Ayrisa⁰⁵ - New Company

Satu minggu lebih telah berlalu sejak kepindahan Reylin. Selama itu pula Ayrisa menjadi tidak terlalu bersemangat menjalani kehidupan sekolahnya. Hari ini pun juga begitu.

Diantar oleh sang ayah, sepanjang perjalanan Ayrisa hanya terdiam melamun dengan pandangan yang mengarah ke luar jendela mobil. Ketika mobil akhirnya berhenti tidak jauh dari gerbang sekolah, barulah Ayrisa tersadar lalu buru-buru pamit pada sang ayah dan keluar dari mobil.

Ketika baru menginjakkan kaki di lobi, Ayrisa langsung disambut oleh suara yang menguar dari alat pengeras suara yang ada di sudut lobi.

"Bagi Ayrisa Edwinata dari kelas XI Bahasa A, jika sudah berada di lingkungan sekolah, segera mendatangi ruang guru untuk menemui wali kelas. Terima kasih."

Ayrisa mengernyitkan dahinya bingung. Ia tahu kalau suara itu milik wali kelasnya sendiri, Pak Frans. Namun, ia tidak mengetahui alasan mengapa dirinya dipanggil, padahal masih sangat pagi untuk datang ke ruang guru. Dalam benaknya beberapa pertanyaan mulai menyeruak dan menuntut untuk segera dijawab. Oleh karena itu, untuk menyudahinya ia segera menuju ruang guru.

Pintu ruang guru yang selalu terbuka lebar memudahkan Ayrisa untuk melihat ke dalam dan menemukan keberadaan wali kelasnya yang sudah duduk di belakang meja milik beliau. Di hadapannya ada seorang siswa perempuan yang tidak Ayrisa ketahui karena siswa itu membelakangi pintu masuk.

Saat masuk ia menyapa guru-guru yang dikenalnya sebagai bentuk sopan santun. Begitu sampai di depan meja Pak Frans, Ayrisa memberi salam untuk memberitahukan kehadirannya. "Selamat pagi, Pak."

"Oh, Ayrisa, kamu sudah datang ternyata." Pak Frans merapikan kertas-kertas berisi materi pelajaran yang diajarinya. "Silakan duduk dulu," ujar beliau sambil menunjuk kursi kosong yang tersisa di depan mejanya.

"Ayrisa, ini murid baru yang akan sekelas dengan kamu, masuk di kelas A. Jadi, Bapak minta kamu untuk menunjukkan kelas dan membantu di hari pertamanya," ucap Pak Frans menjelaskan. Ayrisa membalasnya dengan mengangguk patuh. "Namanya Lamia Ardala Remiadi, jangan lupa untuk ditambahkan ke dalam buku absen kelas. Baiklah, itu saja. Kalian boleh ke kelas sekarang, sebentar lagi bel akan berbunyi."

Sekali lagi Ayrisa mengangguk kemudian pamit kembali ke kelas. Siswa baru itu mengikuti di belakangnya. Begitu keluar dari ruang guru, barulah perempuan itu menyamakan langkahnya dengan Ayrisa.

"Hai, lo bisa manggil gue Mia aja, gak usah panjang-panjang." Siswa perempuan itu berujar dengan ceria untuk kembali memperkenalkan dirinya.

"Umm, oke." Ayrisa membalas singkat sambil terus melanjutkan langkahnya.

"Jadi, lo ketua kelasnya? Eh, iya, gue lupa nama lo siapa tadi?"

"Bukan, aku bukan ketua kelas. Kamu bisa panggil aku Ayrisa," jawabnya. Jujur, ini adalah kali pertama Ayrisa kembali berinteraksi dengan orang baru setelah Reylin pindah. Satu minggu belakangan ia kebanyakan hanya berinteraksi dengan Melia dan Vyana. Karena itulah ia merasa canggung.

Mia kali ini membalasnya dengan sebuah anggukan.

Akhirnya mereka sampai di depan kelas. Ayrisa langsung masuk diikuti Mia. Tidak langsung ke tempat duduknya, Ayrisa menghampiri Restha, sang sekretaris kelas, untuk memberitahukan perihal siswa baru di kelas mereka.

"Restha, ada murid baru. Namanya Lamia Ardala Remiadi, jangan lupa masukin namanya ke buku absen."

"Oh, murid baru. Pantesan tadi lo dipanggil Pak Frans." Restha memandangi Mia yang berdiri di belakang Ayrisa. Netranya bergerak naik dan turun untuk melihat si siswa baru yang akan menempati kelas dengannya. Mia tidak suka dengan tatapan Restha, entah mengapa. "Kalau gitu tolong lo aja yang tulisin nama dia, ya."

"Oh, oke."

"Makasih ya, Ay."

Setelah itu Ayrisa menuju meja guru untuk mendapatkan buku absen kelas mereka. Kemudian ia mengeluarkan pulpen dari dalam tasnya untuk menuliskan nama Mia ke dalam buku absen.

Selama itu Mia menunggu di samping Ayrisa yang duduk di kursi meja guru untuk menulis namanya.

"Kamu bisa milih tempat duduk. Ada yang depan dan paling belakang," ujar Ayrisa sembari menunjuk meja yang berada di depan meja guru dan yang berada di paling belakang secara bergantian.

"Oke, thanks." Setelah mengucapkan itu Mia langsung menghampiri meja yang berada di depan meja guru.

Sebenarnya ia ingin menempati meja yang berada di belakang karena dengan begitu ia tidak akan sering mendapat perhatian guru, tetapi deretan meja belakang sudah dipenuhi oleh para laki-laki. Mia tidak mau, karena jika pacarnya mengetahui itu dapat dipastikan ia akan murka. Terdengar berlebihan, tetapi memang benar begitu adanya. Sebut saja pacarnya itu pengatur emosi yang buruk.

Ayrisa yang sudah selesai menambahkan nama Mia ke dalam buku absen, kemudian langsung menghampiri bangkunya dan duduk. Ia mengeluarkan buku mata pelajaran jam pertama bertepatan dengan bel yang berbunyi. Setelah merapikan bukunya di atas meja, ia baru menyadari Mia yang menempati bangku di sebelahnya, bangku yang sebelumnya ditempati oleh Reylin.

Untuk pelajaran pertama adalah antropologi yang diajari oleh seorang guru perempuan yang selalu berpenampilan kekinian. Namanya Bu Yulia.

Sebelum memulai pelajaran Bu Yulia mengabsen seisi kelas. Hari ini tidak ada yang tidak hadir, jadi merupakan awal yang bagus absen kelas mereka tidak kotor di awal tahun pelajaran baru.

Setelah mengabsen beliau langsung melanjutkan materi pelajaran mereka minggu lalu. Karena belum memiliki buku paket, Mia hanya mencatat beberapa hal penting di buku tulis miliknya. Begini-begini Mia bukanlah seorang murid pemalas, buktinya saja ia selalu masuk peringkat sepuluh besar saat di sekolah sebelumnya.

...· Ayrisa ·...

Akhirnya bel pertanda berakhirnya waktu sekolah berbunyi, membuat semua siswa menyambutnya dengan suka cita. Guru yang mengajar mata pelajaran terakhir mulai merapikan barang-barangnya sebelum meninggalkan kelas. Para siswa juga melakukan hal yang sama agar nanti bisa langsung keluar setelah guru.

Ketika yang lainnya keluar, siswa yang memiliki jadwal piket menetap di kelas untuk melakukan tugas mereka, ditambah Mia yang menunggu Ayrisa.

Mia sudah selesai memasukkan bukunya kembali ke dalam tas kemudian mengubah posisi duduknya menghadap Ayrisa yang baru saja kembali ke bangkunya.

"Ayrisa," panggilnya.

Sang empunya nama menoleh pada Mia, memberikan tatapan yang menyiratkan tanya.

"Gue cuma mau nanya buku paket apa aja yang diperluin buat pembelajaran," ujar Mia setelahnya.

"Tiap orang beda. Ada yang perlu semua, ada juga yang gak perlu satu pun." Ayrisa menjawab sambil kembali melanjutkan kegiatannya memasukkan buku ke dalam tas.

"Lo sendiri punya buku apa aja?" Mia kembali bertanya.

"Pendidikan Pancasila, ekonomi, bahasa Jerman, sama antropologi." Ayrisa menjawab setelah menutup resleting tasnya. "Itu yang biasanya sering dipake di kelas," imbuhnya.

"Lumayan juga," keluh Mia. "Kalau gitu gue boleh minta nomor lo? Biar nanti lo kirimin foto sampulnya, gue gak mau salah beli."

Ayrisa dengan cepat menyela, "Gak perlu beli, kamu bisa pinjem di perpustakaan. Yang penting jaga baik-baik. Nanti buat kartu perpus dulu sebelum pinjam bukunya."

"Oh, gitu ya. Bisa gak lo anterin sekalian temenin gue ke perpus?" Tidak langsung menjawab, Ayrisa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dulu sebelum mengangguk mengiyakan.

Setelah menyampirkan tali tas di pundak, mereka langsung pergi dari kelas.

Perpustakaan yang berada di samping lobi membuat mereka lebih mudah mendatanginya. Sampai di sana sang penjaga perpus, Pak Yuda, sudah mulai merapikan bangku-bangku sebelum menutup perpustakaan. Ada juga Pak Dzakariah yang membantu.

"Sore, Pak."

"Selamat sore, Ayrisa. Ada perlu apa?" Pak Dzakariah membalas, menghampiri Ayrisa dan Mia.

"Cuma temenin Mia buat minjem buku, Pak," jawabnya.

"Oh, Bapak belum pernah lihat kamu sebelum ini. Sudah punya kartu perpus?" Pak Dzakariah beralih pada Mia. Pertanyaan itu dibalas gelengan oleh Mia.

"Kalau begitu ayo ke dalam."

Setelah Mia pergi mengikuti Pak Dzakariah, Ayrisa memutuskan untuk membantu Pak Yuda merapikan meja dan kursi.

"Buku apa yang mau kamu pinjam?" tanya Pak Dzakariah pada Mia setelah gadis itu mengurus kartu perpustakaannya.

"Bisa samain kayak punya Ayrisa, Pak?"

Pak Dzakariah tersenyum kemudian mengangguk. "Bisa. Tunggu sebentar, ya." Beliau membuka laci dan mengeluarkan buku arsip peminjaman. Setelah menemukan nama Ayrisa, Pak Dzakariah langsung mengambilkan buku-buku yang sama seperti yang dipinjam Ayrisa.

Setelah mendapatkan semuanya, Pak Dzakariah meletakkannya di meja depan Mia. Kemudian beliau menyodorkan buku arsip peminjaman itu pada Mia, meminta siswi itu menuliskan namanya di lembaran kosong dan mengisi daftar buku yang dipinjamnya.

"Jadi kamu teman baru Ayrisa?" Tiba-tiba Pak Dzakariah bertanya.

"Mungkin, Pak." Mia menjawab dengan ragu

"Bapak harap kamu bisa jadi teman baiknya Ayrisa. Dia sendirian sekarang, jadi Bapak harap kamu bisa menemani dia. Ayrisa itu anak yang baik, kamu tidak akan menyesal jadi teman dia."

"Sendirian?" Mia tidak paham dengan perkataan guru di depannya itu. Tangannya sampai berhenti menulis untuk memikirkan itu.

"Iya, teman baiknya sudah pindah sekitar satu minggu yang lalu. Bapak harap kamu tidak seperti teman sekelasnya yang lain."

"Emangnya mereka kenapa?"

"Mereka tidak tulus dan seperti orang kebanyakan, pemilih," jawab Pak Dzakariah dengan singkat.

Karena sudah selesai Mia mengembalikan buku arsip peminjaman itu pada Pak Dzakariah yang langsung disimpan ke dalam laci.

Setelah selesai, guru dan siswa itu kembali ke tempat Ayrisa yang sedari tadi menunggu. Mia tidak menyangka gadis itu benar-benar menunggunya, ia kira Ayrisa akan langsung pulang setelah mengantarnya.

"Ayrisa, gue udah selesai. Yuk, pulang." Ayrisa mengangguk kemudian pamit kepada kedua guru itu sebelum pergi dari perpustakaan.

Begitu keluar dari lobi Mia mendapati pacarnya, Gana, yang sudah menunggu dirinya. Laki-laki itu tidak sendiri, ia bersama lima laki-laki lain yang juga merupakan teman segengnya. Askar adalah nama geng mereka.

Ayrisa lebih memilih langsung melipir ke tempat parkir di mana ia biasa menunggu jemputan. Ternyata Mia mengikutinya, membuat Gana dan teman-temannya mengarah ke sana.

"Lo ke mana aja? Lama banget," ujar Gana setelah duduk di samping Mia.

"Abis dari perpus," jawab Mia.

"Wuih, bu bos rajin amat hari pertama udah ke perpus." Laki-laki bernama Oska berceletuk dengan nada tinggi. "Ngomong-ngomong, kenalin kita sama yang cantik ini dong, bu bos." Oska menggerakkan maniknya, mengisyaratkan Ayrisa yang duduk di sebelah Mia.

Belum sempat Mia mengeluarkan suara, Ayrisa sudah lebih dulu bangkit. "Mia, aku pulang duluan," pamitnya dengan kepala yang sedikit menunduk, kemudian melangkah cepat ke arah mobil ayahnya yang baru sampai di depan gerbang sekolah. Ia tidak tahu saja jika sedari tadi ada sepasang mata memperhatikannya hingga hilang di balik pintu mobil.

"Anjir, gue baper denger cara ngomongnya." Oska memegang dadanya dramatis, mengundang toyoran manja yang datang dari Viran.

"Buaya lo!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!