Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
"Begitu, terima kasih atas saran mu. Omong-omong siapa namamu?” ucap dan tanya Ken setelah beberapa saat terdiam dengan senyum tipis diwajahnya.
“Terima kasih kembali tuan, dan nama saya Zen, Zen Westerlock.”
...| (❁❁) |...
Ken memutar kursi yang didudukinya menghadap langsung kearah luar jendela dan menatap pemandangan di luar jendela dengan ekspresi bosan.
Tak berselang lama pintu diketuk dan dibuka menampilkan seorang pria paruh baya berumur 53 tahun membawa secangkir kopi ditangannya.
Ekspresinya menunjukkan senyum ramah yang mungkin jika dilihat oleh orang lain akan membuat mereka bergetar ketakutan.
“Tuan muda, silakan kopi anda,” ucap Jin memberikan kopi ditangannya dan berdiri di samping Ken.
“Terima kasih dan bisakah kamu berhenti memanggilku tuan muda? Aku sudah menjadi kepala keluarga sekarang,” ucap Ken entah sudah yang ke berapa kalinya.
Jin yang mendengar keluhan dari tuan muda yang dirawatnya itu hanya terkekeh pelan sebelum menjawab dengan nada hormat.
“Maafkan saya, tetapi saya tidak bisa memenuhi permintaan anda yang satu ini. Saya sudah terbiasa memangil anda dengan sebutan tuan muda.”
“Huhh, sudahlah,” balas Ken dan mulai meminum pelan kopi yang diberikan kepadanya.
“Jadi, apa maksudmu menyuruhku kemari Jin? Apa itu berhubungan dengan pemuda tadi?” tanya Ken langsung pada pointnya.
Ya, mana mungkin seorang Ken Aenass, ketua perusahaan dari Aenass Company akan datang susah payah ke cafe cabang tidak penting seperti ini hanya untuk memecat kepala manajer yang tidak becus?
Hei, dia itu orang penting tahu? Dia punya banyak cabang perusahaan yang harus diawasinya. Bahkan jika dia pergi selama 1 jam saja kertas-kertas yang ada di kantornya akan menumpuk setinggi 1 meter.
“Itu benar tuan muda, bukankah anda ingin membuat kontrak kerja sama dengan Fin Westerlock? Anda bisa membuat adiknya itu memberikan kontraknya dan sedikit membujuknya untuk mau menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan kami,” jelas Jin masih setia dengan senyum ramahnya.
“Ahh, seperti itu. Tetapi sepertinya itu harus gagal bukan?” ucap Ken mengingat kembali percakapannya dengan Zen.
“Itu benar, sepertinya saya terlalu percaya dengan rumor yang beredar sehingga tidak memikirkan jika realitanya akan sangat bertolak belakang,” balas Jin.
“Oh? Apa yang membuatmu tertarik kepadanya Jin? Kulihat kamu mengamatinya selama beberapa detik tadi.”
“Ahh, soal itu. Saya hanya tertarik dengan bau darah yang dikeluarkan oleh anak itu,” jelas Jin.
“Bau darah? Apa menurutmu dia pernah membunuh seseorang?” tanya Ken dengan bingung.
“Saya tidak tahu, tetapi yang pasti itu bukan hanya seseorang,” ucap Jin dengan senyum ramahnya.
“Hooh? Ini semakin menarik,” ucap Ken seraya tersenyum tipis.
“Dia juga memberitahuku mengenai bisnis,” lanjut Ken dan mulai meminum kembali kopinya menyisakan setengah dari cangkir.
“Bisnis tuan muda?” tanya Jin.
“Yah, bisnis. Dia mengatakan jika bisnis makanan sangat menguntungkan bagi tuan. Bukan mengatakan bisnis makanan tuan sangat menguntungkan untuk tuan,” jelas Ken.
“Kamu tahu Jin? Kalimat yang diucapkan membuatku sedikit tertarik. Apa aku harus mencoba peruntunganku?” tanya Ken.
“Itu terserah kepada tuan mudanya, kepala pelayan ini hanya akan melakukan apa pun yang diperintahkan oleh tuan mudanya,” jelas Jin.
Ken yang mendengarnya terkekeh pelan dan mengguncang pelan cangkir kopi ditangannya.
“Kalau begitu akuisisi bisnis makanan yang ada di tiga kota terdekat dari sini termasuk kota ini juga, akuisisi sebanyak 50% saja. Aku akan mencoba peruntunganku kali ini,” ucap Ken.
“lagi pula tidak ada salahnya bukan mencampuri bisnis makanan?” lanjut Ken sambil terkekeh kecil.
“Baik, ikuti kata tuan mudanya,” ucap Jin seraya membungkuk hormat.
“Ah dan juga tolong beritahu saudaraku itu untuk mencari informasi mengenai Zen Westerlock, kurasa menarik dia menjadi sekutu tidak akan membuatku rugi,” ucap Ken.
“Daripada saudaraku itu kurang kerjaan, lebih baik menyuruhnya untuk melakukan sesuatu bukan?” lanjut Ken dengan senyum merekah diwajahnya.
Baik, sepertinya Ken masih dendam dengan saudaranya itu karena sudah menganggu (mengacau) kerajaan bisnis miliknya.
Jin yang melihat senyum merekah di wajah tuan mudanya hanya terkekeh pelan.
“Baik tuan muda akan saya lakukan,” ucapnya dan berjalan pergi.
‘Sepertinya kedua tuan muda tidak akan pernah bisa akur ya~’ batin Jin mengingat kembali tingkah laku kedua saudara kembar yang sudah dirawat olehnya sejak kecil.
Zen berjalan keluar dengan sesekali bersenandung ringan sambil memeluk amplop cokelat yang berisi uang gajiannya itu dan jangan lupakan senyum lebar yang terpatri diwajahnya.
‘Apa yang harus ku beli dengan uang ini ya? Atau haruskah aku mencari belati untuk ku gunakan? Tetapi di mana aku harus mencarinya? Memangnya akan ada yang menjualnya?’ batin Zen bingung sambil bertanya-tanya apa yang harus dibelinya mengunakan uang hasil gajiannya tersebut.
Lamunan itu harus buyar saat Eva berteriak memanggilnya sambil berjalan mendekat kearahnya.
“Zen!” seru Eva yang berlari menghampirinya dari arah dapur cafe.
”Kak Eva? Ada apa kak?” tanya Zen memiringkan kepalanya bingung.
“Ah, apa kamu sudah mendapatkan uang gajian mu?” tanya Eva dengan cemas, takut-takut Zen tidak mendapatkannya.
“Ah, soal itu. Aku sudah mendapatkannya kok kak! Jangan khawatir,” ucap Zen dengan senyum cerah.
“Huft, syukurlah kalau begitu,” ucap Eva dengan senyum lega.
“Oh ya, apa kamu tetap dipecat Zen?” tanya Eva dengan hati-hati.
“Kalau itu, aku memang dipecat kak,” ucap Zen seraya menggaruk pipinya dengan canggung.
“Ah, begitu ya,” seru Eva dengan suara lemah.
“Apa tidak bisa kamu memohon kepada tuan Aenass untuk tidak memecat mu?” tanya Eva.
Zen yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya singkat.
“Kak, itu juga salahku karena telat datang untuk bekerja, jadi aku tidak bisa memohon untuk tetap bekerja di sini. Aku jadi tidak enak kepada tuan baik hati itu,” jelas Zen.
‘Aku tidak ingin repot-repot untuk bekerja lagi, maaf kak Eva, aku lebih suka merebahkan diriku di atas kasur untuk lima hari ke depan sebelum memulai hari di mana aku tidak bisa tidur lebih dari 4 jam,’ batin Zen seraya menolak mentah-mentah gagasan yang ada dipikirannya.
‘Aku hanya perlu menciptakan ending bagus untuk kakakku dan tidak akan terlalu jauh untuk ikut campur dengan alur. Toh, ada kakakku ini yang akan mengurus segalanya. Setidaknya aku hanya perlu mengarahkan kakak menuju good ending sampai arc di mana dia melawan zombie tingkat 7 lalu setelahnya aku akan tidur di rumah mewah yang disediakan kakakku dan bermalas-malasan,’ batin Zen sekali lagi mengukuhkan tekadnya.
Sedangkan Eva yang mendengar ucapan Zen hanya bisa mematung dan menatap Zen dengan tatapan yang bisa err dibilang rumit?
“Haahhh, kamu memang terlalu baik Zen,” ucap Eva menghela napas secara langsung.
“Ya???” ucap Zen bertanya-tanya.
‘Memangnya aku baik? Mungkin jika yang dimaksud adalah baik untuk diriku sendiri tentu saja itu benar,’ batin Zen dan menatap bingung Kak Eva.
“Sudahlah lupakan saja perkataan ku,” ucap Eva sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
“Jika kamu mengalami kesulitan, kamu bisa memberitahuku oke? Aku akan berusaha semampuku untuk membantumu,” ucap Eva menepuk pelan pundak Zen dan tersenyum tipis.
Zen yang mendengarnya tersenyum tipis dan berkata.
“Terima kasih karena sudah membantuku selama ini kak Eva. Jika aku bisa, aku akan membantumu juga lain kali.”
Eva yang mendengarnya hanya bisa tertawa pelan.
“Aku sedikit menantikan hal itu,” ucap Eva setelah berhenti tertawa.
Zen yang mendengar tawa Eva merasa sedikit bimbang.
‘Apa aku harus memberitahunya jika sebentar lagi akan terjadi kiamat? Tapi bagaimana jika aku dibilang gila olehnya? Tapi aku juga takut dia tidak akan selamat dari kiamat nanti. Bagaimanapun juga kak Eva sudah membantuku selama ini,’ batin Zen sambil menimbang-nimbang untuk memberitahunya atau tidak.
Setelah beberapa saat akhirnya dia memantapkan keputusannya untuk memberi tahu kak Eva, walaupun itu hanya kalimat acak untuk berhati-hati.
“Kak Eva, tolong hati-hati ditanggal XX bulan ini, jika perlu Kak Eva membawa senjata kecil untuk melindungi diri, entah mengapa perasaanku tidak enak,” ucap Zen dengan berbisik pelan agar tidak didengar orang lain.
Eva yang ingin bilang jika itu hanya perasaanya saja harus menelan kembali kalimatnya saat melihat Zen yang berbicara serius dengan sedikit kekhawatiran dimatanya.
Karena tidak ingin membuat pemuda dihadapannya yang sudah dianggap sebagai adiknya khawatir dia hanya bisa menepuk pelan pundaknya dan berkata,
“Baiklah, aku akan berhati-hati nanti. Tidak perlu khawatirkan aku, Zen.”
“Terima kasih kak karena sudah memperhatikan saran ku yang tidak masuk akal tadi,” ucap Zen seraya menghela napas lega.
‘Yahh, setidaknya dia mau memperhatikan saran ku. Tetapi maaf kak Eva aku tidak bisa membawamu masuk untuk rencana ku, itu hanya akan membuatku harus memikirkan keselamatan mu juga. Sudah cukup kakakku, Leo dan Lin saja yang harus ku urus,’ batin Zen mengabaikan perasaan tidak enak dihatinya.
‘Toh, aku di sini bukan untuk menjadi pahlawan!’ batin Zen menegaskan sekali lagi.
“Karena percakapan kita sudah selesai, aku akan pulang ke apartemen milikku. Sampai jumpa lain kali kak Eva!” ucap Zen sambil melambaikan tangannya.
“Hmm, sampai jumpa juga Zen,” ucap Eva.
Setelah mendengar balasan Eva, Zen berbalik dan bergegas pergi untuk kembali berkencan dengan kasur tercintanya.
“Huftt … hari yang melelahkan,” gumam Zen yang sudah berbaring di atas kasur tercintanya.
“Sudah hampir sore, wow Zen kamu menghabiskan waktu selama 5 jam di luar,” gumam Zen sambil mendecakkan lidahnya kesal.
“Tetapi tidak apa, setidaknya kamu masih memiliki waktu untuk berguling-guling di sini sekitar 1 sampai 2 jam,” ucap Zen lalu menutupi tubuhnya dengan selimut hingga menutupi wajahnya.
Sinar matahari mulai berubah warna menjadi ke oranyean. Jam weker di atas meja menunjukkan pukul 17.16 yang menunjukkan jika hari sudah menjadi sore bahkan menyerempet sedikit ke malam hari.
Pemuda dengan warna rambut hitam itu masih setia berguling ke sana kemari di atas kasur tercintanya sebelum dengan terpaksa harus membuka matanya karena suara perutnya yang berbunyi.
Dengan keadaan sadar dan tidak sadar, Zen perlahan duduk di atas kasurnya dan memegang perutnya yang baru saja berbunyi tadi.
“Aku lupa jika aku hanya memakan tteokbokki dan sandwich yang dibikin oleh kakak, aku belum memakan makanan apa pun setelahnya,” ucap Zen dan memaksakan kakinya untuk turun dari kasur hangatnya dan pergi ke kamar mandi untuk pergi membilas mukanya agar bisa membuatnya lebih sadar.
‘Apa yang harus ku makan kali ini?’ batin Zen bertanya-tanya saat berjalan kearah dapur kecilnya.
‘Setelah makan aku akan pergi berguling lagi ke kasur tercintaku nanti dan berlatih singkat dimalam hari menggunakan pisau dapurku selama 1 sampai 2 jam,’ batin Zen memutuskan rencana kegiatannya dalam waktu singkat.
Sayang sekali rencana kegiatan yang sudah di susunnya harus dibatalkan saat melihat isi kulkas miliknya yang kosong dan hanya menyisakan 1 kotak susu vanila yang ada di dalam kulkasnya.
‘Mengapa kulkas ku menjadi kosong seperti ini? Bukankah kakak baru saja membuat sandwich tadi pagi?’ batin Zen bertanya-tanya.
Karena rasa lapar yang dirasakannya tidak bisa ditahan lagi akhirnya dia memaksakan untuk meminum susu kotak rasa vanilla itu dan menggerakkan kakinya untuk pergi menuju minimarket serba ada di dekat apartemennya.
‘Sial, waktu tidurku … kasihan kasurku yang harus ku tinggal pergi sendirian,’ batin Zen memikirkan waktu tidurnya yang makin menipis.
“Yah, lagi pula hanya harus pergi ke minimarket deket apartment bukan? Seharusnya tidak ada masalah,” gumam Zen yang sepertinya harus ditelan lagi olehnya setelah berhadapan dengan situasi aneh didepannya.
Yah, awalnya sih baik-baik saja saat Zen ingin memasuki minimarket yang tepat berada di depan pandangannya tetapi salahkan nasib sialnya yang harus bertabrakan dengan wanita didepannya yang menyebabkan wanita itu berteriak dan mengomel panjang lebar sekarang di depan pintu masuk minimarket.
‘Sebenarnya mengapa dia bisa ada di sini sih?’ batin Zen lalu menghela napas lelah.
“Hei! Kau itu mendengarkan ku atau tidak sih?! Dasar laki-laki idiot!” maki wanita yang berada didepannya itu, ah harusnya kalian memanggilnya dengan sebutan Joy, Joy Katrechice.
“Huh! Sepertinya aku bernasib sial karena bisa bertemu dengan laki-laki jelek sepertimu!” lanjut Joy dan memulai acara makiannya untuk kesekian kalinya.
‘Seharusnya aku yang berkata seperti itu, dasar nasib sialan,’ batin Zen dan hanya mendengarkan makian yang Joy keluarkan dengan malas, alias masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
“Dasar laki-laki bodoh, apa kamu tidak mendengarkan ku hah?!” teriak Joy yang bisa membuat gendang telinga orang menjadi pecah.
“Aku mendengar mu sialan,” ucap Zen sambil mencoba menyelamatkan gendang telinganya yang hampir saja akan pecah.
“A-apa? Apa yang kamu katakana tadi?! Wanita sialan katamu? Berani-beraninya kamu memaki ku!” seru Joy dengan perempatan di dahinya.
“Hah, walaupun kamu mencoba mengunakan cara ini untuk membuatku tertarik tetapi maaf saja, aku tidak akan tertarik,” ucapnya dengan nada mencibir.
“Lagi pula mana ada yang mau denganmu! Kau tahu gara-gara surat cintamu itu aku menjadi bahan tertawaan satu sekolah!” lanjutnya dengan ekspresi jijik tertera diwajahnya.
‘Siapa juga laki-laki yang akan suka dengan wajah jelek seperti itu,’ batin Zen menatap wajah Joy yang mirip seperti badut.
‘Wajah kak Eva lebih baik 1000 kali lipat dibandingkan wajah penuh makeup dirimu,’ batin Zen mencibir secara internal.
Yah, mari kita perjelas lagi. Wanita jelek dengan bedak di seluruh wajahnya yang kini berdiri dihadapan Zen adalah Joy Katrechice, primadona di sekolah ku.
‘Sebenarnya apa yang mereka lihat darinya sehingga membuatnya menjadi primadona???’ batin Zen bertanya-tanya.
Bukan hanya wajahnya yang ditutupi dengan make up tebal, dia juga tidak memiliki keunggulan sama sekali selain dadanya yang hampir tergolong besar. Sepertinya hanya itu kelebihannya. Kepintarannya saja tidak bisa dibandingkan dengan anak paling bodoh di kelasku.
‘Bahkan aku akan percaya seratus persen jika dia masuk ke sekolah melalui jalur orang dalam,’ batin Zen menatap datar.
Omong-omong surat cinta, itu bukan dari diriku sama sekali. Waktu itu dia disuruh (dipaksa) oleh kakak kelas laki-laki yang merupakan preman di sekolah untuk memberikan surat cinta kepada Joy.
Tentu saja aku yang sudah terbiasa menjadi korban bully hanya bisa menuruti ucapannya dan memberikan surat cinta tersebut.
Siapa sangka jika Joy malah membacanya keras-keras di depan kelas dan sialnya lagi di dalam surat tersebut tidak ada nama penulisnya yang membuatnya berpikir jika akulah yang menulisnya.
‘Membuatku kesal saja jika mengingatnya, karena kejadian itu aku dipukuli habis-habisan oleh kakak kelas preman itu dan dijadikan bahan tertawaan satu sekolah,’ batin Zen mengeram kesal.
“Hoi, laki-laki jelek sepertinya kamu tidak mendengarkan ku ya?!” ucap Joy lalu menampar wajah Zen dengan kencang.
Zen yang tadinya melamun tersadar karena rasa sakit yang ada di pipinya.
‘Sialan! Sudah berapa lama aku tidak dipukuli seperti ini?’ batin Zen mengeram kesal.
Setelah aku dilatih habis-habisan oleh pelatih yang diperintahkan kakak selama 2 tahun penuh, sudah tidak ada lagi yang berani meremehkan ku.
Paling-paling itu hanya meremehkan ku karena tidak memiliki kekuatan supranatural.
Tentu saja orang yang mengatai ku akan ku ajak untuk berduel dengan akhir mereka yang selalu kalah dan aku yang selalu menang.
Setidaknya kemampuanku hampir setingkat dengan orang supranatural tingkat ketiga. Karena kemenangan yang selalu kudapatkan membuat orang-orang menjadi takut dan tidak berani memprovokasi ku lagi.
Tetapi baru saja aku dipukul oleh wanita yang sudah membuatku menjadi bahan tertawaan seluruh sekolah?! Maaf saja aku tidak bisa.
Tidak peduli walaupun dia adalah perempuan. Sudah kubilang bukan? Aku bukan pahlawan!
Joy yang tidak mendapat balasan dari laki-laki bodoh yang membuatnya malu itu merasa kesal dan mengangkat tangannya lagi untuk menamparnya. Tepat sebelum tangannya mendarat di pipinya tangannya dihentikan dengan cengkraman tangan milik Zen.
Joy yang melihatnya terkejut sesaat sebelum mulai membuka mulutnya dan mengatai laki-laki jelek dihadapannya dengan lebih buruk lagi.
“Kamu! Berani sekali menghentikan gerakkan ku! Lepaskan tanganku dasar lelaki bodoh, jelek, idi-“ makian Joy harus terputus saat Zen mengencangkan genggaman tangannya dan membuat tangan Joy patah.
“AHHHHHHHHHHH!” teriakan melengking terdengar disertai dengan permohonan ampun untuk dilepaskan.
“Hiks … lepaskan … kumohon, ini sakit, sakit sekali….” Ucap Joy dengan air mata yang sudah menetes membuat make up tebal diwajahnya luntur dan membuatnya terlihat semakin mengerikan.
Zen yang sudah puas mematahkan lengan Joy, kini menghempaskan nya dengan kasar yang membuat Joy terhuyung kebelakang dan jatuh.
Zen menatap Joy yang jatuh tanpa ekspresi sama sekali membuat Joy bergidik ketakutan saat melihat matanya.
“Jangan mencari masalah denganku, jika kamu tidak mendengarkan perkataan yang ku ucapkan, aku tidak akan segan untuk membuat semua tulang mu patah menjadi dua bagian,” ucap Zen dingin lalu meninggalkan Joy yang masih bergetar ketakutan dibelakangnya.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
anusa
lanjut kak
2022-04-30
0