Satu tahun kemudian. Alissa berusia empat tahun.
" ... lissa ... ssaaa!"
Ah, aku bisa melihatnya! Bola mana itu makin besar! Ayo, ayo ... semakin terkumpul!
"... ssaa ... "
Kemarin sudah sebesar kelereng, sekarang harus bisa sebesar bola golf. Makin besar, akan makin bisa memunculkan lingkaran mantra bercahaya, penghubung antara dunia manusia dan dunia arwah. Begitulah cara kerja sihir pemanggilan hewan mistis di dunia ini.
"Alissa!"
"Whoaaa!"
Kedua tangan besar memelukku dari belakang dan menggendongku ke atas hingga tubuh kecilku melayang.
"Bibi!"
"Sudah dari tadi bibi memanggilmu, tapi kamu tidak menjawab!"
Raut wajah Bibi Edma memerah kalau sedang marah. Ditambah hidungnya yang berkedut-kedut menahan emosi. Lucu sekali.
"Kenapa malah tertawa?" tanya Bibi Edma heran.
Aku tersenyum lebar dan menjawab, "Bibi kalau marah mukanya lucu!"
Bibi Edma mendengkus. "Lucu? Lucu katamu? Ini lucu!"
Serangan gelitik mendarat di pinggangku. Spontan aku tergelak. Terlebih lagi, Bibi Edma melakukannya sambil pura-pura marah.
"Hihihi! Ampun Bibi!"
"Lagi-lagi kamu menyelinap masuk ke ruang buku, ya! Apa, sih, yang kamu lakukan?"
"A-aku hanya baca buku saja, kok!" jawabku berkilah. Bibi Edma geleng-geleng kepala sambil menghela napas. Kemudian, dia menggendong dan membawaku keluar dari ruangan tempatku bersemedi.
"Ah, Bibi! Aku masih ingin baca buku!"
"Anak seusiamu harus sering-sering main di luar! Ayo, ikut denganku. Aku bersama Penny akan pergi belanja ke pasar," ajak beliau.
Meski aku mengerucutkan bibir pertanda cemberut, tetapi Bibi Edma tidak memedulikan. Dia tetap menggendongku keluar.
Gagal lagi semedi hari ini! Padahal, tadi tinggal sedikit lagi. Aku harus pintar-pintar cari waktu supaya bisa berlatih mana tanpa harus ketahuan Bibi!
***
Setelah kemarin semediku gagal, malam ini harus berhasil. Karena kalau tidak, nanti keburu terlambat. Akan ada adega besar yang terjadi pada Alissa Valcke dan akan sangat memengaruhi alur cerita novel Ksatria Lucius.
Aku menyelinap masuk ke ruang buku, di saat Bibi Edma berpikir aku sudah tertidur lelap di ranjangku. Bahkan, aku bisa keluar kamar secara lancar tanpa membangunkan Penny yang berbagi tempat tidur denganku.
Kubawa kandil berisikan sebatang lilin menyala, selagi aku beranjak keluar kamar. Langkah kakiku nyaris tak terdengar karena cara jalanku yang berjingkat-jingkat. Lantai kayu ini cukup mengkhawatirkan. Aku takut mengeluarkan suara derit. Akan tetapi, aku harus menyelesaikan misiku malam ini juga!
Syukurlah, ruang buku telah di depan mata. Sesampainya aku di dalam ruangan tersebut, aku segera duduk bersila di lantai kayu dan menyatukan kedua tangan di depan dada. Kemudian, kedua mata ini kupejamkan.
Ruang buku ini merupakan tempat favorit bagiku semenjak tinggal di dunia novel ini. Di dalamnya terdapat banyak buku untuk mempelajari apa yang terjadi di dunia. Meskipun aku adalah penulis novel Ksatria Lucius itu sendiri, aku tetap berusaha menggali kembali memoriku akan apa yang kutulis.
Iya, tentu saja aku lupa-lupa ingat setiap adegan yang terjadi pada novel tersebut. "Ksatria Lucius" terdiri dari dua buku. Buku kedua belum selesai kutulis dan apa yang terjadi padaku selama ini masih ada di dalam buku pertama.
Ditambah lagi, segala kehidupan Alissa sebelum menjadi istri Pangeran Rion tidak pernah kutuliskan secara mendetail.
Aku tidak pernah menceritakan seluk beluk rumah Bibi Edma. Aku hanya bilang sebagai narasi pendek bahwa Alissa adalah putri ilegal Duke Valcke yang ditumbalkan oleh keluarganya unutk menikahi Pangeran Rion. Aku tidak pernah merinci tentang orang tua Alissa ataupun setiap adegan dalam rumah Bibi Edma.
Alissa Valcke benar-benar kutuliskan hanya sebagai figuran semata, korban kekerasan antagonis pria.
Ah, bola mana itu kembali terlihat! Setelah sepuluh menit aku berkonsentrasi ... .
Sedikit lagi ...
Sedikit lagi ...
Dan ...
*sringgg!*
Hmm? Sepertinya ada sesuatu yang berpendar di hadapanku. Aku merasakan cahayanya seperti menembus kelopak mata yang tertutup.
Tunggu, jangan-jangan ini ...!
Pelan-pelan kubuka mata. Benar dugaanku. Persis seperti apa yang kutuliskan dalam salah satu bab Ksatria Lucius yang berjudul "Bangkitnya Kekuatan", pada adegan ketika Lucius mulai bisa memanggil hewan mistis yang menjadi pelindungnya.
Terdapat sebuah lingkaran cahaya melayang di hadapanku. Lingkaran itu bertuliskan kalimat mantra bercahaya, melingkar di bagian pinggir luar. Kemudian, aku melakukan apa yang kutuliskan pada tindakan Lucius ketika melihat lingkaran mantra yang sana muncul di depannya. Kubaca kalimat mantra itu perlahan.
"Qui vocastis de inferis, venite et resurgite!"
Seketika itu juga, cahaya itu semakin menyilaukan dalam kamar gelap ruang buku yang hanya diterangi sebatang lilin. Rupanya aku masih lancar membaca mantra ini. Kalimat yang kutuliskan dalam bahasa latin tersebut sempat kuulang-ulang pelafalannya dahulu sebelum babnya diterbitkan.
Lingkaran cahaya itu begitu terang menyilaukan. Saking terangnya, aku sampai menutup sebelah mata. Lingkaran tersebut berputar, pada awalnya perlahan-lahan, makin lama makin kencang. Aku jadi teringat roda undian yang ada di acara-acara televisi, seperti itulah mekanisme pemanggilan roh hewan mistis ini.
Sampai akhirnya putaran cahaya itu berhenti, lalu dari tengah lingkaran, garis-garisnya melebar seperti sedang membuka lubang tanpa dasar.
Kemudian, dari dalam lubang tersebut, seekor hewan melompat keluar dan memijakkan kakinya di lantai kayu. Dia berputar sejenak di hadapanku, sebelum akhinrya berhenti dan mendongakkan kepala.
"Kyu!"
Hewan ini bentuknya seperti rubah, tetapi warna bulunya mencolok, yakni ungu terang dengan corak bulatan-bulatan ungu gelap di sekujur tubuh. Pada bulu di atas kepala berwarna silver, seolah-olah hewan ini memiliki rambut.
"Kamu ... hewan yang bersedia menjadi summonku?"
"Kyu!" hewan itu bersuara sambil berputar-putar kembali. Kemudian, dia terbang berputar mengelilingi tubuhku. Besar badannya hampir sebanding denganku yang maish empat tahun ini.
"Kalau begitu, kita mulai kontraknya?" tanyaku lagi, yang dijawab dengan anggukan. Semua hewan mistis di dunia ini kuciptakan mengerti bahasa manusia. Supaya aku tidak repot saja.
Melakukan kontrak dengan makhluk mistis ini yang cukup menyebalkan. Aku menulis hal itu dilakukan dengan cara menyentuh hidung atau moncong makhluk dengan tetesan darah si pemilik. Kini, aku harus merasakannya sendiri, melukai sedikit ujung jariku dengan pisau supaya darahnya keluar.
Begitu ada cairan merah di ujung jari yang terluka, segera kusentuh hidung makhluk itu. Ada percikan cahaya yang muncul akibat sentuhan tadi. Ritual akan selesai begitu setelahnya kuberikan nama padanya.
"Enaknya, kamu kuberi nama apa, ya?"
Aku berpikir keras. Bahkan, para pembaca saja menertawakanku ketika kuberi nama Air pada hewan mistis Lucius yang memang bisa mengeluarkan semburan air. Aku memang tidak punya selera nama yang bagus. Untungnya, nama anakku adalah Dimas, diberikan oleh Mas Dion, sebelum aku menamainya aneh-aneh.
"Warna kamu itu ungu, ya. Ungu dalam bahasa Inggris artinya purple. Purple ... Bagaimana kalau Puru?"
Entah mengapa, aku merasa makhluk di hadapanku itu tampak kesal. Dia menegangkan tubuhnya ke depan, meraung.
"Sebegitu jeleknya, ya? Terus, maumu apa?" tanyaku jengkel. Makhluk summon saja protes macam-macam, padahal aku penciptanya.
" Kyu!" serunya. Aku mengernyit. "Kyu? Kamu mau namamu Kyu saja?"
"Kyu, kyu!" Dia kembali terbang berputar sambil memekik, "Kyuuu!"
"Iya, iya aku mengerti. Mulai sekarang namamu adalah Kyu. Sudah jangan berisik! Nanti Bibi bangun!"
Aku mulai panik. Kemudian, terdengar suara derap kaki. Gawat, itu pasti Bibi Edma! Di dunia ini, tidak ada anak usia empat tahun yang mampu memanggil hewan mistis! Bibi nanti bisa panik, mengingat pasukan Raja Eric masih mengincar anak-anak yang lebih kuat dari Pangeran Darren sampai saat ini.
"Kyu, sembunyi!" bisikku pada Kyu. Akan tetapi, layaknya hewan mistis yang baru terjun ke dunia baru, Kyu belum bisa mengontrol semua kekuatannya, termssuk kemampuannya bersembunyi. Kyu tampak bingung dengan perintahku.
"Lho, kenapa ada lilin menyala di ruang buku, ya?" suara Bibi Edma terdengar dari koridor luar.
"Kyu, cepat!"
"Aneh ... ." Pintu mulai terbuka perlahan, dengan derit yang khas.
"Kyu ...!"
***
...\=\= original writing by Ryby \=\=...
...\=\= baca karya Ryby yang lain dengan follow IG @author_ryby \=\=...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
eva
keren bin mantap Thor...
2022-05-04
0
AdindaRa
Cakep kaaak 😍
2022-04-27
2
SoVay
punya hewan sihir...
2022-04-25
2