Islam mendecapkan bibirnya dengan kesal lalu melangkah ke arah mobil. Islam menatap sorot mata Abah Habib dengan tajam. Sepertinya pria tua ini sedang menantangnya.
Langkah Islam menjadi pelan saat dirinya berpapasan dengan Abah Habib. Islam melanjutkan langkanya hingga ia berhasil melewati Abah Habib.
"Islam!" panggil Abah Habib membuat langkah Islam terhenti.
"Apa lagi?" tanya Islam dengan wajahnya terlihat malas.
Abah Habib tersenyum dan melangkah menghampiri Islam yang terlihat marah dilihat dari sorot matanya. Abah Habib tersenyum membuat Islam mengerutkan kedua alisnya, keherangan menatap Abah Habib yang terlihat aneh. Kenapa dia tersenyum?
"Lo kenapa sih?" tanya Islam akhirnya.
"Abah tau rencana antum," ujarnya membuat kedua mata Islam membulat kaget, namun dengan cepat ia menyembunyikan perasaan terkejutnya itu agar Abah Habib tak merasa menang saat ini.
"Maksud lo?" tanya Islam tak mengerti.
"Islam, jangan pikir dengan kehadiran tiga sahabat antum bisa membuat Abah membatalkan Islam masuk pesantren, sampai kapan pun Islam tetap akan masuk ke dalam pesantren."
"Mengenai tiga sahabat antum, Abah pikir ini bagus karena mereka juga bisa belajar agama Islam agar antum semua bisa berjalan di jalan yang benar, tidak seperti sekarang ini yang-"
"Nggak usah sok percaya diri," potong Islam.
Abah Habib terdiam.
"Lo nggak usah berharap gue dan tiga sahabat gue bakal berubah menjadi apa yang lo mau, sampai kapan pun gue dan tiga sahabat gue nggak akan berubah."
Abah Habib tersenyum lalu mengangguk pelan. Islam tak mengerti mengapa pria tua ini tak marah atau malah terpancing dengan sifat dan ujarannya yang tak sopan. Dia bahkan terlihat baik-baik saja.
"Sekarang gini aja, mari kita bermain!" ajak Islam yang kemudian melangkah maju mendekati Abah Habib.
"Apa?" tanya Abah Habib tanpa rasa takut pada wajahnya saat berhadapan dengan Islam.
"Gue yakin seratus persen kalau lo sendiri yang bakalan nyerah dan memutuskan untuk memulangkan gue dan sahabat gue dari pesantren."
"Oh yah?"
Islam mengangguk cepat membuat Abah Habib tersenyum.
"Lo nggak usah nantangin gue, gue jamin kalau lo akan nyerah dalam waktu tiga hari," ujar Islam sambil mengangkat tiga jarinya di hadapan wajah Abah habib.
Abah Habib mengangguk membuat Islam tersenyum sinis dengan sudut bibirnya yang terangkat.
"Sudah selesai?" tanya Abah Habib.
"Boleh Abah bicara?" tanyanya lagi.
Islam tak menjawab atau menganggukkan kepalanya.
"Sekarang biarkan Abah ikut bermain, Abah jamin seratus persen kalau Abah tidak akan menyerah tapi yang akan menyerah adalah tiga sahabat antum," jelas Abah Habib lalu melangkah pergi meninggalkan Islam yang kini terlihat mengatur nafas amarahnya yang berusaha untuk ia tahan di dalam dada.
Jika saja tak ada Mawar di sana mungkin dia sudah menghajar pria tua itu habis-habisan.
"Okay, itu berarti sekarang lo udah berani bermain-main dengan Islam. Mari kita lihat sampai seberapa nyali lo," ujar Islam.
"Islam!" panggil Abah Habib membuat Islam menoleh.
"Ayo!" panggilnya.
...****...
Mobil melaju dengan kecepatan sedang keluar dari pekarangan rumah diakhiri suara klakson mobil yang dibunyikan oleh Syuaib yang saat ini sedang melajukan mobil.
"Islam! Umi sayang Islam!!!" teriak Mawar yang kini melambaikan tangannya ke arah mobil.
Kedua mata Islam memanas menatap Mawar dari balik kaca belakang mobil. Entah mengapa rasanya dada Islam sakit melihat Uminya yang menangis sambil melambaikan tangannya. Seumur hidupnya baru kali ini Islam berpisah jauh dari Mawar. Islam tidak mampu membayangkan bagaimana kisah hidupnya jika tak ada sosok Mawar, Umi di sampingnya.
Islam menghembuskan nafas panjang dari hidungnya dan membuangnya dengan perlahan, ia tak boleh menangis.
Kini kendaraan roda empat yang Islam tumpangi ini melaju dengan keadaan yang sunyi. Di depan sana Abah Habib sesekali menatap kaca untuk melihat Islam dan ketiga sahabatnya itu.
Akbar berada di kursi sebelah kiri sedangkan di kursi sebelah kanan terdapat Islam yang terus terdiam dengan kedua sorot matanya yang terus menatap ke arah luar jendela. Di kursi paling belakang yang juga berarti tepat di belakang Islam ada Kristian, Ali dan Abirama yang terlihat begitu sangat cemas sambil memeluk tasnya masing-masing.
Abah meggeleng dengan senyuman yang berhasil terbias dari bibirnya dan akhirnya ia kembali menatap ke arah depan.
Kristian yang sejak tadi terdiam kini menoleh menatap Abirama dan Ali yang ikut menatapnya.
"Jadi gimana?" tanya Kristian dengan suara bisik nya. Kristian tak mau jika Abah Habib, Akbar dan Syuaib mendengar percakapan mereka.
"Gue juga nggak ngerti," jawab Ali.
"Ini semua karena kamu, Li," ujar Abirama yang sesekali menoleh ke arah Abah. Abirama berusaha untuk memastikan agar Abah Habib tak melihat mereka yang saling berbisik. Ujaran Abirama membuat Ali dengan cepat menoleh menatap Abirama dengan wajah terkejutnya.
"Maksud lo? Emang gue kenapa?" tanya Ali.
"Yah iya lah, coba aja saya tidak ikut rencana kamu mungkin saya tidak ada di dalam mobil ini," jelasnya.
"Benar itu," tambah Kristian.
"Maksud lo? Jadi kali ini gue yang salah gitu? Heh gue juga udah terjebak di rencana gue sendri," jelas Ali dengan nada membisiknya.
"Kamu masih mending masuk pesantren, kan agama kamu memang Islam nah bagaimana dengan saya dan Abirama yang agama na bukan Islam. Saya Kristen sedangkan Abirama Hindu," jelasnya.
"Emang apa susahnya sih?" tanya Ali.
"Yah susah atuh, Al. Saya aja ke gereja satu bulan cuman dua kali atuh nah ini saya bakalan masuk ke pesantren selama-lamanya. Ini gimana ini?" jelasnya khawatir.
"Udah lah! Lo tenang aja! Gue punya rencana lagi," ujar Ali berusaha untuk meyakinkan Kristian dan Abirama.
Di satu sisi kini Abah Habib tersenyum setelah mendengar jelas suara bisikan mereka. Abah Habib tidak mengerti mengapa mereka semua tidak bisa berpikir jika percakapan mereka itu bisa didegar olehnya, jarak kursi depan dan kursi yang paling belakang tidak terlalu jauh.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang yang kini telah digantikan oleh Akbar sedangkan Syuaib kini duduk di kursi belakang di mana Akbar tadi duduk. Kini perjalanan sudah memakan tiga jam lamanya membuat Islam nampak tertidur lelap dengan jaket hitam yang menutupi wajahnya. Di kursi belakang juga seperti itu, Kristian nampak tertidur sambil menyandarkan kepalanya di lengan tangan Abirama yang juga terlihat tertidur sambil memeluk tas hitam miliknya. Di sebelah Abirama nampak lah Ali yang terlihat tertidur dengan mulut yang terbuka sempurna serta kepalanya yang mendongak ke langit-langit atas mobil serta kedua kakinya yang dinaikkan ke sandaran kursi milik Syuaib yang juga terlihat tertindur.
"Hentikan di sini!" pinta Abah Habib membuat Akbar dengan perlahan menepikan mobilnya.
Setelah mobil berhenti Abah Habib kemudian menoleh menatap semuanya yang terlihat masih tertidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Anak_umak
Kristian lucu banget jadi penasaran sama Visual nya thor , btw semangat nulisnya yah ukhty
2022-05-05
1