“Rinia, jaga bicaramu!”
“Memangnya apa yang salah dengan kata-kataku?!” Duchess Rinia balik bertanya pada Ayah dengan nada menantang. Aku bisa melihat perubahan pada wajah Ayah. Beliau mulai menggeram.
“Bagaimanapun juga, Alissa adalah keluarga kita!”
“Keluarga dari mana, hah? Maksudmu, kau dengan selingkuhanmu, begitu?”
Duchess Rinia lagi-lagi memandangku jijik seolah aku adalah sampah. Alissa memang adalah putri ilegal keluarga Valcke. Itu sebabnya, nanti di masa depan, Duchess lah yang menumbalkanku pada Pangeran Rion si antagonis untuk menjadi istrinya, agar anggota keluarga Valcke yang lain tidak jadi dibunuh.
Sewaktu aku menuliskan adegan penumbalan itu, aku tidak begitu menempatkan empatiku pada tokoh Alissa Valcke, meskipun Alissa adalah seseorang yang dapat membuat Lucius mengenal arti kata cinta. Tidak ada simpati sekali dariku pada tokoh Alissa karena memang sedari awal tujuanku adalah menempatkan dia sebagai figuran, itu saja. Aku tidak mengerti bagaimana perasaan Alissa yang dipandang jijik dan rendah oleh orang-orang sekitar. Aku menarasikan apa yang dia rasakan hanya berdasarkan riset semata saja, dari novel-novel bertema sedih lain yang pernah kubaca.
Namun, begitu kini aku sendiri yang menjadi Alissa, ada rasa menyengat di hatiku saat menatap mata Duchess Rinia yang bengis memandangku. Aku jadi takut sendiri dan hanya bisa menundukkan kepala. Aku merasa seperti berhadapan dengan Medusa, takut jadi batu kalau bertatapan lama-lama dengannya.
“Tapi, aku tidak pernah selingkuh!” seru Ayah. Spontan aku menoleh ke arahnya.
Hmmm? Sepertinya ada yang aneh. Kalau Alissa bukanlah anak dari hasil selingkuhan Duke Valcke, lalu siapa dia sebenarnya? Padahal, sudah jelas aku menuliskan kalau latar belakang Alissa adalah putri ilegal keluarga Valcke. Aku memang tidak secara eksplisit mengatakan kalau dia anak selingkuhan, tetapi aku memang membuat warga Kerajaan Glassheight percaya bahwa Alissa adalah anak dari Duke Valcke yang bukan dari rahim sang Duchess.
Akan tetapi, kalau tokoh Duke Valcke sendiri mengakui dia tidak berselingkuh, lalu siapa tokoh Alissa Valcke ini? Bukankah ini dunia novel “Ksatria Lucius”? Aku tidak mungkin salah mengingat, kan?
“Kalau dia memang bukan anak dari hasil perselingkuhanmu, lalu siapa dia, hah?”
Duchess Rinia meminta kepastian. Namun, Ayah diam seribu bahasa. Dia tidak dapat menjelaskan asal-usul ibuku. Aku pun hanya mengetahui kalau ibuku bernama Eloise, itu saja. Itu pun hanya nama panggilannya saja.
“Aku kecewa padamu, Ayah.” Kali ini, si sulung Theo yang membuka suara. Sudah jelas dia akan membela ibunya di saat seperti ini.
“Ayah tega sekali pada ibu!” teriak Cass, lalu menggandeng tangan ibunya.
“Ibu, ayo kita pergi dari sini. Aku tidak sudi berada satu ruangan berlama-lama dengan anak kucing liar seperti dia. Ayo, Cass!”
Theo mengajak ibu dan adiknya meninggalkan lobi, meninggalkan aku dan Ayah yang hanya mematung sedari tadi.
Anak kucing liar … julukannya sama seperti yang kutuliskan dari Theo untuk Alissa di dalam novel. Berartti, ini memang dunia “Ksatria Lucius”, kan?
Yah, setidaknya, anak kucing masih lebih imut, ketimbang dihina dengan istilah-istilah organ vital ala orang-orang dunia asalku kalau sedang adu mulut. Aku juga memang sengaja memilih menuliskan anak kucing ketimbang anjing, supaya bacaan novelku masih ramah untuk kalangan remaja Indonesia.
“Alissa, jangan diambil hati, ya, Nak.” Ayah membungkuk di hadapanku, mencoba berbicara seraya bertatapan langsung denganku.
“Aku tidak apa-apa, Ayah. Nyonya Rinia pasti masih kaget kalau tiba-tiba kedatangan anak asing sepertiku, jadi wajar sikapnya seperti itu.”
Aku memberikan respons pengertian, berbeda sekali dengan tokoh Alissa. Ketika dia dihardik seperti itu, Alissa hanya bisa menangis di balik kaki Ayah. Sekarang, akan kubuat Alissa bukanlah gadis cengeng yang hanya bisa menangis meratapi nasib.
“Kamu dewasa sekali, Alissa. Ayah bangga padamu.” Ayah tersenyum. “Sekarang, akan kuantar kamu ke kamar, lalu beristirahatlah.”
***
“Akhirnyaaa, aku bisa bersantai!”
Kulemparkan diri ke kasur besar di kamarku yang baru. Lima tahun sudah aku tidur di ranjang kayu, berbagi dengan Penny pula. Kini, aku menempati kasur queen size dengan tirai bergaya eropa lama. Kamar baruku juga berhiaskan dekorasi ala jaman kerajaan Eropa.
Aku memang mengambil referensi segala bentuk pernak-pernik dan furnitur yang ada dengan memakai mesin pencarian gambar Google dan mengetik ‘European mansion interior’. Semua lengkap terpampang di layar, termasuk bentuk gorden besar menghiasi dua daun pintu kaca yang menuju ke arah balkon. Ya, balkon! Aku bisa menikmati pemandangan taman bunga Valcke dari kamarku ini!
Setting lokasi novel “Ksatria Lucius” memang kuambil dari jaman medieval, sekitar tahun 1500an di daerah Eropa. Aku tidak spesifik menyebutkan wilayahnya di mana, aku hanya mengambil tradisinya saja untuk novelku. Kebudayaan dan cara hidupnya yang kuadaptasi, ditambah elemen sihir dan hewan mistis, tentunya.
Oh, dan tanpa listrik! Awal-awal aku masuk ke dunia ini, aku benar-benar gelisah tidak dapat mengecek hapeku. Kebiasaanku yang suka scrolling social media, sekadar mengecek timeline teman-teman, atau memandangi foto-foto Dimas waktu bayi, semua itu sudah harus kulupakan. Pertama kalinya aku memegang kertas dan pena saat aku berusia tiga tahun di dunia ini, sejak sekian lama aku terbiasa hanya mengetik saja di hape. Aku seperti harus belajar lagi dari awal.
Memang ya, orang-orang bumi jaman sekarang sudah ketagihan gawai. Kalau mereka semua terlempar ke dunia lain tanpa teknologi seperti yang kualami saat ini, pasti akan menggila juga. Untungnya, aku bisa bertahan.
Tiba-tiba, sebuah lingkaran mantra muncul di hadapanku dan membentuk sebuah lubang. Kyu melompat dari dalamnya dan menghambur ke pelukanku.
“Kyuuu!”
“Iya, iya, maaf ya, aku lupa memanggilmu, padahal kita sudah sampai,” sahutku sambil membelai bulu-bulu di kepalanya. Tak lupa, aku mengunci pintu kamar supaya tidak ada yang tiba-tiba masuk kemari selagi Kyu muncul.
Kyu naik ke atas kepalaku. Aneh, rasanya dia jadi lebih berat dari sebelumnya.
“Kyu, kamu makin besar, ya?”
“Kyu, kyu!” Hewanku itu mengangguk. Dia kembali melompat ke lantai dan berlari berputar mengelilingi tubuh kecilku. Ah, sepertinya memang ada yang berbeda. Corak ungu gelap di tubuh Kyu mulai memudar. Sekarang warnanya menjadi sedikit keperakan. Begitulah tanda bila hewan mistis di dunia ini bertumbuh. Selain tubuhnya yang membesar, warnanya juga bisa saja berubah.
“Kamu lapar, Kyu?” tanyaku begitu melihat tampang Kyu yang tiba-tiba berubah menjadi lemas.
“Kyuuu!”
“Baiklah, ayo kita bersemedi dulu. Kamu bisa menyerap setengah mana-ku seperti biasa.”
Hewan mistis sebenarnya tidak memerlukan makanan untuk mengenyangkan perut, melainkan untuk asupan energi. Makanan utama mereka adalah mana si pemilik, meskipun tidak menolak juga kalau diberi daging atau makanan nyata lainnya. Namun, makanan nyata hanyalah sebagai tambahan bonus mana saja bagi mereka.
Kyu berdiri tegap di hadapanku dan memejamkan mata. Aku pun duduk bersila dengan kedua tangan disatukan di depan dada. Aku dapat merasakan mana dalam tubuhku langsung mengalir ke tubuh Kyu. Kini, aku tidak perlu lagi bersemedi sambil memejamkan mata, karena aku sudah bisa berkonsentrasi dengan mata terbuka sekalipun. Partikel-partikel cahaya putih tampak berterbangan di sekitar kami berdua.
Beberapa menit telah berlalu, setelah dirasa cukup, kami menghentikan pengaliran mana. Kyu tampak senang dan kembali melompat-lompat.
Tok! Tok!
Siapa yang datang ke kamarku sekarang? Apa mungkin Ayah? Karena katanya, tadi dia ingin mengantarku berkeliling rumah ini.
Kuminta Kyu untuk kembali ke dunia arwah. Kemudian, aku membuka kunci pintu. Seorang pelayan berambut merah pendek masuk ke kamar. Dia mengenakan gaun hitam panjang sampai mata kaki, dan sebuah celemek putih yang terpasang di bagian depan gaun, layaknya seragam pelayan di jaman kerajaan barat.
“Nona Alissa. Nama saya Dea. Mulai sekarang, saya adalah pelayan pribadi Anda.”
Ah, iya. Orang ini namanya Dea. Aku lupa ada satu tokoh figuran ini yang membantu Alissa sehari-hari.
Membantu Alissa sampai ke jurang kematiannya, maksudku.
“Halo, Dea. Senang berkenalan denganmu,” ucapku seraya menampilkan senyuman paling manis yang kubisa. Dea pun tersenyum kembali padaku. Akan tetapi, aku tahu dalam hatinya, dia sedang merencanakan sesuatu.
“Tuan Duke Alfred meminta Anda untuk bersiap-siap karena sebentar lagi beliau akan mengantar Anda untuk berkeliling. Saya akan menyiapkan air untuk cuci muka Anda.”
Dea berpamitan untuk keluar kamarku sejenak. Aku menunggu dengan was-was. Inilah salah satu titik penting, apakah Alissa akan dianggap lemah atau tidak. Aku harus berantisipasi di sini.
Dea kembali dengan membawa wadah air dan handuk kecil untuk muka. Begitu dia meletakkan wadah itu di atas meja, mataku langsung membulat, mencari-cari dengan saksama apakah ada yang aneh.
Tentu saja ada. Aku adalah penulis dunia ini, mana mungkin aku melupakan siksaan pertama Alissa di rumah Valcke ini.
Bagian bawah wadah air yang Dea sajikan untukku mencuci muka tampak kotor. Airnya pun terlihat memiliki partikel-partikel debu yang menggenang.
Aku melihat ke arah Dea. Tanpa bisa dia sembunyikan dengan rapi, senyum liciknya terlihat olehku. Sudah kuduga. Untung saja aku masih ingat semua adegannya.
Air cuci muka yang Dea berikan padaku ini, adalah air kotor bekas lap perabotan rumah. Begitu pula dengan handuknya. Ini bukanlah handuk, melainkan kain bekas mengepel lantai.
***
...\=\= original writing by Ryby \=\=...
...\=\= ikuti karya-karya Ryby lainnya dengan follow Instagram @author_ryby \=\=...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
eva
menyenangkan membacanya
2022-05-04
0
CipLiss
siramkan ke dea aja biar nyahok senjata makan tuan 😁😁😁
2022-04-30
1
S_
Lanjut kaka! penasaran iniii
Semangat btw!
2022-04-29
1