Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
Sepertinya dia benar-benar belum tersadar dari bangun tidurnya dan tidak melihat jam saat berangkat. Waktu masih menunjukkan pukul 10.45 pagi. Padahal dia bisa saja melanjutkan tidur damainya dan pergi membeli buku di sore hari.
...| (❁❁) |...
“Terima kasih telah membeli buku di toko buku kami,” ucap pegawai toko itu dengan ramah yang ku balas dengan anggukan singkat.
Kaki ku kini melangkah kearah pinggir jalan tempat berada nya toko-toko kecil, termasuk dengan toko buku yang ku kunjungi tadi.
Senyum lembut selalu terbit di bibirku saat melihat anak-anak berlarian di sekitar jalan.
Tidak, itu bukan karena anak-anak, melainkan karena sinar matahari yang terlalu menyengat ini!
Ku hentikan langkahku lalu menatap matahari yang hampir meninggi menandakan jika waktu pagi ingin berganti menjadi siang.
‘Bagaimana aku lupa jika sekarang adalah tengah hari? Matahari, aku membencimu!’ ucap ku dalam hati melepaskan depresi yang ada.
Kulihat jam di handphone milikku yang menunjukkan pukul 11.53 tepat 7 menit lagi waktu akan berubah menjadi pukul 12.00 yang menandakan dimulainya siang hari.
‘Hah, karena sudah telanjur keluar, lebih baik aku segera mengambil gaji dari cafe tempat ku bekerja bukan?’ batinku lalu melanjutkan jalan kearah cafe tempatku bekerja.
Cafe tempatku bekerja bisa dibilang adalah cafe popular terlebih dari kalangan remaja. Sudah banyak cabang yang dibuka oleh pemilik cafe dan entah sial atau beruntung aku mendapatkan pekerjaan di sana.
Beruntung karena gaji di sana lumayan besar dan sial karena cafe itu popular di kalangan remaja yang berarti aku akan selalu menemui setidaknya siswa yang satu sekolah denganku.
Bukan rahasia umum jika mereka mengetahui kemampuan dan kehebatan kakakku. Bukannya membuatku ditakuti justru malah membuatku dianggap sebagai pecundang yang harus dilindungi oleh kakaknya.
‘Memangnya dari mana asal kata pecundang yang harus dilindungi kakaknya itu berasal? Jika aku mengetahui orang yang pertama kali berbicara seperti itu akan ku balas berkali-kali lipat!’ batinku mengepalkan tangan kesal.
Oh ayolah, aku bahkan terlalu sungkan untuk meminjam uang kepada kakakku dan lebih memilih bekerja diumur 13 tahun dibandingkan meminta kepadanya. Seenaknya saja dia bilang jika aku hanya berlindung di bawah kakakku!
‘Hah, sudahlah, lebih baik aku mempersiapkan mental untuk berhadapan dengan kicauan mereka. Tapi tetap saja akan lebih baik jika meraka tidak ada di sana,’ ucapku kembali menghela napas entah yang sudah ke berapa kalinya.
Ku tatap pintu cafe yang sudah lama tidak kulihat. Entah sudah berapa kali aku berjalan mondar-mandir dan berapa kali pula aku menghela napas untuk menetralkan rasa gugup ku.
‘Mengapa aku jadi gugup seperti ini? Oh ayolah, kamu hanya perlu masuk dan mendapatkan gaji mu bukan? Kamu bahkan sudah pernah membunuh sekelompok orang (zombie). Mengapa kamu harus gugup seperti ini?’ batinku sebelum akhirnya memantapkan diri dan berjalan masuk.
Itu niatnya, sebelum aku merasakan tangan yang menepuk pundak ku pelan dari belakang yang membuatku tersentak kaget dan segera memalingkan muka kearah belakang.
“Zen, mengapa kamu berdiri diam seperti ini?”
“Kak Eva???” tanyaku kaget.
Eva Osbenre, pelayan senior di cafe tempatku bekerja sekaligus salah satu orang yang membelaku dihadapan opini publik. Dia lebih tua 3 tahun dariku.
“Hm? mengapa kamu kaget seperti itu Zen? Apa kamu sakit?” tanyanya khawatir.
“Ah, tidak. Tidak apa-apa, aku baik-baik saja,” ucapku sambil menggelengkan kepala pelan.
“Oh, syukurlah kalau begitu,” ucapnya sambil menghela napas lega.
“Sedang apa kamu di sini Zen? Apa kamu ke sini untuk pekerjaanmu? Tetapi bukankah jammu sudah terlewatkan?” tanya Eva dengan bingung.
“Ah, itu kak, aku ke sini untuk mengambil gaji bulanan ku,” ucapku sambil menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal.
“Gaji bulanan? Apa kamu kekurangan uang lagi? Jika iya kamu bisa meminjam uang milikku, jangan mengambil gaji milikmu lebih cepat. Itu akan membuat kepala manajer marah kepadamu,” balasnya dengan ekspresi serius.
“Hahahaha, bukan karena itu. Ini diperintahkan langsung oleh kepala manajer cafe sendiri ” ucapku sambil tertawa canggung.
“Diperintahkan kepala manajer? Tunggu jangan dibilang jika kamu dipecat?!” ucapnya berteriak panik yang justru membuatku panik juga.
“Jika benar, aku akan membantumu membela kepada kepala manajer, kamu hanya perlu menunggu di sini Zen,” lanjut Eva dengan menggebu-gebu lalu beranjak masuk kedalam.
Aku segera menahannya sebelum semuanya berakhir dengan kacau. Asal kalian tahu selain menjadi pelayan senior dari cafe tempatku bekerja dia juga sangat andal dalam seni bela diri, walaupun itu adalah seni bela diri dasar.
Karena itu dia mendapatkan pekerjaan untuk mengurus para gangster ataupun preman yang berulah di cafe.
Selain seni bela diri dasar dia juga sangat ahli dalam menangani senjata, ingat dalam menangani oke? Bukan dalam menggunakannya. Dia bisa dibilang sangat akrab dalam segala struktur senjata. Saat ku tanya tentang mengapa dia sangat andal dalam menangani senjata dia hanya menjawab
“Itu karena ayahku yang dulunya adalah seorang ahli pembuat senjata. Sejak kecil aku selalu melihat ayahku membuat berbagai macam jenis senjata walaupun itu hanya pisau tempah, pedang tempah, tombak dan beberapa panah dengan anak panah.”
Yah, sepertinya ayahnya adalah seorang pembuat senjata yang tidak terlalu terkenal, terlebih ini adalah masyarakat modern di mana sangat jarang atau bahkan tidak ada orang yang mau membeli barang berbahaya seperti senjata.
“Kak, tidak perlu merepotkan kakak untuk mengurus ini. Aku tidak ingin karena aku, kakak juga berakhir dengan dipecat oleh kepala manajer,” ucapku sambil menghalau Kak Eva yang ingin masuk kedalam.
“Kamu tidak perlu khawatir tentangku Zen. Lagi pula kamu sudah aku anggap sebagai adikku sendiri,” jelas Eva yang membuat Zen sedikit tersentuh.
‘Ah, padahal sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya, kak Eva tidak berubah sama sekali ternyata,’ batinku.
Mengingat sifatnya yang baik dan lemah lembut membuatku tanpa sadar menganggapnya seperti protagonis wanita di dalam novel pada kehidupan pertamaku.
Bahkan aku pernah memikirkan untuk menjodohkan kakakku dengan kak Eva.
Tetapi sepertinya mereka bukan pasangan takdir, karena dalam buku itu tertulis jika orang yang akan menjadi pasangan atau protagonis wanitanya adalah orang yang belajar di universitas yang sama dengan universitas kakak.
Walaupun aku hanya melihat dari deskripsi buku itu, itu sudah cukup untuk membuatku memiliki kesan yang sangat baik terhadapnya.
Buku itu menggambarkan jika sang protagonis wanita bersifat baik, lembut dan penyayang. Walaupun diluar terlihat acuh, tapi dia mempunyai caranya sendiri untuk menunjukkan kasih sayangnya.
Dia juga sangat pintar dan cerdik bahkan sangat pandai memperhatikan situasi. Pada hari kiamat pun dia digambarkan sebagai sosok yang kuat bahkan bisa memenangkan pertandingan melawan kakakku setidaknya 3 dari 10 pertandingan.
Mengingat ending dari protagonis wanita yang harus mati bahkan di sekitar bab 20 an membuatku sangat kesal.
Bagaimana tidak? Dia membuat karakter wanita dengan sifat dan penampilan yang bisa dikatakan sempurna mati di awal chapter? Bahkan bab 20 belum mulai masuk kedalam inti cerita!
‘Aku benar-benar memiliki keinginan untuk mencekik penulis buku itu!’ batinku sambil tersenyum kesal.
“Kak Eva, sudahlah ini juga karena kesalahanku yang telat datang, berakhir dengan kepala manajer yang memecat ku.” jelas ku sambil menenangkan kak Eva yang masih terlihat emosi.
“Huh, Zen, kamu terlalu baik,” ucapnya menatap diriku rumit yang hanya bisa ku balas dengan tawa canggung.
‘Apa aku orang yang baik? Aku hanya tidak ingin repot-repot bekerja karena 6 hari lagi akan terjadi kiamat, lebih baik memanfaatkan waktu untuk berguling-guling di atas kasur dan berlatih bukan?’
“Hah, sudahlah aku akan mengantarmu ke kepala manajer,” ucap Eva dengan final.
“Uh? Baiklah, maaf merepotkan mu kak!”
“Tidak, kamu tidak merepotkan sama sekali,” jelas Eva dengan senyum lembut terpasang diwajahnya.
“Kamu ingin mengambil gaji mu bulan ini?” tanya kepala manajer tanpa menoleh kearah Zen.
“Itu benar pak, jadi apa aku boleh mengambilnya sekarang?” tanyaku masih dengan nada sopan.
Kulihat kepala manajer itu mengambil sebuah amplop cokelat dari laci mejanya dan menyerahkannya kepadaku.
“Gaji mu bulan ini,” ucapnya singkat dengan wajah sombong yang membuat kak Eva merasa kesal dan berakhir dengan aku yang harus turun tangan untuk menghiburnya.
Setelah meredakan rasa kesal kak Eva aku membungkuk 90º untuk menandakan rasa hormat.
“Terima kasih pak, kalau begitu akan saya cek terlebih dahulu,” balasku dengan pelan. Bisa ku perhatikan ekspresi diwajahnya semakin buruk.
‘Ah, sepertinya dia mengurangi gaji milikku lagi,’ batinku yang sudah sangat terbiasa dengan ekspresi diwajahnya itu.
Setelah menghitung dengan baik, benar saja gaji ku dikurangi. Gaji perbulan pekerjaanku seharusnya adalah 2 juta 400 ratus ribu. Tetapi jumlah uang yang ada di dalam amplop ini hanya 700 ribu.
‘Sial, dia ingin melakukan pemerasan hah?!’ batinku tersenyum kesal.
“Maaf pak, total uang yang ada di amplop ini hanya ada 700 ribu,” ucapku.
“Apa?! Hei kepala manajer, mengapa uangnya hanya ada 700 ribu? Bukankah seharusnya ada 2 juta 400 ribu! Aku tahu jika ini masihlah awal bulan, tapi Zen adalah pegawai senior dan sesuai dengan kontrak dia akan mendapatkan gaji penuh di hari terakhirnya berhenti! Apa kamu ingin melakukan pemerasan, hah???” tanya kak Eva dengan lantang.
Kulihat ekspresi kepala manajer berubah menjadi lebih jengkel dari sebelumnya.
“Apa kamu bilang? Pemerasan hah?!” tanyanya dengan nada tinggi.
“Iya! Sepertinya aku harus melaporkan ini kepada pihak pusat cafe ya?” ancam kak Eva sambil mengacungkan jari kepada kepala manajer.
Aku yang melihat situasi yang memanas hanya diam-diam melangkah mundur kebelakang membiarkan kak Eva yang menyelesaikan ini semua.
‘Yah, setidaknya aku tidak akan memiliki suara serak nanti. Terima kasih kak Eva sudah mewakili ku untuk memperjuangkan adu mulut ini,’ batinku seraya bersorak dalam hati untuk menyemangati kak Eva.
Eva yang melihat Zen mundur ke belakangnya mengira jika dia takut terhadap kepala manajer bajingan itu dan semakin memantapkan hatinya untuk mengambil kembali hak milik Zen yang diambil oleh kepala manajer
‘Dasar bajingan brengsek ini! Akan ku pastikan jika Zen mendapatkan gajinya secara utuh!' batin Eva.
“Kamu ingin mengadukannya ke pusat? Kalau begitu coba saja!” ucap kepala manajer dengan senyum menjengkelkan diwajahnya.
“Kamu! Setidaknya tahu malu lah sedikit! Kamu jauh lebih tua dariku tetapi masih berani memeras anak yang baru menginjak usia dewasa hah?!” ucap kak Eva marah dan menggebrak meja sehingga menimbulkan suara yang kencang.
“Kamu beraninya!” seru kepala manajer tidak terima.
‘Apa aku harus ikut campur sekarang?’ batinku bertanya.
Setelah memperhatikan situasi sekali lagi aku menghilangkan keinginan untuk membantu. Lagi pula kak Eva bisa bela diri dasar, setidaknya aku tahu jika kepala manajer bukan lawannya sama sekali.
“Tentu saja aku berani! Memangnya apa yang salah dari menuntut keadilan, hah?! Dasar bajingan pemerasan! Mengapa juga cafe ini bisa mengangkat mu menjadi kepala manajer jika kerjamu tidak becus dan sering melakukan pemerasan!” jelas kak Eva dengan wajah penuh amarah.
Itu benar, kepala manajer itu tidak pernah menjalankan tugasnya dengan benar. Bahkan dia juga sering memeras dengan cara mengurangi gaji dari para pelayan yang bekerja di sini. Aku adalah salah satu korban dari mereka.
‘Sepertinya kepala manajer ini masuk menggunakan jalur orang dalam,’ analisis ku di dalam batin tentunya.
Disaat situasi cukup memanas, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dibalik pintu.
Untuk kak Eva dan kepala manajer pasti tidak bisa mendengarnya karena masih jauh dari jangkauan pendengaran, tetapi untukku yang sudah merasakan pelatihan bak neraka itu, sangat terdengar jelas oleh telingaku.
Suara langkah kaki itu semakin mendekat membuatku penasaran apa orang itu memang sengaja menuju kearah sini? Jika aku mengingat lagi sepertinya tidak ada ruangan lain setelah ruangan kepala manajer.
Tepat saat kurasa suara langkah kaki itu berada di depan pintu, saat itu juga pintu terbuka menampakkan lelaki seumuran dengan kakakku atau bahkan sedikit lebih muda dari kakakku yang berdiri di hadapanku sehingga membuat pertengkaran antara kak Eva dan kepala manajer terhenti sejenak.
Rambut berwarna putih ke abu-abu dan pupil mata kuning terang yang ditutupi oleh kacamata berbingkai emas yang bertengger di hidung mancungnya membuatku merasa familier dengan orang di hadapanku.
‘Orang itu, kapan aku bertemu dengannya? Terlebih lagi entah mengapa kacamata emas itu mengingatkanku terhadap seseorang, tapi siapa?’ saat pikiranku masih bertanya-tanya lelaki itu sudah lebih dahulu membuka mulutnya dan bertanya.
“Apa yang terjadi di sini?” tanyanya sambil memperhatikan situasi di dalam ruangan.
‘Sepertinya aku benar-benar pernah bertemu dengannya, tetapi di mana? Terlebih dengan aura seperti seorang pebisnis itu.’
“Kamu siapa?! Beraninya masuk kedalam ruangan ku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu!” seru kepala manajer mengalihkan atensi kami bertiga.
Aku bertanya-tanya apa memang kepala manajerku ini sangat bodoh? Bagaimana bisa dia mengatakan itu dengan suara lantang?! Apa dia tidak melihat aura dari pria yang baru saja masuk ini?
Kulihat kak Eva yang sedang menatapnya seolah-olah idiot dan melihat pria asing itu yang memandangnya dengan terkejut sambil memiringkan kepalanya. Terlihat jelas dari ekspresi wajahnya yang seperti memandang kepala manajer sebagai orang aneh.
Tetapi ekspresi itu tidak berlangsung lama, dia langsung mengubah ekspresi mukanya dan tersenyum ringan kearah kepala manajer.
“Maaf, tetapi apa benar kamu tidak mengenalku?” tanyanya.
“Huh, untuk apa aku mengenalmu hah?!” ucap kepala manajer dengan wajah jengkel.
“Apa yang sebenarnya dia lakukan saat aku tidak ada di sini?” gumamnya yang masih bisa terdengar olehku.
‘Apa dia pernah pergi keluar negeri atau bagaimana? Tidak itu tidak penting! Jika ku perhatikan dari gaya bicaranya dia seperti seorang bos, jika tebakanku tidak salah apa dia bos dari cafe ini?’ pikirku yang membuat analisis lagi.
“Baiklah, karena kamu tidak mengenalku maka aku akan memperkenalkan diri. Namaku adalah Ken, Ken Aenass, apa kamu masih tidak mengenalku?” jelasnya setelah mengenalkan namanya kepada kami.
‘Aenass? Tunggu bukankah itu nama marga orang yang akan menjadi pedagang perantara antara dalam negeri dengan luar negeri disaat dunia kiamat nanti?! Pantas saja aku tidak asing dengannya,’ batinku sambil melihat Ken yang tersenyum kearah kepala manajer.
Ken Aenass, seorang pebisnis yang selalu melakukan bisnis menguntungkan. Dia memulai bisnisnya di usia yang bisa terbilang sangat muda, 14 tahun dan sudah bisa mengembangkan bisnisnya hingga pada masa jayanya pada hari kiamat hanya dalam waktu 7 tahun yang berarti di umurnya yang ke 25 tahun dia sudah menjadi pedagang yang menguasai seluruh rute perdagangan pada hari kiamat.
Aku juga ingat salah satu kutipan dari novel itu yang menjelaskan tentang Ken Aenass.
[Ken Aenass, seseorang yang memang terlahir sebagai pebisnis. Kejeniusannya dalam bidang bisnis memperlancar umat manusia di bidang perdagangan terlebih makanan dan senjata setelah kiamat.
Bahkan dia bisa mendapatkan akses perdagangan keluar negeri. Tetapi ada satu hal yang tidak diketahui publik tentangnya, dia adalah manusia yang sangat mencintai uang lebih dari hidupnya dan paling membenci jika ada orang yang mengganggu bisnisnya, dia tidak akan segan untuk menembak mati pengacau itu.]
“Apa aku harus mengenalmu hah?!” tanya kepala manajer cafe dengan wajah heran.
Kulihat senyum di wajah Ken yang berubah menjadi lebih ramah membuatku diam-diam bergidik ngeri. Sepertinya kepala manajerku ini orang bodoh. Bagaimana dengan kode sejelas itu dia masih tidak mengerti?!
‘Apa aku harus menariknya kedalam pihak ku? Setidaknya itu akan menguntungkan ku dan mempermudah koneksi basis yang akan dibangun kakak pada masa depan bukan?’ batinku lalu menatap kearah Ken dengan mata berbinar.
‘Baik sudah ku putuskan, aku akan mengambilnya dan menjadikannya sebagai sumber uang berjalan untukku!’ batinku final sambil menghitung berapa banyak keuntungan yang akan aku dapatkan.
Ken yang sedang menahan amarahnya untuk tidak membunuh kepala manajer cabang cafenya ini tiba-tiba merasa merinding.
‘Mengapa perasaanku menjadi tidak enak seperti ini? Seolah-olah ada orang yang ingin mengambil uangku!’ batin Ken sambil mengusap belakang lehernya pelan.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments