|(15) Pingsan berjamaah|

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.

...•...

...•...

...•...

Sebelumnya :

Lin yang ditatap seperti itu hanya bisa merasa canggung.

‘Mengapa kakak menatapku seperti itu???’ batin Lin bergidik dengan ngeri.

...| (❁❁) |...

Lin berjalan mendekat dengan takut-takut kearah kakaknya yang sedang mengangkat satu box menuju truk.

Menggerakkan matanya kebelakang, dia bisa melihat Zen yang sedang mengangkat kedua tangannya seperti sedang menyemangatinya.

‘Mengapa harus aku yang melakukan ini?’ batin Lin sambil menggenggam dengan erat bola kecil yang ada di tangannya.

‘Oke Lin, kamu bisa, kamu pasti bisa! Yang perlu kamu lakukan adalah mengikuti rencana yang sudah dibuat dan didiskusikan dengan kakak tadi!’ batin Lin sambil mengukuhkan tekadnya.

Sebelum kita lanjut, mari kita putar kilas balik beberapa saat yang lalu ….

“Kakak … mengapa kakak menatapku seperti itu?” tanya Lin dengan bingung dan sedikit takut.

“Hehehe, aku hanya mendapatkan rencana yang bagus di otakku saja,” ucap Zen masih setia mempertahankan senyumannya.

“Oh! Kalau begitu bagaimana caranya?!” tanya Lin bersemangat melupakan jika Zen masih mempertahankan senyuman yang cukup menyeramkan.

Senyum Zen semakin melebar saat melihat Lin yang bersemangat untuk mengetahui rencananya. Dengan diam-diam dia mengambil beberapa bola dengan ukuran seperti kelereng dan memberikannya kepada Lin.

“Uh? Kelereng?” tanya Lin dengan bingung sambil menatap Bola itu dari dekat.

“Hohoho, itu bukan hanya sekadar kelereng saja lho!” ucap Zen sambil tertawa pelan.

“Hm? Lalu apa?” tanya Lin yang masih bingung.

“Itu adalah gas tidur yang baru saja aku buat semalam,” ucap Zen menjelaskan.

“Uh? Gas tidur? Maksud kakak, kakak ingin membuat para pengawas itu tertidur?” tanya Lin.

“Bisa dibilang seperti itu,” jawab Zen sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.

“Tetapi bagaimana caranya menaruh ini tanpa harus ketahuan oleh para pengawas?” tanya Lin dengan bingung.

“Kalau itu…-” ucap Zen terputus sambil melihat kearah Lin dengan serius.

“Uh? Tunggu, kakak tidak mungkin ingin mengunakan ku sebagai perantara bukan?!” pekik Lin dengan tertahan.

“Shutttt … jangan berteriak terlalu kencang,” ucap Zen dengan sedikit panik lalu mulai mengintip kearah pengawas yang sepertinya tidak mendengar teriakan tertahan Lin.

“Yah, tetapi jangan menggunakanku juga! Bagaimana jika aku ketahuan?” tanya Lin dengan sedikit khawatir.

“Itu tidak mungkin,” jawab Zen dengan yakin sambil menggelengkan kepalanya.

“Mengapa kakak sangat percaya diri?” tanya Lin sambil memasang wajah tidak percaya atas perkataan Zen.

“Tentu saja karena aku yakin dengan percobaan ku ini. Aku membuatnya dengan sengaja agar tidak bisa tercium aromanya, jadi bisa dipastikan para pengawas itu tidak akan tahu,” jelas Zen.

“Kalau begitu mengapa tidak kakak saja yang meletakkannya?” tanya Lin masih tidak setuju jika dia yang menjadi perantaranya.

“Jika aku yang meletakkannya, itu hanya akan menimbulkan rasa curiga. Berbeda denganmu yang mungkin tidak akan dicurigai, bagaimanapun kamu hanya seorang anak kecil ditambah kakakmu ada di sana untuk bekerja,” jelas Zen.

Lin yang mendengarnya hanya bisa menghela napas pasrah dan mulai mengikhlaskan diri untuk menjadi perantara.

“Tapi bagaimana dengan kak Leo? Apa tidak apa-apa jika kak Leo juga menghirup gas tidur ini?” tanya Lin.

“Untuk itu aku mempunyai langkah pencegahannya.” Ucap Zen sambil mengambil satu masuk berwarna hitam di dalam tasnya.

“Masker? Tapi bagaimana aku akan menyuruh kak Leo untuk memakai masker ini?” tanya Lin dengan bingung.

“Errr … bagaimana jika kamu bilang seperti ini saja…,” membisikkan alasannya ke telinga Lin.

“Apa kak Leo akan percaya?” tanya Lin tidak percaya diri.

“Kalau begitu kamu hanya perlu memohon saja kepadanya!” ucap Zen kembali menyarankan.

“Aku yakin jika kamu memohon, dia akan melakukannya,” lanjut Zen.

‘Memohon? Sudah berapa lama aku tidak memohon kepada kak Leo? Tunggu, apa aku pernah memohon kepada kak Leo?’ batin Lin semakin tidak percaya diri.

Zen yang melihat Lin gelisah hanya bisa menghela napas pelan lalu mengangkat tangannya untuk menepuk pelan pun puncak kepala Lin.

“Uh???”

“Lin, aku tahu kamu bisa, yang perlu kamu lakukan adalah menghampiri kakakmu seperti biasa dan berbincang singkat dengannya. Kamu tidak perlu takut jika kamu ketahuan, ada aku di belakang mu,” ucap Zen mencoba memberikan kalimat penyemangat kepada Lin.

“Ummm … baiklah. Tapi bagaimana caranya untuk mengaktifkan gas tidur ini?” tanya Lin mencoba untuk fokus kepada misinya.

“Kau hanya perlu menusukan jarum ini dengan pelan ke bola itu dan setelah itu gas tidur yang ada di dalam akan keluar dengan sendirinya dari celah yang sudah dibuat oleh jarum tadi,” jelas Zen yang dijawab anggukan oleh Lin.

“Aku mengerti,” jawab Lin dengan tegas.

“Ah, satu hal lagi. Kamu harus menaruh beberapa bola ini di dalam saku celana kakakmu agar tidak ketahuan oleh para pengawas. Bahkan jika perlu jangan sampai ketahuan oleh kakakmu,” peringat Zen.

“Baik!” seru Lin dengan pelan.

“Bagus, kalau begitu, aku percayakan misi ini kepadamu, Lin,” ucap Zen sambil menyerahkan lima bola seukuran kelereng itu kepada Lin.

“Siap, laksanakan perintah anda, kakak!”

Yah begitulah kira-kira kilas baliknya, mari kita kembali ke masa sekarang ….

‘Lin kamu harus bersikap seperti biasnya agar kamu tidak dicurigai oleh para pengawas!’ batin Zen dengan sedikit panik, tanpa sadar mengigit ujung kuku miliknya.

‘Jika rencana ini tidak berhasil, maka aku hanya bisa mengunakan rencana yang beresiko, menjadikan para polisi sebagai boneka peraganya. Tapi tidak menutup kemungkin akan ada yang terluka bahkan terjadi korban jiwa,’ batin Zen.

‘Aku bahkan tidak tahu apa gas tidur itu akan berefek kepada para pengawas veteran itu? Memang sih dosis yang ku gunakan lebih dari cukup untuk membuat manusia tertidur kurang lebih 8 jam, tapi aku masih tidak tahu apa akan berefek kepada pembunuh bayaran. Yah, semoga saja itu berefek walaupun hanya membuat para pengawas itu tertidur selama 1 jam,’ batin Zen dan mulai berdoa agar rencananya berhasil.

‘Tapi kurasa rencana ini akan berhasil, karena sampai saat ini, para pengawas itu tidak menemukan keberadaan ku sama sekali,’ batin Zen sambil menatap keempat pengawas itu.

‘Sepertinya kemampuan mereka tidak sebagus yang kubayangkan bahkan mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan ku, atau kemampuan milikku yang jauh di atas mereka? Tapi tetap saja jika aku bertarung dengan mereka berempat, aku akan kalah,’ lanjut Zen dalam batinnya.

‘Yah, semoga saja rencana ini berhasil. Lin, aku mempercayaimu agar rencana ini bisa berjalan dengan lancar!’ batin Zen lalu mengawasi Lin dalam diam.

//Sementara itu di sisi Lin ….

“Hufttt … baiklah Lin, semangat kamu pasti bisa!” bergumam pelan sambil mengencangkan genggaman tangannya.

“Kak Leo!” berlari mendekat kearah kakaknya dengan senyum ceria.

‘Bagus Lin! Lanjutkan!’ batin Zen berseru ria.

“Eh? Lin? mengapa kamu ada di sini?” tanya Leo dengan bingung.

“Hei siapa itu?!” teriak salah satu pengawas dari kejauhan yang membuat Lin bersembunyi takut di belakang tubuh Leo.

“A-ah, itu … dia adalah adikku, pak!” jawab Leo.

“Adik…?” tanya petugas itu dengan mengintimidasi.

“Hoi! Kamu menakuti anak kecil begitu! Biarkan saja! lagi pula dia hanya anak kecil dan beberapa kali sudah pernah ke sini,” timpal pengawas yang tidak jauh dari pengawas yang bertanya.

“Begitu, kalau begitu lanjutkan saja, tetapi jangan lupa angkat box itu!” ucap pengawas itu lalu berjalan pergi.

“Baik pak!” jawab Leo dengan keras.

“Fuahhhh, untung saja dia tidak memarahi mu, Lin,” ucap Leo sambil menghembuskan nafasnya pelan.

“Jadi ada apa kamu ke sini?” mensejajarkan tingginya dengan Lin.

‘Sempurna aku bisa meletakkan bola itu sekarang,’ batin Lin sambil diam-diam menusuk bola yang ada di genggamannya dengan jarum dengan cepat.

“Kakak, ada yang ingin mengadopsi kita,” ucap Lin sambil menarik perhatian Leo.

“Apa?! Adopsi? Siapa orangnya?” tanya Leo khawatir.

“Tentang orangnya … kakak laki-laki yang waktu itu menolongku,” ucap Lin lalu menaruh bola kecil itu dengan cepat dan tanpa ketahuan.

‘Fuahhh … aku berhasil melakukannya!’ batin Lin senang.

“Huh??? Maksudmu kak Zen? Orang baik itu?” tanya Leo yang masih belum konek.

“Iya, kakak.”

“Tapi bukankah dia masih berumur 17 tahun? Maksudku apa dia benar-benar ingin mengadopsi kita?” tanya Leo dengan bingung.

“Kakak tenang saja! Dia benar-benar ingin mengadopsi kita!” berucap dengan senyuman ceria.

“Begitu … kalau begitu apa aku harus meminta izin bekerja untuk menemuinya?” tanya Leo.

“Jangan! Jika kakak membolos kerja, kakak akan dipukuli lagi, Lin tidak ingin kakak kesakitan,” ucap Lin menolak pernyataan Leo.

“Lagi pula sebentar lagi jam istirahat kakak, kakak bisa pulang sebentar saat jam istirahat nanti,” ucap Lin yang membuat Leo menepuk jidatnya.

“Ah, kamu benar, bagaimana aku bisa melupakan waktu istirahatku sendiri?” gumam Leo menyadari kebodohannya.

“Hahaha, mungkin karena kakak terlalu lelah, jadinya sampai melupakan waktu istirahat kakak,” ucap Lin sambil tertawa.

‘Bagaimana caranya aku memberikan masker ini kepada kakak?’ batin Lin dilanda panik.

“Hm? Ada apa denganmu Lin? mengapa kamu sepertinya panik begitu?” tanya Leo kebingungan.

“Ahhh, aku hanya memikirkan tentang virus yang sedang ada baru-baru ini,” jelas Lin.

“Virus?”

“Yah, aku mendengarnya saat pengurus panti sedang membaca koran,” jelas Lin.

“Apa kamu mengintip pengurus panti lagi, Lin? bukankah aku sudah bilang jika itu berbahaya? Bagaimana jika kamu ketahuan olehnya? Kamu pasti akan dipukuli!” ucap Leo dengan panik.

“Kakak tenang saja, aku tidak ketahuan kali ini,” ucap Lin sambil menenangkan kakaknya.

“Fiuhhh, lain kali jangan membuatku khawatir seperti ini,” ucap Leo sambil mengelus kepala Lin dengan pelan.

“Kakak, pakai masker ini ya,” ucap Lin sambil menyerahkan sebuah masker kearah Leo.

“Huh? Untuk apa?”

“Tentu saja untuk menghindari virus itu!” ucap Lin.

“Tapi aku tidak membutuhkannya Lin,” tolak Leo dengan halus.

‘Bagaimana ini? Jika begini kakak juga akan menghirup gas tidurnya juga!’ batin Lin mengalami panik attack.

Dengan panik dia mengambil kedua tangan Leo dan menggenggamnya dengan erat. Tanpa sadar sudut matanya mengeluarkan sedikit air mata.

“Ehhh?” Leo mengalami rasa panik saat melihat adiknya meneteskan air mata.

“Kakak, kakak harus memakainya, aku tidak ingin kakak terkena oleh virus itu," ucap Lin dengan sedih.

“Aku tidak ingin kakak meninggalkanku juga,” lanjut Lin kembali sambil menangis pelan.

Leo yang panik segera mencoba menenangkan adiknya dan menghapus air mata yang keluar dari mata sang adik.

“Baik, baik aku akan memakainya jadi berhenti menangis, ya?” menghibur Lin dengan pelan.

‘Bagus! Rencana berhasil! Tidak sia-sia aku menangis seperti ini,’ batin Lin bersorak senang,

‘Sudah berapa lama aku tidak melihat Lin menangis? Bahkan saat aku mengobati lukanya dia tidak pernah menangis? Terakhir itu saat dia diselamatkan oleh kak Zen, dia menangis dengan keras, selebihnya tidak ada tangisan lagi yang keluar darinya,’ batin Leo yang masih setia menghapus air mata yang masih tersisa di mata Lin.

“Kalau begitu kakak pakai sekarang,” ucap Lin sambil menyodorkan masker kearah Leo.

“Baik aku memakainya sekarang,” ucap Leo dan memakai maskernya dengan cepat.

“Apa kamu puas sekarang?” tanya Leo yang sudah memakai maskernya.

“Ya!” seru Lin sambil mengangguk puas.

“Kalau begitu, Lin tidak akan mengganggu kakak bekerja lagi, jangan lupa pulang sebentar ke panti saat jam istirahat kakak,” ucap Lin mengingatkan kembali.

“Hahahaha, baiklah aku akan mengingatnya,” ucap Leo sambil tertawa pelan.

“Kalau begitu sampai jumpa lagi kak!” teriak Lin lalu berjalan pergi dengan cepat.

“Huum! Sampai jumpa lagi,” memandang Lin yang sudah menghilang lalu mengalihkan pandangannya kearah box yang tersisa.

“Yosh, ayo kita lanjutkan pekerjaan kita!” ucap Leo lalu melanjutkan mengangkat box dengan riang hati.

//Di sisi Zen ….

“Bagus Lin, kamu melakukannya dengan baik!” bisik Zen dengan senang bahkan menjulurkan tangannya untuk melakukan tos ringan dengan Lin.

“Terima kasih atas pujiannya, kakak!” jawab Lin dengan wajah memerah karena sudah dipuji.

“Lalu berapa lama kita akan menunggu?” tanya Lin yang kini sudah duduk di samping Zen yang sedang mengamati kearah Leo.

“Kita hanya perlu menunggu selama lima menit, semoga saja itu berefek kepada para pengawas itu,” jelas Zen sambil menatap Leo yang kini berjalan di sekitar orang dan pengawas dengan box di tangannya dan gas tidur di saku celananya..

//Lima menit kemudian ….

“Hoaammm, apa kalian merasa mengantuk?” tanya salah satu pekerja di sana.

“Kamu benar, entah mengapa aku merasa sedikit mengantuk,” timpal pekerja lainnya.

“Hei jangan begitu, nanti kalian akan dipukuli oleh pengawas, Hoammm,” jawab pekerja lainnya.

//Brukkk……

“Hei, kamu tidak bisa tertidur!” pekik salah satu pekerja mengalihkan atensi semua orang.

“Ahhh, masa bodoh, aku sudah telanjur mengantuk!”

//Brukkk……

Salah satu pengawas yang berada dekat dengan Leo tiba-tiba saja jatuh tidak sadarkan diri.

‘Berhasil! Setidaknya aku tahu jika ini mempan!’ batin Zen berseru semangat.

“Hei apa yang terjadi dengan-“ ucapan pengawas itu terputus, karena dia sudah jatuh pingsan saat mendekati.

“Huuh? Pengawas apa yang terjadi?” tanya Leo dengan bingung karena banyak di antara mereka tiba-tiba pingsan.

Berjalan menghampiri untuk mengguncang salah satu pengawas yang pingsan tidak jauh dari tempatnya berdiri untuk membangunkannya.

“Apa dia tidak bang-“ ucapan pengawas itu terputus saat mendekati Leo dan mendadak pingsan diikuti dengan pengawas satunya yang berada di belakang pengawas tadi.

Leo yang menyadarinya segara bangkit untuk menghindar agar tidak tertiban oleh kedua badan pengawas itu.

“Ini aneh mengapa mereka tiba-tiba pingsan?” tanya Leo dengan bingung lalu melihat sekitarnya dengan bingung saat melihat para pekerja juga jatuh pingsan.

“Mengapa hanya aku yang tidak pingsan?”

“Yooo, Leo, lama tidak bertemu!” ucap Zen sambil melambaikan tangan kearah Leo yang tentunya sedang memakai masker.

“Kak Leo!” sapa Lin dari belakang tubuh Zen yang tentunya memakai masker juga.

Sedangkan Leo hanya bisa menatap bingung dengan apa yang terjadi saat ini.

...| (❁❁) |...

...•...

...•...

...•...

Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.

Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

Instagram : lmnr_vv

Episodes
1 |Prolog|
2 |(1) Penyebab Kematian|
3 |(2) Dimulai dari awal|
4 |(3)Rodriguez bersaudara|
5 |(4) keberuntungan besar?|
6 |(5) Tingkatan|
7 |(6) Hari yang sial dan untung|
8 |(7) Gagal menjadi anak biasa|
9 |(8) Nasib sial|
10 |(9) Dewa Sialan|
11 |(10) Max Foerster|
12 |(11)Fraksi|
13 |(12)Protagonis wanita|
14 |(13) Pengadopsian|
15 |(14) Tempat kerja aneh|
16 |(15) Pingsan berjamaah|
17 |(16) Senjata|
18 |(17) Kembar Ken & Kim|
19 |(18) Debat|
20 |(19) Masa Lalu|
21 |(20) Sang Elf|
22 |(21) Ash Artemaies|
23 |(22) Surat Pemindahan|
24 |(23) Pemindahan Transfer Pengadopsian|
25 |(24) Sabtu|
26 |(25) Latih Tanding|
27 |(26) Pemenang Latih Tanding|
28 |(27) Sudut Pandang Lain|
29 |(28) Analisa|
30 |(29) Dimulai|
31 |(30) Keadaan Ken dan Kim|
32 |(31) Pemerintah|
33 |(32) Insiden Tidak Terduga|
34 |(33) Munculnya zombie pertama|
35 |(34) Penghambat|
36 |(35) Kelompok menjengkelkan|
37 |(36) Rasa Kemanusiaan|
38 |(37) Lia Amerston|
39 |(38) Minimarket|
40 |(39) Apartemen Zen|
41 |(40) Rencana Selanjutnya|
42 |(41) Awal Cerita Asli|
43 |(42) Penyusunan Rencana|
44 |(43) Evolusi|
45 |(44) Kepribadian Ganda|
46 |(45) Cerita yang berubah|
47 |(46) Asal Usul Mia|
48 |(47) Pelajaran Pertama Untuk Leo|
49 |(48) Ini Ide yang Paling Baik Bukan?|
50 |(49) Pertengkaran di Antara Dua Saudara|
51 |(50) Hasil Akhir Rencana|
52 |(51) Penyempurnaan 2%|
53 |(52) Dua Benda Misterius|
54 |(53) Zombie Daerah Kumuh|
55 |(54) Jatuh|
56 |(55) Lari|
57 |(56) Pertengkaran?|
58 |(57) Tempat Tinggal|
59 |(58) Rencana dan Rute|
60 |(59) Pertemuan|
61 |(60) Pembicaraan|
62 |(61) Ide Bisnis|
63 |(62) Tantangan Duel|
64 |(63) Seseorang|
65 |(64) Tentara?|
66 |(65) Relasi|
67 |(66) Sama|
Episodes

Updated 67 Episodes

1
|Prolog|
2
|(1) Penyebab Kematian|
3
|(2) Dimulai dari awal|
4
|(3)Rodriguez bersaudara|
5
|(4) keberuntungan besar?|
6
|(5) Tingkatan|
7
|(6) Hari yang sial dan untung|
8
|(7) Gagal menjadi anak biasa|
9
|(8) Nasib sial|
10
|(9) Dewa Sialan|
11
|(10) Max Foerster|
12
|(11)Fraksi|
13
|(12)Protagonis wanita|
14
|(13) Pengadopsian|
15
|(14) Tempat kerja aneh|
16
|(15) Pingsan berjamaah|
17
|(16) Senjata|
18
|(17) Kembar Ken & Kim|
19
|(18) Debat|
20
|(19) Masa Lalu|
21
|(20) Sang Elf|
22
|(21) Ash Artemaies|
23
|(22) Surat Pemindahan|
24
|(23) Pemindahan Transfer Pengadopsian|
25
|(24) Sabtu|
26
|(25) Latih Tanding|
27
|(26) Pemenang Latih Tanding|
28
|(27) Sudut Pandang Lain|
29
|(28) Analisa|
30
|(29) Dimulai|
31
|(30) Keadaan Ken dan Kim|
32
|(31) Pemerintah|
33
|(32) Insiden Tidak Terduga|
34
|(33) Munculnya zombie pertama|
35
|(34) Penghambat|
36
|(35) Kelompok menjengkelkan|
37
|(36) Rasa Kemanusiaan|
38
|(37) Lia Amerston|
39
|(38) Minimarket|
40
|(39) Apartemen Zen|
41
|(40) Rencana Selanjutnya|
42
|(41) Awal Cerita Asli|
43
|(42) Penyusunan Rencana|
44
|(43) Evolusi|
45
|(44) Kepribadian Ganda|
46
|(45) Cerita yang berubah|
47
|(46) Asal Usul Mia|
48
|(47) Pelajaran Pertama Untuk Leo|
49
|(48) Ini Ide yang Paling Baik Bukan?|
50
|(49) Pertengkaran di Antara Dua Saudara|
51
|(50) Hasil Akhir Rencana|
52
|(51) Penyempurnaan 2%|
53
|(52) Dua Benda Misterius|
54
|(53) Zombie Daerah Kumuh|
55
|(54) Jatuh|
56
|(55) Lari|
57
|(56) Pertengkaran?|
58
|(57) Tempat Tinggal|
59
|(58) Rencana dan Rute|
60
|(59) Pertemuan|
61
|(60) Pembicaraan|
62
|(61) Ide Bisnis|
63
|(62) Tantangan Duel|
64
|(63) Seseorang|
65
|(64) Tentara?|
66
|(65) Relasi|
67
|(66) Sama|

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!