|(14) Tempat kerja aneh|

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.

...•...

...•...

...•...

Sebelumnya :

Yah, entah apa yang mereka pikirkan tetapi sepertinya pikiran mereka terhubung di satu tempat yang sama. Yang pasti itu bukanlah hal baik.

...| (❁❁) |...

“Sip! Aku sudah mendapatkan cap ibu jarinya,” ucap Zen sambil mengangkat berkas pengadopsian itu tinggi-tinggi.

Sementara itu Lin sedang memandang polos kearah tinta yang mereka gunakan untuk mengambil cap ibu jari pengurus panti, lalu matanya menatap bergantian kearah pengurus panti yang masih pingsan. Begitu terus selama beberapa menit membuat Zen terheran dengan tingkahnya.

“Hm? Apa yang kamu pikirkan, Lin?” tanya Zen dengan bingung.

Tanpa menjawab, Zen sudah tahu jawabannya dari perbuatan Lin yang langsung menempelkan tinta itu kearah muka pengurus panti membuat mukanya kini penuh dengan tinta warna biru.

“Hahahaha, rasakan itu dasar pengurus panti tidak becus!” ucap Lin lalu menempelkan tinta itu dengan penuh penghayatan bahkan tidak jarang suara tamparan terdengar di telinga Zen.

“Heiiii! … Lin, hentikan itu! Jika kau menamparnya dengan kencang seperti itu dia akan segera bangun!” pekik Zen tertahan sambil menarik Lin menjauh dari pengurus panti yang kini mukanya hampir tidak bisa dideskripsikan.

“Huh! Biarkan dia pantas untuk mendapatkannya!” ucap Lin sambil mendengus pelan yang membuat Zen merasa canggung.

‘Kadang aku heran apa dia benar-benar anak berumur 7 tahun? Mengapa sikapnya begitu dewasa seperti ini,’ batin Zen mengusap belakang tengkuknya pelan.

“Sudahlah, kak. Jangan memikirkan hal yang tidak berguna,” ucap Lin.

“Hahahah, tentu saja. Siapa juga yang memikirkan hal tidak berguna?” balas Zen sambil merapikan berkas pengadopsian mereka berdua dan memasukkan kedalam map yang dibawanya tadi.

“Kupikir aku akan membutuhkan KTP ku dan beberapa dokumen lainnya, tetapi sepertinya itu tidak diperlukan, kalau begitu aku seharusnya tidak membawanya saja,” gumam Zen dengan pelan saat melihat dokumen-dokumen yang sudah dipersiapkannya tetapi malah tidak berguna.

Lin yang sudah puas dengan tampilan pengurus panti yang berubah menjadi jelek akibat tinta berwarna biru tersebut, kini berjalan mendekat dan menarik ujung celana milik Zen, membuat Zen menoleh kearahnya.

“Hm? Ada apa?”

“Bagaimana dengan anak panti asuhan yang lain?” tanya Lin.

“Oh, apa kamu mengkhawatirkan mereka?” tanya Zen.

“Tidak, aku tidak mengkhawatirkan mereka, lagi pula aku tidak mengenal mereka dengan baik, aku hanya tidak ingin mereka semakin disalahgunakan setelah kepergian ku,” ucap Lin menjelaskan.

‘Kupikir dia akan merasa kasihan dengan anak panti lainnya, tidak ku sangka dia cukup berhati dingin, tetapi tidak masalah jika dia memiliki sifat seperti ini hanya akan mempermudah ku untuk melatihnya mengikuti aturan baru di dunia yang baru,’ batin Zen.

“Soal itu, kau tenang saja, aku sudah menelpon polisi untuk kemari, mungkin sebentar lagi para polisi itu akan sampai kemari dan menemukan jika panti asuhan ini sangat salah dan akan melakukan penyelidikan. Untuk anak panti lainnya mungkin mereka akan dikirimkan ke panti asuhan yang lebih layak untuk di tinggali,” jelas Zen panjang lebar.

“Begitu…,” gumam Lin pelan sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.

Zen melirik samar kearah Lin lalu berkata.

“Yah seperti itu, omong-omong apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu kepadaku?” tanya Zen menganti arah pembicaraan.

“Hm? Menjelaskan sesuatu?” tanya Lin bingung.

“Yah, seperti tentang pengurus panti yang baik, proposal untuk perpindahan anak yang selalu ditolak oleh panti asuhan lain, luka yang terdapat di tubuhmu, bahkan mengapa kakakmu harus pergi bekerja? Apa dia dipaksa oleh pengurus panti atau memang dia ingin melakukannya sendiri?” tanya Zen sambil memandang Lin dengan intens.

Merasakan tatapan yang terlalu terus terang itu membuat Lin sedikit gugup, bahkan setelah mendengar pertanyaan yang ditanyakan oleh kakaknya itu membuatnya semakin gugup sekaligus bingung harus menjawab apa.

“Itu … anu … u-untuk masalah itu, kakak bisa tanyakan langsung kepada kak Leo! Ya! Kak Leo yang akan memberi tahu jawabannya kepada kakak,” jawab Lin melimpahkan semuanya kepada kakak kandungnya.

‘Kak Leo … maafkan aku … tetapi kali ini kamu harus berkorban. Itung-itung sebagai tangung jawab seorang kakak yang melindungi adiknya,’ batin Lin sambil memohon maaf dalam hati.

Zen menatap Lin dengan tatapan menyelidik, Lin yang merasakan tatapannya hanya bisa mengalihkan pandangan kearah lain dengan canggung.

“Huh, sudahlah, kalau kau tidak ingin membicarakannya denganku tidak apa,” ucap Zen yang membuat Lin menghela napas lega.

“Tetapi aku akan tetap menuntut jawaban dari kalian berdua,” lanjut Zen yang membuat Lin menjadi gugup lagi.

‘Habislah kita, aku minta maaf kepadamu kak Leo,’ batin Lin diam-diam mengatupkan kedua tangannya di belakang.

“Yosh, karena urusan kita di sini sudah selesai, ayo kita temui kakakmu sekarang,” ucap Zen setelah selesai menaruh dokumennya di dalam tas miliknya.

“Oh, omong-omong, apa kamu tahu di mana tempat Leo bekerja?” tanya Zen kepada Lin.

“Aku tahu, itu juga tidak terlalu jauh dari sini. Ikuti aku saja, kak!” ucap Lin lalu mulai berjalan lebih dahulu.

‘Dekat dari sini? Perasaanku, saat aku berjalan menuju kesini tidak ada tempat kerja sama sekali. Semuanya hanya bangunan bobrok saja, lalu Leo bekerja di mana?!’ batin Zen memikirkan dengan serius.

“Kak! mengapa kamu terdiam seperti itu? Ayo, aku akan tunjukkan jalannya kepada kakak,” seru Lin dari kejauhan.

“Ah, maafkan aku. Aku melamun sebentar, baiklah tunggu aku,” jawab Zen sambil berjalan menuju Lin yang kini sudah ada di ujung lorong.

‘Yah, semoga saja dia tidak mendapat pekerjaan yang aneh,’ batin Zen seraya berdoa.

//Bukkkk!

“Fiuhhh, ini yang terakhir,” ucap Leo sambil menaruh box dengan ukuran sedang namun sangat berat dihadapannya.

‘Aku sudah bekerja di sini selama 6 bulan dan masih tidak tahu apa isi box ini. Setiap kali aku ingin membukanya, pasti pria berbadan kekar di sekelilingku akan memukulku,’ batin Leo sambil menahan rasa penasarannya.

“Hoiii, apa pekerjaanmu sudah selesai?”

Leo yang mendengar suara itu hanya bisa tersentak kaget sebelum membalikkan badannya dengan kikuk.

“Umm, ya saya sudah selesai pak!” jawab Leo dengan tubuh gemetar.

“Kalau begitu, kau bantu di bagian sana. Di sana masih banyak box yang belum dinaikkan kedalam truk.”

“Y-ya, pak!” jawab Leo lalu segera berlari dan membantu di bagian yang ditunjukkan.

//Hupppp.......

‘Be-berat!’ batin Leo saat mengangkat box dengan ukuran yang sama dengan yang tadi dibawanya.

‘Sebenarnya apa yang ada di dalam box ini? mengapa bisa seberat ini? Bahkan ini lebih berat dari pintu kayu panti asuhan yang sengaja pengurus panti robohkan,’ batin Leo sambil berjalan menuju truk untuk memasukan box yang dibawanya.

‘Walaupun aku memang mendapat gaji yang tinggi tetapi aku selalu merasa aneh dengan isi box ini,’ batin Leo.

Oh, ayolah, di sini adalah daerah kumuh. Dan tiba-tiba ada lowongan pekerjaan untuk mengangkat box ini kedalam truk dengan gaji 250 ribu untuk satu kali kerja di mana itu merupakan gaji yang sangat besar hanya untuk mengangkat box saja.

‘Yah, walaupun box ini sangat amat berat tetapi bukankah gaji itu sangat berlebihan?’

Ditambah orang yang menjadi pengawas adalah orang berbadan kekar semua, bahkan tidak jarang memiliki luka yang menyeramkan ditubuh mereka.

‘Yahhh, aku harus melakukan ini terlepas dari apa pun konsekuensinya. Setidaknya dengan gaji ini, aku bisa membelikan pakaian yang layak untuk Lin walaupun aku harus menyembunyikan uang gaji ku dari pengurus panti,’ batin Leo melanjutkan kembali kerjanya.

Sementara itu, tidak jauh dari sana ……

Zen yang melihat suatu kejanggalan dari tempat kerja Leo, segera menarik tubuh Lin yang ingin mendekat kearah sana.

“Lin, apa maksudmu, tempat kerja kakakmu itu di sana?” tanya Zen dengan pelan sambil berharap jika pertanyaannya akan dijawab dengan gelengan kepala oleh Lin.

“Humm? Tentu saja itu tempat kerja kakak, kakak bekerja sebagai pengangkut barang di sana,” jawab Lin tanpa memperhatikan wajah Zen yang memucat.

“Hahahaha, ternyata begitu….” ucap Zen sambil tertawa canggung.

‘Ohhh … dewa kurang kerjaan mana yang memberiku nasib sial terus-menerus?!’ batin Zen dan mulai mengutuk satu per satu dewa yang tidak diketahui olehnya itu.

‘Maksudku, ayolah! Apa kalian tidak bisa memikirkannya secara sekilas? Tempat kumuh, truk pengangkut, box misterius, dan bahkan pengawas yang sepertinya adalah pembunuh itu! Sudah dipastikan ini adalah penyeludupan ilegal!’ batin Zen menangis miris.

‘Aku tidak tahu apa isi dari box itu, tetapi dilihat dari reaksi orang yang membawanya itu pasti berat dan narkoba tergolong ringan untuk dibawa. Berarti hanya satu jawabannya, senjata!’ batin Zen sambil mengintip dari celah rumah kumuh tempat dia berada.

‘Terlebih aku baru saja memanggil polisi, bagaimana jika bisnis mereka ketahuan? Lalu bagaimana jika pemimpin mereka menargetkan ku? Habislah tidur 8 jamku!’ batin Zen langsung bergidik ketakutan.

“Kakak, mengapa kita mengintip seperti ini?” tanya Lin dengan suara yang agak keras yang mendapat refleks langsung dari Zen yang menutup mulutnya untuk membuatnya diam.

“Hoi! Siapa di sana?!” seru pengawas yang mendengar suara Lin tadi.

‘Habislah! Tolong jangan mendekat, jangan mendekat kemari!’ batin Zen mulai berdoa melupakan kalau dia baru saja memaki dewa tadi.

“Mengapa kau ada di sini?” tanya pengawas satunya lagi.

“Huhh? Aku baru saja mendengar suara dari sana tadi,” ucap pengawas yang ingin mendekat.

“Hah! Tidak mungkin, lagi pula di sini adalah daerah kumuh, mungkin yang kau dengar adalah suara dari orang kumuh di sini,” jelas pengawas yang bertanya.

“Mungkin yang kau katakana itu benar.”

“Tentu saja, aku benar. Sudahlah lanjutkan kembali pengawasan kita.”

“Baik, baik! Hah aku bosan bekerja sebagai pengawas seperti ini.”

“Sudahlah, itu memang nasib kita kawan.”

Zen menghela napas lega saat mendengar kedua suara pengawas yang makin menjauh, menandakan jika kedua pengawas itu sudah pergi. Setelah memastikan sekali lagi jika pengawas itu sudah pergi, tangan yang mencengkram mulut Lin dia lepaskan.

“Fuahhh! Itu membuatku merasa jika jantungku ingin copot!” pekik Zen tertahan.

“Huhhh, kakak, mengapa kakak menutup mulutku?” tanya Lin dengan pelan.

“Tentu saja aku menutup mulutmu, apa kamu ingin ketahuan oleh mereka?” ucap Zen mengarahkan ibu jarinya kearah kedua pengawas tadi.

“Lho, memangnya mengapa jika kita ketahuan?” tanya Lin dengan bingung.

“Hahhh, Lin, dengarkan aku. Apa kamu tahu barang apa yang ada di dalam box itu?” tanya Zen yang dibalas oleh gelengan pelan dari Lin, tanda jika dia tidak mengetahuinya.

“Lalu apa kakakmu tahu apa isi box itu?” tanya Zen lagi.

“Tidak, kakak hanya mengatakan jika box itu sangat berat. Saat kakak ingin mencari tahu isi di dalam box itu, kakak tidak sengaja ketahuan dan berakhir dengan dipukuli oleh para pengawas,” ucap Lin.

‘Sudah bisa dipastikan jika itu adalah senjata, mungkin sejenis pistol dan peluru?’ batin Zen mulai membuat tebakan acak di dalam pikirannya.

“Begini Lin, ini adalah tempat kumuh, sangat jarang orang yang melakukan transaksi barang makanan maupun kebutuhan pokok lainnya,” ucap Zen menjelaskan secara perlahan.

“Oh, lalu jika bukan barang seperti itu, apa yang mereka transaksi kan?” tanya Lin dengan kepala yang dimiringkan.

“Huhhh, justru itu yang aku takutkan,” gumam Zen yang masih bisa didengarkan oleh Lin.

“Hmmm?”

“Aku takut jika isi di dalam box itu adalah barang ilegal,” ucap Zen.

“Barang ilegal? Tunggu, jika itu barang ilegal apa kakak akan baik-baik saja jika terus bekerja di sana?” tanya Lin dengan khawatir.

“Kurasa mereka akan baik-baik saja. Yah, mereka akan baik-baik saja selagi mereka tidak tahu isi di dalam box itu,” jelas Zen yang membuat Lin menghela napas lega.

“Lalu apa yang kakak cemaskan?” tanya Lin tidak mengerti.

“Masalahnya aku baru saja menelpon polisi saat di panti asuhan tadi!” pekik Zen dengan tertahan.

“Ehhh??? Ah, aku melupakan itu!” pekik Lin dengan tertahan juga.

“Kakak, bagaimana ini?” tanya Lin dengan cemas.

“Aku juga tidak tahu harus melakukan apa,” ucap Zen sambil melihat situasi sekitar.

‘Jika ku perhatikan dengan saksama, yang menjadi pengawas di sini hanya ada 4 orang pria berbadan besar. Lalu ada total 12 orang pekerja yang mengangkut box kedalam truk. Dan yang terakhir, ada total 4 truk yang bisa ku prediksi setidaknya memiliki 40 box di setiap truk yang aku tidak tahu apa isinya,’ batin Zen sambil menganalisis situasi.

‘Kemungkinan 50% isi di setiap box adalah pistol dan 50% sisanya berisi peluru. Jadi 80 box itu berisi pistol dan 80 box sisanya berisi peluru. tetapi masalahnya aku tidak tahu box mana yang berisi peluru dan box mana yang berisi pistol!’ batin Zen mengerutkan keningnya dengan rumit.

‘Aku hanya bisa melihat dari ekspresi orang yang membawa box tersebut, tetapi masalahnya para manusia itu tidak menampilkan ekspresi yang lebih jelas!’ batin Zen frustrasi.

‘Itu hal yang wajar, bagaimanapun juga mereka sepertinya sudah lama beroperasi di sini, jadi mungkin para pekerja ini sudah terbiasa, tetapi tetap tidak bisakah kalian memberikanku clue?!’ batin Zen mengusap rambutnya dengan gusar.

“Kakak! Lihatlah di box yang terletak di dalam truk itu,” ucap Lin sambil menarik pelan ujung baju Zen.

“Kotak itu lebih panjang dari kotak yang lain,” lanjutnya.

‘Ketemu!’ batin Zen berseru riang.

‘Panjang 1 meter? Entahlah yang pasti itu adalah senapan. Dan itu terletak di bagian paling dalam? Sepertinya itu adalah box yang pertama dimasukkan di dalam truk itu. tetapi itu tetap tidak bisa membuktikan apa truk itu adalah tempat pistol diletakkan?’ batin Zen.

‘Kalau begitu aku hanya perlu menganti rencananya,’ batin Zen sambil memandang 4 pengawas tadi yang tidak memiliki pistol, baik di lengan maupun di pinggangnya.

‘Sepertinya mereka takut jika itu akan menakuti para warga daerah kumuh,’ batin Zen.

‘Tetapi tidak menutup kemungkinan jika mereka membawa sebuah pisau maupun danger,’ batin Zen sambil menatap celah pakaian yang bisa saja dijadikan tempat untuk menyimpan kedua senjata tajam itu.

‘Ditambah keempat pria itu adalah pembunuh bayaran atau bisa disebut pembunuh veteran! Ck, aku menjadi malas untuk mengurusnya,’ batin Zen.

“Lin, apa kakakmu pernah cerita tentang pembagian jam istirahat?” tanya Zen.

“Huhh? Ya, kakak pernah menceritakannya,” jawab Lin.

“Lalu kapan itu?”

“Kalau tidak salah sebentar lagi, jam 15,30” jawab Lin sambil mengingat-ingat kembali.

‘Oh, tiga puluh menit lagi tetapi pihak polisi akan datang sebentar lagi,’ batin Zen lalu memikirkan sebuah rencana yang bagus.

‘Oh ya, mengapa aku tidak terpikirkan tentang itu?’ batin Zen sambil mengingat jika dia membawa beberapa bola (?) dengan ukuran kecil, mainan yang baru saja dia buat untuk uji coba.

‘Aku bisa mengunakannya, aku bahkan tidak memerlukan polisi untuk menjadi boneka peraga. Tetapi masalahnya adalah bagaimana cara membawa ini ke sana tanpa dicurigai?’ batin Zen lalu tanpa sadar tatapannya jatuh kearah Lin.

‘Ah, sempurna!’ batin Zen sambil menatap Lin dengan tatapan berbinar.

Lin yang ditatap seperti itu hanya bisa merasa canggung.

‘Mengapa kakak menatapku seperti itu???’ batin Lin bergidik dengan ngeri.

...| (❁❁) |...

...•...

...•...

...•...

Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.

Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

Instagram : lmnr_vv

Episodes
1 |Prolog|
2 |(1) Penyebab Kematian|
3 |(2) Dimulai dari awal|
4 |(3)Rodriguez bersaudara|
5 |(4) keberuntungan besar?|
6 |(5) Tingkatan|
7 |(6) Hari yang sial dan untung|
8 |(7) Gagal menjadi anak biasa|
9 |(8) Nasib sial|
10 |(9) Dewa Sialan|
11 |(10) Max Foerster|
12 |(11)Fraksi|
13 |(12)Protagonis wanita|
14 |(13) Pengadopsian|
15 |(14) Tempat kerja aneh|
16 |(15) Pingsan berjamaah|
17 |(16) Senjata|
18 |(17) Kembar Ken & Kim|
19 |(18) Debat|
20 |(19) Masa Lalu|
21 |(20) Sang Elf|
22 |(21) Ash Artemaies|
23 |(22) Surat Pemindahan|
24 |(23) Pemindahan Transfer Pengadopsian|
25 |(24) Sabtu|
26 |(25) Latih Tanding|
27 |(26) Pemenang Latih Tanding|
28 |(27) Sudut Pandang Lain|
29 |(28) Analisa|
30 |(29) Dimulai|
31 |(30) Keadaan Ken dan Kim|
32 |(31) Pemerintah|
33 |(32) Insiden Tidak Terduga|
34 |(33) Munculnya zombie pertama|
35 |(34) Penghambat|
36 |(35) Kelompok menjengkelkan|
37 |(36) Rasa Kemanusiaan|
38 |(37) Lia Amerston|
39 |(38) Minimarket|
40 |(39) Apartemen Zen|
41 |(40) Rencana Selanjutnya|
42 |(41) Awal Cerita Asli|
43 |(42) Penyusunan Rencana|
44 |(43) Evolusi|
45 |(44) Kepribadian Ganda|
46 |(45) Cerita yang berubah|
47 |(46) Asal Usul Mia|
48 |(47) Pelajaran Pertama Untuk Leo|
49 |(48) Ini Ide yang Paling Baik Bukan?|
50 |(49) Pertengkaran di Antara Dua Saudara|
51 |(50) Hasil Akhir Rencana|
52 |(51) Penyempurnaan 2%|
53 |(52) Dua Benda Misterius|
54 |(53) Zombie Daerah Kumuh|
55 |(54) Jatuh|
56 |(55) Lari|
57 |(56) Pertengkaran?|
58 |(57) Tempat Tinggal|
59 |(58) Rencana dan Rute|
60 |(59) Pertemuan|
61 |(60) Pembicaraan|
62 |(61) Ide Bisnis|
63 |(62) Tantangan Duel|
64 |(63) Seseorang|
65 |(64) Tentara?|
66 |(65) Relasi|
67 |(66) Sama|
Episodes

Updated 67 Episodes

1
|Prolog|
2
|(1) Penyebab Kematian|
3
|(2) Dimulai dari awal|
4
|(3)Rodriguez bersaudara|
5
|(4) keberuntungan besar?|
6
|(5) Tingkatan|
7
|(6) Hari yang sial dan untung|
8
|(7) Gagal menjadi anak biasa|
9
|(8) Nasib sial|
10
|(9) Dewa Sialan|
11
|(10) Max Foerster|
12
|(11)Fraksi|
13
|(12)Protagonis wanita|
14
|(13) Pengadopsian|
15
|(14) Tempat kerja aneh|
16
|(15) Pingsan berjamaah|
17
|(16) Senjata|
18
|(17) Kembar Ken & Kim|
19
|(18) Debat|
20
|(19) Masa Lalu|
21
|(20) Sang Elf|
22
|(21) Ash Artemaies|
23
|(22) Surat Pemindahan|
24
|(23) Pemindahan Transfer Pengadopsian|
25
|(24) Sabtu|
26
|(25) Latih Tanding|
27
|(26) Pemenang Latih Tanding|
28
|(27) Sudut Pandang Lain|
29
|(28) Analisa|
30
|(29) Dimulai|
31
|(30) Keadaan Ken dan Kim|
32
|(31) Pemerintah|
33
|(32) Insiden Tidak Terduga|
34
|(33) Munculnya zombie pertama|
35
|(34) Penghambat|
36
|(35) Kelompok menjengkelkan|
37
|(36) Rasa Kemanusiaan|
38
|(37) Lia Amerston|
39
|(38) Minimarket|
40
|(39) Apartemen Zen|
41
|(40) Rencana Selanjutnya|
42
|(41) Awal Cerita Asli|
43
|(42) Penyusunan Rencana|
44
|(43) Evolusi|
45
|(44) Kepribadian Ganda|
46
|(45) Cerita yang berubah|
47
|(46) Asal Usul Mia|
48
|(47) Pelajaran Pertama Untuk Leo|
49
|(48) Ini Ide yang Paling Baik Bukan?|
50
|(49) Pertengkaran di Antara Dua Saudara|
51
|(50) Hasil Akhir Rencana|
52
|(51) Penyempurnaan 2%|
53
|(52) Dua Benda Misterius|
54
|(53) Zombie Daerah Kumuh|
55
|(54) Jatuh|
56
|(55) Lari|
57
|(56) Pertengkaran?|
58
|(57) Tempat Tinggal|
59
|(58) Rencana dan Rute|
60
|(59) Pertemuan|
61
|(60) Pembicaraan|
62
|(61) Ide Bisnis|
63
|(62) Tantangan Duel|
64
|(63) Seseorang|
65
|(64) Tentara?|
66
|(65) Relasi|
67
|(66) Sama|

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!