Bab 17. Penyembuhan

“Alissa, apa kamu tidak bisa membantu untuk menyembuhkan Ayah?” tanya Theo. Wajahnya tampak berharap sekali padaku. Aku balas menatapnya degan perasaan campur aduk. Setelah kepergian sang dokter, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku sendiri, berusaha menyusun rencana baru.

“Sihirku belum terlalu kuat, Kak, untuk penyakit sekelas lamadur,” jawabku.

“Jadi, kamu sudah tahu seberapa bahayanya lamadur?” Theo terkesiap. Aku bahkan lebih tahu tentang lamadur ketimbang Cass yang lebih tua dariku.

Aku mengangguk gugup. “Errr, itu pernah kubaca di buku, dulu waktu di desa,” jawabku, mengarang cerita. “Dari buku tersebut, aku tahu kalau penyakit Ayah hanya bisa disembuhkan oleh sihir cahaya berkekuatan tinggi yang hanya dimiliki oleh para pendeta kuil kerajaan sebelah.”

“Ya, aku juga mendengar hal itu di sekolah,” sahut Theo. “Tapi, kita tidak akan sempat untuk membawa Ayah ke sana.”

“Lalu, harus bagaimana sekarang?” tanyaku kembali.

Theo menatapku lekat-lekat. “Kamu harapan kami satu-satunya, karena kamu sudah bisa melakukan transformasi. Kamu bisa, kan, terus mengasah kemampuanmu?”

“Tapi, Kakak sendiri tadi sudah dengar, kalau Nyonya Rinia melarangku masuk ke kamar Ayah! Aku bukan bagian dari keluarga ini, seperti pernyataan beliau tadi!” seruku, mengingatkan Theo pada apa yang baru saja dikatakan ibunya padaku.

“’Nyonya’ …?” Theo kebingungan ketika ibunya, yang seharusnya menjadi ibuku juga, kupanggil Nyonya.

“Beliau tidak pernah menganggapku, Kak. Aku tidak berhak memanggilnya Ibu ….”

Theo pun terdiam mendengarkan pernyataanku. Aku menghela napas. “Kakak, aku perlu berada di dekat Ayah agar bisa menggunakan sihir Kyu. Apa Kak Theo bisa melakukan sesuatu?”

Theo tampak berpikir sejenak, lalu dia berkata, “Aku ada ide.”

***

Dua hari kemudian, saat ini aku sedang berada di tempat gelap dan sempit. Aku duduk meringkuk melipat kaki. Di sekitarku hanya ada dinding kulit hewan. Rasanya sesak dan panas, tapi aku harus bisa bertahan. Tak lama, secercah cahaya muncul dari lubang yang dibuka.

“Ayo keluar,” bisik Theo. Dia menuntunku untuk keluar dari tempat persembunyianku. Aku sudah berada di kamar Ayah. Kulihat, Duke Valcke sedang terbaring tak berdaya di tempat tidur king size miliknya. Wajahnya tampak putih pucat. Sudah dua hari semenjak festival, Ayah tak sadarkan diri. Ini termasuk gejala awal dari penyakit lamadur.

Aku kesal pada diriku sendiri. Kenapa aku menciptakan penyakit yang susah seperti ini, sih?!

“Anda baik-baik saja, Nona? Pasti rasanya tidak nyaman, bersembunyi di dalam koper seperti itu," tanya si dokter.

Aku mengangguk. “Tidak apa-apa, demi Ayah.”

Kemarin, Theo berhasil berbicara pada Dokter Veil, dokter yang menangani Ayah, dan mengajak bekerja sama untuk menyelundupkanku ke kamar kepala keluarga Valcke itu. Theo melakukannya tanpa sepengetahuan Duchess.

Pagi ini, sebelum Dokter Veil sampai di kediaman Valcke, aku berjanji bertemu dengannya di ujung jalan. Dokter Veil memintaku untuk masuk ke dalam koper besar yang terbuat dari kulit hewan, lalu membawa koper tersebut ke dalam kabin. Kemudian, Dokter Veil membawaku yang berada dalam koper, masuk ke dalam kediaman Valcke. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Sepertinya, Dokter Veil berhasil membuat Duchess percaya kalau ini hanyalah koper yang berisi peralatan biasa pada beliau.

“Apa benar, Anda sudah bisa summon hewan mistis? Bahkan sudah bisa bertransformasi??” tanya Dokter Veil tak percaya. Beliau melihatku dari ujung kepala hingga kaki. Aku masih terlalu kecil untuk bisa melakukan summon, terlebih lagi sampai bisa transformasi.

Tanpa perlu menjelaskan dengan kata-kata, aku memanggil Kyu dari dunia arwah. Sebuah lingkaran mantra muncul di sebelah tempatku berdiri. Kyu melompat dari dalam lingkaran tersebut, menuju ke pelukanku. Betapa terkejutnya Dokter Veil saat aku melakukan hal tersebut.

Sejujurnya, aku tidak ingin ada orang lain lagi yang mengetahui keberadaan Kyu, tetapi kesembuhan Ayah menjadi prioritas di sini. Demi keselamatan Alissa Valcke juga di masa depan.

“Kita tidak punya banyak waktu,” ucapku. Dokter Valcke mengangguk cepat. Aku pun segera bertransformasi dengan Kyu. Hewan mistisku itu melebur, menghilang masuk ke dalam tubuhku. Rambutku memutih seketika, mengikuti warna bulu yang ada di bagian kepala Kyu. Dengan bertransformasi seperti ini, aku jadi bisa mengeluarkan sihir langsung dari telapak tanganku.

Dokter Veil dan Theo mengeluarkan hewan mistis mereka masing-masing dari dunia arwah. Dokter Veil juga bertransformasi dengan hewan kelincinya. Kedua daun telinga dokter tersebut serta merta menjadi panjang, seperti telinga kelinci. Bila dilihat-lihat, tahapan transformasiku hampir setara dengan Dokter Veil. Wajar kalau sang dokter terkesiap melihat apa yang bisa kulakuan. Transformasi tahap awal biasanya hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa.

Sementara itu, Theo juga bersiaga di sisi Ayah. Hewan berelemn api miliknya mampu menguatkan staminaku dan Dokter Veil supaya bisa bertahan dan tidak terlalu kelelahan karena harus mengeluarkan sihir dalam waktu yang cukup lama selama sesi penyembuhan Ayah. Theo tampak mahir dan akrab dengan hewan itu sekarang, yang dia beri nama Firio. Theo berdiri di belakang punggung hewannya itu, berusaha mengalirkan mana dalam tubuhnya pada Firio agar hewan itu tetap bisa mengalirkan sihirnya pada aku dan Dokter Veil terus menerus.

Kemudian, kami bertiga memulai ritual penyembuhan. Aku dan Dokter Veil mengucapkan mantra. Dari kedua telapak tangan kami muncul pancaran cahaya. Sinarnya langsung di arahkan pad tubuh Ayah, terutama bagian kaki yang mulai pertama lumpuh. Dari kaki, berpindah ke bagian paha, tangan, punggung, sampai kepala.

Semua dilakukan secara menyeluruh. Karena aku bekerja sama dengan Dokter Veil, kami membagi tugas, masing-masing menangani sisi kanan dan kiri tubuh Duke Valcke.

***

Setelah satu jam lamanya, aku, Theo, dan Dokter Veil berhasil menyelesaikan ritual penyembuhan. Kami bertiga kelelahan. Theo bahkan sedikit ngos-ngosan karena kehabisan napas. Untuk pemula, memang berkonsentrasi pada pengaliran mana selama itu akan menguras tenaga.

Kyu dan kelinci milik Dokter Veil segera keluar dari dalam tubuh kami masing-masing. Mereka tampak baik-baik saja, meski mana dalam tubuh mereka juga menipis. Dalam transformasi, memang tubuh manusianya lah yang akan kehabisan stamina ketimbang tubuh hewannya.

“Kita cukupkan sampai di sini dulu,” ucap Dokter Veil. Dia mengambil stetoskop, menempelkannya ke dada Ayah. Kyu dan kelinci Dokter Veil telah melompat kembali ke dalam lingkaran mantra, menuju dunia arwah.

“Ritme pernapasan Duke Valcke sudah mulai membaik, tidak seperti kemarin,” ujar sang dokter, mengambil kesimpulan.

“Lalu, kapan Ayah bisa sembuh, dokter?” tanya Theo penuh harap.

Dokter Veil menerawang sejenak. “Bila lancar seperti ini terus dan dilakukan setiap hari, maka ada kemungkinan Ayahmu sudah bisa sembuh dalam enam bulan.”

Secercah harapan muncul di raut wajah Theo. Begitu pula denganku. Theo menghampiriku dan memeluk seraya berkata, “Terima kasih, Alissa!”

Aku hanya bisa terdiam menanggapi perlakuan Theo. Aku merasa senang, sekaligus juga berdosa. Aku lah yang menciptakan penyakit lamadur, apa pantas aku menerima rasa terima kasih dari Theo seperti ini?

Harusnya, aku meminta maaf padanya dan seluruh keluarga Duke Valcke, karena telah berencana meniadakan sang kepala keluarga dalam kisah novelku.

***

Terpopuler

Comments

AdindaRa

AdindaRa

Kereeen kak.. 🌹For you

2022-05-12

1

eva

eva

waaahhhh... terrbaaaiiikkkk... 😍😍😍

2022-05-12

1

Desilia Chisfia Lina

Desilia Chisfia Lina

wah kemajuan besar theo lebih menerima keberadaan alissa semoga kepala keluarga ini bisa segera sembuh

2022-05-12

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!