Lambat laut, mereka yang tengah membahas berbagai hal terkait turnamen yang segera diadakan dan beberapa hal kecil lainnya mulai mencapai batas kemampuan mereka sesaat setelah Anma memberikan sebuah sihir agar mereka yang ada di hadapannya tertidur.
" Maaf, karena waktu yang aku sisihkan untuk kalian semakin menipis, aku harus melakukan hal itu kepada kalian...." ucap Shofia yang membaca sebuah surat yang ditinggalkan di atas meja
" Emh.... apakah yang kemarin itu hanya mimpi? Seharusnya aku mengatakan rencana dari Master untuk mengundang Tuan Anma ke sebuah pertemuan. " ucap Susan sembari mengusap kedua matanya untuk melihat sekeliling
" Hm~? " gumam Susan ketika menyadari bahwa tepat dihadapan dirinya, sosok Shofia dan Tia bersaudara tengah duduk dalam satu ruang seperti saat terakhir kali dirinya berpamitan untuk mengundang sosok Anma
" Selamat pagi, Susan. " ucap Linda setelah melewati Susan yang duduk di sebuah tempat tidur gantung.
" Ah, iya. Selamat pagi juga nona Linda " balasnya yang masih belum tersadar atas sesuatu yang dirinya lewatkan.
" Jadi, mengenai surat itu dan pembicaraan kita kemarin malam benar-benar terjadi? " ucapnya pada Shofia yang masih menahan surat itu dengan jarinya.
" Sepertinya begitu. Namun mengingat beberapa kejadian yang sepertinya hampir sama seperti saat ini, aku rasa semua yang telah terjadi itu benar adanya " balas Shofia yang menyadari bahwa hal yang sama pernah terjadi sebelumnya dan ingatan mengenai sosok perempuan yang dianggap sebagai anak dari Anma pun terlintas walaupun hanya sesaat.
" He~emh.... akupun setuju dengan ucapanmu. " balasnya setelah menyeruput teh yang telah dirinya seduh
" Hey, Linda?! Meskipun beberapa hal besar telah terjadi beberapa waktu lalu, kenapa kamu justru nampak tenang seperti itu?! " ucap Shofi yang nampak kesal
" Mna~ mna~. tenang lah Shofi. Kehawatiran yang kamu rasakan saat ini pun juga masih ada dalam benakku. Tapi, setidaknya sadarlah atas perkataan yang dirinya katakan kala itu sembari melihat kenyataan yang ada di hadapanmu saat ini " balas Linda dengan tenang sembari memastikan kedua kakaknya masih tertidur
" Tapi kan ini, itu, lalu~ Argh!!! ya sudahlah aku tidak peduli " balas Shofi sembari melemparkan surat yang dirinya pegang sesaat setelah merasa muak atas hal yang terjadi.
" Hm~?? Surat ini... " ucap Susan sesaat ketika surat yang Shofia lempar berada di dekatnya
" Hehehe... tenanglah, tenanglah. " ucap Linda sembari mengusap kepala Shofia yang kini tertunduk lesu di atas meja
" Ne Mas... -ter " ucap Susan yang membatalkan niatnya untuk bertanya sesat setelah Shofia memintanya untuk mengurungkan pertanyaannya dengan tatapan kesal.
" Hehehe... maaaf ya, Susan. Mungkin dirinya masih syok atas apa yang telah terjadi. " ucap Linda sembari melambaikan tangannya sebagai tanda agar Susan mengabaikan apa yang ada dihadapannya.
...----------------...
" Jadi benar, saat ini dia tengah sibuk dengan mereka? " ucap Quinn disaat melihat para maiden yang tengah bertarung dengan sosok hitam yang tidak lain adalah entitas asli dari sosok monster yang meninggali mansion
" Itu benar, nona Quinn. Sesaat sebelum saya sampat menghentikan mereka, tuan sempat meminta saya untuk menjaga kalian hingga dirinya kembali. " ucap Arc sembari memandang sebuah surat dari Anma
* Swungsssss!!! * sebuah serang bertipe dasar angin di arahkan oleh Flora yang saat itu ikut dalam penyerangan sosok hitam itu
* Diiiing!!! Diiiing!!! sprash!!! Swings!!! Craaaaaa!!!!?* dengan beberapa bantuan dari Ryuu yang terfokus untuk melemahkan pertahanan sosok hitam itu, Cokti dan Hena langsung menyerang bersamaan yang mana Cokti menyerang tubuh bagian bawah dan Hena menyerang tubuh bagian atas sementara Bacta mendukung serangan keduanya dengan mega sound sesaat setelah ketiga temannya menghindar
" Dan, bagaimana dengan dia? " ucap Arc ketika melihat sosok Hena yang tengah bertarung di antara para maids lain dan Flora
" Bisa dibilang bahwa dia memiliki kekuatan yang hampir serupa dengan unit pendukung sekelas Sylvi maupun Luna. " balas Quinn dengan wajah serius
" Namun itu hanaya sebuah bayangan yang terlintas oleh diriku sesaat karena mungkin juga dia mampu menjadi sosok yang hampir sama seperti Morag. " tambahnya sesaat setelah menunjuk ke arah Hena yang nampak menggunakan dua buah katana dengan mudahnya
" Jika demikian, mungkin tuan sengaja memberikan pengetahuan itu kepada Hena. Mengingat beberapa unit utama pun sempat diberikan hal yang sama seperti saat itu " balas Arc yang sempat merasa kesal atas apa yang dirinya lihat
" Hena!!! Gunakan teknik Dholu's Blade...!!! " ucap Quinn sembari menguji kebenaran atas apa yang arc katakan.
* Swuuubrs!!! * sebuah hentakan energi tiba tiba membuat maids lain mulai menjaga jarak dari sosok Hena
" Double Blade Deluxe Vortex" ucapnya lirih sesaat setelah membuka kedua matanya dan memancarkan cahaya merah dan aura merah muda dari seluruh tubuhnya
* Swungst * Hena melesat dengan cepat ke arah sosok hitam tadi dan setelah dirinya menyilangkan kedua katana itu, tubuh dari sosok hitam itu mulai terbelah menjadi beberapa bagian sebelum akhirnya meledak menjadi butiran debu berwarna merah muda layaknya bunga sakura yang tertiup angin
" [Egh?!! apa yang barusan terjadi?] " ucap Hena dalam hati
" Wah!!! kamu benar benar hebat ketua!!! " ucap Ryuu yang mendekat dan memeluk Hena yang disusul oleh Flora dan maids yang ikut dalam pertarungan tadi.
" Kamu benar Arc. Sepertinya kemampuan itu berasal dari dirinya. " ucap Quinn yang terlihat kecewa.
" Memang sedari awal aku merasa ada sebuah energi yang tidak asing dari dirinya. Namun, aku tidak menyangka bahwa itu adalah energi yang sama dari Morag." balasnya sembari berjalan menuruni tangga dari lantai dua.
Bersama beberapa pembicaraan kecil mengenai masa lalu diantara keduanya dan sosok bernama Morag, mereka berdua pun mulai menyapa Flora dan para maiden yang sedang membersihkan bekas pertarungan tadi.
" Hena~ maukah kamu mencoba mengadu kekuatan dengan arc? " ucap Quinn tanpa keraguan
" Eh? Tapi nona, Quinn, aku merasa bahwa aku akan kalah menghadapi tuan Arc. " balas Hena disaat maids lain nampak begitu iri.
" Sudahlah tidak apa, aku pun hanya ingin melihat seperti apa kekuatan yang ada dalam dirimu. Lagipula arc pun tengah menggunakan perlengkapan yang melemahkan dirinya. Jadi, ini adalah kesempatan yang tidak akan datang dua kali " ucap Quinn sembari mencoba membujuk Hena aga dirinya mau menunjukkan kekuatannya.
" Ta---tapi... " balasnya yang merasa takut atas kekuatan dari Arc yang tidak lain adalah pemimpin dari Re Legium
" Sudahlah lakukan saja, ya.... dan untuk Flora dan yang lainnya, kalian bisa ikut denganku ke lantai dua untuk mengawasi. " lanjutnya setelah menepuk Arc untuk berbicara dengan Hena.
" Tu---tuan Arc.. " ucanya menyapa sosok Arc dengan rasa takut yang terus berusaha dirinya sembunyikan.
" Halo, Hena... Untuk lebih santai dengan ku, kamu bisa memanggilku Anes dan berhentilah bersikap kaku seperti itu...." balasnya menyapa sembari menjelaskan sesuatu
" Ba---baiklah Tuan Anes. " balas Hena mengulangi.
" Hehehe... bukankah sudah aku bilang bahwa kamu tidak perlu seformal itu kepadaku sampai menambahan kata " Tuan "seperti itu. Panggil saja aku Ka Anes maupun Anes karena sekarang adalah zona pribadi milik tuan dan setidaknya luangkanlah sedikit waktu untuk membaca ini.... " balas Arc sembari memberikan sebuah surat yang seharusnya hanya ditujukan untuk dirinya, Quinn dan Flora.
" Jadi, alasan tuan pergi kesana adalah ini? " ucap Hena disaat dirinya membaca surat dari Arc
" Sebenarnya akupun sempat merasa iri kepada kamu, Hena. Karena sejauh ini, beliau hanya memberikan beberapa hal sepesial seperti yang kamu terima ke orang-orang yang nampak sepesial bagiannya. " lanjut Arc yang mengubah nada bicaranya.
" Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya Ka Anes... Di malam itu beliau tiba-tiba melakukan ini dan itu hingga akhirnya beberapa saat setelah saya tersadar saya telah ada dalam bentuk ini " ucapnya menjelaskan
" Hm~, ya. Tentunya aku tidak meragukan apa yang telah terucap olehmu. Maka dari itu, setidaknya ijinkanlah aku untuk bertarung denganmu, Hena. " balasnya sembari bersiap dalam posisi menyerang
" He~?! " Hena langsung kebingungan disaat Arc tang berada dalam bentuk manusia mulai bersiap menyerang dirinya menggunakan sepasang senjata yang keluar dari dalam tubuhnya
" Hena!!! semangat!!!! " Teriak Flora menyemangati
" Ayo ketua!!! kamu pasti bisa memberikan beberapa serang kepada tuan Arc!!!! " teriak Ryuu menyusul
" Papa!!!! Semangat!!!! " Teriak Crsi yang tiba tiba muncul dan mengejutkan seluruh maids yang ada tanpa terkecuali Flora
Dengan sebuah senyuman dan lambaian tangannya ke arah Crsi, Arc mulai membuka sebuah bariarel area untuk melindungi area di sekitarnya agar tidak rusak terlalu parah
" B-trial unit!! code 2367-Anes.....-!! " ucapnya dengan menghantamkan kedua tangannya sebelum akhirnya mengeluarkan sepasang meriam panjang dengan setiap sisi yang setajam pedang
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Rinie Rahayu
baca dikit dikit dulu ya
2022-05-31
1
It's me
tinggalkan jejak dulu ya
2022-04-30
1