Ayrisa¹⁷ - Anxious

Akhir tahun sebentar lagi tiba. Terhitung kurang lebih satu pekan sebelum hari raya yang menjadi awal liburan. Karena ujian akhir semester juga sudah terlewati pada akhir November kemarin, pembelajaran di sekolah tidak terlalu efektif seperti biasanya. Banyak jam kosong yang didapat oleh para siswa, yang tentunya disambut dengan riang gembira. Seperti di kelas XI Bahasa A ini.

Jam pelajaran terakhir yang seharusnya diisi oleh guru matematika menjadi jam kosong karena sang guru tiba-tiba memiliki urusan yang harus dilakukan. Para siswa hanya diminta untuk mempelajari ulang materi yang pernah diberikan. Jadi, mereka menggunakan waktu panjang yang masih tersisa itu untuk bermain gim online yang sedang banyak digandrungi, saling bercerita, tidur, bahkan konser dadakan berskala kecil di dalam kelas.

"Bagi siswa yang namanya disebutkan, diharapkan untuk ke ruang guru menemui Ibu Mela saat waktu pulang. Ayrisa Edwinata, Vyana Juwana, Irina Demaya, Elisa Meritian, Regina Alman."

Suara dari alat pengeras suara yang tersebar di beberapa sudut sekolah, membuat kegiatan di beberapa kelas terhenti sesaat untuk mendengar lebih jelas.

"Kira-kira buat apa, Ay?" Mia bertanya dengan salah satu alisnya yang dinaikkan.

"Gak tahu juga," balas Ayrisa sambil menaikkan bahunya.

"Nanti mau gue temenin?" tawar Mia.

"Gak perlu, kamu pulang duluan aja gak papa." Mia akhirnya hanya membalas dengan anggukan. Lalu ia kembali memasang earphone ke telinganya.

Ayrisa melanjutkan kegiatan membaca cerita dari ponselnya yang sempat tertunda sesaat. Di sampingnya ada Melia yang juga sedang membaca cerita seperti dirinya. Pada beberapa waktu, Melia akan mengembangkan senyuman saat mendapati adegan mengesankan dari cerita yang dibacanya.

"Wah, parah! Masa ngegantung gini, belum update dari minggu lalu lagi!" Melia berseru sambil memukul meja pelan, membuat Ayrisa terkejut karenanya.

"Ay, masa ini cerita belum update lagi, sih?! Padahal lagi seru itu!" Melia kembali menyerukan protesnya pada Ayrisa. Padahal Ayrisa sendiri tidak tahu cerita apa yang dibaca Melia, bukan juga penulisnya.

"Semangatin aja lewat komen biar cepet update lagi," usul Ayrisa.

"Iya juga ya. Kalau gitu komen yang banyak, deh, biar makin cepet update-nya."

Waktu pun berlalu, akhirnya bel berbunyi menandakan waktu sekolah yang berakhir. Semua siswa bergerak cepat memasukkan buku dan peralatan tulis mereka, lalu melangkah cepat keluar kelas untuk pulang.

Setelah menuruni tangga, Ayrisa dan Mia berpisah karena berbeda tujuan. Ayrisa ke ruang guru bersama Vyana dan Irina—teman sekelasnya yang tadi juga disebutkan namanya untuk ke ruang guru saat waktu pulang.

Sampai di ruang guru mereka langsung menghampiri meja Bu Mela. Di depan beliau sudah ada dua siswa perempuan lain yang juga dipanggil tadi.

"Kalian bisa ambil kursi dulu untuk duduk," ucap Bu Mela begitu melihat kedatangan tiga siswa lainnya yang beliau panggil.

"Baiklah, sebelumnya Ibu minta maaf karena membuat kalian tidak bisa langsung pulang seperti yang lain," ujar Bu Mela. "Jadi, bulan Januari nanti akan ada Olimpiade Bahasa Jerman. Karena kalian yang tampak menonjol saat di kelas, Ibu ingin memberi tes singkat pada kalian sebelum ditentukan dua orang yang akan mewakili sekolah kita."

Bu Mela kemudian membagikan lembaran kosong pada mereka sebelum masing-masing diberikan soal olimpiade tahun lalu. Sebelum mulai mengerjakannya Bu Mela menjelaskan beberapa bagian dan beberapa kata yang masih asing di pendengaran siswanya. Barulah setelah itu mereka mulai mengerjakannya.

"Anjir, lupa gue yang ini," gerutu Vyana sambil memainkan pulpennya. "Ay, yang ini tadi artinya apa?"

Untungnya Bu Mela meninggalkan mereka sebentar entah pergi ke mana. Jadi, mereka tidak terlalu gugup saat mengerjakannya.

"Yang di situ bagian pakaian perempuan, ada mantel, gaun, sepatu, tas, …." Ayrisa menunjuk satu per satu susunan huruf yang ada sambil memberitahukan arti dari kata tersebut.

"Oke, makasih, Ay."

Setelah selesai mengerjakannya, mereka mengumpulkan kertas masing-masing bersamaan. Itu bertepatan dengan Bu Mela yang kembali.

"Kalian sudah selesai semua? Kalau begitu nanti akan ibu periksa dan menghubungi di antara kalian yang terpilih. Terima kasih, ya."

Setelahnya Bu Mela memberikan masing-masing lembaran informasi mengenai libur akhir tahun sebelum keenam siswa perempuan itu keluar. Mereka berjalan bersama menuju lobi sambil sesekali berbincang.

"Ay, gue yakin pasti lo yang kepilih," ucap Vyana dengan penuh keyakinan.

"Tapi Vy juga bagus, kok, nilai bahasa Jerman-nya." Bukan maksudnya merendah diri untuk maksud tertentu, tetapi Ayrisa ini memang punya sedikit masalah dengan kepercayaan dirinya. Kalau kata orang, ia insecure.

"Tapi lo yang paling pinter di kelas, jadi kita yakin lo bakal terpilih." Irina ikut menimpali.

"Aamiin aja, deh." Ayrisa membalas singkat seraya tersenyum canggung karena tidak terpikirkan argumen lagi.

"Kita duluan, ya." Elisa dan Regina pamit duluan begitu sampai di lobi. Mereka melangkah cepat agar tidak kehabisan angkot yang biasa lewat.

"Ay, kita juga duluan ya, yang lain udah nunggu." Kini giliran Vyana dan Irina yang pamit kemudian menghampiri teman mereka yang sudah menunggu untuk pulang bersama.

Ayrisa sendiri menghampiri Mia dan yang lainnya, yang menunggu di tempat parkiran seperti biasa. Ah, ternyata juga ada Nefra di antara mereka.

"Kalian kenapa belum pulang?" tanyanya pada para Mia dan anggota inti Askar itu.

"Kalau kita pulang duluan terus ada nenek lampir kayak waktu itu, bisa-bisa kita habis sama Bang Nefra," ujar Alnan sembari menunjuk Nefra dengan dagunya.

"Emangnya tadi ada urusan apa sama Bu Mela, Ay?" tanya Mia.

"Oh, tadi cuma dipilih jadi kandidat yang bakal wakilin sekolah buat ikut lomba. Masih dites dulu, sih, jadi gak tahu bakal beneran kepilih atau nggak."

"Orang pinter mah ngomongin lomba gituan kayak topik biasa, ya. Apalah daya gue yang bisanya juara di lomba makan kerupuk," timpal Alnan dengan tatapan yang dibuat sendu.

"Bukannya kemarin tim basket Gisnandi menang waktu turnamen persahabatan, ya. Kan, Kak Alnan juga ikutan main," celetuk Ayrisa dengan polosnya.

"Wah, ternyata gue diperhatiin Ayri. Sabi, nih, ada kesempatan."

"Kesempatan buat apa?" Ayrisa bertanya.

"Udah, Ay, gak usah diladenin omongannya Kak Alnan." Mia berujar untuk menyela. "Waktu liburan nanti gue boleh ke rumah ya, Ay."

Ayrisa mengangguk. "Iya, datang aja."

"Ay, pulang sekarang aja. Udah makin sore," ucap Nefra setelah dari tadi diam memperhatikan. Ayrisa kembali mengangguk kemudian pamit pada yang lain.

Nefra berjalan duluan meninggalkan parkiran itu. Ayrisa juga akan mengikuti kakaknya itu, tetapi baru dua langkah ia berhenti kembali.

Hatchii!

Semuanya langsung menatap Ayrisa. Beberapa detik berikutnya, tiga tangan mengulurkan sapu tangan di depannya. Nefra, Gana dan Aspen yang melakukannya.

"Makasih ya, Kak As, Kak Gana." Ayrisa berucap seraya mengambil sapu tangan dari Nefra. Ia merasa sedikit tidak enak pada kedua laki-laki itu, tetapi juga tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman.

"Iya, minum vitamin C aja biar gak sakit," ujar Gana dengan tangan yang mengusap puncak kepala Ayrisa dengan lembut. "Mia, ayo pulang!" imbuhnya pada Mia.

Setelah itu mereka meninggalkan sekolah. Ayrisa dan Nefra yang berlalu lebih dulu dari sana. Mia pulang bersama Gana seperti biasanya, sedang anak Askar yang lain dengan motor masing-masing.

Di jalan, Gana mengelus punggung tangan Mia yang melingkari pinggangnya.

"Gak usah cemburu, Ayrisa itu adik gue. Ingat motto Askar!" ujarnya pada Mia yang sedari tadi terdiam di jok belakang.

Saat Mia mengeratkan pelukannya di pinggang Gana, laki-laki itu menaikkan kecepatan motornya. Mereka membelah jalanan kota yang sudah tidak padat lagi. Menikmati angin sore dengan perasaan hangat yang sama.

Gana tidak langsung mengantar Mia pulang. Ia membawa gadisnya itu ke taman pinggir kota. Taman itu penuh akan banyaknya kenangan mereka. Taman itu juga menjadi saksi Gana yang terkenal sebagai laki-laki cuek menembak pujaan hatinya.

Mia turun dari motor lebih dulu lalu melangkah cepat ke bangku taman yang selalu mereka berdua tempati setiap mengunjungi taman itu. Keadaan taman sudah sepi. Bukan karena waktu yang semakin sore, tetapi pengunjungnya memang semakin berkurang seiring berjalannya waktu.

"Wajar kalau rasa takut mampir ke diri gue. Gue cuma takut lo kayak waktu itu lagi," ujar Mia setelah Gana duduk di sampingnya. "Mana Ayrisa lebih segalanya dari gue."

"Kelemahan lo terhadap cewek bisa ngebuat mereka jadi salah sangka. Tapi gue tahu Ayrisa gak akan kayak cewek yang gitu," imbuhnya pelan, lebih terdengar seperti bisikan.

Gana tahu Mia ragu dengan ucapannya sendiri, dan itu wajar. Ia memakluminya.

"Lo tahu ...." Ia menatap Mia dalam. "Gue ngeliat Lana di diri Ayrisa."

"Maksud lo?"

"Dia sama kayak Lana."

...·o0o·...

Jangan boom like, ya~ Just give like(s) as you enjoy the story.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!