Bab 20. Alissa

"Kalian semua sudah berkumpul di sini?" tanya Ayah. Beliau terlihat bahagia sekali, akhirnya bisa menikmati kembali acara makan malam bersama keluarganya.

Duchess Rinia bangkit dari duduknya. Dia mengambil alih pegangan kursi roda Ayah dari dokter Veil, lalu mendorongnya ke posisi tempat Ayah biasa makan. Wajahnya begitu semringah, ketika melihat kedua putranya telah duduk di meja makan. Begitu terkejutnya Ayah saat mendapatiku juga duduk bergabung bersama semuanya.

"Alissa, kamu di sini?"

"Iya, Ayah, aku---"

"Aku yang memintanya untuk bergabung bersama kita malam ini." Duchess Rinia yang berbicara kali ini.

"Rinia ... Apa jangan-jangan ... kamu sudah bisa menerima keberadaan Alissa?"

Duchess Rinia tidak menjawab pertanyaan Ayah sama sekali, padahal aku sudah mengantisipasi apa pun yang mungkin saja akan Duchess katakan tentangku. Namun, beliau tetap diam seribu bahasa.

Tebakanku, sebenarnya Duchrss Rinia belum sepenuhnya menerima kehadiranku. Namun, demi kesembuhan suaminya, dia rela menyembunyikan emosinya saat ini.

Kulihat, Ayah tampak menatap lama istrinya, sebelum akhirnya tersenyum. Apa Ayah juga memikirkan hal yang sama denganku tentang Duchess?

Ayah tersenyum, lalu berkata, “Setelah makan malam ini, aku ingin menunjukkan sesuatu pada kalian semua.”

“Apa Ayah?” tanya Cass. Namun, Ayah tidak menjawab pertanyaan tersebut. “Nanti akan Ayah beritahu. Untuk sekarang, mari kita makan malam.”

***

Selesai makan malam, Ayah mengajak kami semua untuk pergi ke suatu ruangan yang berada di lantai satu. Ayah menggerakkan kursi rodanya dengan lihai, meskipun harus sedikit dibantu ketika menuruni landasan tangga. Beberapa kali, kami berpapasan dengan para pelayan, yang langsung menundukkan kepala begitu melihat Ayah lewat. Cahaya ruangan telah digantikan oleh lilin-lilin yang lebih temaram. Hingga akhirnya, kami tiba di sebuah ruangan.

Ini adalah ruang kerja Ayah. Jarang sekali ada yang masuk ke sini, sekalipun itu Duchess, istrinya. Pekerjaan Ayah saat ini adalah memimpin kota Valcke sebagai wilayah kekuasaan keluarga ini, dan juga beberapa kota kecil di sekitarnya. Selayaknya seorang duke, Ayah mengatur pengeluaran dan pendapatan dari pajak, kesejahteraan masyarakat sosial, infrastruktur dan fasilitas.

Jabatan seorang duke mirip seperti gubernur kalau di dunia asalku dulu, hanya dengan sedikit perbedaan. Duke berhak mengatur tanah wilayahnya dan kota-kota yang menjadi kekuasaannya dengan peraturan yang dibuatnya sendiri, seperti daerah khusus.

Ayah mengajak kami memasuki ruangan. Tampak beberapa sofa dan meja kopi ada di dekat rak buku besar. Buku-buku tersebut berjejer rapi dan setiap judulnya memiliki seri yang lengkap. Koleksi bukunya lebih banyak dari pada yang dimiliki Paman Krish dan Bibi Edma di desa. Ada dua buah meja tulis, tempat Ayah dan sekretarisnya, Baron Bishon, bekerja. Kedua meja tulis itu membelakangi jendela besar yang langsung menghadap ke arah taman milik Duchess.

Cass langsung berlari ke arah sofa dan merasakan empuknya benda tersebut yang dilapisi oleh beludru. Theo mendekati rak buku dan melihat-lihat koleksi Ayah. Duchess mendorong kursi roda Ayah menuju meja tulisnya, sedangkan aku mengikuti Theo untuk melihat-lihat buku apa saja yang ada di sana.

Ayah meminta seorang pelayan menutup pintu dan berpesan pada pengawal untuk menjaganya dari luar. Saat ini, hanya ada Ayah, Duchess, Theo, Cass, dan aku yang tertinggal di ruangan.

Ayah menghela napas, lalu memandangi kami satu per satu. Kemudian, dia berakhir menatap Duchess Rinia dan berkata, “Ada yang ingin kusampaikan padamu, yang seharusnya kukatakan sejak dulu, ketika Alissa baru tiba di rumah ini.”

“Ada apa suamiku? Kenapa wajahmu jadi serius seperti itu?” tanya sang nyonya rumah.

Ayah menjalankan kursi rodanya ke balik meja tulis miliknya. Beliau menarik sebuah laci, seperti mencari sesuatu di sana. Tak lama, Duke Valcke itu mengeluarkan beberapa lembar kertas linen yang tampak kecokelatan. Beliau menyerahkan kertas-kertas tersebut pada istrinya.

“Bacalah surat ini. Semua lembaran ini akan menjelaskan siapa Alissa sebenarnya.”

Hmmm? Bukankah Alissa yang kurasuki tubuhnya ini adalah putri ilegal Duke Valcke? Memangnya ada identitas lain dari Alissa Valcke?

Ini … dunia novel yang kutulis sendiri, bukan?

Duchess Rinia membaca lembaran-lembarn kertas tersebut. Aku jadi penasaran, surat dari siapa itu? Siapa identitas Alissa yang sebenarnya?

Sepertinya, Theo juga penasaran. Dia menunggu ibunya selesai membaca dengan tidak sabar, sedangkan Cass lebih asyik bermain sendiri di sofa.

Tak lama, Duchess Rinia menitikkan air mata. Belaiu menatap tajam pada suaminya dan berteriak, “Kenapa kamu tidak pernah menceritakannya padaku!”

“Kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Padahal sudah kukatakan dengan jelas di awal, kalau aku tidak pernah berselingkuh.” Duke Valcke berusaha menjelaskan.

“Ayah, sebenarnya ada apa? Ibu, aku juga ingin membacanya!” Theo berusaha meraih surat tersebut dari tangan ibunya. Duchess menyerahkannya pada Theo, kemudian dia berlari ke arahku dan memelukku erat.

“Maaf … maafkan aku, selama ini aku telah salah paham padamu. Maaf … .”

Aku jelas tidak mengerti apa maksud ucapan mereka semua. Jelas-jelas aku yang menulis cerita ini? Atau … sebenarnya dunia ini hanya mirip saja dengan setting "Ksatria Lucius", tetapi sebenarnya merupakan dunia yang sama sekali berbeda?

Aku melihat Theo membaca kertas-kertas dari Ayah secara cepat. Nafasnya terdengar memburu. Cass lama-lama penasaran, dia pun mendekati Theo dan merengek ingin ikut membaca apa isi surat tersebut.

“Ayah, ada apa sebenarnya?” Akhirnya aku bertanya karena penasaran. Ayah terlihat menghela napas. Kemudian, beliau mendekatiku.

“Aku … anak ayah, kan?” tanyaku ragu. “Atau sebenarnya bukan …?”

“Alissa, kamu adalah anakku,” ucap Ayah sambil tersenyum. “Kamu adalah anak angkatku sekarang.”

“Anak angkat …?”

“Benar, Nak. Sebenarnya, kamu adalah keponakanku. Sepupu dari Theo dan Cass.” ucap Ayah lagi. “Ayahmu menitipkanmu padaku, tepat sebelum dia tiada.”

Kemudian, Ayah bercerita tentang masa lalu. Dahulu, kakek nenek Theo dan Cass adalah orang yang keras dalam mendidik anak-anaknya. Bagi mereka, Alfred Valcke adalah orang yang bisa dibanggakan karena selelu pintar dalam segala hal, seperti putranya saat ini, yakni Theo. Sebaliknya, putra kedua bernama Simon Valcke adalah orang yang selalu ingin bersenang-senang.

Simon tidak pernah menganggap serius pada apa pun pelajaran sekolah yang dia terima. Akan tetapi, dia punya banyak teman dan sering bergaul dengan rakyat biasa. Hingga suatu hari, Simon jatuh cinta pada seorang gadis desa bernama Eloise.

Mereka berdua memadu kasih. Kabar itu terdengar oleh Tuan Valcke saat itu. Simon melakukan hal nekat, dia kawin lari dengan Eloise sampai ke ujung negeri. Ironisnya adalah, setahun setelah mereka menikah tanpa restu, Simon meninggal karena penyakit lamadur, tanpa dirinya mengetahui bahwa istrinya sedang mengandung.

Simon dan Eloise tinggal di sebuah pondok di hutan, demi menghindari kejaran pasukan Valcke. Setelah Simon meninggal, Eloise berjuang memenuhi kebutuhannya sehari-hari sendirian, sampai akhirnya bertemu dengan warga dari desa terdekat yang baik hati bernama Edma. Mereka berdua akhirnya berteman dekat dan tinggal satu atap, hingga Eloise menghembuskan napas terakhir saat melahirkan bayinya.

“Aku selalu mencari keberadaan adikku, Simon. Meskipun kami selalu dibanding-bandingkan sejak kecil oleh orang tua, kami tidak pernah saling membenci. Aku bahkan selalu mengagumi Simon yang mudah bergaul. Setahun setelah Simon pergi, sebuah surat datang padaku dari adikku itu.”

Ayah menunjuk surat dari Simon, yang ada di tangan Theo sekarang. Theo memberikan surat itu padaku usia dia membacanya. Surat ini dari Simon, ayahku, untuk Alfred Valcke, yang sebenarnya adalah pamanku.

***

Terpopuler

Comments

eva

eva

begitu ternyata...

2022-05-17

1

Poetrie Cahya

Poetrie Cahya

Ternyata Alissa anak yatim piatu😭

Simon& Eloise punya kekuatan yg hebat jugakah dulu? Makanya anaknya hebat kaya Alissa

2022-05-17

1

Desilia Chisfia Lina

Desilia Chisfia Lina

oh ternyata alissa bukan anak kandung dari duck valket dia ternyata keponakannya

2022-05-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!