Chapter 8

...Happy reading guys.🤗...

Jaka yang merasa sangat aneh bahwasanya gurunya mati begitu mudahnya, sedangkan dirinya sekarang tidak jauh beda dengan gurunya di masa lalu.

"Bagaimana bisa guru begitu mudah di bunuh oleh musuhnya?, selama ini guru adalah pendekar yang sangat kuat di pulau ini, tidak mungkin guru mati begitu saja dengan mudah, pasti ada yang tidak beres di sini, aku harus mengikuti alur mainnya Ki Jagaraga karena guru pernah berkata kalau Ki Jagaraga adalah saudaranya yang selalu memusuhi dirinya, jadi tidak mungkin Ki Jagaraga membantu guru dengan begitu saja tanpa ada imbalan sedikit pun." gumam Jaka di dalam hatinya.

"Apa yang kamu katakan ki, kenapa guruku bisa mati begitu saja?!! kenapa engkau tidak menyelamatkannya Ki Jagaraga...." Jaka nangis di bawah kaki Ki Jagaraga yang memasang wajah liciknya.

"Bagus kini dia telah termakan tipu muslihat dariku, sekarang tidak akan ada yang berani menantangku selama aku masih mempunyai Jaka." gumamnya di dalam hati sembari memasang wajah sedih di hadapan Jaka.

"Sudahlah Jaka, bangun ikhlaskan gurumu, aku juga masih terus memburu para pembunuh bayaran yang telah berani merenggut saudaraku, walau selama ini aku selalu bermusuhan dengan Jagabaya namun ia tetaplah menjadi saudaraku dan tidak akan pernah berubah sampai kapan pun." ucap Ki Jagaraga dengan lihainya ia berdusta.

"Aku sekarang sudah tidak memiliki orang tua lagi ki, orang tua aku satu satunya hanyalah guruku dan sekarang aku telah di tinggal olehnya." Jaka masih terus menangis di bawah kaki Ki Jagaraga.

"Tapi ki, bagaimana dengan putri guruku?" tanya Jaka sembari berdiri dari bawah kaki Ki Jagaraga.

"Putri Jagabaya ia sempat bersembunyi saat pembantaian padepokan silat harimau ini dahulu dan aku menemukan dia saat semua orang telah tewas dengan luka yang sangat parah, kini anak itu aku namai dengan nama Resa." jawab Ki Jagaraga.

"Resa? apakah Resa yang bersamaku bareng ke dalam padepokan ini?" tanya Jaka.

"Benar Jaka, dia adalah putri Ki Jagabaya yang aku rawat hingga dewasa seperti ini." jawab Ki Jagaraga kepada Jaka dengan sangat percaya diri.

"Resa?" ucap Jaka yang langsung berlari menuju lobby padepokan.

Namun sebelum Jaka sampai di depan lobby, ternyata Resa telah menunggunya di depan ruang pelatihan dengan tertidur karena kecapean saat pertama kali mereka berdua bertemu.

"Resa, bangun lah ini aku Jaka Lumayun anak angkat dari ayahmu dahulu." ucap Jaka yang membangunkan Resa secara perlahan.

"Jaka? apa ini benar kamu? kamu yang ayahku perintahkan untuk pergi ke hutan untuk bersemedi dan menjadi pendekar legendaris silat harimau?" tanya Resa dengan muka yang kaget.

"Benar, ini aku Jaka, Jaka yang kamu lihat terakhir kali aku pergi meninggalkan padepokan." jawab Jaka.

"Pergi kamu!! kenapa kamu tidak datang saat ayahku di serang oleh pembunuh? kamu ke mana Jaka?!!! kamu bilang kalau kamu akan datang saat aku memanggilmu!! tapi apa?! aku memanggil namamu untuk kembali dan membantu ayah beserta murid yang lain bertempur mati matian melawan para penjahat?!!! kamu ke mana Jaka?!!!" teriak Resa sembari mendorong Jaka hingga jatuh ke lantai.

"Maaf kan aku Resa, aku di perintahkan oleh ayah untuk pergi bersemedi dan aku tidak tahu bahwa padepokan kita di serang oleh para pembunuh bayaran, aku lebih baik mati bersama ayah dalam bentuk balas budiku kepadanya!" bela Jaka kepada Resa.

"Bohong!! kamu itu pembohong Jaka!! aku tidak mau melihat kau lagi!" ucap Resa yang langsung pergi meninggalkan Jaka dan ayah angkatnya.

"Resa..." ucap Jaka yang ingin mengejar Resa namun di hentikan oleh Ki Jagaraga.

"Biarkan dia sendiri dahulu, kalau sekarang kau mengejarnya, hasilnya tidak akan jauh beda dari yang sekarang bahkan bisa jadi menjadi lebih buruk lagi hubunganmu dengan Resa." ucap Ki Jagaraga kepada Jaka.

"Sebenarnya kalau aku tahu bahwa padepokan ini akan di bantai aku lebih memilih untuk mati bersama ayah dan teman teman di sini, kau harus tahu itu Resa karena rasa cintaku kepada padepokan ini sangatlah kuat, kalau tidak karena cinta kepada padepokan aku tidak akan pernah datang kembali ke padepokan ini." ucap Jaka di dalam hatinya sembari melihat kepergian orang yang ia cintai sejak kecil.

"Sudahlah Jaka, wanita itu sekarang banyak dan juga ada yang lebih cantik Resa, tenang saja aku akan mencarikan wanita yang lebih cantik dari Resa." celetuk wakil master ketua silat harimau.

"Kurang ajar!!!! tutup mulutmu itu!!!!!" teriak Jaka yang langsung menendang kepala wakil master ketua silat harimau.

Namun beruntung baginya, nyawanya di selamatkan oleh Ki Jagaraga yang menahan tendangan dari Jaka.

"Sabar Jaka, atur emosimu, dia memang seperti itu, aku akan menghukumnya." ucap Ki Jagaraga.

"Sial, kekuatan anak ini bahkan jauh lebih kuat dari apa yang aku bayangkan, hingga tulang tanganku ini rasa ingin remuk menahan tendangan yang begitu kuat." gumam Ki Jagaraga yang menahan kekuatan Jaka.

"Aku memaafkanmu karena Ki Jagaraga, kalau tidak ada beliau kau aku pastikan untuk mati sekarang!" ucap Jaka yang menahan amarahnya.

"Cepat kau minta maaf kepadanya bodoh!" perintah Ki Jagaraga yang menarik kepala wakilnya untuk segera bersujud di bawah kaki Jaka.

"Aku minta maaf Jaka, aku berjanji tidak akan mengulanginya kembali." pinta wakil master ketua silat harimau.

"Ayolah Jaka, maafkan dia, dia sudah meminta maaf kepadamu dan bahkan dia sampai bersujud di hadapanmu, maafkan lah dia Jaka." rayu Ki Jagaraga kepada Jaka.

"Benar benar manusia penjilat, ia sangat pandai sekali merangkai kata kata untuk membujuk diriku, baiklah aku akan selalu mengikuti permainanmu Ki Jagaraga, namun sampai kebenaran yang kau sembunyikan itu terungkap jangan harap kamu mendapat maaf dariku." gumam Jaka di dalam hatinya saat ia di rayu oleh Ki Jagaraga.

"Baiklah aku akan memaafkannya kali ini, tapi lain kali kalau dia mengulangi kesalahan yang sama aku tidak akan mengampuninya dan hanya ada satu jalan untuknya yaitu mati di tanganku." jawab Jaka dengan meninggalkan ruangan pelatih silat harimau dan pergi ke belakang.

"Malangnya nasibku, dulu waktu kecil kedua orang tuaku meninggal dengan mengenaskan di hadapanku, kini orang tua satu satunya yang aku miliki juga meninggalkan aku dengan cara yang berbeda namun dengan sakit yang sama." ucap Jaka yang menatap langit yang redup namun tidak turun hujan.

"Apa yang sebenarnya terjadi dengan padepokan guru, aku harus segera mencari tahu apa yang terjadi di sini dan aku akan membalaskan dendam guru yang telah berani membunuhnya." janji Jaka di dalam hatinya yang bersumpah akan membunuh siapa saja yang telah membunuh teman temannya dan ayah angkatnya yang paling ia sayangi bahkan ia lebih sayang ayah angkatnya dari pada dirinya sendiri.

Langit yang semakin mendung tidak mampu membuat Jaka pergi dari belakang padepokan dan justru ia malah naik ke atas pohon mangga dan memilih untuk beristirahat di sana.

......Bersambung.......

Jangan lupa di like, komen and share, apabila kalian belum paham dengan ceritanya kalian komen saja di bawah nanti akan author jawab dengan fast respon.

Terima kasih

Terpopuler

Comments

Lottie

Lottie

tidur dipohon mangga? heleh, palingan jga pagi pagi nya langsung metik mangga biar g ribet nyari makanan wkwk

2022-05-19

0

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

awas jatuh dr pohon mangga

2022-05-17

0

𝓐𝔂⃝❥Ŝŵȅȩtŷ⍲᱅Đĕℝëe

𝓐𝔂⃝❥Ŝŵȅȩtŷ⍲᱅Đĕℝëe

Ikut sedih Jaka 🥺

2022-05-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!