Hari yang sedikit berawan tidak mengurangi semangat para lelaki remaja itu mendirikan beberapa stan untuk bazar mereka di lapangan yang tidak jauh dari markas Askar. Tentunya sebelum memakai lapangan tersebut mereka sudah mengantongi izin dari ketua RW setempat.
Bazar itu merupakan acara tahunan mereka sebagai bentuk perayaan pengangkatan ketua baru dan perekrutan anggota baru Askar.
Ya, bazar mereka memang bukanlah bazar berskala besar. Namun, itu bukan suatu masalah, yang terpenting adalah tujuan mereka. Hasil dari bazar nantinya akan disumbangkan ke sebuah panti asuhan yang sudah disepakati bersama.
Bazar itu sudah dimulai sejak pukul setengah sepuluh pagi tadi. Banyak orang yang datang untuk sekedar melihat-lihat ataupun ikut serta sebagai pembeli. Sebelum diadakan bazar, semua anggota Askar sudah menyebarkan selebaran mengenai bazar mereka. Media sosial juga mereka gunakan dengan baik untuk menyebarkan informasi bazar itu. Jadi, semakin banyak orang yang datang, semakin banyak pula sumbangan yang bisa mereka berikan ke panti asuhan tujuan. Liburan akhir tahun juga mendukung ramainya bazar yang mereka adakan.
Begitu sore hari tiba, barang-barang yang sebelumnya terjejer di stan masing-masing sudah habis. Karena itu mereka mulai berberes-beres dan membersihkan lapangan yang mereka gunakan.
Arsaf, ketua Askar yang baru, terlihat berjiwa kepemimpinan saat mengarahkan para anggota Askar. Selama bazar berlangsung pun ia memiliki kontribusi besar di dalamnya. Gana dan teman-temannya tampak salut dengan laki-laki itu, membuat mereka tidak menyesal memilihnya sebagai ketua Askar yang baru.
Mereka menyelesaikan kegiatan berberes dan membersihkan pukul lima sore. Bulir-bulir keringat menjadi bukti kerja keras mereka seharian ini.
"Gue ngucapin terima kasih banyak untuk kerja keras kalian semua hari ini, dan juga—"
Brrmm!
Brrmm!
Suara itu menyela ucapan Arsaf, membuat semua sontak anggota Askar menoleh ke sumber suara.
"Miskin lo pada sampe buat bazar ginian?" Ragis, ketua Goldstein, mengejek sambil memandang remeh Askar.
Goldstein yang sekarang diketuai oleh Ragis memang sering memancing masalah dengan Askar. Mungkin lebih tepatnya Ragis yang suka mencari masalah dengan Gana. Tidak ada yang tahu jelas masalah apa yang ada di antara Ragis dan Gana.
"Kita gak butuh bacotan lo," ucap Gana sambil melangkah ke paling depan hingga berhadapan dengan Ragis. Teman-temannya juga ikut hingga berdiri di sisinya.
Arsaf yang merasa itu adalah tanggung jawabnya karena Goldstein mencari masalah dengan Askar, ikut maju ke depan. Sebagai ketua Askar yang baru, ia harus bisa bertanggung jawab atas jabatannya yang sekarang.
"Biar gue yang selesaiin," ujarnya pada Gana. "Itu udah jadi tugas gue sebagai ketua."
"Gak usah. Masalah dia sama gue, bukan sama Askar."
"Oh, udah lemah lo sekarang sampe dicabut dari jabatan ketua." Ragis kembali melontarkan hinaannya terhadap Gana.
"Gue gak pernah punya masalah sama lo. Iri juga ada batasannya," balas Gana dengan tenang.
"Heh, pengembang kue! Kata emak gue, iri itu tanda gak mampu," timpal Kion.
"Anjing! Banyak bacot lo semua!" seru Ragis dengan kesal. Detik berikutnya ia langsung memerintahkan semua anggota Goldstein untuk menyerang Askar. "Habisin mereka!"
Askar dan Goldstein terlibat perkelahian. Suara bogeman yang mendarat di tubuh lawan mengisi atmosfer di lapangan. Hari yang semakin gelap membuat warga sekitar tidak mengetahui perkelahian itu lantaran sibuk mempersiapkan diri untuk beribadah maupun hanya sekedar beristirahat.
Aspen menghadapi dua orang sekaligus. Baginya itu bukanlah sebuah masalah. Ia dengan cepat membuat lawannya tumbang dengan beberapa kali bogem yang dilayangkan.
Perkelahian itu berlangsung sedikit alot karena anggota Goldstein yang masih gigih memberikan perlawanan. Namun, semuanya terhenti begitu terdengar suara sirine.
Semua anak Goldstein berlari ke arah motor masing-masing. Namun, salah satu yang tadi dikalahkan oleh Aspen menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Aspen dengan pisau lipatnya.
"Arrkkh!"
Sang pelaku langsung berlari dan naik ke atas jok motor temannya saat anak Askar memandang ke arah Aspen.
"Anjing! Jangan kabur lo!"
Gana dan yang lainnya langsung menghampiri Aspen yang sudah tergeletak di atas tanah.
"Woy, panggil ambulans! Cepetan!" Viran berteriak pada mereka sambil membantu Aspen menekan lukanya agar tidak mengeluarkan banyak darah.
"Minggir, minggir! Gue bawa mobil!" Ari, senior di Askar, datang bersama Gala, Nefra dan beberapa lainnya. Mereka jugalah pelaku sumber suara sirine tadi yang berasal dari alat pengeras suara yang dibawa Ari.
Mereka membopong tubuh Aspen yang sudah tidak sadarkan diri ke dalam mobil milik Ari.
Setelah mobil berlalu dari sana, Gana dan lainnya berlari kembali ke markas untuk mengambil motor mereka. Mereka akan menyusul ke rumah sakit.
...·Ayrisa·...
Hari libur disambut oleh Ayrisa dengan suka cita. Sedari pagi setelah sarapan, ia sudah menetap di ruang keluarga. Televisi yang menyala dan menampilkan kartun spons kuning menemaninya saat mengerjakan soal-soal Olimpiade Bahasa Jerman dari tiga tahun belakangan. Ya, beberapa hari yang lalu Bu Mela menghubungi dirinya dan memberitahukan kalau ia terpilih untuk mewakili sekolah bersama Elisa Meritian.
Tiga hari yang lalu ia diantar oleh sang ayah untuk mengambil soal-soal yang akan digunakan sebagai bahan latihan di rumah.
"Kak Nef mau ke mana?" Ayrisa bertanya begitu melihat Nefra yang sudah rapi menuruni tangga.
"Mau ke rumah sakit, jengukin Aspen," jawab Nefra sambil melangkah mendekati adiknya. Ia melihat buku dan kertas-kertas yang tersebar di atas meja yang ada di ruang keluarga itu. Hah, adiknya ini padahal bukan cucu Einstein, tetapi rajinnya melebihi orang normal. Yang benar saja? Sekarang sedang masa liburan, dan Ayrisa masih belajar untuk lomba yang masih lama.
"Kak Aspen sakit apa? Aku ikut, ya."
"Gue gak mau dikira pedofil kalau jalan sama lo," ujar Nefra.
Nefra berkata seperti itu bukan tanpa alasan, melainkan ia mengatakan fakta. Rambut Ayrisa diikat dua seperti anak TK, apalagi wajahnya sangat mendukung dengan keimutannya. Nefra jadi menyesal meminta bundanya membuat rambut Ayrisa seperti itu. Ia tidak ingin orang lain melihat Ayrisa yang sedang seperti itu.
"Ihh, aku mau ikut, Kak Nef! Boleh yaa." Ayrisa tidak menyerah untuk membujuk Nefra. "Kak Neef!" Ia menambahkan puppy eyes sebagai pelengkap bujukannya.
"Iyaa, boleh," putus Nefra pada akhirnya. Ayrisa memang kelemahannya, ia mengakui itu.
Ayrisa berseru senang lalu dengan cepat merapikan bahan belajarnya dan kembali ke kamar untuk bersiap diri.
Selang beberapa menit ia sudah kembali dan terlihat rapi dengan sweater berwarna lilac yang melapisi kemeja berlengan pendeknya yang berwarna putih. Sebagai bawahan Ayrisa memakai rok jeans setinggi lututnya. Di pundaknya juga tersampir tali tas selempang berwarna hitam.
Selesai memakai sneakers putih miliknya, Ayrisa langsung menyusul Nefra yang sudah keluar duluan.
Di tengah perjalanan Nefra mengajak Ayrisa untuk mampir sebentar ke toko buah sebelum melanjutkan ke rumah sakit tempat Aspen dirawat.
Setelah beberapa menit membelah jalanan kota, mereka akhirnya sampai. Nefra menggenggam tangan Ayrisa saat mereka melangkah masuk bersama.
Ruang rawat Aspen yang merupakan ruang VIP berada di lantai tiga gedung rumah sakit. Di depan ruang rawatnya ada beberapa juniornya di Askar, yaitu Arsaf, Delta, Alnan, Kion dan Oska. Mereka baru selesai menjenguk Aspen dan memutuskan untuk menetap di sana sebentar.
"Wiih, Aspen beruntung banget dijenguk dedek gemes," ucap Oska saat Nefra dan Ayrisa sampai di depan mereka.
Nefra memberikan tatapan tajam pada Oska. "Gue colok juga mata lo lama-lama," ancamnya sambil lalu. Ya, hanya sebatas ancaman saja.
"Bang, tips biar punya adek gemesin gimana, sih? Bagi-bagi dong, siapa tahu gue bisa minta ke emak gue. Iya, kan, Ka?" sahut Kion dan diangguki oleh kembarannya.
Di sisi lain, Arsaf yang sudah tertarik pada Ayrisa sejak pertama kali melihatnya, langsung mendekati gadis itu. Kalau boleh jujur, Ayrisa ini adalah tipenya—cantik dan imut.
"Hai! Gue Arsaf," sapanya. "Gue boleh tahu nama sama umur lo?" Begini-begini Arsaf juga tidak ingin terlihat seperti pedofil, karena itu ia menanyakannya.
"Ayrisa, enam belas tahun."
"Kita seumuran!" Arsaf berseru dengan senang. "Lo itu tipe gue banget. Mau ya, jadi pac—"
"Jauh-jauh dari adek gue!" ucap Nefra dengan penuh penekanan pada Arsaf sambil menarik kerah belakang laki-laki itu untuk mundur. "Dia gak akan pacaran tanpa persetujuan gue, jadi buang jauh-jauh niat lo itu. Kalian juga gak seangkatan, jadi percuma seumuran karena dia kakak kelas lo."
"Kita masuk sekarang, abis itu langsung pulang!" Nefra menarik pelan tangan Ayrisa setelah berkata seperti itu.
Di dalam ada Gana dan Gala yang bersantai di sofa kecil yang ada sambil memainkan gim di ponselnya. Ketika pintu terbuka mereka refleks menoleh.
"Udah baikan lo?" tanya Nefra pada Aspen yang berbaring di atas ranjang yang sudah disesuaikan agar bagian atasnya sedikit terangkat.
"Udah, Bang. Gue gak selemah itu kali."
"Hilih, dapat tujuh jahitan juga." Gala menimpali dengan niatan untuk mengejek adiknya di depan Ayrisa.
"Banyak bacot lo, Bang."
"Woy, bahasa lo!" tegur Nefra.
"Sori. Ay, jangan dengerin yang barusan aku omong."
Gala memasang tampang ingin muntah mendengar kalimat yang dilontarkan adiknya itu.
"Aku bawain buah buat Kak Aspen, semoga cepet sembuh, ya." Ayrisa berucap seraya meletakkan plastik berisi buah di atas nakas samping ranjang Aspen.
"Makasih ya, Ay."
Sedari gadis itu masuk bersama kakaknya, Aspen sudah gagal fokus begitu melihat penampilan menggemaskannya. Ingin sekali Aspen mengurung Ayrisa di kamarnya agar hanya ia yang bisa menikmati pemandangan itu.
"Ay, duduk sini aja," ujar Aspen sambil menepuk sisi ranjangnya. Ia ingin melihat wajah Ayrisa dari dekat, tidak menghiraukan lagi tiga orang lainnya yang juga ada di ruangan itu.
Nefra sudah akan mencegah Ayrisa, tetapi Gana lebih dulu menahan tangannya. Ia menarik Nefra untuk duduk di sampingnya.
"Biarin aja, sih, Bang. Ingat, Aspen memenuhi kriteria yang lo kasih!" ujar Gana dengan nada berbisik.
Akhirnya Nefra hanya bisa mendesah pasrah sambil melihat adiknya duduk di dekat laki-laki lain. Untuk kali ini akan ia biarkan walaupun rasanya sangat terpaksa, tidak akan ada lain kali. Ia menyesal menyebutkan kriteria yang begitu mudah itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments