Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
‘Padahal aku hanya ingin masuk kelas agar kakak tidak memarahiku … nasib sialan!’ batinku dan mulai meluncurkan kata-kata mutiara untuk dewa yang mengatur nasibku.
...| (❁❁) |...
“Ouh, jadi dia anak yang sudah melukai tanganmu itu, Joy?” tanya kakak kelas pria yang berada di sebelah kanan.
“Iya, itu benar kakak. Karena anak itu tanganku menjadi seperti ini,” ucap Joy dengan ekspresi genit dan mendekatkan dirinya kearah pria itu.
“Tolong carikan keadilan untukku ini, kak,” lanjutnya dengan nada memelas.
“Huh, tanpa kamu suruh, aku akan membalasnya untukmu,” ucap pria itu menarik Joy kedalam pelukannya.
“Hoi, kamu! Tidak cukupkah pelajaran terakhir kali yang kuberikan kepadamu? Berani sekali kamu melukai tangan gadisku ini!”ucap pria itu dengan kejam dan menatap tajam Zen yang berada di bawah tangga.
“Menyingkir,” ucap Zen tanpa melihat matanya alias menunduk.
“Huhh? Apa kau bilang? Menyingkir? Kamu sedang menyuruhku?!” tanya pria itu dengan nada kesal.
“Ya, apa kamu tidak bisa mendengarnya? Sepertinya kamu membutuhkan pembersih telinga untuk membersihkan telingamu,” ucap Zen dengan sinis.
“Apa kamu bilang?! Berani sekali kamu berkata seperti itu terhadapku?! Hoi, kamu, cepat beri dia pelajaran dan buat dia menderita sampai menjerit meminta permohonan ampun,” ucap pria itu kepada anak buahnya.
“Baik, kakak,” balas pria itu dan berlari mendekat kearah Zen sambil melayangkan tinjunya.
‘Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menghindarinya, menahannya, atau membiarkan pukulan itu mendarat di wajahku?’ batin Zen berpikir dengan panik.
Keputusan Zen berakhir dengan membiarkan pukulan itu mendarat diwajahnya. Zen tidak ingin semua hal menjadi ribet, lagi pula bukankah aneh jika anak bullying sepertinya bisa menghindari atau menahan pukulan tersebut?
‘Toh nanti mereka akan berubah menjadi zombie, aku tidak perlu repot-repot mengurus mereka, dunia yang akan mengurus mereka nanti,’ ucap Zen lalu menutup matanya rapat-rapat, pasrah menerima pukulannya.
Beberapa detik berlalu, tetapi Zen tidak merasakan rasa sakit diwajahnya membuat dia membuka matanya kembali untuk melihat. Yang pertama kali dilihat olehnya adalah tangan berotot yang menghadang pukulan dari pria yang ingin menyerangnya.
Setelah itu pandanganya beralih kearah pemuda berambut biru tua dengan pupil mata berwarna biru muda di sampingnya. Seolah merasakan tatapannya, pemuda itu mengalihkan pandangannya ke samping dan mendapati jika pemuda culun itu sedang menatapnya.
Dengan segera dia menghempaskan kepalan tangan yang dipegangnya dengan kencang, membuat pria yang menyerang Zen terhuyung kebelakang dan jatuh. Pemuda berambut biru gelap itu menatapnya dengan ekspresi kesal dengan kening berkerut.
“Apa yang kau lihat hah?!” ucapnya ketus sambil menyisir surai biru gelapnya kebelakang.
“Max Foerster,” ucap Zen dengan pelan yang masih didengar oleh Max.
Pemuda dengan surai biru gelap itu menatapnya dengan aneh sebelum mulai berucap sarkastis kembali.
“Mengapa kau menyebut nama lengkap ku seperti itu? Apa kepalamu terbentur sesuatu, eh? Oh, atau jangan-jangan kamu menjadi gila karena terlalu takut?” ucapnya dengan seringai mengejek yang Zen tidak hiraukan sama sekali.
Zen yang mendengar kalimat sakratisnya, diam-diam mengutuk pemuda berambut biru gelap dihadapannya dalam hati dan mencoba sebaik mungkin mengabaikan kalimat sakratis yang keluar dari mulutnya.
‘Bersabarlah Zen, kamu sudah pernah mendengar kalimat itu selama lebih dari 3 tahun masa sekolahmu dan 1 tahun setelah kiamat! bersabarlah dan biarkan dia mengoceh sendiri seperti anjing yang menggonggong,’ batin Zen dan mulai mengacuhkannya.
“Hoi, babu! Apa kamu tidak mendengar apa yang aku ucapkan?” tanya Max dengan ekspresi marah tercetak jelas diwajahnya.
Zen yang mendengar itu hanya bisa menggigit bibirnya dan mulai mengacuhkannya kembali.
“Hah! Kau mengacuhkan ku! Berani sekali ka-“ kalimat yang diucapkan oleh Max terhenti karena murid laki-laki yang baru saja dihempaskan olehnya bangkit berdiri dan mulai menyerangnya lagi.
Dengan sigap Max membalas serangan yang dilakukan oleh pria itu dengan membabi buta. Tentu saja pertarungan itu dengan mudah dimenangkan oleh Max tanpa mengalami luka, kecuali kedua tangganya yang mengalami sedikit lecet karena memukul terlalu kuat.
“Max Foerster, berani sekali kamu membuat anak buah ku seperti itu!” ucap pria yang masih berdiri di atas tangga.
“Hah? Ngomong apa sih kamu? Jelas-jelas dia yang menyerang ku terlebih dahulu. Apa kamu ingin aku hanya menerima pukulannya seperti yang dilakukan orang bodoh di belakang ku ini?” jawab Max mengarahkan ibu jarinya kearah Zen yang ada dibelakangnya.
Zen yang mendengarnya hanya bisa tersenyum marah dengan tangan terkepal.
‘Keparat sialan ini!’ batin Zen.
“Aku tidak ada urusan denganmu, aku hanya memiliki urusan dengan bajingan di belakang mu!” ucap kakak kelas itu dengan ekspresi kesal yang sangat terlihat diwajahnya.
“Kau lupa? Orang bodoh di belakang ku itu adalah babu ku! Berani sekali kau menyentuh babu ku!” ucap Max dengan ekspresi muka yang mengesalkan.
‘Aku ingin sekali memukul wajah mengesalkan yang sialnya tampan itu sekali saja!’ batin Zen sambil menunjukkan ekspresi muka yang masih menahan rasa kesal.
Max yang menyadari tatapannya hanya menoleh dengan wajah mengesalkan dan alis terangkat satu.
“Apa? Apa kau tidak terima jika kubilang babu ku? Tetapi kau memang babu ku bukan?” tanyanya dengan ekspresi muka sombong.
‘Oh, tuhan, dewa, atau apa pun itu. Tolong berikan aku kesabaran ekstra untuk menghadapi orang dihadapan ku ini,’ batin Zen dengan nada memohon yang khusyu.
“Kak Max, tidakkah kamu melihat tanganku ini?” tanya Joy yang sedari tadi diam.
“Aku melihatnya, kau pikir aku buta hah?” tanya Max menatap sekilas tangan Joy lalu mengalihkan pandangannya kembali.
‘Sial, berani sekali dia menatapku dengan sekilas! Kalau bukan karena wajahnya yang tampan dan uangnya yang banyak, aku tidak akan memohon seperti ini!’ batin Joy.
“Kak Max, tanganku patah dan harus diperban seperti ini. Aku tidak bisa mengunakan tangan kananku selama sebulan nanti. Dan tangan kananku seperti ini karena pemuda di belakang mu,” ucap Joy dengan air mata yang menetes dari matanya.
“Oh, begitu kah? Kau pikir aku bodoh? Bagaimana mungkin pemuda pengecut di belakang ku ini yang membuat tanganmu patah? Dia saja tidak bisa menangkis pukulan lemah yang diberikan oleh orang itu, bagaimana bisa dia yang membuat tanganmu patah?” tanya Max sambil menatap Joy dengan ekspresi jijik sekaligus aneh.
“Aku lebih percaya jika tanganmu patah karena mendapatkan karma dari tuhan,” lanjutnya tanpa memperhatikan ekspresi Joy yang sudah memerah karena rasa amarah sekaligus malu.
Zen yang mendengar pembelaan dari Max hanya bisa meringis pelan dalam diam lalu menatap Max dengan senyum polos diwajahnya.
‘Aku tidak tahu apa dia ingin membelaku atau mengejekku, tetapi setidaknya dia masih membelaku,’ batin Zen dan mau tidak mau memikirkan tindakan yang sudah dilakukan oleh Max untuknya selama ini.
Max Foerster adalah seorang gangster yang sangat disegani oleh para siswa di sekolah ku, bahkan nama miliknya sudah sangat terkenal di sekolah lain.
Dia adalah seorang bajingan yang sangat suka bertarung dengan tangan kosong, Walaupun begitu Max memiliki otak yang sangat pintar atau bisa dibilang licik.
Karena kelicikannya itu dia tidak pernah kalah dalam beradu argument. Bahkan tidak jarang jika orang yang menjadi lawan debatnya itu merasa kesal karena Max sangat pintar dalam memprovokasi orang.
Walaupun Max adalah bajingan, setidaknya aku tahu dia bukan orang jahat. Itu terbukti dari bagaimana dia selalu bisa membela para bawahannya tanpa membeda-bedakan.
Jika kalian bertanya mengapa Max sangat melindungi bawahannya bahkan jika dia harus memprovokasi orang yang lebih kuat jawabannya akan membuat kalian terharu sekaligus ingin memukulnya.
“Aku membela dia karena dia adalah babu ku! Babu milikku tidak boleh ditindas oleh para bajingan seperti kalian. Mengapa? Tentu saja karena yang boleh menindas mereka hanya aku, bosnya!”
Jawaban yang benar-benar membuat orang terharu sekaligus ingin memukulnya setidaknya sekali bukan?
Karena aku adalah salah satu babunya, otomatis aku mendapatkan hak perlindungan dari Max. Aku masih tidak mengerti dengan pola pikirnya itu, maksudku mengapa dia harus repot-repot mengurus babu yang bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri?
Walaupun begitu, aku setidaknya harus sedikit bersyukur. Karena dengan mendapatkan hak perlindungan dari Max kehidupan pada masa sekolah menengah atas ku tidak terlalu buruk, pengecualian dengan perkataan sadis milik Max yang harus membuat kalian memiliki kesabaran yang ekstra.
Bahkan di hari-hari terakhir prinsip miliknya masih tidak berubah. Tetapi karena prinsipnya itu banyak sekali orang yang ingin menusuknya dari belakang, termasuk para babu pecundang yang selalu di lindungi nya.
Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran para babu yang sudah di lindungi nya itu. Mengapa mereka menikung orang yang sudah baik kepadanya? Oke, kesampingkan kalimat sadis yang selalu keluar dari mulutnya itu.
Max sama sekali tidak pernah melayangkan pukulan kearah orang yang sudah menjadi bawahannya.
Karena prinsip miliknya itu, Max mati setelah satu tahun dunia kiamat. Pembunuhnya? Tentu saja orang yang sudah di provokasinya dan orang yang di lindungannya itu.
Zen melirik singkat kearah Max yang masih beradu argumen dengan kakak kelas preman itu, mau tidak mau Zen menghela napas singkat lalu mengalihkan pandangannya kearah lain.
Yah, setidaknya karena aku sudah kembali saat ini, aku akan membuatnya hidup dalam jangka waktu yang sedikit lebih lama. Anggap saja sebagai balasanku karena dia sudah mengurangi pembullyan yang terjadi kepadaku pada masa sekolah menengah ini.
Selain itu, aku membutuhkan kemampuannya. Max adalah orang yang membangkitkan kekuatan supranatural tipe tanah atau bisa dibilang tipe pertahanan sekaligus penyerangan.
Kekuatan supranatural tipe tanah memiliki dua kemampuan, bertahan dan menyerang. Tetapi, sangat jarang sekali orang dengan kekuatan supranatural tipe tanah mengunakan kekuatannya untuk bertahan, mereka lebih suka mengunakannya untuk menyerang.
Alasannya sangat simpel, melindungi lebih sulit daripada membunuh. Tetapi Max berbeda, dia bisa mengunakan keduanya dengan baik, terlebih kemampuan bertahannya lebih unggul daripada menyerang.
Mungkin itu terjadi karena prinsipnya. Karena itu aku memutuskan untuk menyelamatkannya dan menjadikannya sebagai anggota party ku.
Selain karena balas budi aku juga membutuhkannya kekuatannya untuk melawan zombie tingkat kelima dan zombie tingkat ketujuh.
‘Mengubah takdir satu orang tidak akan mengubah alur cerita bukan? Terlebih Max tidak pernah disebutkan oleh buku, kecuali satu kalimat sih,’ batin Zen dan mengingat kembali kalimat yang tertera di buku.
[Para penguna kemampuan tipe tanah mulai membentuk tembok untuk mengurung zombie tingkat ketujuh itu, tetapi tembok tanah itu tidak bisa bertahan lama.
Satu menit kemudian tembok itu dihancurkan dengan satu pukulan oleh zombie tingkat ketujuh.
Manusia mengalami ekspresi putus asa diwajahnya, mereka semua berharap jika setidaknya ada seseorang yang memiliki kemampuan untuk menahan pergerakan zombie tingkat ketujuh itu selama lebih dari tiga menit.
Tetapi sayang sekali orang seperti itu tidak akan pernah ada, karena satu-satunya orang memiliki kemampuan untuk bertahan dan melindungi sudah lama mati.]
Serangan zombie tingkat tujuh terjadi saat 11 tahun ke depan. Dan Max sudah lama mati sebelum serangan zombie tingkat ketujuh terjadi. Karena itu aku berpikir jika kalimat itu merujuk kearah Max.
“Huuh, sudahlah, kau! Lebih baik masuk ke kelas mu dan lupakan masalah ini sebelum aku melayangkan tinjuku ke arahmu!” ucap Max yang merasa jengkel dengan adu argument yang tidak kunjung selesai.
‘Ingin sih jika aku langsung mengakhirinya begitu saja, tetapi bagaimanapun jika diakhiri begitu aku tidak dapat manfaat sama sekali, terlebih kakak kelas di depanku ini memang tidak lebih kuat dariku, bahkan bisa dibilang sangat lemah, tetapi bawahan miliknya sangat banyak, akan repot jika memprovokasi begitu banyaknya orang,’ batin Max lalu melirik singkat kearah Zen.
Zen yang menyadari tatapannya hanya membalas tatapannya dengan senyum polos dengan background bunga-bunga yang bertebaran disekelilingnya. Max yang melihat hanya bisa menahan kedutan dibibir dengan perempatan imajiner tercetak di dahi miliknya.
“Hoi! Apa maksudmu dengan senyuman mu itu?! Apa kau meledekku! Tidak bisakah babu satu ini berterima kasih kepada bos mu ini karena sudah melindungi mu hah?!” ucap Max setengah berteriak seraya mengacungkan jari telunjuknya kearah Zen.
“Ya? Kalau begitu terima kasih bos!” jawab Zen dengan senyum dan background bunga yang belum menghilang.
Max terpaku ditempat dan menatap Zen dengan wajah yang seolah-olah mengatakan tentang omong kosong apa yang baru diucapkannya! Walau begitu tetap saja ujung telinganya tidak bisa menahan rona merah samar yang ada.
“Ekhm! Aku tidak butuh ucapan terima kasih mu!” ucap Max lalu memalingkan wajahnya mencoba bersikap untuk cool seperti biasanya.
Zen yang masih menangkap rona merah samar yang ada di ujung telinga Max hanya bisa tersenyum geli diam-diam.
‘Dia masih tidak berubah, tetap tsundare seperti biasanya,’ batin Zen.
Yah, Max Foerster adalah seorang tsundare akut! Dia adalah manusia dengan sikap yang cenderung menyembunyikan perasaan asli miliknya daripada langsung mengungkapkannya.
Zen mengetahui hal ini saat dia dan Max terjebak di kerumunan zombie dengan dia yang dipilih oleh perwakilan siswa sekolah yang selamat sebagai umpan agar menarik perhatian zombie dari supermarket.
Waktu itu hanya dia yang terpilih sedangkan Max sudah mendapatkan kekuatan supranaturalnya.
Saat Max mengetahui jika Zen yang dipilih menjadi umpan tentu saja dia menolak dengan keras gagasan tersebut dan berakhir dengan menemaninya sebagai umpan juga.
Karena pembelaan Max ini, aku tanpa sadar mengucapkan terima kasih dengan nada tulus.
Bayangkan saja aku tidak memiliki kemampuan yang berguna di hari kiamat mendapatkan pembelaan dari orang asing yang selama ini ku anggap dia hanya pembully menganggap ku sebagai babu saja.
Setelah mendengar ucapan terima kasih ku yang tulus tanpa sadar aku menemukan sesuatu yang janggal dari gelagatnya, ya dia menjadi sedikit canggung dan berakhir dengan dia membalas ucapan ku dengan nada yang lebih kearah formal.
Aku yang baru saja menemukan gelagatnya yang aneh hanya diam dan menatap wajah Max dengan bingung dan tanpa sengaja saat menatap Max aku melihat jika ujung telinga miliknya memiliki rona merah sedikit. Dari situlah aku menyadari jika Max Foester adalah seorang tsundare akut!
“Kak Max, kamu tidak bisa menghalangiku untuk membalasnya sedikit, bagaimanapun tanganku patah karenanya aku hanya ingin memberikan keadilan untukku,” ucap Joy dan bergegas mendekati dirinya seraya memeluk lengan Max dan menempelkannya langsung ke dada besar miliknya.
Max yang tadinya merasa sedikit canggung karena ucapan terima kasih dari Zen kini terdiam kaku. Zen yang melihat itu hanya bisa mengatupkan kedua tangannya dan mulai mengheningkan cipta untuk Joy.
‘Rest in Peace, Joy,’ batin Zen.
Tanpa aba-aba Joy langsung terlempar cukup keras kearah belakang dan hampir menabrak dinding. Sedangkan Sang pelaku, Max hanya berdiri diam sambil mengusap-usap kasar lengan yang bersentuhan dengan Joy.
‘Apa? Berani sekali preman semacam dia mendorongku seperti ini!’ batin Joy memandang Max dengan kesal dan secara tidak langsung bertatapan dengan kedua mata biru muda milik Max yang sedang menatapnya dengan tatapan yang menjijikan.
“Menjijikan sekali! Siapa yang menyuruhmu untuk memeluk lenganku seperti itu? Tidakkah kau tahu jika tangan milikmu itu terdapat banyak sekali kuman-kuman yang menjijikan? Terlebih lengan milikku sangat berharga dan tidak bisa disentuh oleh tangan sampah mu itu! Terlebih bersentuhan langsung dengan dada tepos mu itu! Sungguh menjijikan!” maki Max dengan penuh penghayatan yang langsung memberikan critical damage kepada Joy.
Joy hanya bisa menatap Max yang sedang mengusap-usap lengannya dengan gerakan yang semakin kasar seolah-olah memang ada kuman berbahaya yang menempel di lengannya itu dengan marah sehingga membuat badannya bergetar.
Berbeda dengan Max, dirinya kini tengah sibuk untuk menahan rasa gemetar yang ada pada tubuhnya disertai rasa mual yang sangat memuakkan.
‘Ini menjijikan, ini menjijikan, rasanya benar-benar ingin membuatku muntah!’ batin Max dan gerakan mengusap lengannya menjadi makin kasar hingga membuat kulitnya menjadi merah disertai beberapa lecet kecil.
Zen yang merasa aneh segera mendekati Max dan menepuk pundak miliknya dengan pelan.
“Emm, Max, apa kau baik-baik saja?” tanya Zen dengan sedikit khawatir (khawatir tentang tanker terkuatnya pada masa depan.)
‘Aku memang mendapatkan info jika Max sangat membenci yang namanya perempuan jalang, tetapi aku tidak tahu jika dia akan bereaksi seperti ini.’ Batin Zen memandang tangan Max yang kini sudah hampir semuanya mendapatkan lecet.
‘Apa ini trauma?’ batin Zen bertanya-tanya.
Max yang mendapatkan tepukkan ringan dari Zen tersadar dan berhenti mengusap lengan miliknya yang kini sudah menderita lecet sana-sini.
Dengan segera dia menarik napas ringan dan menutup matanya membiarkan untuk merilekskan diri sejenak, mengabaikan fakta jika lengan miliknya masih gemetar ringan.
“Aku tidak apa-apa, dan tolong turunkan tanganmu dari pundak ku!” seru Max dengan kencang.
“Ah, maaf soal ini,” ucap Zen lalu menurunkan tangannya.
“Maaf juga menginstruksi kalian tetapi sepertinya aku harus kembali ke kelas karena jam pelajaran pertama sudah selesai dan guru piket akan segera berpatroli di sekitar sini, jika kalian tidak ingin ditangkap maka sebaiknya segera pergi sekarang,” ucap Zen dengan wajah polos.
“Cih, Max dan kau pemuda brengsek, aku akan membalas perbuatan kalian!” seru kakak kelas preman tersebut dan membawa temannya yang sudah pingsan diikuti oleh Joy dibelakangnya.
Kini suasana terasa canggung karena baik Zen maupun Max tidak memiliki hubungan sama sekali, bahkan jika teman sekalipun mereka tidak bisa dianggap seperti itu. Hubungan mereka adalah pembully dan orang yang dibully.
‘Aku tidak suka suasana canggung seperti ini,’ batin Zen.
“Kalau begitu aku akan pergi ke kelasku sekarang, terima kasih Max karena sudah menolongku tadi,” ucap Zen dengan cepat dan langsung pergi dari tempat kejadian meninggalkan Max sendiri dengan keadaan termenung.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments