|(12)Protagonis wanita|

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.

...•...

...•...

...•...

Sebelumnya :

“lagi pula bukan berarti aku akan terseret dengan mereka bukan?” gumam Zen lalu menutup matanya.

Tanpa mengetahui jika dia akan terseret dalam keributan 6 pemimpin fraksi di atas.

...| (❁❁) |...

“Hufttt … hufttt … hufttt ….” deru nafasku terdengar jelas saat aku terbaring lelah di tengah lapangan indoor sekolah.

Masa bodoh dengan debu yang akan menempel di pakaianku, toh sekolah memulangkan siswanya lebih cepat hari ini.

Daripada aku menganggur, lebih baik berlatih bukan? Ini adalah alasanku bisa terbaring lelah di tengah lapangan sekolah.

“Ini melelahkan!” teriakku memenuhi seluruh lapangan.

‘Sial, padahal ini baru 3 hari saat aku memulai pelatihan. Tetapi mengapa rasanya seperti 3 tahun?!’ batinku sambil mengusap peluh yang tidak berhenti menetes di dahi ku.

“Padahal ini tidak ada apa-apanya dengan pelatihan yang dilakukan oleh pelatih galak itu, tetapi mengapa aku tidak mampu melakukannya sekarang?” gumam ku kepada diriku sendiri.

“Hahhh, kalau begini terus bisa-bisa semua otot ku mati rasa,” gumam ku lalu menutup matanya.

Progres latihan ku bisa dibilang meningkat dengan pesat. Sekarang aku sudah bisa mengayunkan pisau dapur dengan kedua tanganku tanpa harus merasakan kebas ataupun otot kaku. Jarak lari ku juga bertambah, kini aku bisa berlari 7 kilometer tanpa harus khawatir dengan pernafasan ku.

“Tetapi tetap saja ini belum cukup,” ucapku dengan pelan.

Yah, ini semua belum cukup. Jika aku bertemu dengan orang yang hanya bisa menggunakan ototnya saja pada hari kiamat, mungkin aku akan menjadi samsak tinju baginya.

Sekarang aku masih belum bisa menentukan tingkat kekuatanku karena semenjak aku memulai latihan ku, aku belum bisa menemukan lawan untuk sparring.

‘Siapa yang cocok untuk ini ya? Apa aku harus meminta kakak untuk pulang sebentar hanya untuk memintanya latih tanding denganku? Tetapi entah mengapa aku merasa dia tidak akan berani melayangkan tinjunya kepadaku,’ batinku tersenyum canggung.

“Lalu siapa yang cocok?” gumam ku sambil mencari memori kenalan yang cocok untuk latih tanding ku.

‘Bagaimana dengan kak Eva? Dia bisa melakukan bela diri dasar bukan? tetapi aku merasa tidak enak jika lawan ku adalah perempuan, terlebih itu adalah kak Eva,’ batinku menolak gagasan itu.

“Akhhh! Di mana aku bisa menemukan lawan yang sepadan untuk sparring ku?!” teriakku dengan frustrasi.

“Bagaimana denganku?”

Tubuhku segera bangkit dari kegiatan rebahan ku dan menoleh kearah asal suara.

Mataku membulat saat melihat manusia yang tidak kulihat tiga hari belakangan ini, berdiri diam sambil menyandarkan tubuhnya di pintu lapangan.

‘Sejak kapan dia ada di sini? Tunggu bagaimana bisa aku tidak mendengar langkah kaki miliknya?’ batin ku bertanya-tanya dan menatap bingung Max yang sedang menatapku dengan ekspresi yang membuatku ingin memukulnya.

“Hoi, apa kau tidak mendengar ucapan ku?” tanyanya dengan kesal sambil berjalan masuk kedalam lapangan.

“Ah, sejak kapan kau ada di sini?” tanyaku kembali.

“Sejak aku mendengar suara teriakan mu dari luar,” ucapnya sambil mengarahkan ibu jarinya menunjuk kearah pintu lapangan yang kini terbuka lebar.

‘Ah, aku lupa kalau lapangan ini tidak kedap suara. Kupikir semua siswa sudah pulang, tidak ku sangka dia masih berada di sini,’ batinku menatap Max dengan linglung.

“Hoi, aku bertanya kepadamu. Bagaimana jika kau sparring denganku?” tanyanya sekali lagi.

“Mengapa kau ingin aku sparring denganmu?” tanyaku dengan bingung.

‘Yah, Max tidak pernah melayangkan pukulannya kepada orang lemah. Dan aku ini termasuk kedalam orang lemah bukan?’ batinku bertanya-tanya.

“Tentu saja karena kau bertambah kuat, dan anggap saja sebagai balasan untuk kejadian tempo hari lalu,” ucap Max sambil menatap Zen dengan saksama.

‘Bagaimana dia bisa bertambah kuat secepat ini? Walaupun kekuatannya tidak sampai ketingkat ku, tetap saja ini suatu kecepatan yang luar biasa,’ batin Max menatap Zen semakin tajam.

‘Me-mengapa dia menatapku tajam seperti itu?’ batin Zen sambil mengeluarkan keringat dingin.

“Jadi bagaimana jawabanmu?”

“Uhhhh, bagaimana ya….” Ucapku sedikit ragu menerima tawaran Max.

‘Ini mungkin merupakan tawaran yang bagus, tetapi aku tidak yakin jika aku bisa menyeimbangi nya,’ batinku ragu.

“Apa kau ragu tidak bisa mengalahkan ku?” tanya Max yang langsung tepat pada pointnya yang membuatku merasa sedikit sakit di hati.

“Hah! Kau ragu menerima ajakan sparring ku karena takut kalah,” ucap Max dengan senyum menjengkelkan.

“Aku tahu itu, aku memang sangat kuat bahkan kamu seperti semut kecil di hadapanku ini,” lanjutnya yang hanya ku respon dengan wajah datar saat dia memuji betapa hebatnya dirinya itu.

“Hentikan narsis mu itu! Aku tidak membutuhkan senyum menjengkelkan mu, kau tahu?” ucapku sambil menahan senyum kesal.

Max hanya menanggapinya dengan tawa keras yang menjengkelkan.

“Puahahahahaha, sudahlah mengaku saja. Aku memang lebih baik darimu!” ucapnya lalu melanjutkan kembali tawanya.

‘Sial, aku benar-benar ingin memukulnya,’ batinku mengepalkan tangan dengan kesal.

“Fuahhh, sial, perutku menjadi sakit karena terlalu banyak tertawa. Hei, budak ku, aku beri tahu kau satu hal, sparring ditunjukkan untuk mengukur kemampuanmu bukan untuk memenangkan suatu pertandingan. Mungkin kau merasa kau tidak bisa mengalahkan ku, ya walaupun kenyataannya memang seperti itu,” ucap Max masih setia mempertahankan wajah menjengkelkannya.

“Tetapi jika kau bertarung dengan lawan yang jelas-jelas lemah darimu, maka itu sama saja dengan percuma. Kau tidak bisa mengukur kemampuanmu dengan itu dan kau akan mengalami yang namanya stuck peningkatan,” lanjutnya kembali.

‘Ahhh, dia benar. Sparring ini memang untuk mengukur kemampuanku bukan sebagai ajang pertandingan menang atau kalah,’ batinku membenarkan ucapan Max.

‘Tetapi tetap saja, tidak bisakah dia menghilangkan kalimat narsis di dalam perkataannya itu?’ batinku kesal, ingin sekali rasanya untuk memukulnya setidaknya sekali dengan sekuat tenaga.

‘Aku akan sangat bersyukur jika dia bisa berhenti narsis dalam satu hari saja!’ batinku lalu mulai memikirkan kembali tawarannya.

Max yang melihat jika Zen masih terlalu ragu untuk menerima ajakannya untuk sparring tiba-tiba memikirkan ide yang mungkin akan membuat Zen dengan lantangnya berkata ya tanpa harus memikirkannya kembali.

“Bagaimana jika aku membuat ini menjadi menarik? Orang yang memenangkan pertandingan bisa meminta satu hal kepada orang yang kalah,” ucap Max membuat Zen menjadi tertarik.

‘Ini ide yang sangat bagus! Jika aku bisa memenangkan sparring dengan Max, aku bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadikan Max sebagai bagian dari party ku saat hari kiamat!’ batin Zen dengan penuh semangat.

‘Aku jadi tidak perlu repot-repot untuk memikirkan cara bagaimana untuk menariknya nanti,’ batin Zen melanjutkan menimbang kan pro dan kontra nya.

“Tetapi bagaimana jika aku kalah? Apa kau akan memintaku untuk menjadi budak mu selama seumur hidup?” tanya Zen dengan serius.

‘Akan sangat bagus jika aku bisa memenangkan sparring ini, tetapi bagaimana jika aku kalah?’

Max melihat Zen yang menanyakan pertanyaan yang tidak terpikirkan olehnya. Mau tidak mau mengagumi pemikiran Zen dan mengangguk paham.

‘Itu wajar-wajar saja, lagi pula siapa yang tahan jika dijadikan budak seumur hidup,’ batin Max lalu menatap Zen yang sepertinya sedang menunggu jawabannya.

“Tentang itu, kamu tidak perlu khawatir, aku berjanji aku tidak akan pernah memintamu menjadi budak ku seumur hidup. Lagi pula siapa yang membutuhkan budak lemah sepertimu? Akan lebih berguna jika aku memilih orang gemuk sebagai budak ku,” ucap Max yang sepertinya menembus jantungku dan membuatnya berdarah.

“Tidak bisakah kamu menghentikan kalimat sakratis milikmu?” ucapku dengan darah imajiner yang mengalir keluar dari mulutku.

“Tidak,” jawab Max singkat disertai wajah flatnya.

“Hahhh, sudahlah! Karena aku sudah bertanya seperti itu, izinkan aku memberikan beberapa peraturan, keinginan yang diminta tidak boleh berhubungan dengan norma kemanusiaan, ditambah tolong jangan libatkan keluarga,” ucapku menambahkan beberapa peraturan yang kurasa penting.

Max hanya mengangguk mengiyakan sambil mendengarkan dengan saksama.

“Lalu apa ada hal lainnya?” tanya Max memastikan sekali lagi.

“Ah, satu hal lagi, aku ingin sparring ini tidak terlalu berlebihan setidaknya pemenang bisa dinyatakan menang jika bisa mendaratkan satu pukulan terhadap lawannya,” ucapku.

“Oh, jadi kau ingin mengetes daya pertahanan mu juga? Itu menarik, baiklah aku setuju,” jawabnya dengan seringai di wajah.

“Jadi kapan kita akan melakukan sparring?” tanyaku.

‘Jika sekarang, aku tidak bisa mengiyakannya. Bagaimanapun juga aku harus memiliki persiapan yang matang. Terlebih lawan ku adalah Max yang memang andal dalam pertarungan jarak dekat dan tangan kosong,’ batin Zen menatap Max sedikit was-was.

Seolah mengetahui kekhawatiran Zen, Max memberikan jawaban yang membuat kedua belah pihak merasa puas.

“Kita adakan di hari sabtu saat jam belajar mandiri pertama,” ucap Max.

“Tidak apa bukan jika kamu membolos sebentar?” lanjutnya kembali bertanya.

‘Jam belajar mandiri pertama? Gawat! Bukankah itu bertepatan dengan waktu kiamat pertama terjadi?’ batinku tanpa sadar meletakkan tangan kananku untuk menopang dagu ku seperti pose berpikir.

“Apa? Apa kau merasa keberatan?” tanya Max memperhatikan perubahan raut wajah Zen.

“Bagaimana jika saat jam istirahat pertama saja? Jam 12.00 siang hari sabtu,” ucapku.

“Oh, apa kau tidak bisa membolos pelajaran? Yah, tetapi itu terserah kepadamu, baiklah jam 12.00 hari sabtu,” ucap Max final yang membuatku tersenyum senang.

‘Aku harus memenangkan latih tanding ini! Jika aku bisa memenangkan sparring ini aku tidak perlu bersusah payah untuk menyakinkan Max!’ batin Zen bersuka cita.

“Jangan terlalu senang seperti itu, jika kau kalah nanti kau akan merasakan rasa kekecewaan yang besar lho,” ucap Max kembali lagi dengan senyum menjengkelkannya.

‘Ah, sial! Lupakan tentang memenangkan latih tanding itu dan permintaan Max untuk menjadi anggota party ku, sekarang aku hanya ingin memukul wajah menjengkelkannya itu sekali saja,’ batin Zen dengan senyuman kesal yang tertera diwajahnya, jangan lupakan juga kepalan tangan yang mengepal erat sampai-sampai menampilkan urat-urat tipis ditangannya.

“Sial pada akhirnya aku hanya bisa bersabar dan menunggu saat hari latih tanding untuk memukulnya nanti,” ucapku dengan kesal.

“Ingatkan aku untuk memukulnya dengan sekuat tenaga!” gumam ku penuh dengan dendam.

Sekarang aku sudah berada di atas kasurku dan sedang melakukan kegiatan yang wajib kulakukan setiap hari, berguling-guling di atas kasur hangat ku.

“Hahhh, kasur memang yang terbaik,” ucapku sambil menghela napas nyaman.

Jika kalian bertanya apa aku tidak memiliki pekerjaan untuk dilakukan jawabannya terletak pada jam weker ku yang kini sudah menunjukkan pukul 20.00 malam.

Aku sudah menyelesaikan pelatihan seni bela diriku. Sekarang aku bebas untuk berkencan dengan kasurku karena para guru itu juga tidak memberikan pr untukku.

“Betapa damai nya, andai ini bisa terwujud setiap hari di masa depan,” gumam ku sambil menghela napas mustahil.

‘Bagaimanapun juga sebentar lagi dunia akan mengalami kiamat, waktu damai ini mungkin akan sangat sulit untuk didapatkan,’ batinku lalu melanjutkan kembali untuk berguling sana-sini.

“Oh, ya bagaimana kabar kakak ya?” gumam ku dan tiba-tiba saja terpikirkan tentang kakakku.

“Sayang sekali universitas yang ditempati kakak sangat ketat! Bahkan para mahasiswanya dilarang untuk memainkan alat komunikasi kecuali untuk kepentingan belajar, bahkan jika ingin mengenakannya, mereka harus diawasi oleh para dosen,” ucapku kembali memikirkan nasib kakakku di universitasnya.

Seakan teringat sesuatu yang penting, tubuhku dengan gerakan spontan terbangun dan mengubah posisi menjadi duduk bersila.

‘Sial, mengapa aku bisa melupakan hal penting ini?!’ batinku berteriak panik.

Bagaimana tidak? Ini adalah hari di mana sang protagonis pria akan bertemu protagonis wanita! Dasar kau bodoh Zen!

“Jika ingatanku tidak salah seharusnya 2 hari saat kakak memasuki universitas dia akan bertemu dengan pemeran utama wanita,” gumam ku dengan wajah sedikit sedih (?)

Bagaimana aku tidak sedih? Sebagai orang yang sudah membaca buku itu, aku sudah sangat mendukung pasangan ini! Mereka itu sangat serasi! Saling melengkapi satu sama lain dan memiliki momen perasaan cinta yang tulus!

Karena buku itu menampilkan dari sudut pandang semua karakter, aku jadi tahu jika protagonis wanita ini sangat mencintai kakakku. Itu terbukti dengan dia berani mengorbankan nyawanya agar kakakku bisa hidup.

‘Jika aku mengingat momen itu kembali rasanya aku ingin menangis dengan sesenggukan!’

Jika kalian membaca buku itu kalian benar-benar akan menangis hingga mata kalian membengkak! Aku yakin dengan itu. Huh, dasar penulis buku keterbelakangan mental!

Bisa-bisanya dia membuat dua orang yang benar-benar menjadi pasangan dipisahkan oleh kematian?!

Sudahlah jangan membahas hal menjengkelkan itu lagi. Bagaimana jika kita membahas sang protagonis wanitanya?

Namanya adalah Mia Lavigne. Mahasiswi jurusan sastra di universitas yang sama dengan kakak.

Dia adalah perempuan cantik dengan mata hijau berlian dan rambut hitam panjang seperti malam. Selain cantik dia juga sangat cerdas, tipe cerdas yang bisa memukau siapa pun.

Jika kalian bertanya bagaimana pertemuan pertama kakak dengan kak Mia, maka aku akan menceritakannya dengan singkat kepada kalian, tentu saja ini sesuai dengan tulisan yang berada dibuku.

[Itu adalah siang hari tepat saat bel mata pelajaran pertama, Fin ditugaskan oleh professor pelajaran kimia untuk mengambil barang-barang yang akan dibutuhkan penelitian mereka.

Tanpa menolak, Fin segera bergegas untuk mengambil peralatan tersebut. Karena tidak ingin mengambil jalan memutar dia akhirnya memutuskan untuk melewati gedung tempat jurusan sastra belajar.

Karena langkahnya yang terburu-buru dan tidak memperhatikan jalannya, tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang sedang membawa tumpukan kertas berisi jurnal literasi.

Akibat tabrakan yang dilakukan ke duanya membuat tumpukan kertas itu beterbangan di sekeliling mereka.

“Oh, tidak! Jurnal literasi ku!” seru perempuan yang ditabrak Fin dengan panik.

Dengan segera kedua orang itu fokus untuk mengambil kertas yang sudah berserakan dilantai maupun yang masih beterbangan di sekeliling mereka.

Setelah memastikan semua kertas itu terkumpul, Fin menyerahkannya kepada perempuan yang tidak sengaja ditabraknya itu sekaligus meminta maaf karena sudah tidak sengaja menabraknya.

“Maafkan saya, maaf karena tidak memperhatikan jalan saat berjalan dan tidak melihat anda yang sedang membawa tumpukan kertas tadi, sekali lagi saya minta maaf,” ucap Fin sambil menyerahkan tumpukan kertas yang sudah diambilnya.

“Ah, aku juga minta maaf, itu juga salahku karena tidak memperhatikan jalan,” ucap wanita itu lalu mengambil kertas yang sudah diserahkan oleh pemuda didepannya itu.

Saat itu juga kedua netra berlian dengan iris yang berbeda warna saling menatap selama beberapa detik sebelum keduanya mengalihkan pandangannya kearah yang berlawanan dengan rasa malu yang sangat kentara di wajahnya.]

“Ahhh, membaca adegan itu saja sudah membuatku berdebar,” gumam ku sambil menekan rasa penasaran yang kini membuncah.

“Aku kan juga ingin melihat pertemuan mereka secara langsung,” gumam ku dengan sedih.

Hahhh, tetapi jika memikirkan endingnya lagi, benar-benar membuatku kehilangan semangat.

“Andai aku bisa mengubah endingnya….” Ucapku lalu merebahkan tubuhku kembali.

‘Tunggu, bukankah aku memang bisa mengubah endingnya? Aku bisa saja menyelamatkannya bukan? Jadi kakak tidak perlu merasakan rasanya patah hati dan mungkin aku bisa menambah kekuatan di dalam party ku!’ batinku sambil menatap penuh binar.

“Baik sudah ku putuskan aku akan menyelamatkanmu, kak Mia! Apa pun yang akan terjadi aku akan membuat mu hidup bahagia dengan kakakku!” ucapku dengan tekad kuat.

...| (❁❁) |...

...•...

...•...

...•...

Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.

Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

Instagram : lmnr_vv

Episodes
1 |Prolog|
2 |(1) Penyebab Kematian|
3 |(2) Dimulai dari awal|
4 |(3)Rodriguez bersaudara|
5 |(4) keberuntungan besar?|
6 |(5) Tingkatan|
7 |(6) Hari yang sial dan untung|
8 |(7) Gagal menjadi anak biasa|
9 |(8) Nasib sial|
10 |(9) Dewa Sialan|
11 |(10) Max Foerster|
12 |(11)Fraksi|
13 |(12)Protagonis wanita|
14 |(13) Pengadopsian|
15 |(14) Tempat kerja aneh|
16 |(15) Pingsan berjamaah|
17 |(16) Senjata|
18 |(17) Kembar Ken & Kim|
19 |(18) Debat|
20 |(19) Masa Lalu|
21 |(20) Sang Elf|
22 |(21) Ash Artemaies|
23 |(22) Surat Pemindahan|
24 |(23) Pemindahan Transfer Pengadopsian|
25 |(24) Sabtu|
26 |(25) Latih Tanding|
27 |(26) Pemenang Latih Tanding|
28 |(27) Sudut Pandang Lain|
29 |(28) Analisa|
30 |(29) Dimulai|
31 |(30) Keadaan Ken dan Kim|
32 |(31) Pemerintah|
33 |(32) Insiden Tidak Terduga|
34 |(33) Munculnya zombie pertama|
35 |(34) Penghambat|
36 |(35) Kelompok menjengkelkan|
37 |(36) Rasa Kemanusiaan|
38 |(37) Lia Amerston|
39 |(38) Minimarket|
40 |(39) Apartemen Zen|
41 |(40) Rencana Selanjutnya|
42 |(41) Awal Cerita Asli|
43 |(42) Penyusunan Rencana|
44 |(43) Evolusi|
45 |(44) Kepribadian Ganda|
46 |(45) Cerita yang berubah|
47 |(46) Asal Usul Mia|
48 |(47) Pelajaran Pertama Untuk Leo|
49 |(48) Ini Ide yang Paling Baik Bukan?|
50 |(49) Pertengkaran di Antara Dua Saudara|
51 |(50) Hasil Akhir Rencana|
52 |(51) Penyempurnaan 2%|
53 |(52) Dua Benda Misterius|
54 |(53) Zombie Daerah Kumuh|
55 |(54) Jatuh|
56 |(55) Lari|
57 |(56) Pertengkaran?|
58 |(57) Tempat Tinggal|
59 |(58) Rencana dan Rute|
60 |(59) Pertemuan|
61 |(60) Pembicaraan|
62 |(61) Ide Bisnis|
63 |(62) Tantangan Duel|
64 |(63) Seseorang|
65 |(64) Tentara?|
66 |(65) Relasi|
67 |(66) Sama|
Episodes

Updated 67 Episodes

1
|Prolog|
2
|(1) Penyebab Kematian|
3
|(2) Dimulai dari awal|
4
|(3)Rodriguez bersaudara|
5
|(4) keberuntungan besar?|
6
|(5) Tingkatan|
7
|(6) Hari yang sial dan untung|
8
|(7) Gagal menjadi anak biasa|
9
|(8) Nasib sial|
10
|(9) Dewa Sialan|
11
|(10) Max Foerster|
12
|(11)Fraksi|
13
|(12)Protagonis wanita|
14
|(13) Pengadopsian|
15
|(14) Tempat kerja aneh|
16
|(15) Pingsan berjamaah|
17
|(16) Senjata|
18
|(17) Kembar Ken & Kim|
19
|(18) Debat|
20
|(19) Masa Lalu|
21
|(20) Sang Elf|
22
|(21) Ash Artemaies|
23
|(22) Surat Pemindahan|
24
|(23) Pemindahan Transfer Pengadopsian|
25
|(24) Sabtu|
26
|(25) Latih Tanding|
27
|(26) Pemenang Latih Tanding|
28
|(27) Sudut Pandang Lain|
29
|(28) Analisa|
30
|(29) Dimulai|
31
|(30) Keadaan Ken dan Kim|
32
|(31) Pemerintah|
33
|(32) Insiden Tidak Terduga|
34
|(33) Munculnya zombie pertama|
35
|(34) Penghambat|
36
|(35) Kelompok menjengkelkan|
37
|(36) Rasa Kemanusiaan|
38
|(37) Lia Amerston|
39
|(38) Minimarket|
40
|(39) Apartemen Zen|
41
|(40) Rencana Selanjutnya|
42
|(41) Awal Cerita Asli|
43
|(42) Penyusunan Rencana|
44
|(43) Evolusi|
45
|(44) Kepribadian Ganda|
46
|(45) Cerita yang berubah|
47
|(46) Asal Usul Mia|
48
|(47) Pelajaran Pertama Untuk Leo|
49
|(48) Ini Ide yang Paling Baik Bukan?|
50
|(49) Pertengkaran di Antara Dua Saudara|
51
|(50) Hasil Akhir Rencana|
52
|(51) Penyempurnaan 2%|
53
|(52) Dua Benda Misterius|
54
|(53) Zombie Daerah Kumuh|
55
|(54) Jatuh|
56
|(55) Lari|
57
|(56) Pertengkaran?|
58
|(57) Tempat Tinggal|
59
|(58) Rencana dan Rute|
60
|(59) Pertemuan|
61
|(60) Pembicaraan|
62
|(61) Ide Bisnis|
63
|(62) Tantangan Duel|
64
|(63) Seseorang|
65
|(64) Tentara?|
66
|(65) Relasi|
67
|(66) Sama|

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!