Satu hari setelah insiden ketahuan, Ayrisa meminta izin untuk menginap di rumah keluarga Carsion. Karena itulah akhir pekan ini Ayrisa berangkat ke sana dengan Nefra yang mengantarnya. Setelah mengantongi izin dari sang bunda pun Ayrisa langsung mengabari Shera dan memberitahu kalau ia akan menginap.
"Lo mah gitu banget ninggalin gue sendiri di rumah. Emang gak cukup Bunda, Ayah, gue sama Kak Nura?"
Ayrisa memutar bola matanya jengah. Rungunya benar-benar terganggu dengan celotehan kakak laki-lakinya yang sekarang sedang berada di belakang kemudi mobil—di samping dirinya. Kalau tahu akan seperti ini, pasti Ayrisa akan menolak tawaran Nefra untuk mengantarnya sejak awal. Padahal ia juga sudah sering menginap di rumah keluarga Carsion sejak kelas akhir di SD.
"Kak, berhenti ngomong. Aku capek dengernya!" Ayrisa mengisyaratkan tangannya agar Nefra berhenti berbicara. "Kak Nef juga lebay banget. Sendiri apaan juga? Di rumah ada Bunda, Ayah sama Kak Nura. Yang gitu masih dibilang sendirian? Ish, Kak Nef kayaknya perlu ke dokter mata."
Akhirnya mobil sampai di depan pagar rumah keluarga Carsion yang memiliki tinggi dua setengah meter. Dari pagar saja sudah terlihat bagaimana wujud rumah keluarga Carsion. Itu adalah rumah besar berlantai dua dengan gaya Eropa modern kontemporer.
Setelah pagar dibukakan oleh satpam, mobil kembali melaju pelan memasuki pekarangan rumah dan berhenti di samping air mancur. Ketika mereka keluar dari mobil, bersamaan pula dengan Shera yang datang menghampiri mereka.
"Mama!" Ayrisa berseru riang, kemudian melemparkan diri ke dalam pelukan Shera ketika mamanya itu sampai di dekatnya.
Mereka bertiga masuk ke dalam. Nefra mengikuti dari belakang sambil membawa tas milik Ayrisa yang berisi seragam dan buku-bukunya. Untuk pakaian sehari-hari, tidak perlu Ayrisa pikirkan karena ia juga memilikinya di lemari yang berada di kamar yang selalu digunakannya saat menginap. Jika dilihat pun Ayrisa tahu pakaiannya yang ada di rumah keluarga Carsion lebih banyak daripada yang ada di rumahnya. Itu semua hasil dari Shera yang suka mengajak berbelanja saat Ayrisa menginap di sana.
Setelah membawakan tas milik adiknya, Nefra langsung pamit pulang. Hari ini ia mungkin akan pergi ke tempat tongkrongan atau mengunjungi Gala, temannya, di rumah laki-laki itu.
Setelah kepergian Nefra, Shera mengajak Ayrisa ke halaman belakang. Di sana sudah ada suami dan putranya yang sedang bermain basket di lapangan kecil yang dibuat di sana.
Halaman belakang di rumah keluarga Carsion cukup luas, atau mungkin sebut saja sangat luas. Di sana dominan dengan warna hijau dari banyaknya tumbuhan yang ditanam di sana. Lalu ada juga sebuah pohon besar yang mungkin sudah berusia puluhan tahun. Di ranting besarnya terdapat sebuah ayunan yang sudah Arfa perbaiki lima tahun lalu. Walaupun lima tahun telah berlalu, ayunan itu masih terlihat kuat dan tidak lapuk.
Shera mengajak Ayrisa untuk merebahkan diri di kursi malas yang berada tidak jauh dari lapangan kecil.
Di antara mereka berdua ada sebuah meja kecil yang di atasnya terdapat tumpukan novel. Shera sering melakukan itu—menyiapkan novel—saat Ayrisa menginap. Dengan begitu, seharian penuh mereka akan habiskan bersama dengan membaca novel-novel itu, atau terkadang melukis bersama.
"Ay!" Elio memanggil Ayrisa, membuat gadis itu mengalihkan pandangannya dari novel yang sedang dibaca. "Ikut main, yuk!"
"Kan, Kak El tahu sendiri aku gak bisa."
Sebelumnya sudah dijelaskan bukan, kalau Ayrisa ini tidak berbakat pada bidang olahraga. Ia yang mengakui diri sebagai kaum mageran ini tidak bisa tahan pada kegiatan yang mengeluarkan banyak keringat itu.
"Ayo sini, Papa bakal ngajarin kamu!" ujar Arfa. "Gini-gini Papa dulu anggota tim basket sekolah, lho."
"Jangan percaya, Ay. Papa kebanyakan bullshit-nya," timpal Shera.
"Jangan sembarangan, ya. Buktinya cinta aku ke kamu itu nyata. Bahkan sampe rela nungguin kamu tujuh tahun lebih." Arfa berucap seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Yeeeuu, Papa malah ngebucin! Kalau mau ngebucin, tuh, cari tempat dulu." Elio berseru heboh menatap papanya. Di sisi lain Ayrisa tertawa lebar karenanya. Matanya sampai menyipit saat tertawa.
"Udah, Ay, belajar sama aku aja." Ayrisa akhirnya mengangguk dan berjalan ke dekat Elio.
Laki-laki yang berbeda dua tahun dengan Ayrisa itu, dengan sabar mengajarkannya cara mendribble bola dalam waktu yang lama, kemudian dilanjutkan dengan menembakkannya ke dalam ring. Beberapa kali gagal dalam percobaannya, tidak membuat Ayrisa menyerah. Ia terus mencoba karena sudah terlanjur menikmati sesi belajarnya pada Elio. Lalu, saat Elio membimbingnya dari belakang, bola pun masuk ke dalam ring. Ayrisa bersorak kegirangan karena akhirnya berhasil.
Setelah berhasil memasukkan bola ke ring, Elio mengusulkan untuk berduel. Ayrisa menyetujuinya sehingga duel itu pun dimulai. Duel yang berlangsung selama lebih kurang 20 menit itu dimenangkan oleh Ayrisa dengan skor enam banding empat. Tentu saja Elio lebih memilih untuk mengalah agar gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik kandung itu senang. Ya, walaupun ada satu faktor yang bisa saja membuat Elio mengklaim Ayrisa sebagai adiknya.
Setelah melakukan kegiatan berkeringat, Arfa, Elio dan Ayrisa diperintahkan oleh Shera untuk segera membersihkan tubuh mereka sebelum makan siang.
...·Ayrisa·...
Bel pertanda berakhirnya waktu sekolah sudah berbunyi beberapa saat yang lalu. Ayrisa dan Mia memilih langsung pulang karena di antara mereka tidak ada yang memiliki jadwal piket hari ini.
"Ayrisa, belajar bareng yuk di rumah lo! Itu materi matematika gue masih buta banget, gak ngerti!" Mia mengusak rambutnya kasar dengan gerakan dramatis.
"Maaf, Mi, buat sekarang ini gak bisa soalnya aku lagi gak di rumah." Ayrisa sedikit merasa tidak enak pada Mia. Ia juga sebenarnya mau saja belajar bersama Mia, tetapi sekarang ia memang tidak sedang tinggal di rumahnya.
"Huh? Maksudnya?" Mia bertanya dengan bingung.
"Minggu ini aku tinggal di rumah Mama."
Kerutan di kening Mia masih terlihat, bukti dirinya kebingungan dengan jawaban Ayrisa. Pun seingatnya Ayrisa itu memanggil ibunya dengan panggilan bunda. Lalu, kenapa kali ini mama? Apa berbeda?
"Ay, gue—"
"Eh, aku pulang duluan ya, Mia. Udah dijemput." Ayrisa berujar seraya menunjuk Elio dan Shera yang sudah menunggu dirinya di depan gerbang, di samping mobil.
Ia melangkah mendahului Mia. Saat melewati Gana beserta teman-temannya, ia menyapa sebentar sebagai bentuk keramahan sebelum lanjut melangkah. Tidak bisa menutup mata, beberapa pekan belakangan setelah kepindahan Mia, Ayrisa juga menjadi sedikit dekat dengan anggota inti Askar itu. Ya, hanya sedikit.
Beberapa dari mereka menatap bingung Ayrisa yang pulang bersama Elio dan Shera. Salah satunya juga menatap kepergian mobil itu dengan tatapan yang tidak terbaca.
"Bu bos, lo tahu gak itu cowok siapa? Terus yang cantik itu siapa?"
"Giliran cantik aja, mata lo cepet!" cibir Oska pada kembarannya.
"Gak salah dong! Itu tandanya gue masih normal," sahut Kion tidak terima. Ia kembali menatap Mia, menuntut jawaban atas pertanyaannya tadi.
"Gue gak tahu jelasnya, tapi kayaknya itu mama yang dimaksud Ayrisa," jawab Mia.
"Bukannya dia manggilnya bunda juga, kayak Bang Nefra? Waktu itu, kan, dia juga manggilnya pake bunda." Kini si ketua Askar, Gana, juga ikut bersuara. Walaupun nilai akademiknya tidak terlalu bagus seperti Aspen, ingatannya masihlah sangat bagus.
"Gue juga bingung tahu, jangan tanya gue, deh!" Mia berseru dengan sedikit kesal.
"Apa jangan-jangan, tuh, cowok tunangannya. Terus kayak di cerita-cerita, emaknya si cowok nyuruh si decan buat manggil mama juga." Alnan menyuarakan isi pikirannya.
"Decan apaan?" tanya Mia yang bingung.
"Dedek cantik," jawab Alnan sambil lalu. "Tapi dugaan gue bisa jadi bener 'kan, ya?"
"Jangan cemburu, As. Bacotnya Alnan jangan didengerin."
Di saat yang lain terdiam memikirkan ucapan Alnan, Viran tiba-tiba berceletuk sambil menepuk pundak Aspen beberapa kali.
"Wah, gue gak nyangka lo gitu, As. Setelah gue relain Ayrisa, lo langsung ngebet gitu buat deketin dia." Oska berucap dengan nada kecewa yang dibuat-buat.
"Gue memenuhi kriteria dari Bang Nefra." Aspen membalas santai dengan wajah datarnya. Kemudian ia beranjak dari sana menuju motor besarnya karena mamanya barusan menitipkan pesan untuk mengambil kue dari toko langganannya.
"Aspen udah gede ternyata," celetuk Gana. Ia membuat tatapan pura-pura sedih, seperti orang tua sungguhan yang tidak menyangka anak mereka tumbuh dengan begitu cepat.
"Gue sebagai emaknya bangga," timpal Kion.
Gana langsung menatap horor ke arah Kion. "Anjir lo ikut-ikutan! Gue masih suka cewek, ya! Gue sama Mia udah cukup!" serunya.
...·o0o·...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak sebagai dukungan untuk penulis!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments