Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
“Huhhh, baiklah mari kita tunda pembicaraan ini, dan ikuti aku saja,” ucap Zen lalu mendahului untuk berjalan.
“Kita akan ke mana?” tanya Lin berjalan di samping Zen.
“Kalian akan tahu nanti,” ucap Zen membuat rasa penasaran Lin dan Leo semakin meningkat.
...| (❁❁) |...
Ruangan dengan keseluruhan berwarna hitam dengan dekorasi ringan, hanya ada karpet berbulu berwarna abu-abu mewah yang berada di bawah sofa beludru berwarna hitam.
Rak buku yang dipenuhi buku-buku tebal di sudut ruangan dan lampu gantung Kristal yang bercahaya dengan terang.
Yang paling menonjol adalah sofa panjang beludru berwarna hitam yang diletakkan di tengah-tengah karpet abu-abu itu. Oh, jangan lupakan meja bundar yang diletakan di depan sofa panjang mewah tersebut. Tentu saja meja itu tidak kalah mewah dengan sofa panjang tersebut.
Meja yang terbuat dari kayu gaharu yang dicat dengan warna hitam dan dibuat dengan desain yang sederhana sekaligus mewah.
Jangan lupakan kembali lapisan ujung meja yang berwarna emas itu, ah, tidak, terbuat dari emas yang menambah kesan mewah dari meja bundar sederhana tersebut.
Secara totalitas ruangan itu adalah ruangan yang sederhana namun mewah secara bersamaan yang mungkin membuat orang-orang akan merasa segan saat menginjakkan kaki di dalamnya.
Tapi sepertinya itu tidak berpengaruh dengan seorang pria yang sudah merebahkan dirinya di atas sofa panjang beludru itu.
Pria dengan rambut panjang sepinggang berwarna hitam yang diikat tinggi dengan baju sederhana berupa kemeja hitam yang dua kancing atasnya terbuka membiarkan kulit putih lehernya terekspos begitu saja dengan celana hitam panjang yang menutupi kakinya tanpa embel-embel perhiasan yang membuatnya tidak terbanting dengan ruangan hitam mewah tersebut.
Karisma yang dipancarkan oleh laki-laki itu tidak main-main. Walaupun matanya terpejam itu sama sekali tidak mengurangi karismanya, seperti iblis yang mampu memikat siapa saja di ruangan redup tersebut.
Ah, walaupun dia tidak menambah aksesoris di dalam pakaiannya tetapi satu tangan pucat miliknya sudah memiliki aksesoris yang menunjukkan bahwa dia adalah penguasa.
Tangan kiri miliknya memiliki aksesoris yang sangat mencolok, cincin dengan berbagai macam berlian yang diukir dengan indah, dipakainya di kelima jarinya.
Ibu jari dengan cincin berwarna biru tua, Sapphire. Jari telunjuk dengan cincin berwarna merah pekat, Ruby. Jari tengah dengan cincin berwarna unggu, Amethyst. Jari manis dengan cincin berwarna hijau pekat, Peridot. Dan jari kelingking dengan cincin berwarna hitam pekat, Obsidian.
Bukankah mencolok? Walau begitu, saat ke lima berlian itu dipakai ditangannya entah mengapa bukan terlihat aneh, melainkan terlihat sangat indah. Seolah-olah tangan pucat miliknya memang ditakdirkan untuk memakai kelima jenis berlian tersebut.
Mata dengan bulu mata lentik itu sedikit bergetar saat mendengar ketukan yang datang dari luar pintu, dengan perlahan mata yang terpejam itu terbuka menampilkan iris dengan warna keemasan yang indah, dahi mulus miliknya sedikit berkerut seolah menandakan jika dia terganggu dengan suara ketukan yang datang.
“Masuk,” suara berat dengan melodi serak mengalun membuat siapa saja yang mendengarnya akan mengira jika dia adalah raja iblis yang pemarah.
Setelah mendengar jawaban dari bosnya, dengan hati-hati laki-laki berbadan kekar yang mengunakan setelan professional itu membuka pintu dan masuk kedalam ruangan.
Dengan gugup laki-laki itu tidak berani berbicara sebelum diberikan izin dari laki-laki pucat yang bangun dari tidurnya namun kembali memejamkan matanya dengan tangan kanan yang menopang dagu dan tangan kiri yang berada di atas meja.
Bunyi ketukan dengan irama teratur yang dihasilkan oleh jari telunjuk yang dihiasi berlian ruby itu berdengung di seluruh ruangan. Membuat laki-laki itu semakin gugup dan berkeringat dingin.
“Ada apa?” dengan malas mata yang terpejam itu kembali terbuka dan menatap lurus kearah pria kekar berjas itu.
“Maaf mengganggu waktu anda Bos! Kami sudah menemukan lokasi senapan milik anda yang diambil oleh mafia bodoh tersebut!” ucap pria kekar itu mencoba untuk tidak terbata-bata.
Mata dengan iris emas itu memicing dengan senyuman tipis tertera di bibir merah mudanya.
“Cepat sekali, kupikir akan memakan waktu sampai nanti malam,” ucapnya dengan ringan.
“Tentu saja kami melakukan dengan cepat, kami tidak ingin menunda pekerjaan, terlebih yang dicuri adalah senapan milik bos!” seru lelaki kekar tersebut yang membuat laki-laki itu tertawa.
Dengan segera dia mengubah posisi duduknya dengan kaki yang disilangkan dan tangan kanannya yang meraih ibu jari tangan kirinya dan mulai mengelus dengan pelan kelima cincinnya.
“Lalu apa kalian sudah membawa senapan ku kemari?”
“Kami sudah membawanya kemari Bos!” ucap laki-laki itu lalu menepuk tangannya tiga kali dan tak berapa lama sekitar 4 pria berbadan kekar lainnya masuk kedalam ruangan tersebut sambil membawa kotak besi yang lumayan panjang dan meletakkannya di hadapan Bos mereka.
“Oh, tidak ada lecet?”
Dengan segera laki-laki itu mendekat dan membuka kunci yang tertera di kotak besi tersebut.
//Klik……
Kening pucat miliknya berubah menjadi kerutan samar dan membuka peti itu dengan perlahan. Setelah membukanya. Terlihat jelas sebuah senapan berwarna hitam, yang tak lain adalah senapan MOSKOW – SVLK- 145 Sumrak.
Lalu lirikan matanya kembali lagi mengarah ke kunci sandi yang baru saja dibukanya, tak lama kemudian, bibirnya menyunggingkan senyum kecil.
‘Heh~ ada yang sudah membukanya sebelum diriku,’ batin laki-laki itu lalu mengangkat senapan itu dengan dua tangan miliknya dan mengarahkannya kearah pintu dan menarik pelatuk senapan tersebut tanpa aba-aba.
//Dorrr……
Lubang kecil muncul dengan ukuran 3-4 sentimeter di tembok dengan cat berwarna hitam tersebut. Seolah tidak merasakan beban sama sekali, kini senapan yang baru saja digunakannya untuk menembak, dia letakkan kembali ke dalam kotak besi lalu menolehkan kembali kepalanya kearah orang yang baru saja membuka pintu ruangannya dengan kasar.
“He~ mengapa kamu ada di sini, Ken?” tanyanya tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Apa kamu gila, Kim?!” tanya Ken dengan wajah penuh amarah.
Laki-laki itu, Kim hanya memiringkan kepalanya dengan bingung seraya menatap polos kearah Ken, kakak laki-lakinya yang baru saja berteriak kearahnya.
“Aku? Tentu saja aku masih waras. Kupikir kamu yang sudah tidak waras,” ucap Kim sambil mendudukkan tubuhnya kembali di sofa beludru.
“Hah! Kamu gila! lagi pula siapa orang yang akan mengarahkan tembakan secara acak tanpa melihat situasi terlebih dahulu hah?!” seru Ken dengan kesal sambil berjalan mendekat dan duduk di samping Kim.
“Terlebih kau baru saja menembak dengan senapan seberat 10 kilogram ditambah dengan daya lontar peluru 2-4 kilogram, berarti total saat kau mengunakannya adalah 14 kilogram dan kamu masih bersikap biasa seperti ini?” ucap Ken sambil memandang adiknya itu seolah dia monster.
“Hentikan tatapan mu kak, kamu lebih monster dibandingkan aku, siapa yang sudah bisa memainkan saham di umur yang menginjak usia 5 tahun?” ucap Kim sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
Ken yang mendengar hal tersebut hanya berdecih pelan lalu dengan seenaknya mulai memakan buah yang ada di atas meja adiknya itu.
“Ada apa kamu ke sini?” tanya Kim dengan satu alis terangkat.
“Tidak ada, tadinya aku hanya ingin melihat ekspresi kesal mu saat tahu jika senapan yang sudah kamu pesan dengan susah payah itu menghilang,” jelas Ken dengan santai tanpa memperhatikan perubahan raut wajah adiknya.
“Oh, jadi tikus yang membocorkan informasi itu adalah kau hah?!” teriak Kim dengan kesal.
“Seharusnya aku mengarahkan peluru tadi tepat di wajahmu saat ini!” seru Kim dengan tatapan mata yang tajam.
“Oh, kamu masih kesal, eh~” ucap Ken tanpa rasa bersalah.
“Kamu tahu? Kau hampir membuatku kehilangan 560 juta!” seru Kim.
“Hahahaha, kamu seharusnya melihat bencana yang sudah kamu buat di kerajaan bisnis ku! Itu bahkan hampir melebihi dari kerugian yang kamu alami!” teriak Ken tidak mau kalah.
“Itu salahmu sendiri karena menyuruhku untuk mengurus bisnis mu! Sudah tahu aku membenci bisnis seperti itu!”
“Ya, tapi jangan sampai membuat aku menderita kerugian! lagi pula hanya selama 3 hari kok!”
“Tiga hari itu lama menurutku!”
“Halah, kamu hanya tidak ingin berpisah dengan sofa beludru mu ini bukan?!”
“Kalau iya mengapa?!”
“Dasar adik brengsek!”
“Ohohohoho, dasar kakak bajingan!”
“Ekhm … tuan muda tolong berhenti berdebat dan jaga perkataan anda,” ucap Jin dengan lembut, oh, jangan lupakan dengan senyum jinak yang ada di wajahnya membuat kedua anak kembar itu bergidik ngeri.
“Dia yang mulai terlebih dahulu,” ucap Kim sambil menunjuk Ken.
“Adik, sepertinya kamu membutuhkan cermin ya~” ucap Ken sambil mengarahkan jari tengahnya kearah adik tersayangnya.
Dan dimulai kembali sesi perdebatan antara kakak dan adik kembar tersebut. Jin yang melihat tuan muda kembarnya bertengkar kembali hanya menarik senyuman di wajahnya menjadi lebih lebar.
Lalu dengan langkah yang tidak terdengar, dia berjalan kebelakang kedua tuan mudanya dan menepuk kedua pundak tuan mudanya dengan pelan.
“Sepertinya kedua tuan muda sedang sangat bersemangat ya? Bagaimana jika kita menggunakan waktu ini untuk sesi pelatihan?” tanya Jin yang masih setia dengan senyum jinak nya.
Baik Ken dan Kim hanya merasakan keringat dingin mengalir di punggung belakang mereka.
“Ahahaha, Jin seperti yang kamu tahu, aku sedang sibuk, aku harus menguji senapan baru yang ku pesan ini,” ucap Kim lalu berlari mendekat kearah senapan yang sudah dimasukannya tadi.
“Jin, kamu tahu sendiri aku ke sini karena ingin berbicara kepada adikku ini, jadi kemungkinan untuk latihan sepertinya tidak bisa,” tolak Ken dengan halus.
“Hah? Kamu ke sini ingin berbicara sesuatu?” tanya Kim dengan heran.
“Tentu saja, memangnya kamu pikir aku sudi datang ke tempat suram ini, hah?” balas Ken.
“Ck, kalau begitu apa yang ingin kamu katakan?” tanya Kim kembali mendudukkan diri di atas sofa miliknya.
“Kau tahu? Aku bertemu dengan anak yang menarik,” jelas Ken.
“Lalu?” ucap Kim dengan nada tidak tertarik.
“Hah, kamu selalu saja tidak tertarik, ya kecuali mengenai berlian,” ucap Ken sambil melirik samar berlian yang ada di kelima jari adiknya.
“Kamu juga sama bukan? Kamu tidak mungkin tertarik dengan hal lain kecuali uang,” ucap Kim.
“Jadi berapa keuntungan yang dia bawa?” lanjut Kim.
“Keuntungan, sepertinya tidak terlalu besar,” jelas Ken yang membuat Kim mengerutkan keningnya.
“Mengapa kamu bisa tertarik padahal dia tidak membawa keuntungan besar?”
“Perasaanku mungkin?”
“Lalu siapa nama anak itu?”
“Zen Westerlock,” ucap Ken dengan senyum merekah diwajahnya.
“Hatchuuu….”
“Ukhhh, mengapa aku tiba-tiba bersin seperti ini?” gumam Zen.
“Mungkin saja ada orang yang sedang membicarakan kakak,” ucap Lin.
“Huh? Tapi orang kurang kerjaan mana yang membicarakan ku?” gumam Zen dengan pelan lalu menggelengkan kepalanya.
“Jadi, kak, kamu akan membawa kami ke mana?” tanya Leo.
“Sebentar lagi kita akan sampai, jadi kalian lihat saja sendiri nanti,” ucap Zen dengan senyum cerah diwajahnya.
//Beberapa saat kemudian………
“Jadi kakak membawa kami untuk pergi ke toko baju?” tanya Lin memandang toko baju yang lumayan besar dihadapannya.
“Tentu saja, lagi pula mulai sekarang aku adalah wali kalian, mana mungkin aku akan membiarkan kalian memakai pakaian kusam seperti itu,” ucap Zen yang membuat Lin maupun Leo merasa tertohok.
“Ukhhh … tolong jangan diperjelas,” gumam Leo sambil memegang letak dadanya.
“Sudahlah, ayo kita masuk jangan berdiri saja di sana,” ucap Zen sambil memegang kedua tangan anak tersebut.
“Permisi, ada yang bisa saya bantu, tuan?” tanya salah satu pegawai.
“Ah, mbak, boleh tanya di mana letak tempat pakaian untuk anak seumuran mereka?” tanya Zen dengan senyum ramah.
“Kalau untuk ukuran mereka, tuan bisa pergi kelantai dua,” ucap pegawai itu dengan senyuman.
“Begitu … terima kasih ya,” ucap Zen.
“Nah, sekarang ayo kita kelantai dua!”
“Wow, banyak sekali pakaian di sini,” gumam Lin sambil menatap kearah sekeliling.
“Tentu saja banyak, jadi untuk kalian berdua pilihlah pakaian yang kalian inginkan, aku akan menunggu kalian di kursi itu,” ucap Zen sambil menunjuk kearah kursi yang ada di belakangnya.
“Emmm, apa kakak yakin?” tanya Leo dengan ragu-ragu.
“Tentu saja, pilihlah pakaian yang kalian inginkan, aku yang akan membayarnya,” ucap Zen dengan percaya diri.
“Ukhhh, baiklah, ayo Lin,” ucap Leo menarik tangan adiknya menuju salah satu tempat baju perempuan.
“Baguslah, sekarang aku hanya perlu menunggu mereka,” ucap Zen lalu berjalan menuju tempat duduk dibelakangnya.
“Lho, Zen?”
“Hmm? Ah, kak Eva? Sedang apa kakak di sini?” tanya Zen sambil menatap kak Eva dibelakangnya.
“Aku ke sini ingin membelikan kado untuk keponakan perempuanku, dia akan berulang tahun lusa, lalu kamu sendiri sedang apa di sini?” tanya Eva dengan bingung.
‘Duh, aku harus jawab apa? Masa aku harus mengungkapkan jika aku baru saja mengadopsi anak, tidak dua anak sekaligus?’ batin Zen dilanda bingung.
“Aku kema-“
//Dukkkk………
“Ah…!”
“Lin…!”
“Dasar, berani sekali satpam mengijinkan anak-anak kotor seperti kalian masuk kemari!” seru pegawai dengan ekspresi marah.
“Tapi anda tidak boleh mendorong adik saya seperti ini!” teriak Leo tidak terima.
“Uh, Leo, Lin?” gumam Zen lalu langsung bergegas ke tempat kejadian.
“Eh, Zen tunggu aku!” seru Eva dan bergegas menyusul Zen.
“Leo, Lin ada apa ini? Dan Lin apa kamu baik-baik saja?” tanya Zen dengan khawatir.
“Ukhhhh, ini menyakitkan…,” gumam Lin dengan pelan.
“Coba kulihat kakimu,” ucap Zen lalu memeriksa kaki Lin.
“Oh, tidak ini berdarah,” gumam Zen.
“Ah, apa kamu baik-baik saja?” tanya Eva di belakang Zen.
“Kak Eva, apa kakak membawa kotak obat?” tanya Zen.
“Uhhh, aku membawanya, kalau begitu adik ini ikut denganku dahulu, kakak akan mengobati lukamu,” ucap Eva kepada Lin dan dibalas oleh anggukan pelan dari Lin setelah melirik singkat kearah Zen untuk persetujuan.
Zen memperhatikan kedua perempuan itu hingga menghilang dari pandangannya dan menatap kearah pegawai yang masih menatap Leo dengan jijik.
“Sebenarnya apa yang terjadi di sini?” tanya Zen dengan kening berkerut.
‘Sial, padahal aku memilih tempat ini karena kakak memiliki saham di sini, tetapi siapa sangka aku akan menemukan masalah di sini?’ batin Zen menghela napas lelah.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments