Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
Semua pertanyaan di kepalanya kini mulai terjawab. Dia akhirnya mengetahui kebenaranya, mengetahui mengapa kakak yang sangat menyayanginya itu tega membunuhnya.
...| (❁❁) |...
“Hari Akhir” adalah sebuah buku yang menceritakan kiamat yang terjadi di bumi.
Dimana manusia terinfeksi oleh sebuah virus aneh yang dapat membuat mereka berubah menjadi mayat hidup atau bisa disebut dengan zombie.
Protagonis dalam buku tersebut adalah kakakku, Fin Westerlock. Aku tidak akan heran jika kakakku lah yang menjadi protagonisnya. Bukankah kakakku sempurna untuk peran itu?
Sebelum aku menjelaskan tentang buku itu, mari kita berkenalan terlebih dahulu. Namaku Zen, Zen Westerlock. Adik dari sang protagonis, Fin Westerlock.
Dibandingkan dengan kehidupan kakakku, kehidupanku bisa dibilang sangat jauh dari kehidupan sempurna miliknya.
Kecerdasanku rata-rata atau mungkin lebih baik dari anak seumuran ku (?) Yang jelas jika dibandingkan dengan kakakku itu sangat jauh.
Wajahku mungkin bisa dikatakan tampan, tetapi dibandingkan dengan wajah kakakku maka perbandingannya sangat jauh, seperti langit dengan bumi.
Kekayaan? Jangan bertanya tentang itu, gaji ku sebagai pelayan paruh waktu di sebuah cafe hampir tidak cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari ku.
Kekuatan? Di hari-hari terakhir aku tidak bisa membangkitkan kekuatan supranatural sama sekali. Bisa dibilang aku adalah sampah yang tidak bisa diolah.
Karena alasan di atas, kepercayaan diriku semakin rendah dihadapan kakak. Jika bisa, aku sangat ingin pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan kakak agar tidak menjadi beban lagi di dalam hidupnya.
Tetapi, kakak adalah kakak, dia tidak pernah memikirkan pendapat ataupun opini yang ada di luar sana dan hanya tetap fokus melindung ku dan merawat ku.
Saat aku menanyakan alasan mengapa dia selalu melindungi ku, pasti jawaban miliknya selalu sama.
“Tentu saja karena kamu adalah adikku dan kamu adalah tanggung jawab ku.”
Sial, setiap dia menjawab seperti itu, pasti air mata milikku akan selalu menetes. Bahkan di hari-hari terakhir dengan munculnya wabah virus zombie, dia masih tetap melindungi ku yang seorang sampah tidak berguna ini.
Walaupun aku terlahir dengan kemampuan rata-rata seperti di atas, tetapi ada satu kelebihan ku. Aku memiliki mata yang bisa melihat nasib baik atau nasib buruk pada benda mati.
Karena kemampuanku ini, aku bisa membantu kakakku. Setidaknya cukup untuk membuat hidup kakakku lebih baik dan baik lagi.
Tetapi aku juga bukan orang yang bodoh. Jika aku membocorkan kemampuanku ini, bisa dipastikan banyak orang yang akan mencoba untuk mendapatkan ku dan memanfaatkan ku.
Atau lebih buruknya lagi mereka akan menjadikan aku sebagai bahan eksperimen.
Jadi aku hanya bisa membantu kakakku secara diam-diam tanpa dia dan orang lain mengetahuinya. Semua ini berjalan dengan lancar.
Karena bantuan diam-diam ku, kehidupan kakak semakin baik, baik, dan baik. Bahkan disaat hari-hari terakhir, kemampuanku masih sangat berguna untuknya.
Seperti menentukan tempat di mana jarang terjadinya serangan zombie yang bisa diubah menjadi basis tempat sementara.
Membantunya menentukan senjata yang bagus tanpa celah ataupun kesalahan sedikitpun pada pembuatannya.
Bahkan sampai bisa mendeteksi makanan apa saja yang bisa dimakan di hari-hari terakhir.
Tetapi kemampuanku yang paling berguna adalah aku bisa mendeteksi racun yang ada di sekitar.
Seperti yang sudah ku jelaskan, kakakku adalah pemimpin dari basis pangkalan teraman di hari-hari terakhir, sudah pasti banyak orang yang ingin menggulingkannya dari kekuasaan.
Banyak metode yang digunakan untuk mencelakainya, salah satunya adalah racun.
Aku bisa mendeteksi racun karena penglihatan ku yang bisa mendeteksi nasib baik dan nasib buruk di suatu benda.
Jika makanan dan minuman yang akan dimakan oleh kakakku memiliki kabut berwarna ungu gelap disekitarnya bisa dipastikan jika makanan atau minuman itu mengandung racun.
Bukan hanya menggunakan makanan dan minuman saja, bahkan mereka bisa menggunakan alternatif seperti barang, pengharum ruangan ataupun dupa.
Walaupun kemampuan ini hebat, tetap saja ada kekurangannya. Aku tidak bisa mendeteksi nasib pada makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuhan, bahkan zombie yang notabenenya adalah mayat hidup.
Jika kalian bertanya bagaimana cara kakakku bertahan dengan racun yang diberikan melewati mahkluk hidup?
Jawabannya simpel, kakakku adalah manusia terkuat setelah hari akhir. Jika lawannya adalah mahkluk hidup kurasa dia akan menang dengan mudah.
Karena kakakku selalu lolos dari racun yang diberikan pihak lawan, mereka mulai merasa curiga dan mengirimkan mata-mata ke pihak kita.
Bodohnya aku justru memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap mata-mata ini.
Bagaimana tidak? Mata-mata ini adalah tangan kanan kakakku, teman seperjuangannya dari awal hari kiamat datang hingga dia memiliki basis teraman saat ini.
Kupikir karena dia adalah tangan kanan sekaligus sahabat kakakku, dia tidak akan mencelakai kakakku. Tetapi nyatanya? Dia adalah seorang pengkhianat.
Karena rasa kepercayaan ku, aku memberitahunya tentang kemampuanku ini yang bahkan tidak ku beritahukan kepada kakakku.
Sungguh naif bukan? Sial, andai aku tidak memberitahunya, aku mungkin masih bernafas hingga sekarang, bahkan kakakku tidak akan terluka karena ini.
Kalau bukan karena buku tua ini, mungkin aku masih akan mengira jika kakakku lah yang membunuhku. Rencana yang dijalankan oleh tangan kanan penghianat ini sungguh terencana tanpa celah!
Setelah mengetahui kemampuanku, dia bergegas memberi tahu kepada pihak lawan dan mulai menyusun rencana untuk membunuhku agar tidak menghalangi mereka untuk memonopoli kakakku.
Itu benar, tujuan pihak lawan bukan untuk membunuh kakakku, melainkan untuk memonopoli nya dan membuatnya menjadi boneka tali yang bisa digerakkan sesuka hati oleh mereka dan langkah terakhir untuk menjalankan rencana mereka terhalang oleh keberadaan ku.
Rencana mereka dimulai dengan sang pengkhianat yang memberitahuku mengenai rahasia kalung yang selalu dipakai oleh kakakku.
Dia menceritakan jika di dalam kalung itu terdapat abu aneh yang membuat kakakku selalu mengeluhkan rasa pusing.
Dia yakin jika rasa pusing yang diderita kakakku berasal dari abu aneh yang terdapat di dalam kalungnya itu.
Dia lalu menyuruhku untuk melihat apa abu itu memiliki nasib buruk di dalamnya.
Jika di dalamnya terdapat nasib buruk dia menyuruhku untuk membuangnya sejauh mungkin agar kakakku bebas dari rasa pusing yang selalu dideritanya.
Aku yang belum mengetahui jika dia adalah seorang penghianat menuruti kata-katanya.
Aku berpikir tidak ada salahnya untuk mengecek itu, lagi pula itu untuk kakakku.
Aku mulai menjalankan rencana ku untuk mengambil kalung kakak secara diam-diam. Rencana ini aku jalankan saat malam hari.
Aku masuk kedalam kamar kakak dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Bisa kudengar suara air bergemerisik di balik kamar mandi yang menandakan kalau kakakku berada di dalam kamar mandi.
Dengan segera aku mulai mengobrak-abrik laci meja tempat biasanya kalung itu diletakkan oleh kakakku saat mandi. Tidak butuh waktu lama, aku segera menemukan kalung itu. Aku mengambilnya dengan diam-diam dan pergi dari kamar kakakku secepatnya.
Jantungku berdegup kencang, perasaan bersalah mulai menyelimuti hatiku saat itu.
Bagaimana tidak? Aku tahu sekali jika kalung ini adalah kalung kesayangan kakak dan sekarang, aku mengambilnya tanpa sepengetahuannya.
Tiba-tiba kata-kata yang diucapkan oleh sang penghianat kembali terdengar di telinga ku. Ku tepis semua rasa bersalahku saat itu juga.
“Ini semua demi kakak,” gumam ku dan mulai membuka ujung pengait kalung milik kakak.
Betapa terkejutnya aku saat melihat butiran abu berjatuhan setelah ujung pengait kalung itu kubuka. Bukan, bukan karena jumlah abunya yang banyak tetapi karena kabut pekat berwarna ungu gelap yang beterbangan di sekeliling abu itu.
Rasa bersalah di hatiku sepenuhnya hilang, yang terpikirkan olehku adalah bagaimana caranya menghilangkan abu itu. Saat rasa panik melandaku, mataku terpaku kearah gelas yang berisi air di atas meja. Dengan segera aku menyambar gelas air itu dan menuangkannya di atas abu.
Sepertinya keberuntunganku sangat buruk saat itu, tepat setelah aku melarutkan abu itu dengan air, pintu kamarku terbuka menampilkan sosok kakakku yang berjalan panik ke arahku.
Tubuhku terpaku saat melihatnya. Saat itu aku menjelaskan secara singkat mengenai tindakanku dengan tersendat-sendat.
Tetapi sepertinya semua ucapan ku tidak didengar olehnya. Dia hanya menatap kosong kearah kalung yang ku letakkan dimeja dan genangan air abu-abu itu.
“Kamu yang melakukannya?” ucap kakak dengan kepala tertunduk.
“I-iya kak, ta-tetapi itu semua demi kebaikan kakak!”
“Huh? Kebaikanku?”
Ku tatap wajah kakakku yang sepertinya menunjukkan amarah besar sekaligus kesedihan (?) Badanku mulai bergetar ketakutan.
Mengapa kakak menatapku seperti itu? Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Apa karena kalung itu? Jika iya maka aku akan mengembalikannya, lagi pula urusanku adalah abu yang berada di kalung itu, bukan kalung kesayangannya.
Belum sempat aku menjawab, kakak sudah menarik tanganku dengan erat dan membawaku keruang tahanan.
Disepanjang jalan aku sudah melakukan usaha terbaikku untuk melawan, tetapi seperti yang kalian tahu kekuatan antara orang yang memiliki kemampuan supranatural dengan orang yang tidak memilki kemampuan supranatural itu sangat berbeda.
Terlebih kakakku saat itu adalah pengguna kekuatan supranatural tingkat 7.
Aku hanya bisa pasrah saat kakak melempar ku kedalam ruang tahanan. Sudah belasan kali aku memohon dan menjelaskan kepadanya tetapi tidak dihiraukan olehnya sama sekali.
“Pikirkan baik-baik apa kesalahanmu!”
Setelah mengucapkan itu dia berbalik pergi, meninggalkan aku di ruang tahanan yang gelap dan sempit. Seminggu sudah terlewati di dalam ruang tahanan. Seminggu penuh juga aku sudah memikirkan kesalahanku. Tetapi aku tetap tidak tahu di mana letak salahku.
Oke, aku memang salah karena mengambil kalung kesayangannya diam-diam. Lalu apa? Bukankah hanya itu? lagi pula setelah menyingkirkan abu itu aku akan mengembalikan kalungnya dan segera meminta maaf.
Lalu apa yang salah?! Atau mungkin itu karena abunya? Hah! Tentu saja itu tidak mungkin. lagi pula mengapa kakakku peduli dengan butiran abu itu?
Dua minggu terlewati. Dari hari pertama saat aku berada diruang tahanan ini, kakak sama sekali tidak pernah melihatku. Bahkan ucapan permintaan maaf ku sepertinya tidak dihiraukan sama sekali atau tidak disampaikan kepadanya.
Berminggu-minggu terlewati, tidak terasa sudah tiga bulan aku dikurung diruang tahanan. Semakin lama tubuhku semakin lemah karena kekurangan sinar matahari, bahkan makanan yang dikirimkan untukku mulai berubah.
Yang seharusnya mereka mengirimiku 3 bungkus biskuit dan segelas air kini menjadi setengah potong roti kering tidak layak makan dan setengah air kotor.
Jika bukan karena energi supranatural yang ada di sekelilingku, mungkin aku sudah lama berakhir.
Disaat harapanku semakin memudar, akhirnya tangan kanan pengkhianat itu muncul di hadapanku membuat harapan yang hampir memudar menjadi bersinar kembali.
Ingin sekali aku bertanya di mana kakakku berada, tetapi sayang tenggorokanku sangat kering sehingga tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali. Yang bisa kulakukan adalah menatapnya dengan mata penuh harapan.
“Aku di sini, ingin menyampaikan keputusan dari pemimpin.”
Aku yang mendengarnya semakin bersemangat, tetapi itu hanya sedetik sebelum sang tangan kanan menusukku dengan sebuah pisau. Mataku melebar saat merasakan rasa sakit yang menusuk di dalam perutku.
“Beliau berkata untuk membunuhmu dan membuang mayat mu ke kerumunan zombie sebagai hukuman mu.” Lanjut sang tangan kanan dengan senyum tipis diwajahnya.
Setelah mendengar kata-kata itu, kesadaran ku menggelap dan jatuh tidak sadarkan diri. Saat kubuka mataku kembali yang kulihat hanyalah ruangan gelap ini.
Selama beratus-ratus tahun aku selalu bertanya kepada diriku sendiri. Mengapa? Mengapa kakakku membunuhku?
Setelah penantian yang panjang, akhirnya aku mengetahui apa kesalahanku. Karena buku ini, akhirnya aku tahu jika perbuatan ku saat itu benar-benar merupakan hal yang fatal terhadap emosi kakakku.
Air mata kesedihan tidak bisa ku tahan lagi. Dengan segera ruangan putih ini dipenuhi dengan suara isak tangis yang sangat menyayat hati.
Seandainya waktu bisa ku ulang, aku tidak akan berbuat hal bodoh seperti itu.
“Aku menyesalinya.”
Setelah mengatakan itu, buku tua di hadapanku mengeluarkan cahaya putih terang dan menarik ku masuk kedalamnya.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments