Bab 2. Demi Anak

Delapan belas tahun yang lalu, di bumi.

"Udah pulang, Cha?"

Seperti biasa, Mas Dion menyambutku pulang kerja sambil mengenakan celemek dapur, memanggil nama kecilku. Dia masih memegang spatula, kentara sekali kalau sedang sibuk memasak di dapur. Namun, dia menghentikan kegiatannya dan buru-buru pergi ke depan pintu.

"Iya, Mas. Aku capek banget," jawabku. Mas Dion memeluk dan mencium keningku sesaat.

"Masak apa, Mas?" tanyaku.

"Seafood kesukaan kamu. Mau makan sekarang?" Mas Dion menawarkan. Aku menggeleng.

"Nanti deh, Mas. Aku mau mandi dulu, abis itu ngerjain beberapa bab."

"Kamu baru sampai, loh. Masa' mau langsung kerja?"

"Iyah, aku---"

"Mamaaa!"

Putraku Dimas berlari ke arahku dengan langkah kecilnya. Usia dua setengah tahun membuat batita ini semakin besar dan lincah. Begitu aku mengulurkan kedua tangan, instingnya segera bekerja untuk minta digendong.

"Hup! Anak Mama kok belum bobok?" tanyaku begitu Dimas ada dalam gendongan. Pipi gembulnya bergoyang ketika anak itu menggeleng.

"Sama Mama!" jawabnya lantang.

"Hmmm, tapi Mama masih ada kerjaan, Sayang ..."

"Maunya sama Mamaaa, huaaa!"

Dimas langsung menangis. Ini kesekian kalinya dia tidak mau kalau aku lebih memilih pekerjaanku ketimbang menemaninya tidur. Melihat diriku mulai kewalahan, Mas Dion segera mengambil alih Dimas dari tanganku.

"Dimas boboknya sama Papa aja, ya? Nanti Papa bacain dongeng lagi! Sekarang, Dimas makan dulu, ya!" Mas Dion membujuk Dimas. Seperti batita pada umumnya, perhatiannya langsung teralihkan. Dimas langsung mengangguk di sela-sela air mata yang masih menetes.

"Makasih ya, Mas, kamu--- *sniff* loh, bau apa ini?"

Aroma tak sedap tercium dari arah dapur. Seketika itu juga, kedua mata Mas Dion membelalak.

"Aku lupa matiin kompor!"

Mas Dion bergegas menurunkan Dimas dari gendongan dan lari ke arah dapur. Aku hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng.

Kuletakkan tasku di sebelah komputer, dan mulai menekan tombol power pada CPU. Sebelum mandi, aku ingin membaca komentar para pembaca di karya-karyaku.

Namaku Masya, seorang penulis online di sebuah platform. Karya-karyaku dapat dibaca dengan gratis di sana. Meski begitu, aku tetap mendapat pemasukan dari banyaknya jumlah view orang-orang yang membaca karyaku setiap kali aku update bab. Kebanyakan, genre yang kutulis adalah romance berlatar belakang fantasi. Sudah banyak karya yang kutelurkan dari imajinasiku, hingga pendapatannya cukup untuk memenuhi kebutuhanku, Mas Dion, dan Dimas per bulan.

Pria yang saat ini sedang sibuk mengurus masakan gosong di dapur itu adalah Mas Dion. Aku menikah dengannya sejak empat tahun lalu. Pekerjaannya adalah, well, bapak rumah tangga.

Mas Dion sempat bekerja sebagai pegawai kantoran di salah satu perusahaan swasta ibukota, tetapi Mas Dion mengundurkan diri. Rupanya, dia tidak suka lingkungan kerjanya. Karena Mas Dion itu sangat baik dan tidak bisa menolak permintaan orang lain, dia jadi sering dimanfaatkan oleh para atasan.

Mas Dion sering pulang larut karena lembur, bahkan mengerjakan tugas teman satu divisinya tanpa imbalan atau pengakuan apa pun. Aku yang mulai kesal melihat semua itu, meminta Mas Dion untuk mengundurkan diri saja. Berikutnya, Mas Dion membuka usaha jualan online. Lagi-lagi gagal karena banyak pelanggan yang menginginkan harga diskon darinya terus-menerus.

Hati Mas Dion terlalu lembut dan penyabar untuk bisa berada di lingkungan kerja yang keras. Awalnya, menulis hanya kujadikan sebagai hobi saja. Namun, melihat pendapatan yang kudapatkan ternyata meningkat, aku mengatakan keinginanku pada Mas Dion untuk menjadikan menulis sebagai sumber penghasilan rumah tangga kami. Mulanya, Mas Dion tidak setuju, karena baginya tidak enak dilihat orang lain kalau peran kami jadi terbalik seperti itu.

Akan tetapi, yah, aku tidak peduli pada kata orang lain, selama Mas Dion sendiri juga tidak keberatan. Toh, aku akan lebih sering menulis di rumah ketimbang pergi ke luar. Jadi, tidak benar-benar ada yang tahu kalau peran menafkahi dan mengurus rumah tangga dilakukan berbeda dari keluarga lainnya.

Setiap kali, ada yang bertanya apa pekerjaan Mas Dion, aku akan dengan santai menjawab kalau Mas Dion membantuku berjualan di rumah. Tidak bohong juga sebenarnya, karena setiap kali ada karyaku yang berhasil naik terbit cetak, memang Mas Dion yang mengurus segala keperluan untuk bisa sampai ke tangan pembaca.

"Cha? Kok malah ke komputer dulu. Mandi dulu, gih!"

"Iya, Mas. Itu ... Dimas bobok?" tanyaku begitu melihat tubuh kecil putraku terkulai lemas karena kantuk dalam dekapan ayahnya.

"Iya. Aku nemenin dia tidur dulu ya. Abis itu kutemenin makan malam," ucap Mas Dion, lalu dia pergi ke kamar Dimas. aku mematikan komputer dan bergegas ke kamar mandi.

Aku memutar keran shower. Air membasahi ubun-ubun seolah menghapus segala kelelahan yang hari ini. Jalanan ibukota cukup padat untukku yang terbiasa naik bus kemana-mana. Hari ini aku harus pergi keluar rumah untuk urusan bukuku.

Meski aku sering menulis karyaku dari rumah, tetapi sesekali aku harus pergi ke luar rumah untuk menjadi pembicara seminar atau tutor kelas menulis. Aku sendiri sebenarnya belum merasa pantas untuk melakukan hal itu, tetapi rupanya karya-karyaku memiliki banyak penggemar sampai aku bisa di tahap ini.

Semakin dikenal orang, aku semakin menulis banyak novel ongoing dalam satu waktu. Saat ini saja, aku sedang menulis empat novel sekaligus, dengan update satu bab masing-masing setiap harinya. Jadi, walaupun aku bekerja dari rumah, kesibukanku tidak kalah dengan karyawan kantoran. Aku mulai menulis pukul delapan pagi dan selesai pukul lima sore.

Mas Dion sering sekali protes mengapa aku jarang bermain dengan Dimas, karena Sabtu Minggu pun aku masih menulis, demi memenuhi target update harian di platform tempatku menulis. Seringkali aku berjanji pada diriku sendiri supaya tidak menulis banyak novel sekaligus, supaya waktuku bisa kubagi antara kerja dan keluarga. Akan tetapi, aku bisa apa? Ide di kepalaku mengalir terus menerus tanpa henti.

Selesai mandi, aku berpakaian piyama. Suara dering telepon berbunyi notifikasi chat. Kusambar smartphoneku untuk melihat isinya.

[Mbak, besok jangan lupa ada Meet & Greet untuk Ksatria Lucius di Mall XX, jam 7 malam, ya.]

Rupanya pesan dari editorku. Kubalas singkat "oke" padanya.

Oh iya, aku lupa update satu bab lagi untuk karyaku yang berjudul Ksatria Lucius. Kubuka aplikasi menulis di smartphoneku dan mulai mengetik. Bukunya sudah sampai season dua. Jangan sampai jumlah view pembaca menurun hanya karena aku bolos update harian.

***

"Mas ...."

Kudapati Mas Dion tertidur sambil menelungkupkan kepala di atas meja. Rupaya dia terlalu lama menungguku untuk keluar dari kamar. Kubangunkan suamiku itu dengan menggoyang pundaknya. Dia terkesiap. Mas Dion menatapku, lalu menampilkan senyumnya.

"Ayo makan, Cha. Mandinya kok lama banget?"

"Aku sekalian update Ksatria Lucius, hehehe!" ucapku.

Mas Dion geleng-geleng kepala. Jelas dia tahu apa yang aku maksud dengan Ksatria Lucius. Mas Dion selalu membaca semua karyaku di sela-sela waktunya.

Mas Dion mengambilkan nasi dan lauk ke atas piringku. Dia melakukan hal sama pada piringnya.

"Lho, kamu belum makan malam juga?" tanyaku heran. Kupikir tadinya dia akan menemani saja, tidak ikut makan bersama.

"Kan nungguin kamu pulang, Sayang."

"Hmmm, makasih, ya Mas." Aku tersenyum pada perlakuan manis Mas Dion.

"Cha ... aku mau ngomong sesuatu." Mas Dion tiba-tiba membuka percakapan dengan nada serius.

"Kenapa, Mas?" tanyaku di sela-sela suapan.

"Aku ingin kamu bisa lebih sering main sama Dimas. Dia butuh sosok ibunya," ucap Mas Dion pelan. Dia terdengar takut menyakiti hatiku, karena lagi-lagi dia mengutarakan protes yang sama.

"Mas, kita udah sering bahas ini. Kamu tahu kan kalau aku sibuk setiap hari. Demi keluarga kita juga."

"Kamu bisa mengurangi jumlah novel ongoing kamu. A-atau, ambil hari libur weekend, jadi kamu update harian hanya Senin sampai Jumat saja," usul Mas Dion. Refleks aku mengernyitkan dahi pertanda tak suka.

"Ideku banyak, Mas. Kalau gak ditulis langsung, aku bakal lupa!"

"Kamu bisa tampung dulu idemu di catatan. Kalau soal keuangan, aku akan coba buka usaha lagi. Aku janji aku gak akan selemah dulu!" ucap Mas Dion lagi. "Yang penting, kamu ada untuk Dimas."

Aku terdiam. Mendengar perkataan Mas Dion, seolah aku adalah ibu yang menelantarkan anak. Aku tidak terima dianggap seperti itu. Namun, belum sempat aku berkilah, Mas Dion meraih tanganku di atas meja makan.

"Tolong, Cha. Demi Dimas, anak kita. Dia harus dapat kasih sayang yang seimbang dari papa mamanya."

"... aku akan pertimbangkan, Mas."

***

...\=\= chat telegram @author_ryby \=\=...

...\=\= follow IG @author_ryby \=\=...

Terpopuler

Comments

Eka Nurmila

Eka Nurmila

anak tak bisa terulang kisahnya.

sedangkan novel 😔

2022-09-16

1

crozybangs

crozybangs

དདདདདདདདདདདདདདཌཌཌཌཌཌཌཌཌཌཌཌཌཌ

2022-06-29

1

💓Yhan💓

💓Yhan💓

keknya ni cerita asli authornya🤭

2022-04-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!