Bab 13. Ego

"Apa yang kamu lakukan!" Theo menepis kasar tanganku, membuatku tersungkur di hadapannya.

Akan tetapi, aku tidak menyerah. Kembali bangkit, aku masih berusaha untuk menarik lengannya.

"Ikut denganku, Kak! Aku akan membuatmu berhenti murung seperti itu!"

"Tahu apa kamu soal masalahku!" teriak Theo berang. Dia berdiri dan menepis tanganku lagi.

"Itu tidak penting! Ayo ikut denganku ke kamar sekarang!"

Theo masih saja tidak bergeming dari tempatnya. Dahinya mengernyit ke arahku. Aku mendengkus. Susah sekali, sih, membujuk bocah ini! Yah, paling tidak, sekarang dia menatapku lebih dari tiga detik.

"Begini saja," kataku, hendak membuat sebuah kesepakatan, "ikut dulu ke kamarku sebentar. Aku ingin menunjukkan sesuatu. Kalau Kak Theo tetap tidak suka, Kakak boleh pergi setelahnya dan melupakan semua. Oke?"

Theo tampak menimbang-nimbang keputusan, sebelum akhirnya dia mengangguk, "... Baiklah."

Aku segera berjalan ke kamarku di lantai dua. Theo mengikuti langkah kaki kecilku dari belakang. Para pelayan yang berpapasan dengan kami mulai menunjukkan keheranan. Tidak biasanya sang Tuan Muda Theo ini mau berjalan bersamaku, seseorang yang tidak pernah dia anggap ada.

Sesampainya di depan kamar, tampak Dea berdiri siaga di dekat pintu. Gadis itu rupanya telah memakai sepasang anting ruby yang kuberikan.

"Ah, Nona Alissa!" sapa Dea. Dia tampak tersipu malu, hendak memamerkan anting barunya itu.

"Oh, kamu sudah memakainya?" tanyaku. Dia menatapku dan mengangguk senang. Raut wajahnya sudah tidak lagi ketakutan seperti biasa. Kali ini, dia memandangku penuh harap, agar aku memberinya tugas-tugas rahasia lagi. Dia ingin supaya aku memberinya hadiah seperti anting ruby itu lagi.

"Terlihat cantik di telingamu," ucapku.

"Terima kasih, Nona! Oh, maaf, aku tidak menyadari kalau Tuan Muda ada di sini." Dea langsung berubah kikuk. "Selamat siang, Tuan!"

Theo hanya membalas dengan anggukan singkat. Aku mengalihkan pandangan pada Dea. "Kamu berjagalah di sini, ya! Jangan biarkan ada seorang pun yang masuk. Mengerti?"

Dea mengangguk paham. Aku segera membawa Theo masuk ke kamar. Begitu kami berdua berada di dalam, aku mengunci pintu dan jendela, serta menurunkan gorden yang terbuka.

"Mau apa kamu melakukan semua itu!" teriak Theo. Dia terkejut ketika kamarku berubah menjadi gelap meski di luar masih siang. Setelah memastikan gorden tertutup rapat, aku baru menjelaskan, "Supaya tidak ada yang mengintip dari luar."

"Memangnya apa yang akan kau---"

*sringgg!*

Aku menatap Theo lekat-lekat. Di sebelahku, muncul lingkaran mantra melayang di udara. Tentu saja, setelahnya Kyu melompat keluar, dengan tubuh yang bersinar menerangi kamar.

"I-itu ... hewan mistis?!!"

Theo melangkah mundur. Dari raut wajahnya, tersirat rasa tidak percaya yang begitu besar. Dia terus mundur hingga tak menyadari ada karpet tebal di belakang, sampai anak lelaki itu jatuh terduduk. Sementara itu, Kyu berjalan di depannya perlahan, sambil menggoyang-goyang ekor ungunya, ke kanan dan kiri.

"Kyu!" Hewan mistisku menyapaku ramah, lalu melompat ke pelukan. Tubuhnya hampir sebesar diriku sekarang.

"Kyu, ini namanya Kak Theo. Ayo beri salam!" Kutunjuk Theo, lalu Kyu pun mengangguk. Hewan ungu itu melompat dari pelukanku, menuju Theo yang masih duduk terbelalak.

"Kyu!"

Secara cepat, Kyu melompat ke arah Theo. Tangan si tuan muda itu bergerak menangkap tubuh hewan mistis itu. Theo mengangkat Kyu ke depan mata dan memperhatikannya saksama.

"Itu hewan mistisku," kataku, memperjelas situasi sebelum Theo menanyakannya. Theo memandangku dari balik tubuh Kyu.

"Kamu sudah bisa summon ... ?" tanya Theo ragu-ragu. Aku mengangguk.

"Kelihatannya Kak Theo masih tidak menyangka aku sudah bisa summon, ya? Tidak masalah, aku menunjukkan Kyu bukan karena ingin dapat pengakuan dari Kakak. Aku tahu, Kak Theo sedang mengalami kesulitan untuk bisa summon supaya bisa mengalahkan Leon Hast."

"Dari mana kamu tahu!" seru Theo geram. Kyu sampai kaget, lompat dari tangan Theo dan lari ke arahku.

"Gosip menyebar cepat, Kak. Tidak penting aku tahu dari siapa. Bukan itu yang aku ingin katakan."

"Lalu, apa maumu?" tanya Theo. Aku menghela napas.

"Aku tahu cara supaya Kak Theo bisa summon lebih cepat dari seharusnya. Aku akan membantu Kakak melakukannya.

"Kamu? Membantuku? Mana mungkin!" Theo mendengkus, mengejekku.

"Terserah kalau Kak Theo tidak percaya. Tapi, apa Kakak pernah melihat ada anak lain usia lima tahun yang sudah bisa summon sepertiku ini?"

Theo terdiam. Tentu saja dia tidak bisa menjawab pertanyaanku itu.

"Aku hanya menawarkan bantuan. Kalau Kakak bersedia, datanglah kemari setelah makan malam, setiap hari. Tapi kalau Kakak masih bersikeras tidak mau belajar hanya karena aku hewan kotor seperti yang sering Kakak bilang, silakan saja. Aku tidak akan memaksa."

Theo keluar dari kamarku. Aku tahu dia merasa bimbang dari raut wajahnya. Theo adalah karakter yang memiliki harga diri tinggi. Saat ini, dia pasti sedang bertarung dengan dirinya sendiri, mau menerima pelajaran dariku yang tidak jelas asal-usulnya, atau tetap pada gengsinya itu.

Tentunya, aku ingin dia belajar summon dariku, supaya dia merasa punya hutang budi padaku. Kupikir, yang tadi kulakukan itu sudah cukup. Memiliki tanggung jawab besar sebagai Ketua Organisasi Siswa, dia pasti akan melakukan segala cara supaya dapat melakukan tanggung jawabnya dengan baik. Hanya saja, aku perlu sesuatu yang dapat menjamin kalau Theo akan pergi ke kamarku malam ini.

Kubuka pintu kamar. Tampak Dea masih berada di sana. Dia setia berdiri menungguku memberi tugas baru. Lalu, aku berbisik padanya. Setelahnya, pelayanku yang penurut itu bergegas pergi sesuai perintah. Aku hanya tinggal menunggu hasilnya saja di kamar.

Dalam satu jam, Dea datang membawa laporan yang memuaskan.

Apa yang kuminta pada Dea? Tidak banyak, aku hanya menyuruhnya untuk menyebar berita kalau Theo kalah melawan Leon Hast di sekolah, karena Leon telah memiliki hewan summon. Selama ini, hanya para pelayan pribadi Leon saja yang mengetahui fakta tersebut. Kini, aku harus memastikan seisi mansion ini membicarakannya. Hal yang terpenting adalah, bila rumor tersebut sampai ke telinga Duchess Rinia.

Duchess Rinia adalah orang yang sangat memerhatikan kesejahteraan anak-anaknya. Dia sangat telaten mengurus hal-hal tentang Theo dan Cass baik dari segi makanan sampai pelajaran sekolah. Tentunya, bila mendengar Theo tidak bisa melaksanakan tugas Ketua Organisasinya dengan baik, Duchess Rinia akan sangat mencemaskannya. Theo, sebagai putra sulung yang ingin selalu bisa diandalkan, tidak akan mau menambah beban pikiran ibunya. Bila ada desakan dari sang nyonya rumah, Theo pasti mau tidak mau akan menelan egonya dan pergi ke kamarku malam ini.

Kuminta Dea menyelidiki lebih lanjut tentang tindakan Duchess Rinia. Malam pun tiba. Aku menunggu dengan tidak sabar. Pintu kamarku diketuk oleh Dea.

"Nona, barusan Nyonya sudah menyampaikan kecemasannya pada Tuan Muda!" Dea memberitahu informasi dengan antusias. Rupanya lama-kelamaan, dia jadi bisa mengikuti jalan pikiranku.

"Bagus! Kerja bagus, Dea!"

Tak sampai setengah jam kemudian, pintu kamarku diketuk lagi. Kali ini, dari seseorang yang sudah kutunggu-tunggu dari siang. Si tuan muda angkuh bernama Theo itu saat ini berdiri di ambang pintu kamar, sembari menautkan kedua tangan, menyatakan keinginannya dengan gengsi.

"Izinkan aku belajar summon darimu."

***

...\=\= IG @author_ryby \=\=...

...\=\= Telegram @author_ryby \=\=...

(Ryby: Kalau suka jangan lupa likenya ya. Vote dan sharenya juga, barangkali ada temannya yang juga suka isekai. Thanks!)

Terpopuler

Comments

SoVay

SoVay

lanjutkan thoorr

2022-05-05

2

eva

eva

terrbaaaiiikkkk 🤩

2022-05-05

1

Desilia Chisfia Lina

Desilia Chisfia Lina

akhirnya 😄😄

2022-05-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!