Bab 14. Theo

Aku tersenyum pada kakak tiriku itu. Kukunci pintu kamar dan kupersilakan dia duduk bersila di hadapanku.

"Bayangkan, kalau di dalam diri Kak Theo ada bola mana yang harus saling berkumpul membentuk gumpalan besar." Aku menjelaskan dengan kata-kata yang sangat mudah dimengerti, caraku mendapatkan Kyu dua tahun lalu.

Theo adalah anak yang pada dasarnya sudah berbakat dan pintar. Dia langsung memahami instruksi singkatku dan berkonsentrasi melakukan yang kuminta. Theo memejamkan mata dan duduk dengan kedua tangan menyatu di depan dada.

"Aku akan mengalirkan mana-ku ke dalam diri Kakak, bersiaplah, ya," kataku lagi. Theo mengangguk. Aku pun berdiri di belakangnya. Kusentuh punggung anak lelaki tersebut dengan kedua tangan. Aku pun berkonsentrasi dan memejamkan mata.

Kurasakan mana mengalir dari dalam diriku menuju diri Theo melalui kedua tanganku. Aku dapat melihatnya jelas dengan mata yang tertutup, gumpalan mana Theo cukup besar. Dalam cerita "Ksatria Lucius", Theo dapat melakukan summon di usia kesebelas. Itu berarti saat usia sepuluh tahun ini, dia sudah memiliki cukup mana untuk melakukan summon. Aku hanya perlu mempersingkat waktu satu tahun saja, dengan membuat gumpalan mana tersebut sedikit lebih besar lagi.

Setengah jam kualirkan manaku pada Theo. Hingga akhirnya aku kelelahan, dan latihan berhenti sampai di sana.

"Besok malam datanglah lagi *haah* *haahh*, kita akan berlatih hal yang sama sampai Kakak bisa melakukan summon," ucapku sambil terengah-engah.

"Kamu ... kelelahan melakukan semua itu?" tanya Theo, dia memandangku sembari mengernyitkan dahi.

"Tidak apa-apa. Sudahlah, aku ingin beristirahat. Selamat malam."

Theo mengangguk dan keluar dari kamarku. Aku langsung menjatuhkan diri ke atas kasur dan memejamkan mata.

***

Keesokan malamnya, Theo datang lebih cepat dari sebelumnya. Dia bahkan sempat melihatku yang belum menghabiskan makan malamku di kamar.

"Hai," sapanya singkat. Dia masih saja canggung padaku.

"Duduklah," ucapku seraya menunjuk kursi di seberangku. Theo menghampiri tempat duduk tersebut sambil menatap apa yang sedang kumakan di hadapannya.

"Itu ... roti sosis dan susu saja?" tanya Theo. Seolah tidak percaya pada apa yang dia lihat.

"Iya, memangnya kenapa?" Aku balik bertanya tak mengerti.

"Kenapa kau tidak makan daging? Padahal tadi di ruang makan---"

"Aku, kan, tidak ikut kalian makan bersama," jawabku menyela perkataannya.

Memang sejak awal, aku tidak bisa menikmati kegiatan keluarga seperti makan bersama di meja makan. Ayah pernah mencoba mengajakku makan malam pertama kali dengan para anggota keluarga Valcke, lalu hasilnya adalah tak ada satu pun yang muncul di ruangan. Nyonya Rinia, Theo, dan Cass memilih untuk menghindariku. Mereka bertiga makan di kamar masing-masing. Sejak saat itu, aku mengalah dan tidak pernah ikut acara makan malam lagi.

"Tapi, kamu, kan, tetap bisa memakan daging," sahut Theo.

Aku tersenyum. "Tentu saja aku sungkan untuk melakukkannya. Jadi, aku makan apa pun yang Dea bawakan untukku."

Theo tidak menjawab lagi setelahnya. Dia seperti sedang berpikir.

Kemudian, seperti malam sebelumnya, aku membantu Theo mengumpulkan partikel mana sihir dalam tubuhnya. Kalau diperkirakan, bila rutin seperti ini, Theo sudah bisa summon dalam waktu dua minggu saja.

"Kenapa ... kamu mau melakukan ini untukku?" tanya Theo, ketika di baru saja beranjak bangun dari duduk bersilanya di karpet. Ritual kami sudah selesai. Dia bertanya begitu sebelum mencapai pintu keluar.

Karena aku ingin menguasai dirimu, tentu saja. Akan tetapi, tidak mungkin kukatakan hal tersebut secara terang-terangan.

"Anggap saja balas budi, karena Kakak sudah mengizinkanku tinggal di rumah ini, meskipun membenciku," jawabku sambil tersenyum. Aku suka sekali dengan kalimat yang kuutarakan barusan. Terdengar sangat bijaksana, hehehe.

Aku berharap, semoga saja nanti saat Pangeran Rion tiba untuk meminangku di masa depan, Theo dan Cass bisa mempertahankan diriku. Aku butuh mereka berdua sebagai tameng. Akan lebih baik lagi, kalau pernikahan itu batal terjadi dengan bantuan kedua kakak tiriku itu.

Theo menatapku lekat setelah jawabanku barusan. Tanpa banyak bicara, dia pun meninggalkan kamar.

***

Keesokan paginya, sesuatu yang berbeda terjadi. Biasanya, isi sarapanku hanya terdiri dari roti dan segelas susu. Kali ini, ada tambahan berupa telur, kentang goreng, dan salad.

"Ada apa ini? Tumben sekali makananku bertambah banyak!"

Tentu saja aku sangat senang dapat makanan tambahan, meskipun yang kuterima bukanlah nasi. Namun, lebih baik dari pada roti dan susu yang sama setiap hari. Aku menyesal tidak menuliskan variasi makanan khas Indonesia seperti nasi goreng atau rendang di dunia novel ini.

"Oh, itu Tuan Muda Theo yang menitipkan pesan padaku, supaya makanan Nona disamakan porsinya dengan yang disajikan di ruang makan," jelas Dea.

"Apa? Benarkah? Theo yang mengatakan hal itu?!" tanyaku tak percaya. Dea mengangguk.

Theo si karakter kakak tiri yang dingin itu sudah mulai berubah! Dia mulai peduli pada Alissa Valcke! Terharu rasanya, anak fiksiku sudah mulai dewasa, huhuhu.

Tidak sia-sia aku melambat-lambatkan makanku tadi malam. Cara makanku itu selalu cepat. Bahkan Mas Dion saja menyadari kalau aku sering tidak mengunyah suapanku dan langsung menelannya. Mas Dion berkali-kali mengingatkan kalau itu tidak baik bagi usus. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, karya-karya ongoing-ku menunggu untuk diketik segera. Aku terbiasa makan cepat setelah mulai sibuk oleh kegiatan menulisku.

Namun, semalam aku sengaja melambatkan gerakan menyuapku, supaya saat Theo datang, dia melihat porsi makanku yang sedikit. Aku ingin melihat apakah dia sudah mulai merasa punya hutang budi padaku setelah aku membantunya. Jawabannya ada pada piringku saat ini.

Kunikmati sarapanku hari ini, dengan senyum kebanggaan. Aku bangga pada otakku.

***

Memang Theo adalah anak berbakat. Tadinya aku mengira, akan memakan waktu dua minggu bagi Theo untuk bisa melakukan summon. Ternyata, dalam kurun waktu kurang dari tujuh hari, lingkaran mantra itu telah muncul di hadapannya.

"Kakak, lihat! Lingkaran mantra sudah muncul!" pekikku. Theo membuka mata dari semedinya. Dia terbelalak tak percaya saat melihat lingkaran bercahaya di hadapannya.

"A-aku ... bisa summon ...?" tanya Theo tak percaya. Aku mengangguk cepat.

"Ucapkan mantranya, Kak!"

Seperti yang kulakukan satu tahun lalu, Theo mengucapkan mantra. Kemudian, seekor hewan mistis melompat dari dalam lubang hitam yang berada di tengah-tengah lingkaran tersebut. Hewan tersebut mirip anak harimau dengan bulu berwarna merah loreng hitam. Ada kobaran api di ujung ekor, menunjukkan elemen yang dimilikinya.

"Ini hewan mistisku sendiri ... ." Theo masih saja menatap tak percaya. Anak harimau merah itu menghampiri kaki kakak tiriku itu dan berjalan berkeliling sambil mengelus.

"Selamat, Kak!"

Kemudian, Theo melakukan ritual kontrak pada hewan tersebut dan memberinya nama. Dengan begitu, tugasku usai sudah dalam membantu Theo bisa summon lebih awal dari seharusnya.

"Terima kasih ... ."

Aku hampir saja melonjak tak percaya, ketika Theo mengucapkan terima kasih. Untuk pertama kalinya, Theo mengukir senyum di wajahnya untukku. Anak fiksiku memang tampan-tampan semua. Masih kecil saja sudah bisa memikat hati begini, apalagi nanti kalau sudah dewasa? Aku pasti sudah jatuh cinta kalau saja dia bukan karakter ciptaanku!

Keesokan harinya, aku kembali lagi dikerjai oleh Cass. Kali ini, dia merajuk karena aku tidak juga memberinya permen cokelat tambahan.

"Kakak! Jangan iseng begitu!" teriakku, ketika di rambutku ada lumpur yang menempel karena diusap oleh tangan Cass yang kotor.

"Kan aku sudah bilang, kalau aku mau cokelatnya lagi!" jawab anak kecil itu tak mau kalah.

Inilah akibatnya kalau terlalu sering diberi carrot alias hadiah, malah melunjak. Cass harus sesekali diberi hukuman atau stick supaya tahu diri.

Cass menertawai rambutku yang kotor. Ingin sekali aku membalasnya menggunakan kekuatan Kyu. Akan tetapi, aku menahan diri. Saat ini, tidak boleh ada yang tahu kalau aku sudah bisa summon, selain Theo dan Dea.

Tiba-tiba, dari arah depan Cass, ada kobaran api mencuat dari atas tanah. Putra kedua Valcke itu begitu terkejut hingga loncat ke belakang. Kobaran api sihir tidak mungkin tiba-tiba saja muncul kecuali ada yang mengeluarkannya. Aku mencari ke sekitar. Theo tampak berjalan dari arah area latihan menuju Cass.

"Kak Theo! Apa-apaan, sih! Kakak ingin membakarku! Mentang-mentang sudah punya hewan mistis!" protes Cass tidak terima. Dia tidak tahu kalau hewan mistis Theo ada berkat diriku.

"Kamu bolos lagi latihan pedang. Ayo!" ajak Theo sambil menarik tangan adiknya itu.

"Tapi, aku masih ada urusan dengan si kucing liar itu!" jawab Cass meronta-ronta.

Akan tetapi, Theo tidak memedulikannya. Dia hanya menoleh sebentar ke arahku, lalu ke arah Cass.

"Jangan suka mengganggu Alissa," katanya.

Pertama kalinya, Theo menyebut nama Alissa, bukan dengan sebutan hewan kotor seperti biasanya.

Theo mulai menganggapku ada.

***

...\=\= IG @author_ryby \=\=...

...\=\= Telegram @author_ryby \=\=...

Terpopuler

Comments

AdindaRa

AdindaRa

Lanjuuut lagi kaak. 😍😍😍

2022-05-09

2

SoVay

SoVay

mana kelanjutannya thor

2022-05-09

1

Hasan

Hasan

hadirrr

2022-05-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!