapa yang meletakkan zombie pertama? Virus ini terjadi bukan karena kecerobohan ilmuan yang meneliti sesuatu hingga menyebabkan virus tersebar melainkan memang ada seseorang yang sudah memiliki zombie ini dan melepaskannya dengan sengaja.'

Apa itu rencana seseorang? tetapi bagaimana dia bisa membuat fenomena gerhana total itu? Ilmuan? tetapi setahuku tidak mungkin ada ilmuan yang bisa melakukan fenomena itu bukan? Jika ada bukankah itu menakutkan?

Pertanyaan itulah yang selalu menghantui pikiranku sekarang.

Jika pun ada ilmuan yang bisa melakukanya lalu apa tujuannya? Menghancurkan seluruh dunia? mengapa dia tidak mengunakan bom nuklir ataupun bom atom saja kalau begitu?!

Satu hal yang bisa kupikirkan, jika pun ada ilmuan seperti itu, bisa dipastikan ilmuan itu memiliki penyakit keterbelakangan mental!

Sudahlah, daripada memikirkan jawaban tidak berujung ini, lebih baik aku mulai melanjutkan kembali lari pagi ku.

Selama berlari pikiranku kembali mengingat akhir novel itu.

Jika kalian mengira akhir novel itu berakhir happy ending dengan kakakku diselamatkan protagonis perempuan, maka itu salah besar. Bahkan protagonis perempuan sudah lama mati di sekitar bab 20.

Jika itu disebut bad ending dengan si pengkhianat berhasil menjalankan rencananya, itu juga salah besar, karena setelah kakakku dimanipulasi sebagian besar pengelolaan yang berada di tangannya hancur ditangan pengkhianat dan pihak lawan.

Bahkan krisis makanan semakin menjadi-jadi sampai pihak pengkhianat bersusah payah untuk memakan makanan sisa dan hanya bisa memanfaatkan kemampuan supranatural ruang waktu untuk menyimpan makanan.

Kata yang tepat untuk ending itu adalah GANTUNG atau OPEN ENDING! Yah itu adalah kata yang paling tepat untuk menafsirkannya. Cerita itu berakhir sampai di krisis makanan saja dan tidak ada keterangan apa pihak manusia akan punah atau tidak.

Tetapi aku bisa menebak secara kasar jika pihak manusia pasti hanya tersisa 0,5% dari populasi awalnya.

Ahhh! Sebenarnya siapa yang menulis buku seperti ini? mengapa endingnya menggantung seperti itu?! Jika menurutku lebih baik diakhiri dengan bad ending saja!

Oh, omong-omong tentang penulis buku itu, tidak ada nama yang tertera di dalam bukunya. Bisa kita sebut penulis buku itu adalah anonim. Kalian harus tahu juga, buku yang aku baca itu bukan buku ketik, tetapi lebih mirip dengan tulisan tangan manusia. Umm ... seperti sebuah diary?

Ukh, memikirkannya saja sudah membuatku merinding merasa ngeri.

‘Omong-omong tulisan tangan....’ ku hentikan langkah ku secara spontan dan berdiri termenung di pinggir jalan.

Sudut pandang yang digunakan oleh novel itu adalah sudut pandang campuran! Yang berarti sudut pandang itu bukan hanya berasal dari protagonis, melainkan dari peran pembantu lainnya.

Yang membuatnya mengerikan adalah sudut pandang itu digunakan di setiap peran pembantu yang lewat. Bahkan jika peran itu hanya memiliki 1 atau 2 dialog tetap akan ditulis melalui sudut pandangnya.

Sama seperti diriku! Bahkan penjelasan menurut pandanganku, isi pikiran ku, bahkan sampai emosi yang kurasakan saat itu sama persis seperti yang ditulis di buku itu.

Ku tutup sebelah muka milikku dengan tangan kiri dan tertawa dengan hampa.

‘Hahahaha, tidak mungkin bukan jika ini kebetulan?’

Ku anggukan kepalaku secara kasar. Tentu saja bagaimana mungkin jika yang menulis buku itu manusia? Aku lebih percaya jika dewa ataupun tuhan yang menulisnya.

‘Tetapi ... memangnya tuhan bisa menulis tangan seperti itu?’

Ku tepis pertanyaan itu dari kepalaku. Mungkin saja bisa bukan? Mungkin tuhan ataupun dewa tersebut tidak mempunyai pekerjaan yang membuat dirinya merasa bosan, makanya pada waktu luang itu, dia menghabiskan waktunya untuk menulis sebuah cerita aneh dengan ending gantung dan karena hasil kebosanannya itulah tanpa sadar menciptakan dunia yang persis seperti novel yang dia tulis.

‘Yah, anggap saja seperti itu.’

Ku lanjutkan kembali langkah kaki yang tadinya berhenti. Karena tanggung jika melanjutkan lima ratus meter, lebih baik ku tembus saja lagi satu kilometer. Total lari ku hari ini menjadi 3 kilometer.

Sepertinya setelah ini aku harus membeli alat beban ringan dengan beban 2 kg. aku akan memasangnya di tubuhku selama seminggu ini dan melihat efeknya saat hari akhir nanti.

Mataku mulai menelusuri jalan sekitar untuk melihat apa ada toko yang menjual peralatan olahraga seperti itu.

Tanpa sadar tatapan mataku jatuh di atas batu bata yang sedang diangkut oleh alat katrol.

‘Kabut ungu.’

Yah, aku melihat kabut ungu tipis di sekitar alat katrol bangunan itu. Bisa dipastikan jika katrol itu tidak bisa bertahan dengan lama dan akan rusak yang mengakibatkan semua batu bata yang sedang diangkut akan jatuh.

Ku perhatikan orang-orang yang berada di jangkauan jatuhnya batu bata. Total ada 3 orang yang berada di jangkauan. 1 orang anak muda dan 2 lainnya adalah pria paruh baya. Setelah cukup melihat ku lanjutkan kembali langkahku.

‘Toh, itu bukan urusanku apa mereka celaka atau tidak.’

Jika kalian beranggapan aku jahat biar saja kalian memanggilku seperti itu. Aku juga bukan termasuk orang yang baik. Mungkin jika kalian bertemu diriku pada masa lalu, aku akan berteriak dengan bodohnya untuk memperingatkan mereka dan berakhir dengan tidak digubrisnya tindakanku itu.

Tetapi sekarang, setelah semua kehidupan yang ku lalui di kiamat dan segala pengkhianatan yang ku alami, aku lebih memilih untuk mengacuhkan mereka semua dan menganggap itu semua nasib sial mereka saja.

‘Hidup sebagai orang jahat lebih mudah dilakukan daripada hidup sebagai orang baik.’

Lagi pula tujuan hidupku kali ini adalah untuk menyelamatkan kakak dan memberikannya ending yang bagus, bukan untuk menjadi pahlawan yang dipuji oleh semua umat manusia.

“Ah! Bolaku!” ucap anak perempuan sekitar umur 6 atau 7 tahun.

Langkah kakiku terhenti setelah mendengar suara itu. Ku balikkan tubuhku menghadap suara dan betapa terkejutnya aku melihat anak perempuan berumur 6 atau 7 tahun berlarian menuju arah batu bata yang sedang diangkut itu.

‘Sial, sebenarnya apa yang dilakukan para pekerja bangunan ini?! Bagaimana mereka bisa membiarkan anak kecil berlarian seenaknya di area konstruksi!’

Kulihat anak kecil itu berlari riang menuju bola karet miliknya, tidak dia berjalan menuju jurang maut!

‘Haruskah aku menolongnya?’

Pikiranku semakin bimbang untuk menyelamatkannya atau tidak. Ku lirik anak kecil yang tertawa riang setelah mengambil bola miliknya, lirikan ku beralih kearah katrol yang diliputi oleh kabut ungu yang semakin pekat, sebentar lagi pengait katrol itu akan terlepas.

‘Masa bodoh dengan semua itu!’

Ku langkahkan kakiku dengan cepat kearahnya dan menggendongnya dengan cepat membuatnya melepaskan bola yang sudah ada di genggamannya. Bisa kulihat ekspresi terkejut yang tertera jelas diwajahnya. Tetapi tidak ada waktu untuk menjelaskan karena pengait katrol itu akan terlepas sebentar lagi!

Dengan sigap kubawa anak itu menuju tempat yang tidak terjangkau runtuhan batu bata. Bisa kudengar suara pengait katrol yang lepas dan batu bata yang berjatuhan dari atas. Jangan lupakan suara teriakan orang yang berada di sekitar area konstruksi.

‘Padahal aku sudah berlari cukup cepat tetapi masih saja terkena batu bata!’ batinku sambil mengelus pelan belakang punggungku yang terkena batu bata.

Segera kulihat kondisi anak kecil yang berada di dalam pelukanku.

“Hei, nak. Apa kamu baik-baik saja?” tanyaku khawatir.

Bisa kulihat mukanya masih memasang ekspresi syok dengan beberapa air mata yang menetes dari matanya. Aku menghela napas dan mulai membujuknya seperti anak kecil untuk membuatnya berhenti menangis.

“Baik-baik, semuanya sudah berakhir, semuanya berakhir dengan baik-baik saja dan kamu selamat,” ucapku sambil menepuk-nepuk punggung kecilnya yang bergetar, terdengar isakkan kecil yang datang dari mulut kecilnya.

“Hikss … woo … a-aku hikss … aku takut … woo …. ”

“Oke, semuanya sudah berakhir dan semuanya baik-baik saja.”

“Hikss … aku … ingin kakak … hikss … aku ingin kakakku!”

“Hmm?”

‘Apa dia kemari dengan kakaknya? Lalu di mana kakak anak ini?’ batinku bertanya-tanya.

Kulihat sekeliling untuk mencari orang yang dimaksud anak kecil ini.

Di sini banyak sekali orang, terlebih orang yang ingin menonton kesenangan. Kulihat para warga mulai membantu memindahkan batu bata dan mengevakuasi orang yang terjebak di bawah batu bata.

‘Di mana kakak anak ini? Apa dia tidak menyadari adiknya menghilang?’

“Lin!”

“Lin! di mana kamu?!”

“Hikss … kakak!”

Kulihat pemuda berusia sekitar 13 tahun (?) menerobos kerumunan yang berada di area konstruksi.

“Dia kakakmu?”

Kulihat anak kecil itu menganggukkan kepala dan menunjukkan tangannya kearah kerumunan.

“Ah, Lin!” teriaknya dan berlari liar ke arahku.

Segera ku serahkan anak yang berada di pelukanku kepadanya. Kulihat dia memeluk anak kecil itu dengan erat sambil bergumam kata syukur. Kulihat lagi wajah pemuda di hadapanku ini, entah mengapa sepertinya aku pernah melihat wajahnya. Tetapi di mana?

“Terima kasih! terima kasih karena sudah menyelamatkan adikku, Lin!” ucap pemuda itu sambil membungkuk 90 derajat.

“Lin, kamu harus berterimakasih kepada penyelamatmu juga!”

“Baik kakak, paman aku ingin berterimakasih karena paman sudah menyelamatkanku.”

“Ah, tidak ... tidak masalah. lagi pula aku juga kebetulan berada di lokasi dan melihatnya,” ucapku sambil tersenyum ramah.

‘Apa yang bocah kecil itu bilang? Paman?! Apa aku setua itu?!’ batinku berteriak kesal.

“Yah, sekali lagi kami berdua berterimakasih karena paman sudah menyelamatkan Lin.” ucap pemuda itu sekali lagi.

‘Mengapa dia juga ikut-ikutan memanggilku paman?! Walaupun wajahku tidak setampan kakakku, setidaknya wajahku masih layak disebut tampan dalam kisaran remaja!’

“Ekhm … itu tidak masalah jadi tidak perlu berterimakasih lagi. Dan berhenti memanggilku paman! Apa wajahku setua itu? Umurku tujuh belas tahun, tahun ini!” ucapku menggebu-gebu yang membuat wajah pemuda itu menjadi memerah karena malu.

“Ehh? Ka-kalau begitu sa-saya minta maaf! Ha-haruskah saya memanggil anda kakak?”

“Itu lebih baik, omong-omong siapa namamu?” tanyaku penasaran.

“Ah, nama saya Leo, Leo Rodriguez dan ini Lin Rodriguez, salam kenal kak.” Ucap pemuda itu dengan senyum lima jari diwajahnya.

Bagai petir disiang bolong. Bagaimana bisa pemuda di hadapanku ini adalah pemuda yang akan menjadi pembunuh yang paling diincar oleh lima basis terkuat?!

Jika dilihat sekali lagi memang terlihat mirip hanya saja bocah di depanku ini lebih polos dibandingkan dengan Leo yang kukenal.

Leo yang dikenal pada hari kiamat akan memiliki bau darah bahkan dari jarak 100 meter jauhnya. Lalu bagaimana bisa bocah polos di hadapanku ini akan menjadi pembunuh di masa depan?!

...| (❁❁) |...

...•...

...•...

...•...

Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.

Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

Instagram : lmnr_vv

Terpopuler

Comments

Diki Wahyudin

Diki Wahyudin

3 meter?

2023-05-29

0

R E M E D Y

R E M E D Y

1 km kali bang

2023-04-18

0

Rosdiana Syarif

Rosdiana Syarif

lanjut Thor

2022-10-08

0

lihat semua
Episodes
1 |Prolog|
2 |(1) Penyebab Kematian|
3 |(2) Dimulai dari awal|
4 |(3)Rodriguez bersaudara|
5 |(4) keberuntungan besar?|
6 |(5) Tingkatan|
7 |(6) Hari yang sial dan untung|
8 |(7) Gagal menjadi anak biasa|
9 |(8) Nasib sial|
10 |(9) Dewa Sialan|
11 |(10) Max Foerster|
12 |(11)Fraksi|
13 |(12)Protagonis wanita|
14 |(13) Pengadopsian|
15 |(14) Tempat kerja aneh|
16 |(15) Pingsan berjamaah|
17 |(16) Senjata|
18 |(17) Kembar Ken & Kim|
19 |(18) Debat|
20 |(19) Masa Lalu|
21 |(20) Sang Elf|
22 |(21) Ash Artemaies|
23 |(22) Surat Pemindahan|
24 |(23) Pemindahan Transfer Pengadopsian|
25 |(24) Sabtu|
26 |(25) Latih Tanding|
27 |(26) Pemenang Latih Tanding|
28 |(27) Sudut Pandang Lain|
29 |(28) Analisa|
30 |(29) Dimulai|
31 |(30) Keadaan Ken dan Kim|
32 |(31) Pemerintah|
33 |(32) Insiden Tidak Terduga|
34 |(33) Munculnya zombie pertama|
35 |(34) Penghambat|
36 |(35) Kelompok menjengkelkan|
37 |(36) Rasa Kemanusiaan|
38 |(37) Lia Amerston|
39 |(38) Minimarket|
40 |(39) Apartemen Zen|
41 |(40) Rencana Selanjutnya|
42 |(41) Awal Cerita Asli|
43 |(42) Penyusunan Rencana|
44 |(43) Evolusi|
45 |(44) Kepribadian Ganda|
46 |(45) Cerita yang berubah|
47 |(46) Asal Usul Mia|
48 |(47) Pelajaran Pertama Untuk Leo|
49 |(48) Ini Ide yang Paling Baik Bukan?|
50 |(49) Pertengkaran di Antara Dua Saudara|
51 |(50) Hasil Akhir Rencana|
52 |(51) Penyempurnaan 2%|
53 |(52) Dua Benda Misterius|
54 |(53) Zombie Daerah Kumuh|
55 |(54) Jatuh|
56 |(55) Lari|
57 |(56) Pertengkaran?|
58 |(57) Tempat Tinggal|
59 |(58) Rencana dan Rute|
60 |(59) Pertemuan|
61 |(60) Pembicaraan|
62 |(61) Ide Bisnis|
63 |(62) Tantangan Duel|
64 |(63) Seseorang|
65 |(64) Tentara?|
66 |(65) Relasi|
67 |(66) Sama|
Episodes

Updated 67 Episodes

1
|Prolog|
2
|(1) Penyebab Kematian|
3
|(2) Dimulai dari awal|
4
|(3)Rodriguez bersaudara|
5
|(4) keberuntungan besar?|
6
|(5) Tingkatan|
7
|(6) Hari yang sial dan untung|
8
|(7) Gagal menjadi anak biasa|
9
|(8) Nasib sial|
10
|(9) Dewa Sialan|
11
|(10) Max Foerster|
12
|(11)Fraksi|
13
|(12)Protagonis wanita|
14
|(13) Pengadopsian|
15
|(14) Tempat kerja aneh|
16
|(15) Pingsan berjamaah|
17
|(16) Senjata|
18
|(17) Kembar Ken & Kim|
19
|(18) Debat|
20
|(19) Masa Lalu|
21
|(20) Sang Elf|
22
|(21) Ash Artemaies|
23
|(22) Surat Pemindahan|
24
|(23) Pemindahan Transfer Pengadopsian|
25
|(24) Sabtu|
26
|(25) Latih Tanding|
27
|(26) Pemenang Latih Tanding|
28
|(27) Sudut Pandang Lain|
29
|(28) Analisa|
30
|(29) Dimulai|
31
|(30) Keadaan Ken dan Kim|
32
|(31) Pemerintah|
33
|(32) Insiden Tidak Terduga|
34
|(33) Munculnya zombie pertama|
35
|(34) Penghambat|
36
|(35) Kelompok menjengkelkan|
37
|(36) Rasa Kemanusiaan|
38
|(37) Lia Amerston|
39
|(38) Minimarket|
40
|(39) Apartemen Zen|
41
|(40) Rencana Selanjutnya|
42
|(41) Awal Cerita Asli|
43
|(42) Penyusunan Rencana|
44
|(43) Evolusi|
45
|(44) Kepribadian Ganda|
46
|(45) Cerita yang berubah|
47
|(46) Asal Usul Mia|
48
|(47) Pelajaran Pertama Untuk Leo|
49
|(48) Ini Ide yang Paling Baik Bukan?|
50
|(49) Pertengkaran di Antara Dua Saudara|
51
|(50) Hasil Akhir Rencana|
52
|(51) Penyempurnaan 2%|
53
|(52) Dua Benda Misterius|
54
|(53) Zombie Daerah Kumuh|
55
|(54) Jatuh|
56
|(55) Lari|
57
|(56) Pertengkaran?|
58
|(57) Tempat Tinggal|
59
|(58) Rencana dan Rute|
60
|(59) Pertemuan|
61
|(60) Pembicaraan|
62
|(61) Ide Bisnis|
63
|(62) Tantangan Duel|
64
|(63) Seseorang|
65
|(64) Tentara?|
66
|(65) Relasi|
67
|(66) Sama|

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!