" Youlandist Prandis, Serverals Gellen Sigh, Wilela Wilhite, Wilena Borow, Mariesta Vera, Marintia Neva, Tristia Vanera, Jian Xi'an, Juanin King, Saera Fanrir, Carmenal Dizgha, Cerminal Xiunze, Nicolas Fang, Nillen Nian, Floryina Falavora, Siberal Secil, Nagata Ling.... " ucapnya menyebutkan nama nama yang terpampang jelas di sederet lukisan bergambar demi human yang dirasa mirip dengan para demi human yang menghilang.
Sembari mengusap salah satu lukisan yang berada paling dekat dengan dirinya, sebuah cahaya tiba-tiba muncul dari dalam tubuhnya dan bersama dengan itu sesuatu mulai terlihat.
" Oya, oyah.... selamat datang kembali Antares.... " ucap sebuah batu hitam yang diikat oleh berbagai macam rantai dan pentagon sihir di sebuah altar dari ruangan yang hampir hancur seutuhnya.
" Aaaaargh.... Pa---paradox.... " balasnya kesal sembari menahan rasa sakit kepala yang teramat sangat.
*sbrashsss* sesaat setelah sosok Antares memanggilnya dengan nama Paradox, batu hitam yang terikat itu tiba-tiba meledak dan bersama dengan itu sosok yang menyerupai sosoknya pun kembali muncul namun dengan wujud iblisnya.
" Ha-ha-ha.... lihat lihat... siapa yang kembali datang kemari dengan penuh luka yang sama seperi ini... " gelak tawa sosok Paradox sembari menghina Antares yang tidak berdaya sebelum mengusap beberapa luka besar yang serupa dengan luka-luka yang ada pada tubuhnya sendiri.
" Ke--kenapa a--aku ke---kembali ke dimensi ini... " ucap Antares yang bersusah payah saat Paradox mulai melakukan sesuatu terhadap tubuhnya.
" Meskipun terjadi banyak perubahan yang cukup besar dalam dimensi ruang dan waktu tempatnya berada, takdir kejam itu masih bekum berubah. Terlebih lagi setelah melewati waktu ini dan pertemuan dengan sosok itu dirinya mungkin akan kehilangan banyak sosok yang berharga.. " gumam paradoks sembari melihat sebuah hiasan kaca patri yang menggambarkan sebuah akhir yang kejam.
Disaat yang sama ketika Paradoks mencengkram leher dari Anma dengan tangannya, Anma terus berusaha melepaskan diri dengan meronta bahkan memukul bagian vital dari sosok itu.
" Hmph... Duraks pov Adyics *sbrashsss gbruuuuumssss * " Gumam Paradox setelah melemparkan tubuh Antares dengan kesal.
*ghkssss* sosok Antares memutahkan darah dari mulutnya ketika kesadarannya kembali ke tubuhnya yang berada di depan sebuah lukisan seorang Elf perempuan dengan pakaian Priest.
" Apa-apaan itu tadi... " ucapnya sembari mempertahankan kesadarannya yang sempat teralihkan oleh rasa sakit yang teramat sangat.
Disaat yang hampir bersamaan dengan waktu dimana Anma tengah berjalan di sebuah lorong, seorang demi human tengah bersusah payah untuk mencari seseorang dengan berjalan lagi bertumpu pada dinding dalam area yang nampak seperti rumah sakit
* dbuksss * baik sosok Anma maupun sosok demi human yang dimaksud saling bertabrakan dan jatuh tersungkur.
" A~akh.... Ma----maafkan aku... " ucap sosok demi human itu sembari melihat ke arah Anma.
" Argh.... ya ampun, kenapa tubuhku kembali seperti saat itu... " gumamnya setelah menyadari bahwa bentuk tubuhnya kembali berubah ke bentuk dari sosoknya yang hanya memiliki satu lengan.
" Suara itu... " gumam sosok demi human itu seolah mengingat sebuah suara yang pernah didengarnya.
" Eragh.... Maaf, ya... nona. Aku tidak sengaja menabrak tubuhmu. " ucap sosok Anma sembari berusaha berdiri dan menawarkan bantuan dengan tangan kirinya karena tangan kanannya kembali menghilang.
" A--akh... iya... ti--tidak apa. i--itu juga salahku yang tidak berhati-hati " balas demi human itu sembari menahan rasa harunya terhadap sebuah sosok yang sangat mirip dengan sosok yang ada dalam mimpinya.
" Eh, tunggu... bukankah dia adalah.... " ucapnya dalam hati ketika menyadari bahwa sosok yang ada dihadapanya adalah sosok yang pernah dirinya lawan.
" Eghm.... nona... apakah anda baik-baik saja? " ucapnya dalam keraguan sembari mencoba untuk tetap tenang ketika melihat mata dari sosok demi human itu nampak mengeluarkan air mata.
" A---ah... i---iya... saya baik-baik saja dan mungkin saya merasa sangat baik sekarang... " balas sosok itu sembari mengusapkan air mata yang tiba-tiba membasahi pipinya.
" Em... ya, kalau begitu saya permisi dahulu ya.... " balasnya sembari tersenyum.
" *staps... * A--ano... " ucap sosok demi human itu setelah menahan Anma yang hendak pergi menjauh.
* gupls * suara dari ludah yang tertelan sempat membuatnya khawatir atas munculnya rasa curiga dari sosok demi human itu.
" Apakah tuan adalah.... " ucap demi human itu saat detak jantung dari Anma semakin meningkat mengingat kekuatan dalam dirinya yang seolah menghilang.
" *creeeks * Sci... apa yang kamu lakukan di situ? " ucap sosok demi human lain disaat tubuh dari Anma tertahan oleh Sci.
" Celakalah aku... " pikirnya disaat sosok demi human yang baru muncul itu melihat sosoknya.
" Ah... Ka Zeral?! A---aku sedang, aku hanya ingin... akh.. tidak maksudku aku sedang bertanya mengenai nama dari tuan ini... " balas Sci yang nampak terkejut ketika sosok pria dengan bentuk tubuh yang hampir serupa dengan sosok Azela ada di dekatnya.
" He~? Sepertinya kekacauan mana yang sempat Bibi Yola ucapkan masih berefek pada kesadaranmu, ya... Sci-can.... " balas sosok Zeral sembari mencubit pipi dari Sci yang sebelumnya menampakkan ekspresi yang menggemaskan.
" Em? Apakah ka Zeral tidak melihatnya? dia ini~? disini~? " ucap Sci yang berusaha memberitahukan Zeral bahwa ada sosok lain yang saat ini tengah di tahan oleh Sci.
" Hehehe.... iya... aku juga melihatnya... bukankah dia adalah sosok berlengan satu? " balas sosok itu sembari tersenyum dihadapan wajah Anma.
" Wa~h... itu benar ka- Ze..r...a....l * sdupst* " balas dari Sci yang sangat senang menyadari bahwa Zeral pun menyadari keberadaan dari sosok Anma.
" Hehehe.... maaf ya, Sci karena aku tidak bisa membantumu di medan perang waktu itu... " gumamnya setelah menggendong tubuh dari Sci yang tumbang setelah dihantam dengan pukulan kerasnya.
" ..... " Anma hanya terdiam tanpa kata sembari berusaha tetap tenang dan menjaga dengan hati-hati setiap gerak-geriknya agar keberadaannya tidak disadari oleh sosok Zeral.
" Kekagumanmu terhadap sosok itu membuatku sangat iri, Sci... Terlebih jika kembali mengingat masa lalu yang mana saat itu, ayah maupun ibuku berkata bahwa kami berdua bisa hidup hingga kini merupakan wujud dari kasih sayangnya... " gumamnya sembari membawa Sci ke ruangan istirahatnya.
Setelah terdiam cukup lama di tempat yang sama, pada akhirnya Anma mulai bergerak secara hati-hati dari satu ruang ke ruang lainnya untuk mencari jalan keluar dari tempatnya berada saat ini.
" Smoke.... Smoke.... Smoke.... " gumamnya sembari berjalan lagi bersembunyi.
* Spyarss..... * sebuah cermin kaca tiba-tiba pecah ketika Anma menabrak beberapa demi human yang membawa sebuah cermin yang cukup besar di sebuah tangga.
" Apa itu tadi?! " ucap seorang demi human dengan ras orc yang terjatuh di sisi kanan cermin.
" Akh... ya ampun.. aku kira tadi aku mendengar sebuah cermin yang pecah tadi... " ucap demi human lain dengan ras yang sama sembari melihat kaca patri bergambar demi human.
" Hey?!! Kalian!!! cepatlah bawa benda itu kemari!!! " ucap seorang demi human lain yang berada tidak jauh dari tempat keduanya jatuh.
" Apa apaan lagi sihir ini.... apakah entitas kuat yang di sebut dewa atau dewi tengah mempermainkan ku?!!! ataukah sosok Paradox itu yang menjadi dalang di balik ini?!!! " teriak kesalnya yang teramat sangat sembari berusaha mencari cara keluar dari hiasan kaca patri bergambar delapan demi human yang tengah bersujud hormat pada satu demi human ber rambut merah yang tertutup oleh jubah hitam.
" Mungkin hal ini lebih baik dari pada membuatmu harus mengikuti jalan takdir yang membuatku seperti ini... " gumam sosok Paradox yang berada dalam posisi siap siaga di hadapan sosok lain yang memakai pakaian serba putih.
* Sbrash.... * sebuah serangan tiba tiba memotong tubuh dari sosok Paradoks dan membuat tubuh yang terbelah itu kembali ke bentuk batuan hitam dan dibelenggu oleh berbagai macam rantai sihir.
" Walau bagaimana pun juga, dia akan menjadi sosok yang lebih baik lagi hebat dari kami... " ucap Paradoks dalam wujud batuan itu pada sosok berpakaian putih itu sebelum sesuatu mengalihkan pandangan dari keduanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments