Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
“Yooo, Leo, lama tidak bertemu!” ucap Zen sambil melambaikan tangan kearah Leo yang tentunya sedang memakai masker.
“Kak Leo!” sapa Lin dari belakang tubuh Zen yang tentunya memakai masker juga.
Sedangkan Leo hanya bisa menatap bingung dengan apa yang terjadi saat ini.
...| (❁❁) |...
“Lin dan … kak Zen sedang apa di sini?” tanya Leo dengan bingung.
“Ah, itu tidak penting. Apa kakak bisa membantuku untuk membawa mereka semua ke rumah sakit? Maksudku, aku tidak tahu sama sekali apa yang terjadi dengan mereka. Mereka tiba-tiba saja pingsan dan tidak sadarkan diri seperti ini,” jelas Leo dengan wajah panik.
Zen yang mengerti jika Leo sedang dilanda panik, kini berjalan mendekat lalu menepuk pundak Leo pelan untuk membuatnya tenang.
“Aku tahu, mereka pingsan secara tiba-tiba, aku melihatnya dari kejauhan,” ucap Zen.
“Ah, kalau begitu ayo bawa mereka semua ke rumah sakit atau bagaimana jika kita telepon saja ambulans untuk menuju kemari,” ucap Leo.
“Untuk itu sepertinya tidak bisa, bagaimanapun juga aku yang sudah membuat mereka semua pingsan seperti ini,” ucap Zen sambil menggaruk pipinya canggung.
“Itu benar, kak Zen yang melakukan ini semua!” imbuh Lin dari belakang kaki Zen dan hanya memunculkan kepalanya.
“Huhhh, kak Zen yang melakukan semua ini? Tapi bagaimana bisa? Bukankah kakak baru saja datang kemari?” tanya Leo dengan bingung.
“Untuk jawabannya ada di kantung celana mu, Leo,” ucap Zen dengan senyum cerah.
Leo yang mendengar itu mulai memeriksa kantung celananya dan menemukan bola kecil seukuran kelereng yang sepertinya terbuat dari plastik.
“Apa ini?” tanya Leo sambil menekan bola plastik itu menjadi gepeng.
“Itu adalah bola gas tidur yang dibuat oleh kak Zen! Kak Zen mengira jika didalam box itu semua berisi senjata api, ” jelas Lin berjalan mendekat kearah Leo lalu menjelaskan rencana mereka dari awal sampai akhir.
“Begitu … tapi kakak tahu dari mana jika di dalam box itu adalah senjata api?” tanya Leo dengan wajah pucat.
“Huh? Hanya menebak saja, mari kita periksa agar mengetahui apa yang ada di dalam box tersebut,” ucap Zen sambil mendekati salah satu box yang dekat dari tempatnya berdiri.
Leo dan Lin hanya memandang sebentar lalu mulai berjalan mendekat kearah Zen yang sudah mulai membuka box tersebut dengan pisau yang diambil dari salah satu tubuh pengawas.
“Huh? Mengapa ini keras sekali?” gumam Zen dan mulai mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membuka box kayu tersebut.
//Takkkk.........
“Ahhh … itu….”
“Ya, sepertinya dugaan ku benar, ini adalah transaksi senjata api ilegal,” ucap Zen sambil mengambil peluru dari box yang sudah dibukanya dan tentu saja dia sudah memakai sarung tangan untuk mencegah menempelnya sidik jari miliknya di peluru tersebut.
“Jadi … selama ini aku bekerja sebagai pengangkut barang transaksi ilegal?” gumam Leo dengan wajah pucat.
“Yah sepertinya begitu,” ucap Zen lalu melirik singkat kearah peluru yang bertumpuk di dalam box.
“Hoi Lin, jangan berani-beraninya kamu menyentuh peluru itu,” peringat Zen kepada Lin yang sedang diam-diam menggerakkan tangannya untuk menyentuh peluru.
“Cih, hanya ingin menyentuh saja tidak boleh,” ujar Lin memanyunkan bibirnya cemberut membuat Zen hanya bisa menghela napas lelah.
‘Aku hanya memiliki satu sarung tangan, jika Lin menyentuh peluru itu maka sidik jarinya akan tertinggal di sana,' batin Zen.
“Kau juga Leo,” ucap Zen datar saat melihat Leo ingin mengambil salah satu peluru atas desakan Lin.
“A-ah! Baik, maafkan aku,” seru Leo lalu menghentikan Lin yang masih ingin mencoba mengambil satu peluru.
‘Jika box ini adalah peluru maka box di truk itu adalah pistol,’ batin Zen lalu berjalan menuju box yang sudah terdapat di dalam truk dan membukanya.
‘Benar sekali, ini pistol, jenis pistol Airgun BB bulet call 4,5 mm,’ batin Zen lalu mulai memainkan pistol itu ditangannya.
‘Jika aku mengambil beberapa tidak masalah bukan? Maksudku ini adalah jakpot besar! Jika aku mengambil beberapa, setidaknya pistol ini bisa kuberikan kepada Leo dan mempermudah aku untuk membunuh zombie nanti,’ batin Zen lalu tersenyum menyeringai.
‘Ditambah daya lontar pistol ini hanya memakan 2 joule, kupikir Leo bisa mengunakannya dan pistol ini cukup mematikan, hanya memerlukan jarak 3 meter untuk menembak dan mengarahkannya ke bagian dada maka manusia akan mati, ya … kecuali zombie, karena dia harus ditembak di bagian kepala atau memutuskan kepalanya dengan tubuh agar zombie itu bisa mati,’ lanjut Zen tentunya masih di dalam hati.
‘Baiklah sudah ku putuskan untuk mengambil pistol ini 3 buah dan pelurunya, aku akan mengambil 2 kotak peluru, kalau tidak salah sepertinya berisi 68 peluru, kurasa ini cukup untuk saat ini. Dan lagi kurasa ini tidak akan ketahuan, lagi pula batas waktu aku menyembunyikan ini hanya sampai jam belajar mandiri besok, mereka pasti tidak bisa melacak ku, baik pihak kepolisian maupun pihak dunia bawah yang melakukan transaksi ini,’ batin Zen sambil memasukkan 3 pistol itu kedalam tas.
“Mengapa kakak boleh menyentuhnya bahkan memasukkan kedalam tas sedangkan aku tidak!” seru Lin tidak terima saat melihat Zen yang sedang memasukkan pistol kedalam tas yang dibawanya.
“Hm? Tentu saja karena kamu tidak memakai sarung tangan, bocah. Aku tidak ingin peluru ataupun pistol ini memiliki sidik jari kalian. Itu akan membuat semuanya menjadi merepotkan,” jelas Zen yang membuat Lin menjadi diam.
“Begitu … seharusnya kakak menjelaskannya kepadaku, dan lagi jangan menyebutku bocah!” dengus Lin dengan kasar tanda dia merajuk yang membuat kakaknya, Leo pergi untuk menghiburnya.
“Hahhh, berhentilah merajuk seperti itu dan aku akan membiarkan kamu menyentuh pistol ini di rumah nanti,” ucap Zen yang masih fokus memasukkan kotak peluru kedalam tasnya.
“Kakak serius? Kalau begitu aku berhenti merajuk dan kakak harus menepati janjinya!” seru Lin dengan semangat.
“Ya, ya, aku berjanji dan jangan bersuara keras, aku takut suaramu akan menjadi stimulan para pengawas itu untuk bangun,” ucap Zen.
“Baik … yes…!” seru Lin terendam menandakan jika dirinya sangat senang.
‘Dasar bocah, tunggu, memangnya ada bocah yang begitu tertarik dengan senjata api seperti ini?’ batin Zen dengan bingung.
“Emmm, kakak, untuk apa kakak mengambil pistol dan peluru itu?” tanya Leo.
“Maksudku, apa ini tidak apa-apa? Yang kakak ambil adalah senjata api yang berbahaya,” lanjut Leo.
“Huh? Tidak apa-apa, kurasa,” ucap Zen dengan sedikit tidak yakin.
“Jika ini tidak apa-apa, lalu mengapa kakak menjawabnya dengan tidak yakin seperti itu?” tanya Leo sambil memasang wajah ragu.
“Tentu saja aku menjawab dengan tidak yakin karena aku baru saja menelpon polisi menuju panti mu, kurasa polisi juga akan mengecek daerah kumuh ini dan menemukan transaksi ilegal ini secepatnya,” jawab Zen.
“Apa?! Polisi!” teriak Leo dengan kencang.
“Kakak, jangan berteriak seperti itu, nanti para paman-paman ini akan bangun,” ucap Lin yang membuat Leo menutup mulutnya.
“Hahhh, tenangkan dirimu terlebih dahulu, Leo,” ucap Zen yang memandang datar kearah Leo yang sudah pucat dan badan gemetar.
‘Apa dia Leo yang kukenal yang akan menjadi pembunuh bayaran pada masa depan? Dilihat bagaimanapun ini sedikit tidak bisa dipercaya. Bahkan adiknya lebih berani dibandingkan dengannya,’ batin Zen datar.
“Bagaimana jika para polisi kemari? Lalu bagaimana jika dia tahu aku ikut serta dalam transaksi ini? Lalu aku pasti akan dipenjara karena ikut serta! Jika aku dipenjara bagaimana nasib Lin? Bagaim-“
“Sudahlah kak, kamu terlalu berlebihan,” ucap Lin yang menyela racauan tidak jelas yang dikeluarkan Leo.
“Huhuhuhu. Aku harus bagaimana?” tanya Leo sambil memeluk adiknya dan menangis kacau.
Sedangkan Lin yang dipeluk erat hanya bisa pasrah, membiarkan kakak cengengnya itu menangis sepuasnya sambil sesekali menepuk-nepuk punggung kakaknya pelan.
“Tenang lah Leo, akan ku pastikan kamu tidak akan masuk penjara, ditambah kamu tidak tahu bukan jika mereka melakukan transaksi ilegal? Jadi berhentilah panik seperti itu dan lepaskan pelukanmu, kamu membuat Lin tidak bisa bernafas,” ucap Zen yang masih setia mempertahankan raut wajah datarnya.
Leo yang mendengar ucapan Zen tersentak dan segera melepaskan pelukan eratnya. Lin yang merasakan rasa sesak di badannya berkurang merasa lega dan terbatuk pelan untuk menormalkan nafasnya.
“Lin … kamu tidak apa-apa?” tanya Leo sambil mengguncang pelan badan Lin.
“Ah, aku tidak apa-apa kak,” jawab Lin saat sudah mengambil kembali kesadarannya dan segera mundur kebelakang alias mendekat kearah Zen dan bersembunyi dibalik kaki panjang Zen.
“Mengapa kamu menjauh dariku Lin? Aku masih membutuhkan pelukanmu,” ucap Leo yang masih memiliki air mata dimatanya.
“Maaf kak, jika aku mendekat kearah kakak yang masih mood swing, aku akan segera menuju akhirat,” tolak Lin mentah-mentah yang membuat Leo pundung dipojokan.
Zen yang melihat tingkah mereka hanya bisa menghela napas lelah.
‘Apa aku salah karena sudah mengadopsi mereka?’ tanya Zen di dalam hati.
“Sudahlah hentikan itu kalian berdua, dan kamu Leo, kamu tidak perlu khawatir jika kamu tertangkap polisi maka aku juga akan ditangkap polisi,” ujar Zen yang membuat Leo kebingungan.
“Mengapa kakak bisa ditangkap polisi juga?”
“Karena aku memukul kepala pengurus panti kalian dan mungkin dia masih tidak sadarkan diri sampai sekarang,” jawab Zen dengan tidak yakin.
‘Atau mungkin sudah sadarkan diri sekarang?’ batin Zen.
“Kakak kamu harus melihatnya saat kak Zen memukul kepala pengurus panti itu! Kapow!” seru Lin dengan bersemangat yang entah sejak kapan dia sudah berada di samping Leo kembali sambil memperagakan saat Zen memukul kepala pengurus panti tersebut.
“Ahhhh, aku jadi ingin melihatnya,” ucap Leo merasa iri saat tahu Lin melihat adegan yang menurutnya sangat epik.
“Hoi, kalian hentikan pembicaraan tidak penting itu dan lebih baik bantu aku mengangkat para pegawai yang bekerja untuk menaruhnya di belakang tembok tertutup itu,” ucap Zen memberikan perintah kepada kakak beradik itu.
“Huh? Memangnya untuk apa?” tanya Leo dengan tidak mengerti begitu juga dengan Lin yang menatap Zen dengan bingung.
“Tentu saja untuk menyembunyikan mereka, aku tidak ingin mereka ditangkap polisi, lagi pula kasusnya sama sepertimu bukan, Leo?” ucap Zen sambil membawa salah satu pekerja.
‘Aku tidak ingin mereka ditahan. Jika mereka ditahan, mereka akan melaporkan jika Leo ikut serta dalam pekerjaan ini. Jika mereka bilang seperti itu, maka aku akan ikut campur masalah yang merepotkan dan aku tidak mau itu terjadi,’ batin Zen penuh perhitungan.
‘Kak Zen sangat baik!’ batin Leo menatap Zen dengan mata bercahaya.
‘Berbeda sekali denganku yang meninggalkan anak panti di sana,’ batin Lin.
‘Mungkin aku akan mencoba membantu seseorang sesekali,’ lanjut Lin di dalam hatinya.
“Kakak, ayo kita pergi membantu juga,” ucap Lin sambil menarik ujung celana kakaknya.
“Ah, kamu benar, kamu tidak perlu membantu Lin, biar aku saja,” ucap Leo yang dijawab dengan anggukan Lin dan mulai bergerak untuk membantu Zen.
“Kak, bagaimana dengan para pengawas?” tanya Leo.
“Hm? Tentu saja kita biarkan saja dia di sana,” ucap Zen setelah selesai mengurus pekerja terakhir yang tersisa.
“Begitu … Ah, Lin, jangan mendekat kearah kotak panjang itu,” ucap Leo menarik ujung belakang baju Lin.
“Kakak, lepaskan aku, aku hanya sedikit penasaran saja. mengapa kotak itu berbeda sendiri dengan yang lain?” ucap Lin sambil memberontak yang membuat Leo harus menurunkan Lin ketanah.
“Aku hanya tidak ingin kamu tertindih kotak itu, aku tidak tahu apa isinya tetapi itu sangat berat, bahkan memerlukan semua pekerja untuk menaikkannya kedalam truk,” jelas Leo yang membuat Lin mengangguk mengerti.
“Begitu … lalu kak Zen bagaimana jika kita membukanya?” tanya Lin dengan ekspresi bersemangat.
“Mengapa kamu bersemangat seperti itu?” tanya Zen tidak mengerti.
“Yah, mungkin saja isi di dalamnya keren bukan?” ucap Lin yang masih setia berdiri di depan Zen.
“Hah, jika benar yang dikatakan Leo tadi maka aku tidak ingin membukanya, ditambah apa kamu tidak bisa melihat jika itu memiliki gembok sandi untuk membukanya?” ucap Zen membuat Lin kehilangan semangatnya.
“Yahhh, padahal aku ingin mencari tahu apa isi harta karun itu, mungkin saja itu bazoka?” gumam Lin yang masih terdengar oleh Zen.
‘Huh? Tahu dari mana dia tentang senjata berbahaya seperti itu?’ batin Zen bertanya-tanya.
‘Tapi mungkin saja ada harta karun rahasia bukan? Mungkin saja emas? Bukankah emas itu berat?’ ucap Zen melirik kotak itu secara singkat.
“Bukan berarti aku tidak bisa mencoba untuk membukanya sih …,” gumam Zen.
“Kakak bisa membukanya?” tanya Lin dengan semangat.
“Huh? Bisa dibilang begitu.”
“Lalu, ayo kita membukanya!”
“Hahhh, baiklah kalau begitu menyingkir dari kakiku,” ucap Zen yang mendapat senyum ceria dari Lin dan mulai melepaskan pelukan dari kaki Zen.
Zen yang sudah terlepas dari Lin mencoba mendekati kotak itu.
“Emm, kak, apa kakak butuh bantuan ku untuk mendorongnya mendekat kearah kakak?” tanya Leo.
“Huh? Apa kamu bisa mendorongnya? Bukankah kamu bilang sendiri jika itu berat?” tanya Zen.
“Yah, itu memang berat tapi sepertinya aku bisa mendorongnya untuk mendekat,” jawab Leo.
“Baiklah jika kamu bisa tetapi jika tidak bisa tidak perlu dipaksakan,” ucap Zen yang di angguki oleh Leo.
Zen melihat Leo yang bergerak masuk kedalam truk dan menuju kedalam kotak dengan ragu.
‘Apa dia bisa mendorongnya? Maksudku bukankah itu kotak besi ditambah lagi aku tidak tahu apa isinya,’ batin Zen dengan ragu.
//Suara berderit …………
“Whoaaa, kakak bisa mendorongnya!” ucap Lin.
“Bagaimana bisa…,” gumam Zen sambil menatap tidak percaya.
“Fuahhh, ini benar-benar berat,” ucap Leo lalu turun dari dalam truk menuju Zen.
“Apa dengan jarak ini cukup untukmu, kak?” tanya Leo.
“Ah, itu lebih dari cukup, bahkan itu sangat memudahkan aku, terima kasih Leo,” ucap Zen lalu mengusap pelan kepala Leo dan berjalan menuju kotak.
‘Yang perlu kulakukan adalah mencari celah di setiap kombinasi angka yang ada lalu memulainya dari awal dan memutarnya searah jarum jam,’ batin Zen sambil fokus mengutak-atik untuk menemukan kombinasi angka yang tepat.
“Apa kak Zen akan menemukan kata kuncinya?” tanya Lin kepada Leo.
“Entahlah, kita lebih baik mendoakan saja agar kak Zen dapat menemukan kombinasi angkanya bukan?” ucap Leo sambil mengelus pelan rambut Lin.
//Beberapa saat kemudian ………
“Ah, aku berhasil,” gumam Zen yang dapat didengar oleh kedua anak itu.
“Whoaa, benarkah?” tanya Lin seraya mendekat kearah Zen.
“Yah, ini terbuka, kalian lebih baik mendekat untuk melihatnya,” ujar Zen membuat kedua anak itu mendekat.
Zen yang melihat kedua anak itu sudah berada di sampingnya segera membuka kotak besi itu dan menatap tidak percaya kearah senjata itu.
“Huh? Bukan bazoka???” tanya Lin lalu merenggut sedih.
“Ah, apa kakak mengetahui senjata apa itu?” tanya Leo yang melihat raut terkejut Zen.
‘Senjata ini … senapan MOSKOW – SVLK- 145 Sumrak!’ batin Zen menatap senjata ini sedikit takut.
‘Bagaimana senjata ini bisa ada di sini? Bukankah ini sangat susah untuk didapatkan bahkan tidak ada yang mau menggunakannya karena beratnya yang hampir mencapai 10 kilogram!’ batin Zen.
‘Setahuku hanya ada satu orang yang mau menggunakan ini, bahkan bisa membawanya di punggung seolah sedang membawa tas biasa setiap saat tanpa mengkhawatirkan beratnya … sang informan!’ batin Zen.
‘Hanya lelaki itu yang berani membawanya dan memakainya di akhir dunia,’ batin Zen sambil mengingat kembali informasi yang ada di otaknya.
Sang informan, tidak ada yang tahu siapa nama aslinya, bahkan jika itu adalah para bawahannya. Seperti yang disebutkan, dia adalah seorang informan yang sangat bisa diandalkan di akhir dunia seperti ini.
Asal kalian mempunyai permata atau kristal zombie yang indah maka kalian akan mendapatkan informasi yang kalian inginkan.
Tidak ada yang tahu mengapa dia hanya menerima bayaran dengan berlian atau kristal, tetapi selain bayaran itu dia tidak akan mau menerimanya.
Seperti yang sudah kubilang, dia adalah penguna senjata jenis senapan dan senjata yang selalu dibawanya adalah senjata yang kini ada di hadapanku.
‘Jadi mengapa senjata ini ada di sini? Tidak mungkin bukan informan itu yang memesannya? Jika iya maka aku secara tidak langsung terlibat dengan orang yang merepotkan!’ batin Zen panik.
‘Baik Zen, tenangkan dirimu dan anggap saja kamu tidak mengetahui apa-apa. Ya, mari kita tinggalkan saja senjata ini di sini dan anggap tidak pernah melihatnya,’ batin Zen mulai mengumumkan kata-kata penenang untuk dirinya sendiri.
“Aku tahu senjata ini, jadi mari kita anggap kita tidak pernah melihatnya saja,” ucap Zen final.
“Huhh? tetapi-“
“Lagi pula bukankah kalian mempunyai beberapa penjelasan kepadaku?” ucap Zen sambil tersenyum kearah Leo dan Lin.
“Huh? Penjelasan apa?” tanya Leo tidak mengerti, sedangkan Lin sudah memalingkan muka agar tidak melihat kearah Zen.
“Hahaha, untuk itu aku akan membahasnya di rumah ku saja, apa kalian tidak akan membawa barang yang berada di panti?” tanya Zen yang mendapat gelengan dari Lin.
“Tidak perlu aku sudah membawa barang berharga tadi,” ucap Lin.
“Bagaimana dengan pakaian?” tanya Zen.
“Uhhh, pakaian kami bisa dibilang tidak ada yang layak untuk dipakai, bahkan pakaian yang kami gunakan waktu bertemu kakak sudah rusak oleh kepala panti, ” ucap Leo sambil menggaruk belakang kepalanya canggung.
“Huhhh, baiklah mari kita tunda pembicaraan ini, dan ikuti aku saja,” ucap Zen lalu mendahului untuk berjalan.
“Kita akan ke mana?” tanya Lin berjalan di samping Zen.
“Kalian akan tahu nanti,” ucap Zen membuat rasa penasaran Lin dan Leo semakin meningkat.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments