Chapter 9

...Happy reading guys .🤗...

Kini air hujan telah turun membasahi Jaka, namun Jaka tidak mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam padepokan, hingga ia mendapatkan maaf dari Resa.

"Semua ini salahku, andai saja aku tidak menuruti kata guru, pasti aku akan bisa menyelamatkan dirinya dari para pembunuh bayaran, walau nyawa aku yang harus aku korbankan demi dia pasti aku akan mengorbankannya demi keselamatan guru." lumanan Jaka.

Dari dalam padepokan Resa yang memang pada dasarnya mencintai Jaka, terus menerus melihat Jaka yang masih berada di depan padepokan yang sedang hujan deras serta petir yang terus terusan menyambar ke bumi.

"Jaka, masuklah walau aku marah kepadamu aku tetap tidak bisa melihatmu seperti ini, segera masuk Jaka, aku telah memaafkanmu." ucap Resa di dalam hatinya.

Petir yang menyambar ke sekeliling padepokan dan geluduk yang bergemuruh kencang tidak menciutkan nyali dari Jaka untuk tidak masuk ke padepokan agar ia merenungi kesalahannya.

Ibarat alam berpihak kepada Jaka, petir yang ingin menyambar pohon yang ada Jaka bersantai di dahannya seketika berbelok dan menyambar pohon di sebelah Jaka.

"Aku tidak peduli apa yang akan terjadi jika aku ada di sini hingga hujan selesai, namun aku masih merasa bersalah kepada teman teman dan guru silatku yang mati saat aku berada di luar padepokan." ucap Jaka dengan santai sembari melihat pohon di sampingnya telah hangus di hantam oleh petir yang ganas.

Seolah olah ia menikmati suasana hujan yang sangat deras, Jaka justru tertidur di atas dahan pohon karena ia sudah terbiasa tidur dengan alam tanpa perlindungan apa pun.

Di dalam mimpinya, Jaka di datangi oleh Ki Jagabaya yang ingin memberitahu apa yang terjadi pada padepokannya.

"Jaka, ikut denganku agar kamu mengetahui apa yang terjadi kepada padepokan silat ini dan apa yang terjadi kepadaku." ajak Ki Jagabaya yang mengajak Jaka memasuki portal putih.

Setelah memasuki portal itu, Jaka di bawa ke massa pembantaian padepokannya.

Mula mula, Ki Jagabaya di racuni oleh seseorang yang memakai jubah hitam dan di tutupi kepalanya dengan menggunakan caping petani dan menutup wajahnya dengan kain hitam.

Seseorang itu tidak di kenal sama sekali oleh Jaka dan orang itu menuangkan racun di dalam teh Ki Jagabaya yang saat ia pergi ke belakang membantu putrinya di belakang rumah.

"Hari ini kamu akan mati Jagabaya, kini saatnya padepokanmu akan hancur di tanganku dan ini adalah waktu mulainya padepokan ini aku ganti dengan padepokan milikku sendiri haha." suara yang sangat licik terdengar dari sosok misterius itu.

Saat mendengar suara kakinya Ki Jagabaya, orang itu langsung melarikan diri untuk tidak di curigai oleh Ki Jagabaya bahwa teh yang akan dia minum sudah terdapat racun dan ketika racun itu di minum maka semua anak buah orang tadi akan masuk dan membantai semua anggota silat harimau dengan brutal.

"Tolongg... tenggorokan aku terasa terbakar tolong!!" ucap Ki Jagabaya setelah meminum tehnya.

"Guru... kau kenapa guru? cepat ambilkan air minum untuk guru!!" ucap kakak tertua kedua di silat harimau.

"Baik, tunggu sebentar guru..." sahut semua siswa yang mendengar suara teriakan kakak tertua kedua.

Namun sesuai dengan rencana orang misterius tadi, setelah Ki Jagabaya meminum teh yang terdapat racun yang sangat mematikan dan belum pernah ada obatnya.

"Kakak tertua!! kita di serang!" ucap adik ketiga yang dari belakang ia di tusuk menggunakan pedang.

"Sudah, tidak apa apa, sekarang kau pergi, pergi dan cari putriku sembunyikan dia tempat yang aman!" perintah Ki Jagabaya yang berusaha melawan racun yang ada di dalam tubuhnya dan membantu para muridnya yang sedang di bantai habis habisan.

"Tapi guru..." ucap muridnya yang ingin menolak perintah Ki Jagabaya.

"Sudah cepat! kau cari putriku dan bawa dia ke tempat aman, jaga dia kalau aku tidak dapat kembali kepada kalian." Ki Jagabaya bangun dengan tertatih-tatih menahan rasa sakitnya racun yang mulai menggerogoti tubuhnya dari dalam.

"Cepat!!! ini perintah!" teriak Ki Jagabaya dan berlari menyelamatkan muridnya yang lain.

"Guru... aku akan kembali setelah menyelamatkan putrimu!!" berlari ke belakang padepokan untuk membawa lari putri gurunya dari pembantaian yang sedang berlangsung.

Saat sudah sampai di belakang, putri Ki Jagabaya sudah di kepung oleh beberapa kelompok berjubah serba hitam dan beruntung baginya kakak tertua kedua telah sampai untuk menyelamatkan dirinya.

"Ainun!!!" teriak kakak tertua kedua yang langsung menyerang kelompok yang ingin membantai putri gurunya.

"Kakak selamatkan aku..." ucapnya sembari mundur selangkah demi selangkah.

"Kau jangan jauh jauh dariku Ainun! aku akan menjagamu." ucap kakak tertua kedua yang langsung menghalangi Ainun dari pembunuh bayaran menggunakan badannya.

"Kakak..." memejamkan matanya dengan rasa yang sangat takut akan hal yang aneh akan terjadi pada kakak tertua keduanya.

Kakak tertua mampu menangani 10 pembunuh bayaran yang ingin menghabiskan Ainun dan dirinya, akan tetapi kini bala bantuan musuh telah datang lebih dari 20 orang yang membuat dirinya harus menyuruh Ainun pergi menjauh.

"Ainun pergilah dari sini! aku akan menahan mereka semua, pergi yang jauh jangan menoleh ke belakang dan teruslah berlari sekuat tenagamu!!" perintah kakak tertua kedua yang menahan 5 pedang dengan cakar harimaunya.

"Kakak hati hati!!" berlari menjauhi padepokan dan masuk ke dalam hutan.

"Iyah!!! argh... argh..." akibat lengah melihat Ainun pergi membuat dirinya tertusuk pedang tepat di bagian dada kirinya letak jantungnya berada.

Suara kakak tertua kedua sampai terdengar sampai kejauhan dan dapat di dengar oleh Ainun yang sedang berlari.

"Kakak..." Ainun terus berlari hingga ia terjatuh akibat tersandung akar pohon yang keluar dan ia pingsan di seketika setelah tersandung.

Ki Jagaraga yang mengetahui Ainun telah lari ke dalam hutan membuatnya mencari keberadaan Ainun di dalam hutan belantara bertiga dengan kedua anak buahnya.

"Ainun... keluar lah ini paman." teriak Ki Jagaraga.

"Aki ini Ainun! kita habisi saja dia." teriak anak buahnya yang melihat Ainun tidak sadarkan diri.

"Paman tolong aku, aku mau di bunuh paman..." Ainun terbangun dari pingsannya akibat teriakan anak buah Ki Jagaraga.

"Kurang ajar!!! jangan coba coba menyakiti keponakanku!! matilah kau!!" langsung menerkam anak buahnya yang ingin menikam Ainun.

"Ki Jagaraga kau!!" ucap salah satu anak buahnya yang masih hidup.

"Susul temanmu ke neraka!!!" Ki Jagaraga langsung mencakar leher anak buahnya hingga tewas.

"Kamu tenang nak, kamu aman bersama paman, ayo kita pulang ke rumah paman, karena di rumah ayahmu sudah tidak ada lagi yang masih hidup." ajak Ki Jagaraga.

Dengan polosnya Ainun menuruti keinginan Ki Jagaraga untuk ke rumahnya.

"Dasar anak yang polos, aku tidak akan membunuhmu kalau kau tidak menganggap aku musuh ayahmu." ucap Ki Jagaraga di dalam hatinya.

......Bersambung.......

Jangan lupa di like dan komen chapter ini agar author lebih semangat up chapter selanjutnya, terima kasih.

Terpopuler

Comments

Lottie

Lottie

beuh licik bet si Jagaraga 🗿

2022-05-19

0

 ‎🐰⃞⃟° ̥۪͙۪◌NUNA

‎🐰⃞⃟° ̥۪͙۪◌NUNA

ya iya lah Ainun kan anak kecil masih polos mana paham pertarungan mana tahu kalo Ki Jagaraga musuh dalam selimut.

2022-05-19

1

 ‎🐰⃞⃟° ̥۪͙۪◌NUNA

‎🐰⃞⃟° ̥۪͙۪◌NUNA

Ki Jagaraga ternyata oh ternyata
kau membunuh anak buah sendiri demi kehidupan mu tanpa memikirkan semuanya.

2022-05-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!