" Selamat datang di perbatasan kota Dral " Seorang penjaga menyambut Alpa, Ro dan Flairia.
" Bisa tolong tunjukan tanda identitas kalian? " Tembah penjaga itu
" Ini... Ambil dokumen ini dan biarkan kami masuk...... " balas Flairia sembari menyerahkan beberapa dokumen yang dimaksud serta menyelipkan sebuah koin emas diantara dokumen itu
" Hm.... Baiklah. Silahkan masuk " Penjaga itu mempersilahkan ketiganya masuk setelah membuka kertas yang di serahkan Fla.
Setelah melewati gerbang kota, Alpa melihat sebuah kota yang nampak kumuh dengan bangunan bangunan yang rusak serta ada pula yang hampir rubuh.
" Hey, Fla. Apa yang akan kita lakukan di kota ini? " Tanya Alpa sembari mengusap kepala Ro yang terlihat begitu lapar.
" Kita akan menemui seorang yang aku kenal. " Jawab Fla sembari mencoba mengingat sebuah jalan
" Ro... Tahanlah nafsu makanmu lebih lama. Karena mereka yang ada di sini bukanlah makanan " Bisik Alpa ketika Ro menatap ke arah berbagai macam ras demi human yang ada di kota itu
" Hehehe.. Maaf ya Alpa. Karena mungkin Ro tidak bisa menahan nafsunya sendiri. " Flairia meminta maaf sesaat ketika menyadari bahwa demi human yang ada disana penuh dengan luka yang membuat Ro lapar
" Tak apa Fla. Sebelumnya aku sudah membayangkan seperti apa kota Dral ketika kamu menceritakkannya. Tapi.... Aku masih saja terkejut dengan kenyataan yang seperti ini " Jawab Alpa sembari mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan Ro.
" Hey!!! Kalian yang di sana!!! Enyahlah dari jalan!!! " Sesosok manusia berpakaian bandit dengan sebuah karavan berisi beberapa anak demi human memperingati ketiganya.
* grrrr......... * Ro menggeram seakan ingin menerkam bandit itu.
" Kalau begitu, ayo kita pergi ke tempat kenalanku. " Fla menepuk pundak Alpa untuk berhenti memandang anak-anak demi human dalam karavan sembari menunjukkan jalan ke tempat yang dimaksudkan
" Ya... Baiklah Fla. " Jawab Alpa sembari mengusap kepala Ro untuk kembali berjalan.
Sepanjang jalan yang di tunjukkan oleh Fla. Alpa tidak bisa berhenti mengalihkan pandangannya dari para demi human yang terlihat sengsara akibat rantai-rantai berkarat yang mengekang tubuh mereka. Selain itupun di atas lapak lapak yang tertata rapi, beberapa manusia nampak bertukar sesuatu yang Alpa sendiri tidak tahu, namun dari yang ia rasakan, sesuatu yang mereka jual belikan memiliki sebuah energi sihir tingkat dasar sampai menengah.
" Jika saja tuan ada di sini. Mungkin tuan akan menyelamatkan mereka semua tanpa menyebabkan masalah lain " Gumam Alpa sembari melewati para demi human yang di sama ratakan.
Bukan hanya pandangan seperti itu yang Alpa lihat, ia juga sempat beberapa kali melewati kereta yang ditarik oleh monster monster aneh yang mungkin bisa di samakan seperti Ro yang membawa hasil tambang maupun sesuatu semacam jarahan dan hal paling miris yang Alpa sempat lihat adalah beberapa sosok demi human yang tidak memiliki tubuh lengkap.
" Nah.... Alpa. Kita sudah sampai di tempat kenalanku. " Fla meminta Alpa untuk menghentikan langkah Ro.
" Gnome Magician " ucap Alpa sembari melihat tempat yang dimaksud
* Gbrak..... Whush...... * seorang terlempar dari samping bangunan di hadapan Alpa dengan tubuh yang terbakar.
" Ayo, Alpa. Kita masuk " Seolah mengabaikan apa yang barusan terjadi, Fla menarik paksa Alpa yang terpaku melihat hal mengerikan yang ada di hadapannya.
" Ah... Iya.... Baiklah Fla. " Jawab Alpa sembari mengikuti Fla setelah menasehati Ro agar tetap di tempatnya.
* tok... tok... tok... * Fla mengetuk sebuah dinding yang nampak aneh
" Fla? Apakah benar benar mengetuk sebuah dinding? " Alpa bertanya karena bingung atas apa yang di lakukan oleh Fla.
" Tenang lah, Alpa. Sends.... Gamman...hra... Grein~nma " Ucap Fla menenangkan Alpa sebelun mengucap sebuah mantra.
" Gamman... Ghede.... Landhepsan.... " Sebuah suara yang tidak jlas antara laki laki ataupun perempuan menyahut mantra yang di ucap oleh Fla.
* splash..... * sebuah golok giok muncul dari dalam dinding dihadapan Fla dengan tiba-tiba.
* swugh..... Zrazapz.....* Sesaat setelah golok giok itu berputar cukup lama, Fla memegang pegangan dari golok itu dan menggunakannya untuk menebas sebuah ruang kosong di ujung dinding yang saling bertemu.
" Nah... Alpa. Mari kita masuk ke ruang tempat kenalanku berada " Ajak Fla setelah sebuah sobekan ruang berwarna hitam terlihat di sudut dinding yang semula tidak ada apapun
" Baiklah Fla. " Jawab Alpa sembari mengikuti Fla yang menawarkan tangannya.
* Zrazapz..... * Robekan ruang langsung menutup setelah Alpa dan Flairia masuk kedalamnya.
" Bukankah ini adalah tempat yang menarik? " Kata Flairia sembari menyentuh pernak pernikahan dari batuan orb, tulang dan beberapa hiasan batu giok yang tergantung layaknya gorden.
" ...... " Alpa tidak merepon perkataan Fla karena suatu hal.
" Grim.... Aku datang berkunjung... Apakah kamu ada di sini ? " Fla berteriak sembari menepukkan kedua tangannya.
* swush.... stings..... * sebuah clurit raksaksa di hentikan paksa oleh Alpa dengan salah satu tangannya.
" Ne... Grim... Jangan berlaku kasar pada penyelamatku. " Fla mengusap ujung sabit itu yang masih di pegang erat oleh Alpa dengan telapak tangannya.
" Penyelamat.... Penyelamat.... Penyelamat ? Itulah kata yang sering kamu gunakan ketika kamu berganti tuan yang menginginkan kekuasaan. " Sosok Reaper dengan separuh tubuh kerangka dan separuhnya lagi adalah gumpalan aneh keluar sembari memanggul sabit yang Alpa tahan.
" Ayolah.... Grim... Apakah kamu masih marah dengan kejadian itu ? " Fla mendekat ke arah Reeper itu sembari mengusap bagian dada yang hanya berupa tulang rusuk.
" Ghr.....agh.....!!! Bagaimana aku bisa melupakan kejadian itu?! Tuan bodohmu itu dengan sengaja melempar poison itu kepadaku dan menyebabkan diriku menjadi seperti ini " Grim menarik paksa tubuh Flairia dengan satu tangannya sembari mengerang kepadanya.
* sblums..... * Flairia melesatkan tendangan ke arah gumpalan aneh yang berada di bagian bawah dari Grim.
" Grim... Sadarlah... Jika bukan karena aku. Kamu mungkin sudah menjadi abu " Fla menarik bagian rambut yang tersisa dari Grim dengan paksa.
" Ya... Baiklah Fla... Baik... Aku minta maaf... Tolong maafkan candaanku tadi " Sosok Grim yang semula terlihat begitu menyeramkan berubah menjadi sosok lain yang lebih bersahabat
" Kamu ini... Tidak pernah berubah ya " Fla tersenyum ketika melihat tubuh asli Grim yang ternyata seorang wanita seumuran dengannya
" Hehehehe.... Yah... Aku hanya ingin tahu saja sosok seperti apa lagi yang akan kamu tunjukan kepadaku. Tapi ternyata, dengan kecepatan seperti tadi, tamu yang kamu bawa itu lumayan juga
" Sahut Grim sembari mengusap bagian sabit yang hampir patah.
" Terima kasih atas pujian anda, Nona Grim " Alpa menunjukkan sikap hormatnya.
" Walah... Ternyata kamu cukup sopan juga ya? " Grim terkejut.
" Dia Alpa, Grim. Seorang yang menyelamatkanku dari bencana di menara jiwa. " Fla mengenalkan Alpa pada Grim
" Salam kenal nona Grim " Alpa menunjukkan sikap hormatnya kembali.
" Wah... Iya... Alpa.. Kamu tidak perlu bersikap kaku seperti itu padaku. Anggap saja aku sama sepeti Fla " Grim menggoyangkan kedua tangannya tanda penolakan.
" Baik, nona Grim " Jawab Alpa dengan tingkah yang masih sama.
" Sudahlah.... Alpa... " Grim mencoba kembali menasehati namun di tahan oleh Fla.
" Tidak apa Grim. Alpa memang seperti itu sejak pertama aku bertemu dengannya. " Jelas Fla sebelum Grim melemparkan pertanyaan
" Hee....h jika seperti itu ya sudah lah aku tidak akan memaksanya. " Grim melepas tangan Fla yang menutup paksa mulutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments