Bab 16. Lamadur

“Ayah! Ada apa?” tanyaku panik. Ayah benar-benar tidak bergerak. Para pengawal yang sedari tadi mengikuti di belakang mulai mendekat.

“Ayah tidak apa-apa, Alissa. Mungin hanya kelelahan,” jawab Ayah sambil tersenyum. Akan tetapi, Ayah tetap bergeming dari tempatnya. Beliau tampak kesulitan menopang tubuhnya sendiri.

“Tuan, Anda bisa berdiri?” Salah satu pengawal mulai khawatir.

“Bantu aku berdiri," perintah Ayah. Namun, meskipun sudah dibantu oleh pengawal, Ayah tetap jatuh bersimpuh.

Apa ini … jangan-jangan, kejadian itu akan terjadi hari ini?

“Kak Theo! Kak Cass!” panggilku pada kedua kakak laki-laki yang sudah berada agak jauh di depan. Syukurlah, Theo menoleh di antara keramaian. Theo segera berlari kembali ke tempatku. Cass mengikutinya dari belakang.

“Ayah! Apa yang terjadi?!” tanya Theo. Jawaban Ayah pun tetap sama.

“Theo, Cass, Ayah minta maaf, tapi kita harus membatalkan acara jalan-jalan hari ini, ya,” pinta Ayah.

Cass langsung terbelalak. “Kenapa? Ayah sakit?”

“Ayah hanya kelelahan saja, Cass. Theo, ajak adik-adikmu ke kabin kereta kuda, ya. Ayah akan dibantu pengawal untuk berjalan menyusul kalian.”

“Baik, Ayah!” sahut Theo. Dia segera menggandeng tanganku dan Cass untuk pergi ke tempat kereta kuda kami diparkirkan.

Akan tetapi, hal yang lebih mengejutkan terjadi. Ayah pingsan dalam bopongan sang pengawal.

“Ayah!”

***

Sesampainya di rumah, Ayah segera digotong oleh para pengawal menuju ke kamarnya di lantai dua. Semuanya terjadi seolah begitu cepat di mataku. Duchess Rinia sibuk memanggil dokter ketika melihat suaminya pingsan seperti itu.

Theo, aku, dan Cass menunggu di luar pintu kamar Ayah. Dokter sudah masuk ke dalam dan memeriksa. Pintu kamar sang duke dijaga oleh dua orang pengawal di sisi kanan dan kiri. Cass berjalan mondar-mandir di depan pintu. Dia tampak cemas juga, meskipun acara jalan-jalan favoritnya batal.

Apa mungkin, penyakit itu datang pada Duke Valcke hari ini?

Dalam cerita "Ksatria Lucius", aku menuliskan kalau Duke Valcke akan meninggal dunia ketika Alissa berusia tujuh tahun karena sebuah penyakit. Setelahnya, hidup Alissa semakin tersiksa dalam kediaman Valcke, karena tidak ada lagi orang yang bisa membelanya di sana.

Penyakit yang diderita Duke Valcke itu memang mulai muncul gejala awalnya di saat Alissa berusia enam tahun, tetapi aku tidak menuliskan persisnya kapan. Hal terpenting adalah, bahwa kematian Duke Valcke merupakan poin penting dalam alur kehidupan Alissa.

Tentunya, sekarang sudah banyak yang berubah. Selain Duke Valcke, aku sebagai Alissa juga punya Theo dan Cass yang sudah bersikap baik. Ditambah lagi, ada Dea yang bisa kuminta melakukan ini dan itu. Alissa Valcke yang sekarang tidak kesepian dan tersiksa lagi seperti dulu.

Sang dokter keluar dari kamar Ayah, bersama dengan hewan mistis miliknya yang berbentuk kelinci putih berbulu lebat. Aku menduga, bahwa kelinci itu memiliki elemen cahaya, sama seperti Kyu. Para pemilik hewan mistis berelemen cahaya memang banyak yang menempuh pekerjaan sebagai dokter.

Biasanya, setelah seorang dokter memeriksa penyakit yang diderita pasien menggunakan ilmu medis, dokter tersebut akan meminta hewan mistisnya untuk mulai mengobati secara rinci pada bagian tubuh yang sakit. Begitulah cara kerja dokter di dunia ini.

Theo segera menghampiri pria tersebut. “Bagaimana keadaan Ayah, Dok?” tanya anak lelaki berusia sebelas tahun itu.

Sang dokter tersenyum dan menanggapinya. “Semuanya akan baik-baik saja, Tuan Muda.”

Aku tahu dokter itu berbohong. Aku yang menciptakan penyakitnya, aku pula yang memberikan penyakit itu pada Duke Valcke.

Theo sendiri pun tampak tidak percaya. “Apa Ayah terkena penyakit lamadur?

Anak itu memang pintar. Dokter tersentak oleh pertanyaan Theo.

Sang putra sulung terus menekan.” Katakan sejujurnya, karena aku adalah penerus Ayahku, penerus keluarga Valcke! Aku berhak tahu apa yang terjadi, meski aku tahu aku belum dewasa!”

Dokter tersenyum lemah. Mungkin dia merasa tidak etis untuk memberitahukan penyakit sebesar itu pada seorang anak kecil. Akan tetapi, Theo sendiri benar. Dia adalah pengganti Duke Valcke bila ada seuatu terjadi pada beliau. Theo harus bisa menggantikan ayahnya di situasi sedarurat apa pun.

“Kalian bertiga yang tabah, ya. Saya akan terus berkunjung kemari untuk mengecek kondisi beliau,” ucap sang dokter, sebelum akhirnya dia pergi dari hadapan kami.

“Kak, lamadur itu apa?” tanya Cass dengan polosnya. Di usianya yang masih delapan tahun itu, dia belum mengerti nama penyakit mematikan tersebut.

Theo memandang ke arah adiknya, lalu mengelus kepala Cass. Suatu pemandangan langka. Theo tidak pernah seperti itu sebelumnya. Cass pun menyadari ada yang aneh dengan kakaknya itu.

“Kak Theo kenapa??”

“Cass, Ayah sedang sakit keras. Kamu jangan nakal, ya, supaya Ayah tidak banyak pikiran.” Theo berkata dengan nada yang tidak biasa. Kali ini, kelembutan dan kesedihan terdengar dari suaranya, bukan galak ataupun ketus seperti hari-hari sebelumnya.

Lamadur adalah penyakit yang menyerang organ dalam tubuh, terutama tulang. Gejala awalnya, pasien akan mengalami pegal-pegal di sendi-sendi tubuhnya. Kemudian, berlanjut pada kelumpuhan sementara pada salah satu anggota tubuh, entah itu lengan atau kaki. Selanjutnya, pasien akan diserang lumpuh permanen, hingga saluran pernapasannya terserang. Pada akhirnya, pasien akan meninggal dunia karena kesulitan bernapas.

Penyakit lamadur ini begitu kuat. Hanya sihir cahaya tingkat tinggi yang mampu mengalahkan penyakit tersebut. Akan tetapi, pemilik hewan mistis berelemen cahaya cukup jarang di dunia ini. Bila ingin Duke Valcke selamat dari penyakitnya, maka beliau harus dibawa ke salah satu kuil yang berada di kerajaan lain. Sihir cahaya tertinggi hanya dimiliki oleh pendeta yang menetap di kuil tersebut.

Apakah lamadur adalah penyakit yang benar-benar ada dari bumi? Tidak, aku hanya mengarang saja. Aku tidak melakukan riset mendalam mengenai berbagai macam penyakit kelumpuhan sebenarnya. Aku hanya menuliskan kalau sang duke mengalami lumpuh hingga tidak dapat diobati, itu saja. Aku tidak menyangka kalau aku akan menjadi Alissa yang harus kehilangan ayahnya seperti ini.

Kali ini, dengan kekuatan Kyu, aku pasti bisa menyembuhkan Duke Valcke. Sihirku mungkin belum setinggi para pendeta di kuil kerajaan sebelah itu. Akan tetapi, aku sudah bisa transformasi meski hanya sedikit. Aku hanya perlu terus melatih ilmuku sambil tetap mengobati Ayah sampai sembuh.

Aku berjanji, aku juga akan mengubah takdir Alissa Valcke agar tidak kehilangan ayahnya.

Untuk mengobati Ayah, aku harus memancarkan sihir Kyu pada beliau dari dekat. Aku harus sering-sering berkunjung ke kamarnya, ketika orang lain sedang tidak berada di sana. Hal itu harus kulakukan agar keberadaan Kyu tetap menjadi rahasia.

Duchess Rinia keluar dari kamar suaminya. Dia melemparkan pandangan pada Theo dan Cass, lalu melewatkannya untukku, seperti biasa.

Duchess Rinia memanggil si pengawal yang sedari tadi tampak bersiaga di depan kamar.

“Kau harus selalu berjaga di depan kamar ini. Jangan sampai siapa pun yang bukan anggota keluarga atau pelayan yang kutugaskan masuk ke kamar ini seenaknya. Apa kau mengerti?”

“Siap laksanakan, Nyonya!” sahut si pengawal.

Apa?! Selain anggota keluarga … itu berarti … .

Untuk pertama kalinya, Duchess Rinia menatap ke arahku. Pertama kalinya, semenjak setahun lebih aku tinggal di rumah ini, dia menyadari kehadiranku.

Rupanya, dalam perintah yang beliau berikan pada si pengawal itu, secara tidak langsung dia melarangku untuk masuk ke dalam kamar Ayah sama sekali.

***

Terpopuler

Comments

SoVay

SoVay

vote, bunga dan komen meluncur

2022-05-16

0

eva

eva

terrbaaaiiikkkk... mantap jiwa Thor... thank youuuuuuuuu

2022-05-11

1

Risfa

Risfa

di tunggu up cerita nya thor

2022-05-10

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!