...Happy reading guys.🤗...
"Ka Jaka? bagaimana keadaan kakakku pak?" tanya Resa kepada letnan Jurdi.
"Mohon tenang yah de, saya juga tidak tahu bagaimana keadaannya di sana." ucap letnan Jurdi.
"Keadaan korban baik baik saja namun bekas tancapan besi masih berbekas di badan korban pak, segera lah memanggil ambulans untuk mendapat perawatan intensif." ucap anak buah letnan Jurdi yang bersama Jaka.
"Baik, saya akan menelfon ambulans dan korban segera bawa keluar gedung ini agar dapat dengan mudah tim medis mengevakuasinya." perintah letnan Jurdi.
"Baik komandan." ucap salah satu anak buah letnan Jurdi.
Jaka yang sebenarnya tidak apa apa dia hanya kebingungan dengan apa yang di bicarakan oleh anak buah letnan Jurdi karena dia tidak merasakan sedikit pun rasa sakit.
"Mari mas kita keluar, nampaknya target telah pergi jauh dari sini, kita akan melacaknya kembali nanti, tapi kita sekarang harus membawa masnya keluar untuk mendapat perawatan medis akibat terkena ledakan granat." ucap salah satu anak buah letnan Jurdi yang berpangkat kopral yang membantu aku berdiri.
"Terima kasih pak." jawabku yang sebenarnya tidak tahu dengan apa yang di maksud pak kopral.
Jaka dengan anak buah kepercayaan Ramzan berhasil di evakuasi secara selamat walau anak buah Ramzan mengalami patah tulang akibat perbuatan dari Jaka.
"Kakak...." Resa langsung menghampiriku dan berniat memeluk diriku.
"Mohon maaf de, korban jangan di peluk terlebih dahulu karena masih ada serpihan serpihan bekas ledakan granat yang masih menancap di dalam diri korban, jadi jangan memeluknya karena itu bisa menghambat pekerjaan tim medis nanti." ucap anak buah letnan Jurdi.
"Maaf pak, saya ini adiknya jadi saya takut kalau kakak saya kenapa kenapa pak." ucap Resa yang matanya mulai berkaca-kaca dan mengeluarkan air mata.
"Jangan menangis, aku tidak merasa sakit sedikit pun, tenang saja aku ini kuat Res." ucapku sembari mengusap pipi manisnya agar dia tidak menangis kembali.
"Hem benar kah itu ka Jaka? kakak gak bohong kan sama aku?" tanya dia dengan memegang tanganku yang masih memegang pipinya.
"Iyah gapapa kok, nanti kamu ikutin saja mobil yang membawa kakak yah." ucapku yang di antar masuk ke dalam mobil ambulans dan di bawa ke rumah sakit.
Selama di perjalanan Jaka di perlakukan dengan sangat khusus, karena menurut para medis bahwa kalau ada orang yang terkena ledakan granat dengan jarak yang begitu dekat mustahil baginya untuk dapat hidup kembali dengan tidak merasakan rasa sakit sedikit pun.
"Tenang saja pak, saya tidak apa apa kok." ucapku yang menahan tim medis memberikan aku alat bantu pernafasan.
"Tidak apa apa mas, ini sudah standard pertolongan pertama yang harus kami lakukan, mohon masnya jangan menolak kami yah." ucap tim medis itu yang memberiku alat bantu pernafasan.
"Enak sekali memakai alat ini, nafasku menjadi sangat ringan, benar benar teknologi yang telah maju dari zaman dahulu." ucapku di dalam hati.
Tidak lama kemudian rasanya kepala Jaka pusing dan dirinya terhilang kesadaran karena tanpa sepengetahuan Jaka ia telah di bius agar Jaka tidak merasakan rasa sakit dengan tim medis yang sudah mulai mencabut beberapa serpihan dari ledakan granat.
Selama Jaka di operasi, Resa menunggunya dengan sangat khawatir terhadap Jaka yang akan mengalami kejadian buruk.
Dari dalam padepokan, Ki Jagaraga melihat Resa yang berada di televisi karena mukanya tertangkap kamera sedang menjadi sandra yang berhasil di bebaskan.
"Apa itu kan Resa, mana Jaka? aku harus menelfonnya sekarang." ucap Ki Jagaraga yang mencari handphone.
"Hallo Resa, kamu sekarang berada di mana? papah lihat kalau kamu berada di tempat bioskop yang bekas menjadi tempat penyandraan, bagaimana keadaan kamu dan Jaka sekarang?" tanya Ki Jagaraga di dalam telfon.
"Hallo pah, aku tidak terjadi apa apa, tapi Ka Jaka mengalami ledakan granat tepat di depan mukanya dan kini tengah di lakukan operasi pengangkatan partikel kecil dari granat yang berada di dalam tubuh Ka Jaka." jawab Resa di dalam telfon.
"Baiklah sekarang papah akan ke sana, kamu share lok saja tempatnya nanti papah akan segara sampai ke sana, terus jagain kakakmu jangan sampai ia kenapa kenapa sebelum papah datang ke sana." ucap Ki Jagaraga yang langsung mematikan telfonnya.
Resa langsung mengirimkan alamat rumah sakit tempat Jaka di rawat.
Setelah selesai dari telfonnya, dokter yang menangani Jaka keluar dari ruang operasi.
"Saudari Resa?" tanya dokter itu yang di depan pintu.
"Saya pak, saya Resa." jawab Resa.
"Sungguh sangat menakjubkan, semua partikel kecil yang masuk ke dalam tubuh Jaka telah keluar dengan sangat mudah tanpa harus kami membedahnya dan kami hanya perlu mengambilnya dengan kain untuk membersihkan partikel kecil yang keluar dari tubuh Jaka." ucap dokter itu.
"Lantas bagaimana keadaan kakak saya dok?" tanya Resa kepada dokter yang merawat Jaka.
"Sekarang pasien tengah istirahat dan anda cukup menunggunya sadar saat obat bius yang kami kasih telah hilang." ucap dokter itu yang langsung pergi dari ruangan operasi Jaka.
"Terima kasih dok." ucap Resa yang langsung masuk ke dalam ruangan.
Di dalam kamar operasi VVIP Jaka masih tidak sadarkan diri akibat efek samping dari obat bius yang masih bekerja di dalam tubuhnya.
"Ka ayo bangun, aku takut kakak kenapa kenapa, aku harus ngomong apa sama papah?" bujuk Resa yang menggerak gerakkan badanku.
Sebenarnya aku telah bisa merasakan keberadaan Resa, namun aku tidak dapat membalasnya karena tubuhku yang sangat terasa lemah sekali.
Selama satu jam Resa menunggu Jaka siuman akhirnya Ki Jagaraga masuk ke dalam ruangan Jaka yang sedang tidak sadarkan diri dan Resa yang tertidur karena kelelahan.
"Resa bangun, papah sudah datang, semua akan baik baik saja." ucap Ki Jagaraga yang mengusap kepada Resa.
"Pah tolong buat Ka Jaka cepat sadar dong pah, aku tidak bisa melihat Ka Jaka seperti ini, aku merasa sangat bersalah sekali." pinta Resa kepada Ki Jagaraga.
"Iyah nak, papah akan membuat kakakmu itu segera sadar." jawab Ki Jagaraga yang langsung berdiri di samping Jaka.
Ki Jagaraga langsung menotok beberapa titik di tubuh Jaka untuk bisa membuatnya tersadar, karena menurut Ki Jagaraga bahwa di titik itu lah obat bius yang masih tersisa bekerja dan apabila di totok maka obat itu akan tidak bekerja kembali dan bisa membuat Jaka Lumayun tersadar.
Tidak lama setelah Ki Jagaraga menotok tubuh Jaka, kini Jaka telah tersadar dari masa obat biusnya.
Dan di depan kamar Jaka sudah banyak sekali wartawan dan militer yang berjaga untuk menahan para wartawan untuk mengambil gambar Jaka karena itu sangat berbahaya bagi Jaka yang telah membantai habis semua anggota pemberontak yang berada di gedung bioskop.
...... Bersambung.......
Jangan lupa dukung selalu novel ini dengan di like and komen ya terima kasih.
Selamat berbuka puasa bagi yang menjalaninya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
jaka jadi viral
2022-05-17
0
🅴ɳÐåh ✰͜͡w⃠🐊⃝⃟💯𓆊
jaka semakin viral nih habis membantu meringkus para penjahat
2022-05-17
1
✒A®7uπ¹²³🗝༄㉿ᶻ⋆
heddeh,, sangat luar biasa kamu jaka
2022-05-16
3