...Aku tak pernah menuntut seseorang menjadi sempurna karena aku sendiri tahu rasanya dituntut adalah hal yang menyakitkan....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
"Silahkan masuk, Nona!" kata Adam dengan sopan dan membukakan pintu untuk Humai.
"Aku bisa membukanya sendiri…"
"Adam. Panggil saya Adam saja," kata sekretaris atau lebih tepatnya tangan kanan Syakir dengan formal.
"Iya, Adam. Jangan membuka pintu untukku."
Adam tertegun. Dia tak menyangka masih ada seorang wanita seperti Humai. Biasanya wanita-wanita yang akan menemani Syakir, baik itu di apartemen, di club malam, atau dimanapun Syakir berada akan selalu bertindak bak putri raja.
Meminta dilayani, meminta diambilkan ini dan itu dan semuanya. Namun, kali ini Adam merasa berbeda dengan Humai.
Wanita ini benar-benar sederhana dan tahu cara menghargai orang lain.
"Ayo, Adam! Kenapa kamu melamun?" tanya Humai dengan pelan.
"Oh maaf, Nona."
"Panggil Humai saja," sela Humai dengan cepat.
"Tapi…"
"Jangan membantah. Aku sama sepertimu, Adam. Aku orang biasa."
Akhirnya Adam tak membantah. Dia menganggukkan kepalanya lalu segera duduk di kursi kemudi. Pria itulah yang akan mengantarkan Humaira menuju rumah sakit. Entah kenapa dia juga tak tahu apa yang terjadi di dalam apartemen hingga muncul sosok asing dari apartemen tuannya.
Tak ada pembicaraan apapun. Adam yang selalu menjaga privasi tuannya dan tak mau ikut campur. Sedangkan Humai menatap jalanan Kota Malang dengan matanya yang melamun tanpa kedip.
Entah dia merasa membayangkan bagaimana kejadian semalam bisa terjadi. Bagaimana bisa dia yang berada di kamar mandi rumah Rachel tiba-tiba ada di apartemen yang baru kali ini ia masuki.
Tak mungkin ia terbang, ia adalah manusia.
Tak mungkin Humai berjalan sendiri, karena dia saja tak pernah memasuki area apartemen mewah seperti punya Syakir.
Memikirkan semua itu selalu membuat kepalanya pusing. Dia tak mengerti akan hal yang terjadi kepadanya. Namun, kehormatannya sudah hilang.
Humai menunduk. Matanya entah kenapa secara tiba-tiba menatap perutnya yang kecil. Humaira mengangkat tangannya dan meletakkan di atas perut tersebut.
"Aku gak berharap lebih, Tuhan. Aku tak menolak kehadirannya. Namun, jika boleh meminta, jangan hadirkan dia di antara kami berdua," kata Humai pelan dengan suaranya yang hanya bisa dia dengar sendiri.
Humai bukannya menolak takdir. Dia juga tak akan pernah membenci sosok kecil yang nanti hadir di perutnya. Anak itu tak bersalah menurut Humai. Dia hadir bukan dengan kemauannya sendiri. Melainkan semua itu karena ulah mereka berdua.
Tak mau memikirkan hal yang belum terjadi. Akhirnya Humai memilih menyibakkan tangan dari perutnya. Kemudian dia kembali menatap jalanan Kota Malang yang tak terlalu ramai.
"Kita kemana?"
"Rumah sakit, Adam," sahut Humai dengan pelan.
"Apa Anda baik-baik saja?" tanya Adam yang tak tahu apa-apa.
Dia berpikir jika Humaira yang sakit. Namun, seketika nafasnya sedikit lega ketika kepala Humai menggeleng.
"Aku baik-baik saja," sahut Humai dengan memaksakan senyumnya.
"Lalu kenapa Anda minta diantar ke rumah sakit?" tanya Adam dengan menatap Humai dari kaca kecil yang ada di atas kemudi.
Humaira menunduk. Jujur dia tak ingin menceritakan kejadian tentang keluarganya karena takut dikasihani. Humaira bahkan selalu menutup dirinya dan keluarga karena tak mau semua orang berbelas kasih.
Namun, entah kenapa pagi ini. Humai merasa butuh teman bicara dan adanya Adam yang menurutnya sedikit hangat membuat Humai merasa tenang.
"Adikku sakit, Adam," ujarnya dengan singkat. "Dia kecelakaan."
"Oh maaf, No…"
"Humai saja, Adam. Jangan terlalu formal denganku," kata Humai sedikit memaksa.
"Maaf, Humai," ujar Adam terlihat kaku. "Saya tak pernah berbicara seperti ini."
Humaira tersenyum. Kepalanya mengangguk memahami apa yang dirasakan oleh Adam. Hingga tak lama, mobil yang dibawa Adam mulai memasuki area rumah sakit.
Humaira lekas tak sabar untuk turun. Saat Adam baru saja menekan rem mobil, gadis itu keluar sendiri dari dalam mobil. Dia mengetuk kaca depan samping kemudi yang membuat Adam lekas menurunkannya.
"Sekali lagi terima kasih sudah mengantarkan aku, Dam. Kamu hati-hati yah."
Tanpa menunggu jawaban Adam. Humai lekas berpaling. Dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Rein karena takut kejadian buruk terjadi pada adik kesayangannya.
Tanpa Humai sadari, mobil yang dikendarai oleh Adam masih disana. Pria muda itu masih duduk dengan tenang di kursi kemudi dengan mata mengikuti langkah kaki Humai.
Entah kenapa bibirnya tersenyum saat mengingat tingkah laku Humai yang hangat dan baik kepada siapapun.
"Gadis yang lucu dan sederhana," ucap Adam dengan tersenyum kecil.
...🌴🌴🌴...
"Kamu darimana saja, Mai?" tanya Sefira saat Humai baru saja sampai.
Gadis itu memegang kedua pundak Humai. Dia meneliti penampilan sahabatnya yang sangat jauh berbeda dengan kemarin.
"Kamu kemana saja? Kenapa menghilang? Bahkan panggilan dariku kamu abaikan!" tanya Sefira lagi tanpa bisa menutupi kekhawatirannya.
Sikap sahabatnya yang seperti ini membuat perasaan Humai menjadi hangat. Dia merasa disayang dan ada yang menanti kehadirannya selain keluarganya sendiri.
"Aku ceritakan nanti tapi kenapa kamu menelponku sebanyak itu? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Rein?"
Humaira bertanya dengan menuntut. Dia menatap mata Sefira yang tiba-tiba redup saat dia menyebutkan nama Rein.
"Ada apa, Fir. Katakan padaku!" pinta Humai memegang kedua tangan sahabatnya.
Terlihat Sefira menarik nafasnya begitu dalam. Dia seakan berat mengatakan kebenaran pada sahabatnya.
"Fir!" desak Humai yang sudah tak sabaran.
"Rein mengalami koma, Mai. Dia tak menunjukkan untuk segera sadar meski kata Dokter penggumpalan pada kepalanya sudah tak ada," kata Sefira dengan pelan sesuai apa yang dikatakan oleh Dokter.
Tubuh Humai mulai limbung. Namun, dengan sigap Sefira menangkap tubuh Humai dan membawanya duduk di kursi tunggu.
"Kamu yang sabar, Mai. Kamu juga harus semangat dan yakin kalau Rein bakalan sembuh."
Sefira merasa khawatir. Apalagi saat sahabatnya itu hanya diam menatap ke depan dengan pandangan shock. Dia tak mau Humai seperti ini. Sefira lebih suka sahabatnya mengapresiasikan kesedihannya daripada memendamnya sendiri.
"Mai katakan sesuatu padaku!"
Kenapa kau mengujiku lagi, Ya Allah? Apa dengan diambilnya keperawananku tak cukup untuk membayar segala hal yang sudah aku lewati? Gumam Humai dalam hati dengan perasaan yang benar-benar lelah.
Humai berpikir dengan kejadian semalam dan dia berusaha ikhlas maka akan ada kabar bahagia yang dia dapat dari adiknya. Namun, kenyataan malah sebaliknya. Kondisi Rein begitu membuat hatinya sakit.
"Jangan merasa sendiri, Mai," kata Sefira menarik sahabatnya dalam pelukan.
Dia memberikan elusan lembut di punggung Humai sampai akhirnya gadis itu mulai mencengkram pinggang Sefira erat. Bahu Humai mulai terasa bergetar dengan suara isakan mulai terdengar.
"Keluarkan semuanya, Mai. Jangan dipendam sendirian. Aku disini siap mendengarmu," kata Sefira dengan pelan.
Humai tak bisa berkata apa-apa lagi. Namun, dia merasa ingin sekali mengeluarkan tangisan itu sampai dirinya merasa benar-benar lwga karena sudah melampiaskan segalanya.
Apa aku tak berhak bahagia? Semua yang aku miliki sampai hal berharga pun, telah diambil paksa dan tak bersisa.
~Bersambung.
Kamu boleh nangis, Mai. Tapi jangan kepikiran untuk pergi nyusul ayah ibumu.
BTW bab selanjutnya bakalan ada drama sepasang kekasih. Bakalan ada drama apalagi yang dimainin si pecel lele yah?
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Pia Palinrungi
thor part ini membuatku😭😭😭😭, mdh2 entar lg kamu akan mendapatkan kebahagian yg bertubi2 dr cobaan yg tak henti2 menimpamu
2023-04-01
0
Raffa Iskandar
masyaallah yg sabar ya humai mungkin ini ujian
2023-01-26
0
☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀
huwaaa hiks hiks hiks 😰😰😭😭😭🤧🤧🤧 nyesek banget sih kamu Mai 🥺🥺🥺
2022-10-21
0