Ayrisa¹⁶ - Ice Cream

Akhir pekan yang selalu ditunggu oleh kebanyakan orang akhirnya tiba. Ujian akhir semester ganjil telah dilalui Ayrisa dengan lancar. Berkat belajar bersamanya dengan Aspen selama sepekan ini, Ayrisa menjadi lebih percaya diri dengan jawaban-jawaban yang diisinya saat ujian.

Sejak pagi, setelah sarapan bersama keluarganya—minus Nefra, Ayrisa bersantai di ruang keluarga dengan televisi menyala yang menayangkan film kartun spons kuning yang bekerja sebagai koki. Kakak perempuannya, Nura, kembali ke kamar setelah sarapan. Ayahnya menemani sang bunda di dapur. Jadilah ia sendirian di ruang keluarga.

"Ay, mau ikut ke supermarket?" Antra yang baru menghampiri Ayrisa langsung melemparkan pertanyaan.

"Mauu!" seru Ayrisa dengan antusias. Dengan gerakan cepat ia meraih remot untuk mematikan televisi, kemudian langsung berdiri dengan tegap. "Pergi sekarang, 'kan?"

"Iyaa," balas Antra. "Kamu ke kamar dulu tanyain Nura mau ikut atau nggak, ya." Ayrisa mengangguk patuh dan melangkah cepat ke kamar.

Sampai di kamar, tampak kakak perempuannya yang sedang sibuk duduk di meja belajarnya dengan buku-buku. Ayrisa melangkah perlahan mendekati Nura.

"Kak, mau ikut ke supermarket?"

Nura menggeleng. "Lo pergi aja sana." Ia berucap tanpa menoleh sedikit pun pada Ayrisa, tetap fokus pada buku-buku di hadapannya.

Ayrisa mengangguk kaku kemudian keluar dari kamar. Di bawah, Dara dan Antra sudah menunggu dirinya. Ia tidak perlu mengganti pakaian karena kaus soft blue dan celana selutut berwarna hitam yang dikenakannya sekarang sudah nyaman. Rambutnya pun dibiarkan terurai dengan sebuah jepit kecil yang menyatukan beberapa helai rambutnya ke belakang kepala.

Sampai di supermarket yang jaraknya sedikit jauh dari rumah, Ayrisa mengikuti langkah Dara untuk masuk. Antra mengikuti dari belakang, kemudian mengambil troli setelah masuk.

Pertama mereka pergi ke bagian bumbu-bumbu dapur karena itu adalah tujuan utama mereka pergi ke supermarket. Dara meminta Ayrisa untuk mencari beberapa bumbu dapur di saat ia mencari yang lain.

Setelah itu mereka menuju ke bagian buah dan sayuran. Dara bertanya banyak pada Ayrisa karena dari semua penghuni rumah, gadis itulah yang paling antusias saat makan sayur. Ia tidak akan makan jika tidak ada sayur. Katanya nanti rasanya hambar. Untuk buah dipilih oleh Antra sendiri. Lalu dilanjutkan ke bagian daging dan ikan setelahnya.

"Ay, kamu mau beli apa lagi? Kalau mau ke bagian makanan, Bunda sama Ayah mau beli roti dulu."

Ayrisa mengangguk kemudian berpisah dengan Dara dan Antra. Sebelum ke bagian makanan ringan, tidak lupa ia mencari keranjang belanjaan agar memudahkan dirinya nanti.

Sampai di sana Ayrisa memilih makanan dengan aneka ragam rasa yang terlihat menarik di penglihatannya. Barbekyu, rumput laut, pedas manis, cokelat, maupun original. Ayrisa ini mungkin pakar makanan sehingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk menjatuhkan pilihan. Ia bahkan sampai tidak sadar kalau keranjangnya sudah hampir penuh.

Setelah merasa cukup, Ayrisa berpikir untuk menuju bagian es krim. Ia hanya akan membeli dua, satu untuk dirinya dan yang satunya untuk Nura. Jadi, pasti tidak masalah.

Saat keluar dari bagian makanan, Ayrisa tidak sengaja bersinggungan dengan seorang wanita yang ditaksir berkepala tiga. Sekilas, ia merasa pernah melihat wanita itu sebelumnya, tetapi tidak begitu ingat kapan dan di mana.

"Maaf, saya tidak sengaja," ujar Ayrisa dengan sedikit menunduk.

"Lho, Ay?" Suara seseorang di belakang wanita itu membuat Ayrisa mengangkat pandangannya.

"Kak As?" Ayrisa balas berujar tidak menyangka.

"Jangan-jangan kamu yang namanya Ayrisa adiknya Nefra, ya?" Sagita menatap Ayrisa dengan antusias. Dalam hati ia sangat senang bisa bertemu dengan calon menantunya ini.

"Iya, Tante."

"Panggil mama aja kayak Aspen," ujar Sagita.

"Tapi aku juga udah punya mama," balas Ayrisa dengan polos.

Sagita mengusap puncak kepala Ayrisa dengan gemas. Pantas saja putra bungsunya menyukai gadis di hadapannya ini.

"Kamu ke sini sama siapa?" tanyanya.

"Bunda sama Ayah."

Sagita menampilkan raut bingung, sama seperti ketika Aspen dan yang lainnya tahu Ayrisa juga memanggil wanita lain sebagai mama. Namun, pada akhirnya ia hanya mengangguk.

"Terus Bunda sama Ayah kamu di mana sekarang?"

"Katanya mau beli roti, makanya aku dibolehin beli ini." Ayrisa berujar seraya menunjukkan keranjang di tangannya.

"Ooh, kalah gitu bareng aja ke sananya," ajak Sagita.

"Umm, tapi aku mau ambil es krim dulu."

"Bukannya gak dibolehin?" Aspen menyela. Ia yang tadinya sibuk memperbaiki genggamannya pada keranjang belanjaan langsung menatap Ayrisa.

Karena ucapan Aspen, Sagita ikut menatap Ayrisa yang membuat gadis itu sedikit gugup.

"Cuma satu aja, kok," kilahnya.

"Ya, udah, gak papa. Sekalian langsung ke orang tua kamu," ucap Sagita menengahi.

Jadilah ibu dan anak itu mengikuti Ayrisa untuk mengambil es krim sebelum menghampiri Dara dan Antra yang sudah menunggu di dekat bagian yang terdapat jejeran roti berbagai bentuk dan rasa.

"Kamu bareng siapa, Ay?" Antra bertanya pada putrinya seraya mengambil alih keranjang dari tangan Ayrisa.

"Oh, iya. Aku tadi ketemu Kak As sama mamanya Kak As."

"Iyaa, saya Sagita mamanya Aspen." Sagita berujar seraya mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Antra.

"Terima kasih sudah menemani putri saya," ucap Antra dengan ramah.

"Ay, kamu beli es krim?" Suara Dara mengalihkan pandangan mereka.

Ayrisa hanya tersenyum manis menanggapinya. "Satu aja, kok, Bun."

"Tapi di sini ada dua, Ay."

"Yang satunya buat Kak Nura," balasnya dengan santai. Dara akhirnya hanya bisa menghela napas pelan membolehkan. "Kalau batuk Bunda serahin semuanya sama Ayah lho, ya."

Ayrisa memanyunkan bibirnya mendengar itu. "Cuma satu aja," gumamnya dengan bibir yang mempout.

Kemudian Dara beralih pada dua orang lainnya yang bersama mereka sekarang. "Kalau begitu kami duluan," pamitnya pada Sagita dan Aspen.

"Oh, bareng aja, kami juga sudah selesai." Sagita berujar.

Akhirnya mereka menuju kasir bersama. Di saat para orang tua berjalan duluan di depan, Aspen mengajak Ayrisa untuk berjalan di belakang. Ia menganggap ini sebagai pendekatan tidak terencana yang singkat.

"Ujian kamu gimana, Ay?" tanya Aspen.

"Lancar," jawab Ayrisa. "Makasih ya, Kak, udah mau belajar bareng."

"Bukan apa-apa, kok. Lagian, kan, aku yang ngajak duluan."

"Tetep aja aku makasih banget ke Kak As," ucap Ayrisa sembari tersenyum. Karena itu, tangan Aspen refleks terangkat dan jatuh di atas kepala Ayrisa lalu mengusapnya lembut.

...·Ayrisa·...

Ayrisa sekarang sedang duduk santai di teras samping yang terhubung dengan dapur. Di teras samping itu banyak ditanam cabai, tomat, serai dan beberapa lainnya yang sering digunakan Dara untuk memasak.

Namun, bukan tanaman-tanaman itu ataupun langit sore yang menjadi fokus Ayrisa saat ini. Melainkan seekor kucing berwarna hitam yang sedang memakan ikan yang tadi diberikan oleh Dara. Kucing itu tampak imut di mata Ayrisa. Ingin mengelus kucing itu, tetapi ia masih cukup sadar kalau dirinya takut pada hewan. Hum, sebut saja Ayrisa ini punya zoophobia.

Zoophobia sendiri adalah perasaan takut berlebihan terhadap jenis binatang atau hewan tertentu. Dari semua jenis hewan yang ditakutinya, Ayrisa lebih takut pada hewan bernama kupu-kupu. Itu dikarenakan ia memiliki kenangan buruk saat kecil dengan hewan yang sering disebut sebagai hewan tercantik itu. Hanya dengan membayangkannya saja sudah bisa membuat bulu romanya berdiri.

Setelah menghabiskan makanannya, kucing itu bersuara sambil menatap Ayrisa.

Ah, kucingnya pasti ingin air, pikir Ayrisa.

Dengan cepat ia masuk dan mengambil wadah kecil yang kemudian diisi dengan air. Setelahnya ia kembali keluar lalu meletakkan wadah itu di lantai sebelum didorong mendekat ke arah kucing itu menggunakan gagang sapu.

Setelah diingat-ingat, es krim yang kemarin dibeli belum dimakan oleh Ayrisa. Rasanya kesal sekali saat sampai di rumah Nefra sudah ada di ruang keluarga menunggu mereka. Jadi, ia tidak memiliki kesempatan untuk memakannya.

Lalu, karena sekarang kakaknya itu sedang pergi—yang katanya ke markas Askar—Ayrisa akhirnya bisa memiliki kesempatan untuk memakan es krimnya.

Ia kembali masuk menuju ruang keluarga di mana bundanya berada sekarang. "Bun, aku makan ya, es krimnya!" pintanya yang langsung diangguki oleh Dara.

Dengan langkah cepat Ayrisa menuju kulkas untuk mendapatkan es krimnya.

Es krim rasa cokelat yang sekarang ada di tangannya terlihat sangat menggoda. Tangannya yang lain membuka kertas pembungkus dan membuangnya ke tempat sampah. Ayrisa kembali ke teras samping. Kucing itu masih di sana, sekarang sedang berbaring dengan mata tertutup.

Ayrisa menikmati es krimnya sambil memperhatikan kucing yang sedang tertidur itu. Tampak semakin imut di matanya.

"Puas makan es krimnya?"

Tubuh Ayrisa tersentak karena terkejut dengan suara yang tiba-tiba terdengar di dekat telinganya. Sejak kapan kakaknya pulang? Ia tidak mendengar suara pintu maupun langkahnya yang mendekat. Bahkan Nefra sudah duduk di belakangnya. Ah, sial sekali.

Dengan gerakan cepat Ayrisa memasukkan cone es krim yang tersisa ke dalam mulutnya. Untunglah tinggal tersisa sedikit, jadi tidak akan ada adegan Nefra merebut es krimnya.

"Ay," panggil Nefra seraya menggerakkan kepala Ayrisa agar menoleh padanya. Detik berikutnya, wajah laki-laki itu mendekat dan mengecup sudut bibir Ayrisa sedang ibu jarinya ikut membersihkan noda es krim di sudut lainnya.

"Cokelat," ucapnya sambil mencecap ibu jarinya yang tadi digunakan untuk membersihkan noda es krim di sudut bibir Ayrisa.

Mata Ayrisa membola. "Ihh, Kak Nef! Aku udah besar tahuu!" serunya dengan kesal.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!