Ayrisa¹⁹ - Night

Sebutan plin-plan mungkin cocok disematkan pada para siswa. Saat sekolah berlangsung dengan segala kesibukannya yang berhubungan dengan belajar, siswa akan mengeluh dan mengharapkan hari libur tiba. Lalu, ketika masa liburan telah tiba, mereka yang merasa kegiatan berkurang akan mengeluh bosan. Apalagi selama masa liburan persentase mendapat uang jajan sangat kecil.

Dengan begitu, hari pertama kembali sekolah setelah masa liburan pasti diisi dengan temu-kangen para siswa dengan teman mereka. Lalu akan dilanjutkan dengan sesi bercerita di mana mereka seperti saling beradu masa liburan siapa yang paling membosankan dari banyaknya keluhan yang mereka lontarkan.

"Anjirlah, gue liburan kemarin cuma di rumah aja, gak ke mana-mana. Bosen banget! Paling disuruh nyokap buat beliin bumbu dapur ke warung."

"Gue cuma rebahan di kamar doang masa. Scroll sana-sini tapi berakhir bosen. Jalan paling jauh, ya, ke dapur buat ngambil makan."

"Kalian masih enak, gegara nilai kemarin gak bagus-bagus amat, Mama gue nyuruh belajar selama libur. Astagaa, panas otak gue liburan masih belajar!"

"Gue kalau gitu mah tinggal bukain aja buku-buku di atas meja belajar, terus ditinggal buat main gim. Kalau denger langkah kaki, ya, langsung umpetin hape di bawah buku."

Ayrisa mendengar ujaran teman-teman sekelasnya yang saling sahut-menyahuti. Ia duduk diam di kursinya sejak datang. Ibu jarinya sibuk naik-turun di atas layar ponsel sambil netranya melihat barisan kata-kata dalam bahasa Jerman yang terpampang di sana. Ketika matanya sibuk membaca, otaknya berusaha merekamnya agar bisa membantu saat waktu olimpiade nanti.

"Pagi, Ay!"

Sapaan itu membuat Ayrisa mengangkat pandangannya dari layar ponsel. Ternyata Mia yang baru datang dan menempatkan dirinya dengan malas di atas bangku di samping Ayrisa.

"Pagi, Mia!" balas Ayrisa.

"Ay, lo tahu soal Kak Aspen yang masuk rumah sakit?" Pertanyaan itu dijawab dengan sebuah anggukan dari Ayrisa. "Ihh, berarti cuma gue dong yang baru tahu. Masa kalian gak ada bagi-bagi info ke gue, sih. Kan, kalau gitu gue bisa jenguk sekalian jalan-jalan. Gue kemarin ke rumah lo cuma sekali aja."

"Lo juga tahu penyebab Kak Aspen bisa sampe gitu?" imbuhnya penuh tanya.

"Katanya abis operasi." Ayrisa menjawab singkat.

"Jawaban lo gak salah, sih, tapi—"

"Selamat pagi semuanya! Silakan kembali duduk di tempat masing-masing."

Pak Frans yang datang secara tiba-tiba ke kelas, memotong kalimat Mia yang belum gadis itu selesaikan. Beliau memulai waktu pembinaan dengan selalu mengingatkan agar para siswanya bisa meningkatkan nilai pada semester dua ini. Selain itu, juga diisi dengan beberapa motivasi singkat yang diharapkan dapat menggerakkan hati para siswanya.

Setelah pembinaan singkat itu, Pak Frans beralih ke kelasnya yang lain, seperti biasa. Tidak lama setelah itu Pak Yohan, guru olahraga, memasuki kelas sambil membawa buku paket.

"Selamat pagi semuanya!"

"Pagi, Pak!"

"Karena ini baru hari pertama setelah libur panjang, maka pelajaran kita untuk hari ini dilakukan di dalam kelas," ujar Pak Yohan dengan ciri khas suaranya yang terdengar rendah dan ... lembut. Ya, beliau memang guru yang santai dan tidak pernah berteriak selama mengajar, bahkan dalam memberikan arahan dalam pembelajarannya.

"Hari ini kalian hanya perlu merangkum materi mengenai bulu tangkis. Boleh bergabung dengan teman kalian, tapi jangan ribut."

Setelah itu terdengar suara derit kaki kursi yang menandakan perpindahan letaknya. Banyak siswa yang lebih memilih mencatat bersama temannya. Ayrisa seperti biasanya, tetap duduk di tempatnya dengan tenang untuk mengerjakan rangkumannya.

Untuk bukunya sendiri, waktu itu pernah dibagikan dalam bentuk PDF—portable document format di grup kelasnya. Jadi, ia tidak perlu meminjamnya ke perpustakaan.

Mia meminta untuk bergabung bersamanya. Kata gadis itu, ia juga ingin mengerjakan rangkumannya bersama teman. Ayrisa tentu tidak menolaknya, lagipula itu bukanlah sesuatu yang bisa merugikan ataupun membahayakan.

Selama jam pelajaran olahraga itu, lebih banyak diisi dengan suara para siswa yang saling membagi cerita. Tangan mereka hanya sesekali bergerak dan terhenti ketika menanggapi ucapan teman mereka.

Hingga akhirnya bel berbunyi menandakan waktu istirahat yang tiba. Para siswa membereskan buku dan peralatan tulis mereka lalu menyusul langkah Pak Yohan yang sudah lebih dulu meninggalkan kelas.

...·Ayrisa·...

"Bye, Ay! Semangat belajarnya!"

Seruan itu menjadi kalimat terakhir sebelum kedua siswa perempuan itu berpisah karena berbeda tujuan. Ayrisa berjalan sendirian menuju ruang guru, sedang Mia langsung menuju lobi sekolah karena akan pulang.

Sehari setelah masuk sekolah sampai hari ini, setiap waktu pulang Ayrisa akan ke ruang guru untuk mengikuti bimbingan dari Bu Mela. Olimpiade sudah di depan mata, terhitung satu pekan dari sekarang adalah babak penyisihan tingkat provinsi yang akan dilakukan secara online. Karena itu, mereka tidak membuang waktu dan melakukan bimbingan setiap harinya saat pulang sekolah, ditambah pada hari Sabtu dari pukul setengah sepuluh pagi hingga dua belas siang.

Sampai di ruang guru, Lisa, siswa lain yang terpilih mewakili sekolah, sudah duduk di depan meja Bu Mela. Bu Mela sendiri tampak masih sibuk memeriksa tugas dari siswanya.

"Sore, Bu." Ayrisa memberi salam sekaligus memberitahukan kehadirannya.

"Silakan duduk dulu, Ibu mau ke ruang kepala sekolah sebentar." Setelah mengatakan itu Bu Mela langsung beranjak dari sana.

"Kamu udah buat yang disuruh sama Ibu?" Lisa memecah keheningan di antara mereka.

"Oh, iya. Aku udah," balas Ayrisa seraya membuka tas untuk mengeluarkan bukunya. "Aku kurang yakin sama susunan katanya, sih." Ia membuka bukunya dan diperlihatkan pada Lisa.

"Iya, sih, susunan katanya kadang suka kebalik. Masih bingung kalau yang ada modalverben-nya sama yang gak ada."

Bu Mela akhirnya kembali dan menghentikan diskusi singkat mereka. Beliau memulai bimbingannya dengan memeriksa tugas yang diberikan kemarin. Setelah itu dilanjutkan dengan melatih mereka dalam tes hören—mendengar.

Olimpiade Bahasa Jerman ini memiliki sistem yang sama dengan tes TOEFL—Test Of English as a Foreign Language. Terdapat tes mendengar, membaca, menulis dan berbicara. Olimpiade bahasa Jerman yang akan diikutinya nanti menggunakan soal untuk level A2, sesuai dengan jenjang mereka yang masih SMA.

Awalnya Ayrisa sempat mengira Olimpiade Bahasa Jerman ini memiliki sistem yang sama dengan olimpiade sains yang pernah diikutinya saat SMP, di mana mereka hanya perlu menjawab soal-soal yang diberikan. Namun, ternyata pemikirannya itu salah.

"Sebelum pulang, apa ada yang ingin ditanyakan?"

Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat. Jam yang tertempel di dinding ruang guru menunjuk pukul lima sore lebih tiga menit. Ayrisa tidak begitu menyadarinya karena terlalu fokus pada bimbingan yang diberikan Bu Mela.

Ayrisa mengangkat tangannya rendah atas pertanyaan Bu Mela. "Dalam bahasa Inggris, I—saya tetap ditulis dengan huruf kapital saat berada di tengah kalimat. Kalau ich, juga atau tidak?" tanyanya mengungkapkan rasa penasaran.

"Kalau dalam bahasa Jerman kata ich yang berada di tengah kalimat tetap huruf kecil, tidak seperti bahasa Inggris. Yang selalu menggunakan huruf kapital meskipun berada di tengah kalimat adalah kata benda seperti das Handy contohnya. Atau Sie yang artinya Anda."

"Ah, iya. Terima kasih, Bu." Bu Mela mengangguk sembari tersenyum hangat.

"Ada lagi yang ingin ditanyakan?"

"Tidak ada, Bu." Kedua siswa perempuan itu menjawab sambil menggelengkan kepala pelan.

"Baik kalau begitu. Kita bertemu lagi besok setelah pulang sekolah. Terima kasih, ya."

"Sama-sama, Bu."

Setelah pamit Ayrisa dan Lisa keluar dari ruang guru bersama. Suasana sekolah sudah sangat sepi. Guru-guru pun juga kebanyakan sudah pulang, terlihat dari jumlah motor di parkiran yang hanya tersisa beberapa. Kedua gadis itu menunggu di parkiran guru, tempat yang biasanya juga digunakan siswa lainnya.

"Kamu pulangnya pake apa?" tanya Ayrisa.

"Oh, pake ojek online."

Ayrisa mengangguk pelan kemudian keheningan kembali menyelimuti mereka di detik berikutnya. Tidak lama setelah itu, ojek online yang dipesan Lisa akhirnya tiba. Gadis itu pamit pulang duluan.

Helaan napas pelan terdengar dari Ayrisa. Sendirian lagi. Ya, walaupun dulu ia juga sering menunggu sendirian seperti ini sampai bunda atau kakaknya datang, tetapi sekarang ia juga sudah terlanjur terbiasa dengan kehadiran Mia, Gana dan yang lainnya.

Matahari yang semakin hilang di ufuk barat membuat cahayanya pun ikut menghilang perlahan. Udara sekitar yang terasa dingin karena hari yang semakin gelap membuat bulu-bulu halus di tubuhnya meremang.

Hatchii!

Ah, Ayrisa tidak suka udara malam yang membuatnya bersin seperti itu. Akan tetapi, ia suka pada langit malam berhias bulan dan bintang. Langit malam adalah hal terindah yang pernah dilihatnya. Ia juga memiliki impian untuk melihat Milky way dengan mata telanjang. Nelson Lakes National Park yang berada di Selandia Baru menjadi tempat pilihannya jika suatu saat nanti akan mewujudkan impiannya.

Tin! Tin!

Ayrisa menoleh ke arah gerbang sekolah setelah mendengar suara klakson itu. Kakak laki-lakinya, Nefra, berada di atas motor putih andalannya. Ia segera berlari menghampiri Nefra agar bisa segera pulang.

Hatchii!

Tiba di samping kakaknya, Ayrisa tidak bisa menahan diri lagi untuk bersin.

"Besok-besok inget bawa jaket!" ujar Nefra setelah menyodorkan sapu tangannya. Setelah itu, ia melepas hoodie miliknya untuk diberikan pada Ayrisa. Setelah Ayrisa tenggelam di dalam hoodie dan duduk nyaman di jok belakang, Nefra langsung melajukan motornya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!