Ujian akhir semester ganjil sudah ada di depan mata. Untungnya intensitas hujan yang datang tidak sesering saat masih awal musim. Jadi, para siswa bisa kembali mendapatkan fokus mereka saat belajar.
Beberapa hari yang lalu saat bertemu dengan Aspen, laki-laki itu menawari Ayrisa untuk belajar bersama selama masa ujian. Tentu Ayrisa tidak menolaknya, lagipula ia dan Reylin dulu juga sering belajar bersama bahkan saat tidak dalam masa ujian.
Hari Minggu, sehari sebelum ujian, Aspen mengabari Ayrisa sejak pagi kalau dirinya akan datang pukul setengah sembilan pagi untuk belajar bersama mereka. Karena itulah, sekarang Aspen sudah berada di ruang keluarga rumah Ayrisa. Mereka duduk lesehan di atas karpet agar lebih nyaman, telah melewati dua jam bersama untuk belajar.
Kedua kakak kembar Ayrisa masih berada di kamar, entah sedang melakukan apa. Padahal Ayrisa sendiri sudah keluar dari tadi dan sarapan bersama Dara dan Antra. Nura pun sudah terbangun bersamaan dengan dirinya, tetapi lebih memilih melewatkan sarapan. Kalau kakak laki-lakinya, Ayrisa tidak tahu sudah bangun atau belum.
Pada sesi belajar bersama mereka, Aspen sangat membantu bagi Ayrisa. Laki-laki itu dengan sabar mengajarinya materi matematika yang tidak begitu dikuasai oleh Ayrisa. Syukurlah Ayrisa tidak menolak tawaran Aspen karena memikirkan mereka yang berbeda jurusan. Entah mengapa di sekolahnya ujian matematika berada di hari pertama, membuat pusing saja.
"Kak As, aku boleh nanya?"
Aspen mengangguk. "Boleh, tanya aja. Gak usah sungkan."
"Kenapa Kak As nawarin aku belajar bareng padahal jurusan kita beda?"
Aspen terdiam sejenak untuk memikirkan jawabannya. Laki-laki itu tidak bisa secara terang-terangan mengatakan kalau ini semua agar ia bisa lebih dekat dengan Ayrisa.
"Nggak ada alasan khusus, cuma biar beda aja suasana belajarnya. Kamu gak suka?"
Ayrisa menggeleng cepat. "Nggak, bukan gitu. Aku cuma pengen tahu aja. Lagian aku juga seneng banget bisa dibantuin Kak As buat belajar."
"Ya, udah, lanjut belajarnya kalau gitu. Kalau ada yang kurang dimengerti tanya aja," ucap Aspen dengan sebuah senyuman kecil.
Selang beberapa menit, terdengar suara langkah kaki yang menuruni tangga. Kemudian disusul terlihatnya laki-laki yang topless sedang menguap lebar. Padahal matahari sudah hampir berada di atas kepala, dan Nefra baru bangun dari tidurnya.
Tidak elit sekali.
"Lho, ngapain lo ke sini?" Nefra bertanya dengan nada tidak santai sambil menunjuk Aspen.
"Kak Nef apaan, sih!? Baru bangun udah nyebelin aja!" ucap Ayrisa dengan nada ketus.
Nefra berjalan cepat menghampiri adik dan temannya kemudian duduk di antara mereka. Bisa-bisanya ia kecolongan seperti ini. Memang ya, cara pendekatan orang pintar itu beda.
"Lo itu masih kecil, gak boleh deket-deket sama cowok!" ucapnya sambil menekan dahi Ayrisa.
"Aku udah enam belas!" seru Ayrisa tidak terima. Enak saja kakaknya menyebut dirinya masih kecil.
Padahal jelas-jelas awal Oktober kemarin ia sudah berulang tahun. Memang menyebalkan kakaknya yang satu itu.
"Kalau cara ngomong lo masih gitu, berarti lo masih kecil." Nefra berujar dengan jahil. Sengaja untuk memancing kemarahan adiknya.
"Nggak! Aku juga bisa, ya, kayak Kak Nef!"
Nefra tersenyum miring. Ayrisa telah masuk ke dalam perangkapnya. "Kalau gitu ikutin gue cara ngomongnya. Lo, gue!"
Tiba-tiba keberanian Ayrisa menghilang entah ke mana. Nyalinya menciut. Ia sekarang sadar kalau dirinya salah bicara tadi.
"Ta-tapi aku udah enam belas," ujarnya dengan keberanian terakhir yang tersisa.
Senyuman miring Nefra semakin terkembang. "Iya, gue tahu. Makanya sekarang ikutin cara ngomong gue."
"Ikutin gue ... lo—gue! Ayo, katanya bukan anak kecil lagi." Ia mengulangi kalimatnya.
Aspen yang sedari tadi memperhatikan akhirnya mencoba angkat suara. "Gak usah ngikutin Bang Nefra, Ay," ucapnya menengahi.
"Lo gak usah ikutan," ujar Nefra memperingatkan.
"Gue cuma—"
"Tuh, Aspen aja bisa!" seru Nefra kembali memancing Ayrisa. "Berarti dia emang bukan bocah lagi."
Ayrisa yang sedari tadi menunduk akhirnya menatap Nefra dengan tatapan penuh percaya diri. Ia sudah sering mengikuti berbagai lomba dengan banyak pasang mata penonton yang memperhatikan. Jadi, seharusnya ini bukanlah masalah.
"Aku juga bisa, kok!" ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar.
Nefra mendengkus meremehkan. Senyuman miring tidak hilang dari wajahnya.
"Ya, udah ikutin gue," ujarnya. "Lo ... gue ...."
Ayrisa meneguk salivanya dengan susah. Ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun tidak lagi memakai kata ganti itu. Ya, ia memang pernah menggunakannya. Hanya saja ia merasa lidahnya menjadi tidak enak—aneh—saat berucap dengan kata ganti itu. Alhasil ia berbicara menggunakan kata ganti aku-kamu.
"Nefra, kamu ngapain di situ, gak pake baju lagi. Ke kamar sana, jangan ganggu adek kamu belajar!"
Dara baru datang setelah selesai mengurus tanamannya di halaman belakang, dan malah disuguhi putranya yang berkelakuan seperti itu di depan tamu. Lalu apa-apaan ia tidak memakai baju. Hah, sepertinya sudah lama sejak terakhir kali Nefra mendapat hukuman.
"Iyaa, Bun. Kak Nef ganggu aku lagi belajar sama Kak Aspen dari tadi." Ayrisa mengadu pada sang bunda dengan semangat. Dalam hati ia bersorak senang karena bisa membalas kakaknya itu.
Dara menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Nefra ini selalu suka menjahili Ayrisa, apalagi ia tidak akan berhenti sampai adiknya itu menangis. Padahal dulu Dara merasa tidak pernah mengidam sesuatu yang aneh. Nura saja seorang yang tenang dan kalem, lalu mengapa Nefra yang kembarannya seperti itu?
Terkadang tingkah jahil Nefra itu memang patut dipertanyakan asal dan penyebabnya.
"Nak Aspen mau minum apa? Biar Tante buatkan, jarang-jarang temen Ayrisa datang ke rumah." Dara beralih pada Aspen yang sedari tadi duduk dengan tenang setelah kalah berargumen membela Ayrisa.
"Apa aja Tante," balas Aspen. Dalam hati ia merasa senang karena menjadi teman laki-laki Ayrisa yang pertama mengunjungi rumahnya. Ah, sepertinya akan lebih bagus jika lebih dari teman laki-laki, pikir Aspem.
Setelah kepergian Dara, Aspen menyusul beranjak dari sana untuk menuju kamar mandi. Ia sedikit gugup berada di dekat Ayrisa. Biasanya ia akan menenangkan diri dengan membasuh wajahnya, karena itu ia perlu ke kamar mandi.
"Oi …." Nefra memanggil Ayrisa sembari mencolek lengan adiknya itu. "Buktiin kalau lo bukan bocah. Gue pengen denger lo ngomong kayak gue. Ayo, cepetan!"
"G—gue ... lo!" Ayrisa berucap dengan cepat.
Gadis itu sudah selesai dengan tantangan jahil kakak laki-lakinya itu. Namun, di detik berikutnya, matanya berkaca-kaca. Itu membuat Nefra yang tadinya duduk santai bersandarkan sofa di belakangnya, langsung menegakkan tubuhnya.
"Ay, jangan nangis," ujar Nefra dengan hati-hati.
"Lidahnya gak enak, Kak Nef! Aku gak suka!" Pada detik berikutnya, tangis Ayrisa pecah, membuat Nefra kalang kabut.
"Nefra! Adeknya kamu apain lagi?!"
Kini giliran Nefra yang menelan salivanya dengan susah payah. Ia semakin kalang kabut karena tangisan Ayrisa tidak kunjung berhenti.
"Ay, jangan nangis dong! Iya, gue salah. Udah jangan nangis lagi!"
"Ta-tapi lidahnya gak enak kalau ngomong gitu!" Ayrisa berucap dengan sesenggukan.
Cara terakhir. Nefra pun membawa Ayrisa ke dalam pelukannya agar tangisan adiknya itu teredam.
"Udah, diem dong, Ay! Iyaa, lo gak usah ngomong gitu lagi," bujuk Nefra.
Dalam hati ia mengata-ngatai adiknya yang memang masih seperti bocah itu. Memangnya lidah itu dimakan sampai ia tahu rasanya enak atau tidak? Hah, kalau begini kan Nefra juga yang susah. Eh, tapi ia sendiri yang memancingnya.
"Oke, nanti gue beliin es krim buat lo. Biar lidah lo enak lagi." Nefra mengeluarkan siasat terakhir yang dimilikinya.
"Beneran?" Ayrisa menatap Nefra dengan mata bulatnya yang masih terdapat air mata.
"Iyaa," jawab Nefra dengan pasrah.
Ayrisa perlahan keluar dari pelukan Nefra. Tangannya terangkat untuk menghilangkan bekas air mata yang ada di kedua pipinya.
Ternyata dari tadi Dara memperhatikan mereka dari balik dinding bersama Aspen. Sebenarnya Aspen sudah akan menghampiri kedua kakak beradik itu sekembalinya dari kamar mandi, tetapi Dara yang mengawasi kedua anaknya dari balik dinding menahan Aspen.
"Ayrisa itu emang kadang suka manja sama Nefra walaupun juga sering dijahili sama kakaknya itu. Tante harap kamu serius kalau mau deketin Ayrisa," ucap Dara dengan suara pelan.
Aspen hanya mengangguk kaku sebagai balasan. Pikirannya seperti kosong seketika setelah mendengar ucapan Dara. Apa itu maksudnya ia sudah diberi lampu hijau oleh ibu dari gadis yang disukainya?
"Kamu nanti mau sekalian makan siang di sini?"
"Uh, maaf Tante, tadi Mama nelfon minta ditemenin ke toko kue. Jadi, saya mau pamit pulang."
"Kalau gitu lain kali ikut ya, Nak Aspen."
"Iya, Tante."
Selanjutnya Aspen menghampiri kedua kakak beradik itu untuk pamit.
"Ay, maaf ya, aku pulang duluan."
"Oh, iya gak papa, Kak. Besok datang lagi, 'kan?"
Aspen mengangguk kemudian pamit juga pada Nefra sebelum keluar dari kediaman Edwinata. Di luar terdengar suara mesin motor laki-laki itu sebelum akhirnya menghilang karena sudah melaju pergi dari sana.
"Ayo, beli es krim!" seru Ayrisa dengan bersemangat. Bahkan tanpa menunggu Nefra membalas, ia sudah berlari ke kamar untuk bersiap-siap. Ya, dan lagi-lagi terdengar seruan yang memperingatkan agar tidak berlari saat menaiki tangga.
Nefra menghela napas berat sebelum ikut menyusul sang adik untuk bersiap-siap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments