* Swugh swugh swugh gbralssss* Sesosok naga merah mendarat di sebuah area kosong dengan sebuah lambang kaki naga serta dilindungi oleh lingkaran pentagon
Di atas sebuah bukit tandus yang tidak jauh dari sebuah kastel besar yang bobrok, sosok naga merah tadi sempat melemparkan beberapa tubuh demi human sebelum berubah menjadi bentuk dragonoid dan menangkap tubuh yang sebelumnya terlempar
" Untuk sekarang kalian bawa tubuh mereka ke ruang pemulihan segera sementara aku akan kembali dan mengangkut sisanya " ucap sosok naga itu pada beberapa pleton prajurit yang mulai datang sembari membawa sebuah kargo besar
" Akh... ya ampun. Sci.... apa yang sebenarnya kamu lakukan sampai terjadi hal semacam ini..." ucap seorang demi human yang sebagian tubuhnya nampak seperti ras minatour sementara sebagian lainnya berbentuk tubuh manusia namun ditutupi oleh kabut hitam sesaat setelah melihat tubuh Sci yang di bawa menggunakan sebuah tandu oleh beberapa demi human berpakaian kesatria
" Maaf ya, Azel. Bibi gagal mencegah ini semua " ucap Willa dengan nada lirih sesaat setelah menyentuh separuh tubuh dari sosok itu yang menampakkan tubuh minatour
" Tidak apa bibi. Kalian telah melakukan hal yang terbaik untuk Sci.... " balasnya setelah menahan bibinya yang hampir jatuh akibat kehabisan kekuatan.
" Baguslah jika kalian bersedia. Dengan adanya bantuan kalian, mungkin pelabuhan itu akan kembali ke tangan kita... " ucap sosok dragonoid sembari bersiap membawa beberapa sosok demi human yang nampak kuat dengan kargo yang ada.
" Paman!!!! Tunggu aku!!!! " ucap Azel sesaat setelah melihat sosok dragonoid kembali berubah menjadi naga merah dan membawa beberapa kargo berisi arc wizard, dark knight dan demi human yang nampak kuat pergi ke suatu tempat di sebrang lautan
" Maaf Azel!!! Karena kamu adalah sosok yang sangat berharga bagi kami setelah dirinya, Aku tidak ingin kamu pergi untuk peperangan kalih ini!!!" balasnya setelah menoleh ke Azel yang nampak berharap untuk bisa ikut bertarung
" Azel.... Bibi tahu bahwa kamu sangat ingin membantu negri yang krisis ini. Namun, kamu pun harus mengetahui bahwa selain dari kamu, Azreal, Sci dan beberapa putra mahkota harus tetap hidup untuk menjadi pelindung negri ini... " ucap sosok Wilna yang keluar beberapa saat setelah sebuah lubang muncul di atas tanah
" Tapi bi.... bukankah saat ini merebut pelabuhan itu kembali adalah hal yang penting? dan bukankah akan lebih baik jika aku ikut bertarung bersama mereka?! " balas Azel yang nampak marah
" Tenanglah... untuk saat ini jadilah anak yang baik dan turuti apa yang bibi katakan... " balas Willna setelah mengusap dada dari Azel yang diselimuti kabut hitam
" Hm~mph.... Baiklah bi... aku akan menjadi anak baik dan menuruti apa yang bibi mau... " balas Azel setelah mengingat sesuatu yang membuatnya berubah pikiran setelah Wilna mengusapkan tangannya
" Kalau begitu simpanlah senjata itu dan kembalikan juga zirah kitin itu ke tempatnya semula... " ucap Wilna sembari memaksa Azel untuk berbalik ke arah kastel dan memintanya melepaskan perlengkapan yang dirinya kenakan
Sesaat setelah berada dalam sebuah ruangan dengan sebuah tanda berupa palu besar yang di ikat oleh rantai dalam sebuah perisai, Azel mulai melepaskan sebuah zirah kulit dari seekor monster dan menampakkan sebuah tubuh perempuan ideal dengan sepasang tanduk besar yang berwarna putih mengkilap
" Meskipun zirah ini tertutup oleh kabut hitam ini, aku tidak menyangka bahwa bibi akan menyadarinya... " gumamnya sembari melihat ke arah cermin yang menunjukkan tubuhnya
" Dan yah, meskipun tubuh ini masih diselimuti kabut misterius ini, aku masih tetap percaya diri dengan bentuk tubuhku ini. Hehehehe.... " lanjutnya setelah melakukan beberapa pose menggoda di depan cermin agar menunjukkan lekuk tubuhnya
" *stak* He~?? bukankah ini... " ucapnya sesaat setelah mendengar sesuatu yang jatuh dan menemukan sebuah batuan kristal merah yang nampak familiar baginya.
Beberapa saat setelah dirinya menatap batu itu, dia yang teringat sesuatu langsung langsung pergi ke suatu tempat dengan terburu-buru.
...----------------...
Dalam sebuah hutan yang hanya menampakkan tanah tandus dan pepohonan yang kering, Azel mengusap sebuah tugu yang nampak seperti makam yang tersembunyi dan sesaat setelah mengawasi sekitar sembari merapal mantra, tugu yang nampak seperti makam itu mulai menunjukkan sebuah pintu bawah tanah yang membawanya ke sebuah ruangan yang tersegel oleh banyak pentagon sihir dan artefak misterius.
" Jikalau tidak salah, Bibi Lili pernah berkata bahwa serpihan terakhir ada untuk diriku agar aku tidak melupakan hal baik dikala kejadian itu terjadi. " ucapnya sembari menatap harap sebuah lubang kecil dari sebuah artefak kristal berwarna merah yang menutupi sebagian pintu besi dihadapannya.
" Aku harap ini berhasil " ucapnya sembari mendekat kan pecahan kristal tadi ke bagian kristal besar yang berlubang
* Swups * sebuah lengan hitam langsung menarik tubuh dari Azel untuk masuk kedalam ruangan yang terkunci rapat oleh berbagai macam sihir dan item penghalang tadi
" Apa!!!! Siapa itu tadi!!! " Azel berteriak di dalam kegelapan itu sebelum akhirnya melihat seorang yang nampak familiar baginya
" Sepertinya ini lebih cepat dari perkiraan ku sebelumnya... " ucap Sosok wanita berrambut merah yang keluar dari sebuah bayangan milik Azel
" Bibi Lili?!! " ucap Azel yang terkejut
" Hehehe, Halo keponakanku... Azelia.... " ucap sosok itu sembari mengusap kepala dari Azel
" Bibi!!! Bibi!!! Bibi Lili!!! " ucap azel yang terus berulang sembari memeluk tubuh dari sosok Bibi Lili
" Sudahlah sudah... bibi sudah ada di sini... Jadi tenangkanlah dirimu dan berhenti menangis " balasnya sembari memeluk tubuh dari Azel untuk menenangkannya
" He~ bibi!!! " Lanjut Azel yang semakin menjadi
Setelah menghela nafas panjang dan menunggu waktu yang cukup lama, pada akhirnya Azel menjadi lebih tenang dan berhenti menagis dipelukkan bibinya
" Jadi, apakah kamu sudah selesai menangis? " ucapnya bertanya sembari mengusap air mata dari Azel
" Hehe, sudah bi... " balasnya yang merasa malu atas apa yang telah terjadi
" Jadi, perlu berapa lama hingga kamu sampai ke sini? " ucap Bibi Lili sembari melepaskan pelukannya dan mulai menyalakan beberapa lilin yang ada dalam ruangan itu
" Aku tidak tahu pasti bi. Namun jika dihitung dari hari dimana bibi memutuskan untuk pergi menghilang, setidaknya ini sudah tahun ke 9 " balasnya sembari merasa bersalah karena melihat sebuah api biru yang masih membakar baju dari bibinya
" He~m... Bibi kira baru 700 tahun semenjak kejadian itu, tapi ternyata sudah lebih dari 1000 tahun...." balasnya sembari menggantungkan sebuah jubah hitam yang terbakar
" Heheh.. iya bi. " balasnya sembari mendekat ke arah Bibi Lili untuk menyanpaikan sesuatu
" Jika kamu kemari untuk mengatakan hal yang berkaitan dengan anak itu, bibi akan mengambil paksa kunci terakhir dan menendang mu keluar dari ruangan ini " ucap Bibi Lili yang kini hanya memakai sebuah armor minimalis yang hampir hancur
" Ah, iya bi.. maaf. " balasnya yang merasa takut atas tatapan intimidasi yang diberikan oleh bibinya
" Jika kamu berhasil menemukan kunci itu, itu berarti sosok yang berharga bagi ku telah kembali... " gumamnya sembari membuang armor yang rusak itu ke dalam sebuah kuali berisi lelehan besi dan hanya meninyisakan beberapa helai kain yang menutup tubuhnya
" Sosok yang berharga bagi bibi? bukankah saat itu bibi bilang bahwa "Serpihan terakhir ada untuk diriku agar aku tidak melupakan hal baik dikala kejadian itu terjadi? " lalu apakah itu berarti bibi akan mengingatkan ku kembali atas apa yang terjadi ribuan tahun lalu?" balas Azel yang nampak penasaran dengan apa yang bibinya katakan
" Tidak Azel. Ucapan itu bukan untuk dirimu, melainkan ucapan itu untuk diriku sendiri agar aku tidak melupakan dirinya. " balasnya sembari membuka sebuah lemari yang hanya berisikan sebuah besi panjang
" Ano... bibi, apa itu? " ucap Azel yang semakin penasaran
" Ini...? ini hanyalah tongkat besi biasa. Tapi * Gbralssss * disini masih tersimpan sebuah kekuatan dari dirinya yang aku sebut sebagai saudara." balasnya sembari mengeluarkan sebuah akar serabut bercahaya setelah menghancurkan sebuah besi panjang di hadapan Azel
" Akh.... Flora~ sepertinya ayahmu telah kembali.... " ucapnya sembari mencengkram erat akar serabut itu hingga meneteskan darahnya
Azela yang terkejut atas apa yang diucapkan oleh Bibi Lili langsung mengawasi area sekitarnya untuk mencari keberadaan orang lain di sekitar mereka berdua
" Heheh... kamu tidak perlu sehawatir itu Azel. Flora adalah sosok yang menganggapku sebagai adik dan sosok ayah bagi Flora adalah sosok yang paling berharga bagiku bahkan lebih berharga dari apapun yang ada di dunia ini." ucapnya dengan wajah yang nampak bahagia sesaat setelah sebuah armor bercahaya membalut sebagian tubuhnya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Rinie Rahayu
aku mampir lagi ya kak...
2022-06-04
0
It's me
Mommy Sashi mampir lagi kak
2022-05-03
1