Ayrisa⁰³ - Reylin

Waktu istirahat kedua telah tiba, membuat banyak siswa berhamburan di koridor sekolah untuk menuju kantin. Menyerbu kantin untuk mendapatkan makan siang, atau hanya sekedar membeli makanan ringan sebagai cemilan. Ada juga beberapa yang menetap di kelas karena membawa bekal dari rumah.

Ayrisa sendiri membawa bekal yang dibuatkan bundanya. Jadi, ia tidak perlu bersusah diri untuk pergi ke kantin. Reylin yang juga terlalu malas untuk ke kantin dan berdesak-desakan, mengikuti jejak temannya itu untuk membawa bekal.

Keduanya makan dalam diam, ada pun ponsel di tangan masing-masing. Reylin yang sedang scrolling santai di Instagram dan Ayrisa yang sedang menonton kartun di YouTube. Mereka asyik dengan ponsel masing-masing hingga Reylin yang menyelesaikan makannya duluan kemudian disusul Ayrisa.

Setelah meminum air dari tumbler miliknya yang berwarna soft blue, Reylin mengubah posisinya untuk menghadap tempat duduk Ayrisa. "Ay, gue mau ngomong," ujarnya.

Ayrisa yang sudah selesai minum menatap Reylin setelah menyimpan tumblernya. "Iya?"

"Umm ... gue bakal pindah tiga hari lagi. Gue gak ada maksud nyembunyiin dan baru ngasih tahu sekarang, beneran nggak."

Ayrisa terdiam. Ia memutar ingatannya kembali pada tadi pagi dimana Reylin yang datang bersamaan dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Yang mana temannya itu tumben sekali telat.

"Jadi, tadi kamu telat karena ngurus kepindahan itu dulu?"

Reylin mengangguk sebagai jawaban. "Sebenarnya Papa gue udah ngasih tahu dari seminggu lalu kalau bakal pindah, tapi gue kira prosesnya masih lama."

Ayrisa menghela napas pelan. "Gak papa, tapi tetap teman ya," ujarnya dengan pasrah.

"Itu pasti, Ay, palingan untuk beberapa waktu awal bakal jarang kontakan soalnya pasti sibuk ngurus beberapa hal."

"Gue pasti bakal kangen lo," imbuh Reylin.

"Iya, sama," sahut Ayrisa pelan. Kepalanya tertunduk dengan jari-jemari yang saling bertaut di atas pangkuannya.

Terdiam untuk beberapa saat, Reylin kembali berujar setelahnya. "Besok mau quality time sama gue? Abis pulang sekolah besok, mumpung hari Jumat pulangnya cepat." Tanpa berpikir panjang Ayrisa langsung mengangguk setuju. Lagipula ia juga sudah lama tidak refreshing dengan bebas.

Tidak lama setelah itu bel berbunyi, menandakan berakhirnya waktu istirahat. Para siswa kembali ke kelas masing-masing. Ada yang membawa serta makanan mereka yang direncakan akan dihabiskan begitu tiba di kelas. Itu seperti sudah biasa dilakukan para siswa.

Untuk pelajaran terakhir di kelas Ayrisa adalah ekonomi, yang akan berlangsung dua jam ke depan. Pelajaran ekonomi untuk kelas 11 ini diajari oleh Bu Yuni, seorang guru yang sering dibilang killer oleh teman-teman sekelas. Bab pertama yang mereka pelajari adalah anggaran pendapatan dan belanja daerah dan negara.

Ayrisa sesekali mencatat hal-hal penting di bukunya dan mendengarkan penjelasan Bu Yuni. Di akhir penjelasan yang diberikan, Bu Yuni meminta para siswa untuk mengerjakan uji kompetensi di halaman dua puluh. Selesai mengerjakan tugas itu dan mengumpulkannya, bertepatan dengan bel yang berbunyi.

Setelah siswa terakhir mengumpulkan tugasnya, Bu Yani langsung menyudahi pembelajarannya kali ini. Sebelum keluar, beliau meminta Ayrisa untuk membantunya membawa buku-buku tugas itu.

"Reylin, kamu boleh pulang duluan, kok." Ayrisa memberitahu Reylin sebelum membawa tumpukan buku mengikuti Bu Yani.

Reylin mengacungkan ibu jarinya. Pas juga sang sopir yang mengabari kalau sudah menunggu di depan.

Ruang guru ada di lantai dasar gedung sekolah, berada tidak jauh dari jajaran kelas IPS. Di sepanjang jalannya Ayrisa mendapati semua siswa sudah keluar dari kelas masing-masing untuk pulang.

Begitu sampai di ruang guru Ayrisa langsung meletakkan tumpukan buku itu di atas meja milik Bu Yani, kemudian ia pamit keluar. Saat kembali ke kelas, sebagian besar teman sekelasnya sudah pulang. Menyisakan tiga siswa yang memiliki jadwal piket hari ini.

"Aku duluan, ya!" pamit Ayrisa sembari mengambil tasnya.

"Iya, hati-hati!" balas Restha.

Memiliki kelas di lantai dua gedung membuat Ayrisa bisa melihat keadaan sekolahnya yang dengan cepat berubah menjadi sepi. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, hum, hanya butuh beberapa menit sekolahnya berubah sepi.

Baru keluar dari lobi sekolah, Ayrisa bisa melihat bundanya yang sudah menunggu tidak jauh dari gerbang sekolahnya. Ia mempercepat langkahnya untuk sampai pada sang bunda.

"Bunda!"

Dara tersenyum membalas. "Kenapa lama tadi? Reylin aja udah pulang duluan tadi."

"Tadi diminta bantu sama guru buat bawain buku." Dara mengangguk paham, kemudian melajukan motornya setelah memastikan Ayrisa duduk dengan benar di jok belakang.

Membutuhkan waktu hampir 20 menit untuk sampai di rumah. Saat sampai bersamaan dengan Nura yang juga pulang diantar oleh pacarnya, Lingga. Laki-laki itu ikut turun dari motornya begitu melihat Dara.

"Sore, Tante." Lingga menyapa Dara kemudian mencium punggung tangan bunda dari pacarnya.

"Sore. Masuk dulu, yuk. Udah lama juga gak mampir ke rumah," ajak Dara.

"Boleh, Tante."

Mereka memasuki bangunan minimalis berlantai dua. Setelah pintu utama, mereka akan menjumpai area batas pemakaian alas kaki mirip seperti yang biasanya ada di rumah orang-orang Jepang. Dara mengajak Lingga ke ruang keluarga yang akan langsung didapati di sebelah kiri.

Di rumah keluarga Ayrisa memang tidak ada ruang tamu, hanya ada ruang keluarga. Dibuat seperti itu agar tidak ada jarak antara pemilik rumah dan tamunya, para tamu akan disambut hangat seperti keluarga sendiri.

Ayrisa lebih memilih ke kamar duluan. Setelah masuk ia meletakkan tasnya begitu saja dekat kaki ranjang. Ia sedikit lelah hari ini, ditambah lagi dengan kabar Reylin yang akan pindah membuatnya cukup sedih saat memikirkan itu. Tubuhnya seakan kehilangan tenaga karenanya.

Melepaskan seragam dan menyisakan kaos tanpa lengan berwarna putih. Kemudian Ayrisa menarik kursi yang ada di samping meja belajarnya ke depan jendela yang sudah ia buka. Ia ingin mendinginkan dirinya terlebih dulu sebelum nantinya mandi. Itu sudah menjadi kebiasaannya.

Sembari bersantai sejenak Ayrisa melihat ke luar. Sesekali ada kendaraan yang lewat, atau hanya sekadar anak-anak kecil yang balapan menggunakan sepeda. Suara tawa dan seruan mengiringi balapan tersebut.

Selang beberapa menit, akhirnya Ayrisa menyudahi yang dilakukannya itu. ia menutup kembali jendela kamarnya.

Ayrisa melepas rok sekolahnya, menyisakan celana pendek setengah paha. Setelah meraih jubah mandi miliknya, ia berlalu menuju kamar mandi. Selang 20 menit kemudian gadis itu sudah terlihat segar dengan celana yang panjangnya di atas lutut berwarna hitam dan kaos berukuran besar yang menutupi setengah pahanya berwarna abu-abu.

Mengambil ponsel yang sebelumnya ia taruh di atas meja belajarnya, kemudian Ayrisa keluar kamar. Ada yang harus ia bicarakan dengan sang bunda. Langkahnya ia bawa menuruni tangga.

Ternyata Lingga belum pulang. Laki-laki itu sedang bersama kakaknya sambil bercerita tentang sesuatu yang tidak Ayrisa dengar dengan jelas. Karena tidak mendapati sang bunda di ruang keluarga, Ayrisa langsung mengubah haluan ke arah dapur.

Benar saja, Dara ada di sana.

"Bunda," panggil Ayrisa.

Dara berdeham untuk menyahut. Ia sedang fokus mengeluarkan bahan-bahan yang ia butuhkan untuk membuat makan malam.

"Pulang sekolah besok aku main sama Reylin, ya. Kita mau quality time sebelum dia pindah." Ayrisa berujar meminta izin.

Dara mengarahkan pandangannya pada sang putri. "Reylin mau pindah ke mana?" Ia bertanya.

"Ke luar kota katanya, tapi gak tahu tepatnya." Ayrisa menjawab.

"Nanti pulangnya gimana?"

"Kan, ada ojek online. Kita pulangnya palingan sore, kok," bujuk Ayrisa.

"Iya, boleh."

Ayrisa langsung berseru senang mendengar jawaban sang bunda.

Detik berikutnya terdengar mesin mobil dan motor yang memasuki pekarangan rumah mereka. Jendela yang mengarah langsung ke luar mempermudah ibu dan anak itu untuk melihat yang datang. Terlihat papanya dan sang kakak laki-laki yang pulang bersamaan. Lalu di belakang mereka disusul keluarga Carsion—teman Dara yang datang berkunjung.

Ayrisa dengan bersemangat langsung berlari ke arah pintu utama. "Mama!" serunya dengan riang.

Shera, yang juga dipanggil Mama oleh remaja di depannya itu, langsung memeluk Ayrisa. Sudah lama ia tidak berkunjung, jadi perasaan rindunya meluap saat melihat gadis yang masih berusia lima belas tahun itu.

"Bunda mana, Ay?" tanya Shera.

"Di dapur, lagi siap-siap buat masak makan malam."

"Kalau gitu Mama ke dapur dulu, ya."

Ayrisa mengikuti langkah Shera ke dapur. Ia ingin berbincang lebih lama dengan Shera karena dua minggu ini keluarga mereka tidak datang berkunjung. Namun, sebelum ia berhasil menyusul langkah Shera, Elio—putra Shera—sudah lebih dulu menahan lengannya. Laki-laki yang berbeda dua tahun itu membawa Ayrisa ke dalam pelukannya. Sama seperti mamanya, Elio juga merindukan Ayrisa.

Setelah berada di dalam pelukan Elio, pucuk kepala Ayrisa dielus lembut oleh Arfa—suami Shera sekaligus papa Elio. Kehangatan yang didapatnya membuat Ayrisa sedikit melupakan perasaan sedihnya.

"Jangan halangin jalan!" Ujaran kesal itu membuat Ayrisa dan Elio menoleh ke belakang. Mereka mendapati Nefra yang sedang memandang dengan tajam.

"Kan, masih ada jalan di situ." Ayrisa menunjuk kecil celah besar yang ada di sampingnya.

"Nyahut mulu lo. Udah pelukannya! Lo itu adek gue, ya." Nefra memisahkan Ayrisa dan Elio, kemudian membawa gadis itu untuk bergabung ke ruang makan. Langkah kakak-beradik itu diikuti oleh Elio.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!