Bab 3. Sekali Lagi

[Cha, nanti pulangnya jangan malam-malam, ya. Banyak kejahatan akhir-akhir ini.]

^^^[Iya, Mas. Nanti abis acara Meet n Greet aku bakalan langsung pulang.]^^^

[Kamu beneran gak mau aku jemput pakai mobil aja?]

^^^[Nanti Dimas gimana? Kalaupun dia ikut, pasti udah ngantuk banget dia. Aku gak apa, naik bus aja.]^^^

[Oke, hati-hati ya, Sayang. Selalu kabarin kalau abis ngapa-ngapain. Love you.]

^^^[Love you too]^^^

Selesai berkirim pesan dengan Mas Dion, aku scroll chat lainnya. Aku mengecek barangkali ada yang belum kubuka sejak tadi siang karena sibuk mengetik update harian novel-novelku.

Rupanya sudah kubuka dan kubalas semua pengirimnya. Kebanyakan berasal dari teman-teman grup kepenulisan tempatku bergabung. Membaca obrolan mereka semua lumayan mengisi luang saat sedang berada di perjalanan dalam bus seperti ini.

Oh, ada satu yang belum kubuka. Nomor asing. Siapa ini?

[SyaDi, kok kamu gak balas-balas sih pesanku. Udah kesekian kalinya kamu block nomorku.]

Ish! Dia lagi!

Segera kublok nomor barusan. Dasar sinting!

SyaDi adalah nama penaku, gabungan dari Masya dan Dion. Pengirim chat tadi adalah salah satu pembacaku, yang sepertinya sudah hilang akal. Dia pernah menyatakan cintanya padaku, padahal jelas-jelas aku tak mengenalnya. Kami bahkan belum pernah bertemu sama sekali. Kebanyakan semua pembacaku pun tahu aku sudah bersuami, tetapi dia tetap nekat mengirimkan pesan-pesan seperti tadi!

Sudah kesekian kalinya nomor asing macam itu kublok. Biasanya mereka akan menyerah setelah aku melakukannya. Akan tetapi, ternyata fan yang satu ini cukup keras kepala. Setiap hari dia bisa mengirimiku chat dengan nomor baru, tanpa jera.

Aku sudah mengatakan hal ini pada Mas Dion. Dia sempat khawatir dan memintaku untuk tidak membalas sama sekali. Bahkan memasangi alat deteksi GPS di hapeku, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan katanya.

****

Suasana acara Meet & Greet berlangsung cukup stabil. Setelah acara seminar, kini saatnya aku duduk di depan, bersiap dengan pena untuk menandatangani novel-novelku yang telah dibeli para pembaca. Mereka mengantri di hadapanku, membawa karyaku di tangan.

"Halo!" sapaku pada seorang fan. Dia terlihat masih duduk di bangku sekolah. Raut wajahnya semringah saat melihatku dari dekat.

"Kak SyaDi, aku ngefans banget sama Kakak!" sahutnya, menjabat tanganku erat. Kemudian, dia menyerahkan novel di tangannya. Kubuka karyaku itu pada halaman pertama.

"Terima kasih, ya! Mau untuk siapa tanda tangannya?"

"Aku, Kak! Namaku Gia!" jawabnya antusias.

"Oke, " Untuk Gia, selamat membaca! Salam, SyaDi." Ini!"

"Terima kasih, Kak!" Si pembaca itu melonjak kegirangan, kemudian berlalu dari hadapanku.

Berikutnya, adalah seorang pembaca pria. Aku tidak bisa menebak usianya karena wajahnya tertutup masker dan dia memakai jaket bertudung. Tangannya terlihat cokelat dan kasar saat dia menyerahkan novel untuk kutandatangani.

Ketika aku menerima novel tersebut, tangannya menyentuh jemariku, sekitar beberapa detik. Aneh rasanya. Aku segera menarik kembali tanganku karena merasa tidak nyaman.

"U-untuk siapa?"

"Reno," jawab orang itu dengan suara yang berat dan dalam. Cepat-cepat kutandatangani buku tersebut dan mengembalikannya.

***

Setelah menandatangani puluhan buku, akhirnya acara selesai. Aku tengah bersiap untuk pulang ketika editorku, Mbak Fafa, menghampiriku.

"Mbak, acaranya sukses. Terima kasih banyak!"

"Aku yang harusnya bilang makasih, Mbak!" sahutku. "Kalau gitu, aku pulang dulu, ya."

"Mau bareng, Mbak?" tawar Mbak Fafa. Aku menggeleng.

"Enggak usah, Mbak, aku sendiri aja. Aku mau jalan-jalan dulu di sekitar Mall ini."

Usai berpamitan pada para kru, aku berjalan keluar dari tempat acara. Waktu masih menunjukkan pukul 20:30.

Ah, ada toko mainan tak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Apa aku belikan saja, ya, oleh-oleh untuk Dimas?

^^^[Mas, Dimas lagi suka mainan apa, ya?]^^^

Aku mengirimkan chat pada suamiku. Selang satu menit, dia menjawab.

[Dimas lagi suka mainan dinosaurus yang ada di iklan akhir-akhir ini.]

[Kamu lagi dimana? Acaranya udah selesai? Cepat pulang, jangan mampir-mampir!]

^^^[Iya, Mas, cuma mau beli mainan buat Dimas aja, abis itu langsung pulang.]^^^

[Ya udah, kalau ada apa-apa kabarin.]

Aku menutup chatku dengan Mas Dion. Suamiku itu memang terkadang over protective terhadapku.

Aku melangkah masuk ke toko mainan. Setelah bertanya-tanya pada si mas kasir, dia membawakan mainan dinosaurus yang diinginkan Dimas, yang katanya sedang popular saat ini. Dinosaurus jenis Tyrex berwarna cokelat yang tangan dan kakinya bisa digerakkan. Kesibukanku dalam menulis membuatku jarang melihat iklan di televisi. Semoga setelah kubawakan ini, Dimas jadi senang.

Aneh, aku merasa ada seseorang yang memerhatikanku. Akan tetapi, setelah aku menoleh, ternyata tidak ada siapa pun.

Jam tanganku menunjukkan jam sembilan malam kurang. Aku mengirimkan chat lagi pada Mas Dion, layaknya sebuah laporan.

^^^[Aku sudah keluar Mall. Sekarang lagi otw ke halte bus]^^^

Nah, kan. Lagi-lagi aku merasa ada orang di belakangku.

Aku mempercepat langkaku menuju halte. Derap kaki si penguntit makin jelas terdengar. Aku terpaksa berlari. Ah, sial, kenapa aku pakai sepatu hak tinggi di saat-saat begini!

Kutoleh ke belakang. Benar, ada yang mengejarku! Dia …

Dia pembaca yang pakai masker dan jaket bertudung tadi! Mau apa dia mengejarku! Bahkan dengan senyum menyeringai seperti itu!

Aku harus fokus lari ke depan. Sepatuku sampai tertinggal karena terlalu cepat berlari. Segera aku mengeluarkan ponselku, dan membagikan lokasiku saat ini secara live selama delapan jam padanya. Kemudian, kusematkan satu kata berhuruf kapital semua.

^^^[Location shared. Live until 05:10 AM]^^^

^^^[DARURAT!]^^^

[Apa? Darurat kenapa, Cha? Ada apa?]

[ACHA!]

Aku tak sempat membalas chat dari Mas Dion karena sibuk berlari. Aku belok ke kanan, ke sebuah gang kecil. Aku berharap si penguntit itu akan terkecoh dan kehilangan jejakku.

Akan tetapi, rupanya dewi fortuna tidak berpihak padaku. Ternyata, gang kecil yang kupilih adalah jalan buntu.

Aku benar-benar terjebak sekarang. Gang kecil ini dibatasi tembok setinggi dua meter. Tidak ada benda di sekitar yang bisa kujadikan pijakan untuk melompat. Sementara itu, si penguntit sudah tampak memasuki gang yang sama.

Seringai di mulutnya benar-benar mengerikan.

“Siapa kamu! Mau apa kamu ngikutin aku!”

“Kok kamu masih tanya namaku? Padahal, aku sudah chat kamu setiap hari ….”

Chat? Apa yang dia kata---

Oh, sial. Hari ini aku benar-benar sial. Rupanya dia fan sinting yang sering mengirim rayuan padaku!

“Jangan gila kamu! Saya sudah punya suami!”

“Lupain aja dia!” teriak si penguntit itu. Dia melepas maskernya. Wajahnya tak terlalu jelas karena gang kecil ini gelap tanpa penerangan. Hanya gigi-giginya yang terlihat karena mulutnya tersenyum lebar sekarang. Pria penguntit itu mendekatiku perlahan.

“Menjauh! Tolong! Tolong!”

Berkali-kali aku berteriak minta bantuan, tetapi tidak ada satu pun yang datang. Pria itu smeakin mendekat.

“Sudahlah, Sayang, biarkan aku menjadi Lucius, dan kamu jadi Rika-nya ….”

“Jangan sebut-sebut nama-nama tokoh novelku! Aku membuatnya susah payah, mereka itu suci! Mulut kotormu itu enggak pantas sebut nama mereka!” teriakku. Aku terus berjalan mundur, hingga akhirnya punggungku mentok mengenai tembok di ujung gang. Posisiku terjepit sudah.

“Apa! Kotor? Kotor?!”

Pria itu mengeluarkan pisau kecil dari dalam saku celana. Gawat, sepetinya aku telah membuatnya kalap.

“Kumohon, jangan seperti ini … aku harus pulang … ada suami dan anakku menunggu di rumah …”

Aku benci ini, nada suaraku jadi memelas. Seolah aku adalah wanita tak berdaya, mengemis seperti ini pada orang lain.

Detik berikutnya, pria itu mendorong tubuhku hingga kepalaku terbentur.

Rasanya panas dan sangat pusing. Sakit sekali, sampai kelu. Sepertinya ada yang hangat pula mengalir dari bagian belakang kepalau. Entahlah, aku tidak dapat mengeceknya. Penglihatanku mulai samar.

Pria itu menanggalkan satu persatu rok bawahanku dan menindihku. Aku tidak tahu apakah dia baru melepaskan rok atau sudah berhasil emncapai bagian kulit. Sinting, dia ingin merenggut kehormatan seseorang yang sudah hampir mati.

“Acha!!”

Suara itu … Mas Dion …

Si penguntit itu disingkirkan dari atas tubuhku. Samar-samar aku melihat wajah Mas Dion. Si penguntit menodongkan pisaunya. Gambaran mereka mulai terlihat buram. Apa ini saatnya aku mati?

Mas Dion … maaf, aku belum bisa jadi istri yang baik …

Dimas … maafin Mama ya, Sayang … dinosaurusnya enggak sempat Mama kasih ke kamu …

Mas Dion … Dimas …

Tuhan, sekali saja … beri aku kesempatan sekali lagi … aku janji akan membagi waktu untuk keluargaku … kumohon …

***

...\=\= original writing by Ryby \=\=...

...\=\= baca karya Ryby yang lain dengan follow IG @author_ryby \=\=...

Terpopuler

Comments

YuWie

YuWie

kemaren sama anak mau dipikirkan sekarang sdh di ujung minta kesempatan... ibu yang baikkkk

2022-08-20

0

eva

eva

Bawaaannggg... 😭

2022-05-04

0

💓Yhan💓

💓Yhan💓

Kasian dimas ehhh🤧

2022-04-23

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!