Matahari sedang bersinar dengan terangnya di luar sana walaupun sudah tidak setinggi tadi siang. Koridor sekolah sudah sepi sejak lebih kurang dua jam lalu karena waktu istirahat yang telah berakhir. Hari yang menjelang sore membuat para siswa ingin segera pulang. Secara beraturan, pasti ada saja yang menoleh ke arah jam dinding yang ada di atas pintu kelas. Memastikan berapa lama lagi mereka harus berada di dalam kelas mengikuti pembelajaran.
"Sebagai tugas, buatlah sebuah esai dengan tema bebas. Ini adalah tugas kelompok, setiap kelompok minimal dua orang. Kalian bisa menentukan sendiri kelompoknya." Bu Rina memberikan tugas sebelum mengakhiri pembelajaran.
"Tugas ini paling lambat dikumpulkan hari Jumat." Beliau menambahkan sebelum keluar dari kelas XI Bahasa A itu. Tersisa sepuluh menit sebelum bel berbunyi, jadi waktu yang tersisa itu mereka gunakan untuk memilih kelompok.
Seperti biasa, Ayrisa tidak begitu antusias jika ada tugas berkelompok. Dulu, ketika Reylin belum pindah, pasti mereka akan melakukannya bersama. Namun, karena sekarang Reylin tidak ada, Ayrisa mungkin akan mengerjakannya sendiri.
"Ayrisa, kita bareng, ya." Mia berujar.
Ayrisa sedikit terkejut—lebih ke tidak percaya mendengar itu. "Kamu mau sekelompok sama aku?" tanyanya memastikan.
"Iya, emangnya di kelas ini ada yang namanya Ayrisa selain lo?" sahut Mia.
Sebuah senyuman kecil terbentuk di bibir Ayrisa. "Mau kapan kerjanya? Terus mau di mana?"
"Hari ini aja, gimana? Besok kayaknya gue gak bisa soalnya. Buat tempatnya, boleh di rumah lo?"
Ayrisa terdiam sejenak untuk berpikir. Dulu saat ia memiliki tugas kelompok bersama Reylin, sang bunda akan mengizinkannya begitu saja. Jadi, mungkin kali ini juga tidak apa.
"Oke, hari ini di rumah aku," ucap Ayrisa akhirnya. Mia berseru senang mendengar jawaban Ayrisa.
Bersamaan dengan itu bel berbunyi. Karena sekarang adalah hari Rabu, Ayrisa memiliki jadwal piket hari ini. Ia bersama dua gadis lainnya—Arni dan Syara—yang memiliki tugas untuk hari ini.
Mia menunggu di luar kelas selama Ayrisa melakukan tugas piketnya. Itu tidak memerlukan waktu lama, karena untungnya kelas mereka tidak terlalu berantakan maupun kotor. Hanya perlu menyapu sebentar, merapikan beberapa meja dan menghapus tulisan yang ada di papan tulis.
Setelah selesai, keempat gadis itu berjalan bersama keluar kelas. Arni dan Syara sibuk dengan topik pembicaraan mereka sendiri, yaitu K-Pop. Ayrisa dan Mia sendiri yang berjalan di belakang mereka, hanya melangkah dalam diam. Pembicaraan kedua gadis di depan mereka yang mengisi atmosfer di sekitar.
Begitu keluar dari lobi, Ayrisa bisa melihat sang bunda yang sudah menunggu di dekat gerbang. Ia mempercepat langkahnya untuk sampai pada sang bunda.
"Bunda, hari ini aku ada tugas kelompok. Kerjain di rumah bisa, kan?" Ayrisa berujar setelah sampai.
Ternyata Mia mengikutinya dari belakang, ikut menghampiri Dara.
"Berapa orang?" tanya Dara. Sebenarnya itu hanya seperti sekedar basa-basi, Dara tentu ingin putrinya memiliki teman setelah kepindahan Reylin. Ya setidaknya jangan laki-laki walaupun ia tidak pernah membatasi pertemanan putrinya.
"Cuma berdua." Ayrisa menjawab sembari menunjuk Mia yang tidak jauh dari mereka.
"Iya, boleh."
Ayrisa tersenyum senang mendengarnya. Kemudian ia beralih pada Mia yang berdiri tepat di sampingnya. "Kamu naik apa ke rumah aku?" Ia bertanya.
"Gue mah gampang. Tuh, ojek dua puluh empat jam gue," ucap Mia sambil menunjuk sang pacar, Gana, yang berada tidak jauh di belakang mereka. Kali ini ia sendiri, tidak bersama teman-teman segengnya.
"Oh, oke kalau gitu."
Mia mengangguk kemudian menghampiri Gana. Mereka akan segera berangkat. Dengan motor Dara yang memimpin, motor Gana mengikuti dari belakang hingga sampai di rumah minimalis berlantai dua.
Dara mempersilakan Mia dan Gana untuk ikut masuk. Kedua orang itu langsung diarahkan ke ruang keluarga, Ayrisa sudah lebih dulu ada di sana. Ia bahkan sudah menyiapkan buku tulisnya beserta pulpen.
Setelah Mia duduk di sampingnya, Ayrisa langsung melemparkan pertanyaan. "Esainya mau diketik atau tulis tangan aja?"
"Diketik aja biar rapi," balas Mia. Ayrisa mengangguk setuju kemudian pergi ke kamarnya untuk mengambil laptop.
Setelah kepergian Ayrisa, Dara datang membawakan minuman dan camilan untuk Mia dan Gana. Kedua orang itu menerimanya, tidak lupa berterima kasih setelahnya.
"Yang lain pada ke mana? Biasanya mereka ngikut lo terus." Mia bersuara, memecah keheningan yang sebelumnya tercipta.
"Mereka ada urusan sendiri, bentar lagi juga udah nyusul ke sini. Lagian mereka hidup bukan buat gue, jadi terserah mereka mau pada ke mana." Gana menjawab, lalu meminum jus jambu yang diberikan bunda Ayrisa.
Selang beberapa menit, pintu utama terbuka, menampilkan Nefra yang baru pulang selesai kuliah. Untungnya hari ini tidak ada kegiatan lain, event di mana ia menjadi panitia pun telah berlalu pada pekan sebelumnya. Jadi, kini ia bisa pulang lebih cepat.
Saat akan menaiki tangga, Nefra mengurungkan langkahnya begitu melihat orang yang ada di ruang keluarga. Ia memutar haluannya ke sana. Ternyata penglihatannya tidak salah, kedua orang itu memang orang yang dikenalinya.
"Lo berdua tahu rumah gue dari mana?" Nefra langsung melontarkan tanya yang menarik perhatian kedua orang itu.
Gana mengerutkan keningnya bingung melihat Nefra yang sekarang berdiri tidak jauh darinya. Apalagi dengan apa yang terlontar dari mulut seniornya itu.
"Ini rumah lo?" Gana akhirnya malah balik bertanya.
"Ya, iyalah. Terus lo berdua ngapain ke sini?"
"Gana nemenin aku kerjain tugas kelompok sama Ayrisa, Kak." Kali ini Mia yang menjawab.
"Lo kenal adek gue dari mana?"
"Bang, lo kebanyakan nanya, dah." Gana menyela, lelah dengan Nefra yang seperti seorang wartawan—banyak bertanya.
Tidak lama kemudian terdengar suara mesin motor dari luar. Gana tahu itu pasti teman-temannya, karena itu ia langsung bangkit untuk keluar.
Setelah Gana keluar, Ayrisa baru turun dari lantai dua dengan laptop di tangannya. Si bungsu terlihat lebih segar, pakaiannya pun sudah berganti.
"Kak Nef kapan pulangnya?" Ia bertanya begitu melihat Nefra yang ada di ruang keluarga.
Tidak menjawab pertanyaan sang adik, Nefra malah balik bertanya. "Dia temen lo?" tanyanya sambil menunjuk Mia.
"Iya, emang kenapa? Kakak kenal?"
Detik berikutnya Ayrisa mendengar suara yang ramai dari luar. Keningnya mengkerut bingung.
Mengerti ekspresi wajah Ayrisa, Mia lebih dulu memberitahu. "Maaf ya, Ay, Gana ngajak temen-temennya ke sini," ucapnya dengan tidak enak. Ayrisa tidak memberikan respon berlebihan, hanya membulatkan bibirnya kemudian mengangguk.
Kemudian Ayrisa menempatkan dirinya di samping Mia lagi. Siap mengerjakan tugas kelompok mereka, sedangkan Nefra lebih memilih bergabung dengan Gana dan teman-temannya di teras.
Begitu keluar Nefra disambut suasana yang sudah ramai oleh Oska dan Alnan. Mereka yang ada di situ sama terkejutnya seperti Gana tadi saat melihat Nefra.
Belum Viran bersuara, Nefra sudah lebih dulu berujar, "Ini rumah gue."
"Aseek, tongkrongan baru!" seru Oska dengan hebohnya, tidak menghiraukan Nefra yang melemparkan tatapan tajam.
Setelah itu suasana semakin ramai dengan guyonan receh yang dilemparkan Oska, dan bertambah semakin receh ketika Alnan ikut menimpali. Tawa mengudara di atmosfer, mengusir sepi yang selama ini lebih sering melingkupi rumah minimalis itu.
Tawa mereka terhenti ketika pintu terbuka dan menampilkan Ayrisa yang datang sambil membawa nampan berisi minuman dan toples cemilan.
"Anjir, istri gue berbakti banget sampe dibuatin minum segala," celetuk Oska saat Ayrisa meletakkan nampan di atas meja kecil yang ada di teras rumah.
"Jaga mulut lo kalau di rumah gue." Nefra yang kesal dengan celetukan Oska spontan menendang kaki kursi yang diduduki laki-laki itu. "Gue sumpel juga itu mulut lama-lama, anj—" Ia tidak menyelesaikan umpatannya begitu sadar Ayrisa masih ada di sana.
"Masuk sana!" titahnya pada Ayrisa.
Tidak berniat menolak, Ayrisa langsung masuk begitu saja.
"Posesip banget, Bang." Kion berceletuk, seakan mewakili Oska yang juga ingin berkata demikian.
Kion itu sebenarnya juga sama banyak tingkahnya dengan sang kembaran—Oska dan juga Alnan, tetapi hari ini ia sedang tidak mood saja makanya lebih banyak diam.
"Iyalah, lo pada gak pantes buat adek gue."
"Kalau gitu kasih bocoran bisalah, Bang, biar bisa bareng adek lo. Gue pengen memaksakan diri," sahut Alnan dengan percaya diri.
"Gue yakin lo gak bakal bisa. Pasangan Ayri itu harus ganteng, banyak duit, bisa jagain dia, dan yang paling penting itu pinter biar kalau diajak ngomong nyambung."
"Gue bisa semuanya, kecuali yang terakhir. Gue mah sadar diri, njir." Oska mengacak rambutnya kasar.
Calon di depan mata yang rencananya ingin dibawa kepada sang emak, kini menjadi tidak tergapai. Tugas saja ia selalu menyalin milik si juara umum sekaligus temannya.
"Makanya jangan kebanyakan mimpi deketin Ayri," ujar Nefra meremehkan.
"Si Aspen memenuhi semuanya," ucap Viran menunjuk laki-laki yang sedari duduk diam di kursinya.
Ucapan Viran membuat mereka yang ada di situ menoleh pada si empunya nama.
Aspen itu si juara umum yang sering disalin jawabannya, terutama oleh Oska. Askar itu seperti beruntung memiliki anggota seperti Aspen yang masih lurus. Untuk masalah uang, jangan ditanya lagi seberapa menggunungnya. Masalah melindungi, Aspen saja pernah membuat lawannya masuk UGD hanya dalam beberapa kali bogem. Laki-laki yang menguasai bela diri dari kecil itu memang memiliki prinsip
menargetkan titik vital lawannya, ia terlalu malas berurusan dengan orang-orang lemah yang sok jago.
"Anjir, gue baru niat udah ditikung aja jalur kriteria." Oska memasang raut dramatis dengan tangan yang terkepal di depan dada.
...·o0o·...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak sebagai dukungan untuk penulis!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments