“Jadi, kamu yang bernama Alissa?”
Sesampainya aku di rumah, seorang pria paruh baya berdiri tegap di hadapanku. Mantel cokelat yang dikenakannya terbuat dari satin, jelas sekali kalau orang ini kaya raya. Dia bahkan menyematkan berbagai lencana kerajaan di dada. Rambutnya yang berwarna sama sepertiku yakni cokelat tua, dipotong pendek dan rapi. Penampilannya saat ini persis seperti apa yang kugambarkan dalam salah satu adegan flashback saat menulis dari sudut pandang Alissa.
“Siapa?” tanyaku. Aku sengaja mengikuti dialog yang sudah kutulis sendiri. Aku bahkan bisa menyebutkan secara rinci apa yang akan terjadi setelah aku bertanya.
Pria itu akan tersenyum, lalu mengungkapkan fakta di hadapan Alissa yang berusia lima tahun ini.
“Namaku adalah Alfred Valcke. Aku adalah ayahmu.”
Kemudian, yang terjadi selanjutnya bergulir begitu cepat. Sesuai yang kutulis di novel, sang duke ingin membawa Alissa pergi dan tinggal bersamanya di ibukota.
“Apa? Tidak! Aku tidak akan mengizinkannya!”
Bibi Edma tampak berteriak marah pada sang duke. Sebenarnya sangat besar resikonya bagi kalangan rakyat biasa untuk menentang perkataan seorang bangsawan. Hal itu pun terlihat dari beberapa pengawal Duke Valcke yang bersiap menyerang Bibi Edma begitu beliau mengeluarkan penolakannya.
“Jangan sakiti ibuku!” teriak Penny seraya berlari dan memeluk ibunya yang diacungkan pedang oleh para pengawal.
“Turunkan pedang kalian. Mereka ini adalah keluarga Alissa, jangan pernah mengancam keselamatan keluarga putriku!” titah sang duke. Para pengawal pun menyimpan pedang mereka kembali.
“Nyonya Edma,” ucap sang Duke. Dengan sangat sopan dia memanggil seorang rakyat biasa dengan sebutan nyonya. “saya hanya menginginkan yang terbaik untuk Alissa. Saya ingin Alissa mendapatkan pendidikan terbaik, dan itu hanya ada di ibukota!”
“Tapi, Anda tahu sendiri apa alasan Alissa dilahirkan di desa kecil ini!”
Alasan? Apa memang ada alasan kenapa Alissa Valcke terlahir di desa Virindan yang jauh dari ibukota ini? Seingatku, aku tidak pernah menuliskan latar belakang apapun mengapa Alissa sang putri duke yang ilegal tinggal di sini.
Namun, sepertinya Duke Alfred Valcke mengerti apa yang dikatakan Bibi Edma. Terlihat dari anggukannya, meski dia tetap mempertahankan pendapatnya dengan berkata, “Ini semua demi Alissa. Aku ingin dia bisa menjadi wanita terpelajar di masa depan.”
Bibi Edma tampak tidak goyah dengan pendiriannya. Hingga Duke Valcke mengalah dan memilih untuk pulang ke penginapan di kota sebelah.
“Aku akan kembali lagi dua hari kemudian. Aku tidak akan menyerah sampai aku bisa memberikan hak-hak Alissa sebagai keturunan Valcke.”
***
Malam itu, suasana terdengar hening di meja makan. Paman Krish dan Bibi Edma tidak berbicara sedikit pun. Aku juga jadi salah tingkah dibuatnya. Tidak ada yang memulai percakpaan untuk membahas apa yang terjadi tadi sore.
“Lissa, apa benar kamu akan pergi meninggalkan kami semua?”
Rupanya di antara semua orang, Penny yang jelas tampak sedih dan bahkan sekarang meneteskan air mata. Aku malah jadi bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan anak polos ini.
Di satu sisi, mereka bertiga ini, yaitu Bibi Edma, Paman Krish, dan Penny memang sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Bukan hanya sebagai pelengkap cerita Alissa Valcke dalam novel Ksatria Lucius, melainkan benar-benar keluarga yang sebenarnya. Meskipun aku yang menuliskan dunia dalam novel ini, aku tidak akan bisa tumbuh sampai lima tahun dan sehat seperti ini kalau bukan karena pengasuhan mereka.
Namun, di sisi lain aku sadar kalau aku juga harus membuat cerita Ksatria Lucius ini berjalan sesuai alurnya. Aku tidak yakin apakah aku bisa kembali ke dunia asalku, tetapi aku memiliki firasat bahwa itu semua ada hubungannya dengan kematian Alissa di akhir cerita. Meski belum yakin seratus persen, tetapi kemungkinan besar akan ada sesuatu yang terjadi bila Alissa tetap hidup sampai alur cerita buku satu “Ksatria Lucius” berakhir.
Aku memercayai hal tersebut, maka dari itu, pergi dan tinggal bersama keluarga Duke Valcke di ibukota adalah salah satu cara yang harus kutempuh untuk sampai pada alur cerita yang kuinginkan.
“Lissa! Jawablah, apa kamu tidak mau tinggal bersama kami lagi!”
“Penny, sudahlah! Jangan seperti itu! Alissa akan merasa terbebani kalau caramu begitu.” Paman Krish mencegah Penny untuk memaksaku lebih jauh. Tumben sekali Paman Krish mengeluarkan pendapat. Biasanya, beliau selalu diam dan menurut saja apa pun keputusan yang Bibi Edma ambil.
“Alissa.” Bibi Edma mulai bersuara. “Sekarang katakan keinginanmu. Apa kamu benar-benar ingin bersekolah di ibukota?”
“… iya, Bibi,” jawabku jujur. Tangis Penny semakin menjadi setelah mendengarnya.
“Penny, aku kan masih bisa mengunjungi kalian di sini. Jangan menangis, ya … ,” kubujuk kakak angkatku itu, tetapi tidak berpengaruh. Gadis itu tampak sesengukan hingga makannya terhenti.
Penny pun tidak sendiri. Bibi Edma tampak meneteskan air mata juga. Kalau seperti ini, mana mungkin aku bisa meninggalkan mereka?
“Aku … sangat berterima kasih pada kalian semua. Kalian memang keluarga terbaik, aku tidak menyangka akan bertemu kalian di dunia ini … .”
Aku jadi teringat pada kedua orang tuaku. Sudah lama sekali aku tidak berkunjung ke rumah mereka, padahal Mas Dion selalu mengajakku. Alasanku adalah karena aku terlalu sibuk dengan semua karya tulisanku. Orang tuaku tinggal di desa, jaringan internet di sana tidak sebaik di kota. Hal itu lah yang menghalangiku untuk pergi ke sana. Aku tidak bisa memperbaharui bab novel-novelku kalau aku tinggal di rumah orang tuaku. Pergi ke sana pun harus menginap lebih dari seminggu karena desa tempat mereka tinggal cukup terpencil.
Akan tetapi, semenjak mengulang kehidupanku di dunia ini kembali menjadi bayi, aku tersadar bahwa kedua orang tuaku itu sudah banyak melakukan pengorbanan untukku. Mereka merawatku, menggantikan popok, memberiku makan dan tempat tinggal. Untuk semua itu, mereka harus bekerja keras, agar kebutuhanku terpenuhi.
Bisa-bisanya, aku malah melakukan hal sebaliknya saat aku dewasa. Aku mengorbankan mereka semua demi novel-novelku, demi tokoh-tokoh fiktif yang bahkan sama sekali tidak bisa dibandingkan seujung jari pun dengan pengorbanan orang tuaku. Bukan hanya Mas Dion dan Dimas, ternyata aku juga mengorbankan orang-orang terdekatku untuk melakukan sesuatu yang kusuka. Padahal, untuk menajdi penulis, ada dukungan mereka semua di belakangku.
Bisa-bisanya, aku durhaka pada semua orang yang seharusnya kuprioritaskan. Mungkinkah aku yang terlempar ke dunia ini, adalah cara Tuhan untuk menyadarkanku?
“Alissa, kenapa kamu malah jadi ikut menangis … .” Penny memelukku tiba-tiba. Ternyata aku sudah meneteskan air mata juga, sama sepertinya.
“Main-mainlah kemari nanti kalau kamu sudah jadi orang kota, ya. Jangan pernah lupakan kami semua … .”
Paman Krish beranjak dari duduknya dan mengelus kepalaku. Bibi Edma pun menghampiri dan memelukku. Aku tahu, Alissa Valcke tidak akan mendapatkan kehangatan keluarga yang sama lagi seperti ini setelah tinggal di ibukota. Jadi, biarlah, malam ini, akan kuhabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga Bibi Edma.
Dua hari terasa begitu cepat. Duke Valcke telah datang kembali dengan kereta kuda mewah. Tentunya, dia begitu bahagia begitu mendengar aku bersedia ikut dengannya dan tinggal di ibukota. Akan tetapi, aku tidak akan pergi begitu saja tanpa meninggalkan sesuatu untuk keluarga Bibi Edma.
“Aku akan ikut denganmu, Ayah. Tapi, ada syaratnya.”
***
...\=\= original writing by Ryby \=\=...
...\=\= ikuti karya-karya Ryby dengan follow instagram @author_ryby \=\=...
(Ryby: Terima kasih yang sudah baca. Jangan lupa likenya di tiap bab ya, komen dan vote juga. Thanks! 🤗)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Putri Adilamyska
duke ilegal maksdx jabatan duke ini tdk resmi kah
2022-06-13
0
eva
terrbaaaiiikkkk
2022-05-04
0
SoVay
mengikuti alur yg sudah dihapal 🤔
2022-04-28
2