|(2) Dimulai dari awal|

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.

...•...

...•...

...•...

Sebelumnya :

Setelah mengatakan itu, buku tua di hadapanku mengeluarkan cahaya putih terang dan menarik ku masuk kedalamnya.

...| (❁❁) |...

Di atas kasur yang berada di dalam ruangan kamar dengan ukuran 3 x 4, terdapat pemuda berusia 17 tahun berbaring dengan mata tertutup erat.

Nafasnya yang naik turun dengan teratur menandakan jika dia tengah tertidur dengan lelap.

Tak berapa lama, bulu mata miliknya bergetar pelan dan perlahan mata jernih berwarna hitam pekat terlihat setelah kelopak mata miliknya terbuka sepenuhnya. Mata itu menatap dengan linglung langit-langit kamar yang tampak familiar di atasnya.

Setelah beberapa detik menatap dengan linglung, matanya kini membulat dengan ekspresi terkejut yang sangat tertera di wajahnya. Matanya menyapu dengan panik area disekelilingnya.

‘Bagaimana bisa?’

Sekali lagi mata hitam pekat miliknya menyapu area sekitarnya, langit-langit putih yang familier, lemari putih dengan hoodie berwarna hitam tergantung rapi di depan lemari, rak buku berisikan berbagai buku tebal, dan yang paling mencolok adalah bingkai foto berisikan dua orang yang saling menghadap kearah kamera dengan senyum cerah menghiasi wajahnya.

‘Bagaimana bisa aku berada di kamar apartemenku?’

“Ini, kamar apartemenku 11 tahun yang lalu sebelum terjadinya serangan zombie”

Dengan panik aku turun dari tempat tidur dan melihat kalender yang terpasang di sudut kamar tidur.

“Tanggal 10 bulan Agustus tahun XXXX.”

‘Seminggu sebelum munculnya virus itu!’

‘Tunggu, jangan bilang jika aku mengulangi kehidupanku lagi seperti yang pernah diceritakan di dalam novel-novel itu?’

‘Jika itu benar ... jika itu benar maka aku bisa mengubah takdir hidupku dan kakak!’ ucapku dengan tangan terkepal penuh semangat.

Sesaat mata milikku berkilat dan memori ku jatuh pada akhir kehidupanku di tangan penghianat. Memikirkannya saja sudah membuatku merasa marah.

‘Dalam akhir hidupku, aku ditipu oleh penghianat itu. Kali ini aku akan membalas dendam kepadanya hingga semua keluhan yang ada di diriku tuntas!’

Memikirkannya lagi entah mengapa rasanya menyedihkan sekali, setelah aku dibunuh olehnya, mayat tubuhku dibakar sampai menjadi abu.

Di buku tertulis jika dia sebenarnya ingin membiarkan zombie memakan tubuhku, tetapi dia takut jika itu bisa menimbulkan kecurigaan kakak.

Karena itu, dia lebih memilih untuk membakar tubuhku dan memanipulasi alat pendeteksi kemampuan supranatural agar bisa membuat alasan jika kekuatan supranatural milikku tidak terkendali yang menyebabkan tubuh milikku terbakar menjadi abu.

Setelah mengunakan alat itu ternyata alat itu benar-benar mendeteksi jika aku memiliki kekuatan supranatural yang berhubungan dengan api.

Sial, kalau begitu mengapa kekuatanku harus muncul saat diriku sudah mati! Karena penemuan itu si pengkhianat tidak perlu bersusah payah untuk memanipulasi alatnya.

Memikirkannya lagi sudah sangat membuatku geram hingga ingin mencabik-cabik nya menjadi berkeping-keping!

Apa-apaan dengan tuhan? Mengapa dia tidak bersikap adil terhadapku?! Hiks, benar-benar sikap pilih kasih yang sangat mencolok.

‘Untung saja kamu membuatku mengulangi kehidupanku setelah memberi tahu rahasia yang terdapat di dunia ini, aku akan bersyukur untuk ini.’

‘Tetapi apa yang aku dapatkan di kehidupan masa lalu itu benar-benar sial.’

Ku dudukkan tubuhku di kursi meja belajar dan mulai berpikir. Setelah beberapa saat, aku mulai mengambil kertas dan pena untuk mulai merinci kembali isi penting dari buku itu.

Aku hanya kembali seminggu sebelum penyebaran virus itu terjadi dan jika aku mengingat kembali dengan benar tiga hari lagi adalah hari di mana kakak sudah resmi memasuki asrama universitas.

Jika kakak benar-benar masuk asrama maka aku tidak bisa meminta bantuannya dan jika aku memintanya untuk tidak pergi, alur utama novel ini akan menjadi kacau. Kakak juga tidak bisa bertemu dengan tokoh penting yang berada di universitasnya.

‘Lebih baik aku tidak menghalanginya untuk pergi ke asrama. Bukankah aku ingin membalas dendam dengan si pengkhianat itu? Lebih baik aku membiarkannya seperti yang terjadi di dalam alur lalu membuatnya hancur, sehancur-hancurnya,’ batinnya sambil tersenyum menyeringai seperti iblis dengan emot dua tanduk iblis dan ekor iblis yang melambai-lambai.

Dengan cepat tanganku mulai menulis informasi-informasi penting. Tidak terasa jika waktu sudah lewat dengan sangat cepat. Sudah pukul 12 malam, sudah 3 jam aku menulis informasi penting itu.

‘Jika aku ingin bertahan, aku harus mulai berolahraga untuk meningkatkan kelenturan dan efisiensi tubuhku.’

'Walaupun itu sama sekali tidak membantu tubuhku, setidaknya aku sudah berusaha!'

‘Baik, sudah ku putuskan aku akan berolahraga mulai besok!’

‘Sekarang….’

Melirik singkat kearah kasur dengan ekspresi samar, aku ingin tidur, aku tidak menyangkan jika menulis isi buku itu akan memakan waktu sebanyak ini.

Mataku kini memandang kearah kertas yang berserakan di atas meja, menyalakan korek api dan membakarnya menjadi abu.

‘Aku sudah mengingatnya, lebih baik aku bakar saja. Jika tidak, aku takut akan ditemukan oleh orang lain.’

Setelah membereskan kekacauan dengan sangat cepat, aku merebahkan tubuhku ditempat tidur dan menutup mata.

‘Besok akan menjadi hari yang melelahkan.’

...----------------...

Tanggal 11 bulan Agustus tahun XXXX.

Jam weker berdering, memenuhi ruangan kecil berukuran 3 x 4. Perlahan mata dengan warna iris hitam pekat menatap jam weker dengan perasaan linglung. Tangannya terulur untuk mematikan jam tersebut.

Bangkit dari tempat tidurnya dan menatap sekeliling dengan heran, sebelum dengan lelah dia menghela napas dan mengacak-acak rambutnya dengan kesal.

“Aku lupa jika aku kembali ke sebelas tahun yang lalu,” ucap Zen setelah mengingat kembali apa yang di alaminya kemarin.

“Ku kira semua ini hanya mimpi,” gumam Zen lalu turun dari tempat tidurnya dan pergi bersiap untuk melakukan olahraga yang telah direncanakannya.

Setelah bersiap, aku memandangi diriku yang berada di depan cermin. Tinggi 1,7 m dengan rambut hitam pendek setengah basah. Kulit pucat dengan rona merah muda samar yang menandakan vitalitasnya. Dan sepasang mata hitam pekat berair, membuat orang yang melihatnya akan merasa kalau dia adalah orang yang tampan.

Menjulurkan tangannya untuk mencubit pipinya dengan pelan, mau tidak mau dia memikirkan wajah milik kakaknya. Menghela napas kecil dan merasa tidak berdaya.

‘Tetap saja, jika dibandingkan dengan wajah kakakku, wajah seperti ini tidak ada apa-apanya.’

Mata hitam pekat itu dengan segera melihat kearah jam weker yang menunjukkan pukul 5 dini hari.

‘Yosh, sudah waktunya berangkat.’

Menyambar smartphone miliknya yang dia tinggalkan di atas meja dan berlari kecil menuju arah pintu.

Sebelum tangannya terulur untuk membuka pintu, pintu miliknya sudah terbuka lebih dahulu dan menampakkan tangan putih ramping dan cantik dihadapan matanya.

Matanya kembali melihat kearah atas dengan jantung yang berdegup kencang. Dia tahu dengan baik tangan milik siapa itu, siapa lagi jika bukan tangan milik kakaknya, sang protagonis dalam buku itu.

Mata miliknya bertabrakan dengan mata hitam berlian jernih miliknya. Segera seluruh pandanganya terfokus kepada wajah dihadapannya.

Tinggi 1,8 m, memakai sweater berwarna hitam lengan panjang berkerah tinggi dan celana bahan yang menampilkan sosok kaki panjang miliknya yang dibaluti oleh sepatu kets putih.

Fitur wajah tiga dimensi dengan rahang tegas, hidung mancung, bibir tipis dengan sentuhan merah muda, mata hitam berlian jernih dengan bulu mata lentik, sepasang alis yang dilukis dengan cermat, benar-benar lelaki tampan yang bisa membuat semua wanita berpaling dengan satu lirikan darinya.

Rambut berwarna hitam halus, disisir dengan rapi hingga menampilkan dahi mulus miliknya. Dahi diwajahnya sedikit berkerut saat melihatku dan matanya kini menatap dengan heran kearah ku langsung.

“Mengapa kamu bangun pagi-pagi sekali?” ucapnya dengan suara yang seindah celo yang mungkin bisa menandingi suara para idol di luar sana.

Dengan ucapannya itu, akal sehatku kembali.

Segera ku paling kan wajahku kearah lain dan tidak menatap langsung kearahnya. Mata milikku sedikit berair dengan ujung merah samar. Aku mendengus pelan mencoba untuk menekan emosi yang bergejolak di hatiku.

“Harusnya aku yang bertanya kepadamu, mengapa kamu ada di apartemen ku, kak?” ucapku dengan suara seperti biasa.

‘Sial, mengapa dia muncul disaat yang tidak tepat?’

“Tentu saja membujuk mu. Apa kamu masih marah tentang kepindahan ku ke asrama?”

Membujuk? Ah, aku ingat. Waktu itu setelah dia memberi tahu tentang tujuannya yang akan pindah menetap di asrama universitas, aku menolak dengan keras usulannya karena merasa takut jika ayah dan ibu akan menggangguku selama dia berada di asrama. Bahkan aku sampai merengek kepadanya.

Ukh, jangan meledekku seperti itu! Aku tahu jika sikapku waktu itu sangat kekanak-kanakan. Aku saja malu mengingat semua tingkahku waktu itu. Tetapi jika kalian menjadi aku maka kalian akan melakukan hal yang sama denganku.

Memang ayah dan ibuku tidak bermain menggunakan fisik, tetapi mereka mengunakan mulut mereka yang tajam untuk berbicara omong kosong yang menyakitkan.

Benar saja, ucapan mulut itu lebih menyakitkan daripada pukulan fisik.

Disaat orang tuaku berbicara hal seperti itu, para tetangga juga mulai mengucapkan kalimat yang membuat kepercayaan diriku semakin ciut, bahkan teman sekelas dan guru tidak lepas untuk mengucapkan kalimat itu.

Hanya kakak ... hanya kakak yang tidak mengikuti mereka semua. Disaat seluruh orang menghinaku, mencaci maki diriku, mengatai jika diriku bodoh dan sebagainya, hanya dia yang datang kepadaku, memelukku sambil mengucapkan kata-kata penghibur.

Hahahaha, padahal semua itu karena dirinya yang terlalu sempurna hingga membuat orang lain tanpa sadar membandingkannya denganku, padahal semuanya karena dia ... tetapi dengan semua perilakunya kepadaku, bagaimana aku bisa membencinya?!

Melihatnya terpaku dan tidak bersuara sama sekali, membuat Fin semakin merasa bersalah.

Dia yang paling tahu mengapa kehidupan adiknya menjadi seperti itu, dia yang paling mengerti semua alasannya dan karena dia, adiknya menjadi seperti ini.

Mengepalkan tangannya dengan erat, sedikit keengganan melintas dimatanya. Dia tidak ingin melepaskan kesempatan ini, kesempatan untuk masuk universitas itu.

Dengan kesempatan ini dia pasti bisa membuat adiknya hidup dengan baik, dengan memasuki universitas itu, dia pasti bisa menembus semua kesalahannya terhadap adiknya.

Andai saja jika universitas itu mengijinkan kepada mahasiswanya untuk tinggal di rumah, tetapi sayang sekali, universitas menerapkan sistem asrama yang harus dilakukan oleh setiap mahasiswanya agar tidak menggangu studi mereka.

“Zen, dengarkan aku, aku tidak akan meninggalkanmu sama sekali. Aku akan mengunjungimu setiap liburan semester sekali dan akan selalu mengirimi uang saku langsung ke rekening milikmu. Aku juga ak-“

“Kak, aku mengizinkanmu untuk masuk universitas itu,” ucapku menyela ucapannya.

“Baguslah kalau kamu mengerti Zen. Tunggu, apa yang baru saja kamu bilang tadi?” Fin menatap tidak percaya kearah Zen.

“Aku mengizinkanmu untuk masuk universitas?” ucapku bingung.

Fin melangkah maju untuk mengukur suhu tubuh milik Zen dengan punggung tangannya.

“Tidak demam, suhu tubuhmu normal.”

“Apa kepalamu terbentur sesuatu sebelum bertemu denganku?”

“Tidak,” ucapku sambil menggelengkan kepalaku.

“Lalu mengapa keputusanmu berubah begitu cepat?” tanyanya tidak percaya.

‘Sepertinya aku yakin dia masih merengek kepadaku untuk tidak ditinggalkan sendirian tadi malam, apa yang membuatnya mengubah keputusan begitu cepat?’ batin Fin bertanya-tanya.

“Ah! Atau jangan-jangan ayah dan ibu mengancam mu? Iya?”

“Tidak, tentu saja itu tidak terjadi!” ucapku membantah dengan cepat.

Kurasakan pundak ku ditepuk pelan olehnya dan menatapku dengan tatapan tidak berdaya.

“Kamu tidak perlu takut untuk membicarakannya kepadaku, aku pasti akan percaya setiap perkataan mu...."

‘Sial, aku merasa tersentuh sekali. tetapi tetap saja ini tidak ada hubungannya dengan kedua orang tua bau itu!’ batinku tidak berdaya.

“Kak, dengarkan aku, keputusanku tidak ada sangkut pautnya dengan orang tua oke? Ini semua murni keputusanku. Aku hanya tidak ingin kakak kehilangan kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Aku juga minta maaf tentang perbuatan ku kemarin, tingkahku sungguh kekanak-kanakan semalam.” ucapku menjelaskan dengan satu tarikan napas.

Kulihat dia yang terpaku sambil menatapku dengan heran. Kurasa dia tidak percaya sama sekali dengan ucapan ku ini. Belum sempat aku membuka mulut untuk memberikan penjelasan lebih lanjut, kakakku menyela ucapan ku terlebih dahulu.

“Baiklah, jika itu keputusanmu aku tidak akan sungkan lagi. Tetapi berhenti berbicara dengan ekspresi seperti itu, itu seperti kamu sudah mengubah kepribadian mu saja, aku lebih terbiasa melihat Zen yang bertingkah kekanak-kanakan dan menyebalkan.”

“Hahahaha, kakak harus terbiasa. Aku memang ingin mengubah kepribadianku. Aku merasa tidak enak jika terus merepotkan kakak.” ucapku sambil tertawa canggung dan mengalihkan kepalaku kearah lain.

‘Apa aku terlalu berubah tiba-tiba ya? Semoga saja kakak tidak curiga’ batinku sambil berdoa.

Fin menepuk kedua pundak Zen dan menatap matanya dengan sungguh-sungguh.

‘Dia tidak curiga bukan?’ batin Zen dengan keringat dingin yang mengalir di belakang punggungnya.

“Aku….”

Aku merasakan jika jantung milikku akan segera copot! mengapa dia berbicara setengah-setengah seperti ini?!

“Aku merasa terharu sekali karena mu, Zen."

“Huh???”

“Aku tidak menyangka jika adik kecilku ini bisa bersikap dewasa seperti ini.” ucap Fin sambil menyeka air mata di sudut matanya.

“Ha ha ha ha…”

‘Bagaimana aku lupa jika kakak punya sifat seperti ini.’ batinku melepas rasa tegang yang ada.

Kalian harus tahu salah satu hal yang berkaitan dengan kakakku ini, emosi miliknya terlalu berlebihan jika menyangkut orang yang disayanginya.

Jika kalian berpikir sikapnya seperti laki-laki dewasa yang dingin kalian salah besar!

Memang benar jika dihadapan orang asing, dia akan seperti itu, tetapi beda halnya jika dihadapan orang yang disayanginya. Sikap miliknya akan menjadi sensitif, tidak-tidak, bukan sensitif lagi melainkan sangat sensitif!

Aku tekankan sekali lagi oke, sikapnya akan SANGAT SENSITIF!

“Sudahlah kak, kamu tidak perlu menangis seperti ini.”

“Ah, kamu benar. Aku terlalu terbawa suasana.”

“Kamu ingin pergi untuk lari pagi?” ucap Fin setelah memperhatikan dengan cermat baju yang digunakan Zen.

“Lari pagi? Ah! Kakak benar, aku ingin pergi berolahraga. Ini sudah terlalu telat. Aku pergi dahulu kak! Jangan lupa kunci pintunya jika kakak ingin pergi.” Ucapku lalu bergegas pergi tanpa menghiraukan ucapan kakak.

“Ini aneh, sejak kapan Zen suka berolahraga? Bukankah dia membencinya?” gumam Fin menyatakan kerumitan dimatanya.

“Sudahlah, lebih baik tidak terlalu memperdulikannya. Bukankah sudah bagus dia ingin berubah menjadi lebih baik lagi?” ucap Fin lalu berjalan masuk kedalam kamar apartemen milik Zen.

...| (❁❁) |...

...•...

...•...

...•...

Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.

Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

Instagram : lmnr_vv

Terpopuler

Comments

R E M E D Y

R E M E D Y

apa kah kaka ny pedo ges

2023-04-18

0

kenazokia Kenzo

kenazokia Kenzo

Napa kayak ada bau bau mencurigakan yah

2023-03-13

0

Rosdiana Syarif

Rosdiana Syarif

lanjut

2022-10-08

0

lihat semua
Episodes
1 |Prolog|
2 |(1) Penyebab Kematian|
3 |(2) Dimulai dari awal|
4 |(3)Rodriguez bersaudara|
5 |(4) keberuntungan besar?|
6 |(5) Tingkatan|
7 |(6) Hari yang sial dan untung|
8 |(7) Gagal menjadi anak biasa|
9 |(8) Nasib sial|
10 |(9) Dewa Sialan|
11 |(10) Max Foerster|
12 |(11)Fraksi|
13 |(12)Protagonis wanita|
14 |(13) Pengadopsian|
15 |(14) Tempat kerja aneh|
16 |(15) Pingsan berjamaah|
17 |(16) Senjata|
18 |(17) Kembar Ken & Kim|
19 |(18) Debat|
20 |(19) Masa Lalu|
21 |(20) Sang Elf|
22 |(21) Ash Artemaies|
23 |(22) Surat Pemindahan|
24 |(23) Pemindahan Transfer Pengadopsian|
25 |(24) Sabtu|
26 |(25) Latih Tanding|
27 |(26) Pemenang Latih Tanding|
28 |(27) Sudut Pandang Lain|
29 |(28) Analisa|
30 |(29) Dimulai|
31 |(30) Keadaan Ken dan Kim|
32 |(31) Pemerintah|
33 |(32) Insiden Tidak Terduga|
34 |(33) Munculnya zombie pertama|
35 |(34) Penghambat|
36 |(35) Kelompok menjengkelkan|
37 |(36) Rasa Kemanusiaan|
38 |(37) Lia Amerston|
39 |(38) Minimarket|
40 |(39) Apartemen Zen|
41 |(40) Rencana Selanjutnya|
42 |(41) Awal Cerita Asli|
43 |(42) Penyusunan Rencana|
44 |(43) Evolusi|
45 |(44) Kepribadian Ganda|
46 |(45) Cerita yang berubah|
47 |(46) Asal Usul Mia|
48 |(47) Pelajaran Pertama Untuk Leo|
49 |(48) Ini Ide yang Paling Baik Bukan?|
50 |(49) Pertengkaran di Antara Dua Saudara|
51 |(50) Hasil Akhir Rencana|
52 |(51) Penyempurnaan 2%|
53 |(52) Dua Benda Misterius|
54 |(53) Zombie Daerah Kumuh|
55 |(54) Jatuh|
56 |(55) Lari|
57 |(56) Pertengkaran?|
58 |(57) Tempat Tinggal|
59 |(58) Rencana dan Rute|
60 |(59) Pertemuan|
61 |(60) Pembicaraan|
62 |(61) Ide Bisnis|
63 |(62) Tantangan Duel|
64 |(63) Seseorang|
65 |(64) Tentara?|
66 |(65) Relasi|
67 |(66) Sama|
Episodes

Updated 67 Episodes

1
|Prolog|
2
|(1) Penyebab Kematian|
3
|(2) Dimulai dari awal|
4
|(3)Rodriguez bersaudara|
5
|(4) keberuntungan besar?|
6
|(5) Tingkatan|
7
|(6) Hari yang sial dan untung|
8
|(7) Gagal menjadi anak biasa|
9
|(8) Nasib sial|
10
|(9) Dewa Sialan|
11
|(10) Max Foerster|
12
|(11)Fraksi|
13
|(12)Protagonis wanita|
14
|(13) Pengadopsian|
15
|(14) Tempat kerja aneh|
16
|(15) Pingsan berjamaah|
17
|(16) Senjata|
18
|(17) Kembar Ken & Kim|
19
|(18) Debat|
20
|(19) Masa Lalu|
21
|(20) Sang Elf|
22
|(21) Ash Artemaies|
23
|(22) Surat Pemindahan|
24
|(23) Pemindahan Transfer Pengadopsian|
25
|(24) Sabtu|
26
|(25) Latih Tanding|
27
|(26) Pemenang Latih Tanding|
28
|(27) Sudut Pandang Lain|
29
|(28) Analisa|
30
|(29) Dimulai|
31
|(30) Keadaan Ken dan Kim|
32
|(31) Pemerintah|
33
|(32) Insiden Tidak Terduga|
34
|(33) Munculnya zombie pertama|
35
|(34) Penghambat|
36
|(35) Kelompok menjengkelkan|
37
|(36) Rasa Kemanusiaan|
38
|(37) Lia Amerston|
39
|(38) Minimarket|
40
|(39) Apartemen Zen|
41
|(40) Rencana Selanjutnya|
42
|(41) Awal Cerita Asli|
43
|(42) Penyusunan Rencana|
44
|(43) Evolusi|
45
|(44) Kepribadian Ganda|
46
|(45) Cerita yang berubah|
47
|(46) Asal Usul Mia|
48
|(47) Pelajaran Pertama Untuk Leo|
49
|(48) Ini Ide yang Paling Baik Bukan?|
50
|(49) Pertengkaran di Antara Dua Saudara|
51
|(50) Hasil Akhir Rencana|
52
|(51) Penyempurnaan 2%|
53
|(52) Dua Benda Misterius|
54
|(53) Zombie Daerah Kumuh|
55
|(54) Jatuh|
56
|(55) Lari|
57
|(56) Pertengkaran?|
58
|(57) Tempat Tinggal|
59
|(58) Rencana dan Rute|
60
|(59) Pertemuan|
61
|(60) Pembicaraan|
62
|(61) Ide Bisnis|
63
|(62) Tantangan Duel|
64
|(63) Seseorang|
65
|(64) Tentara?|
66
|(65) Relasi|
67
|(66) Sama|

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!