...Sampai kapanpun yang cantik akan menjadi prioritas. Paras yang begitu rupawan menjadi senjata utama seorang manusia untuk dihargai atau tidak. Jika mereka cantik maka akan banyak yang memujanya. Begitupun sebaliknya, ketika yang buruk akan selalu menjadi tempat hujatan semua orang....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Tak ada yang bersimpati pada kondisi Humaira saat ini. Bahkan semua orang sedang tertawa begitu kencang sambil bertepuk tangan. Seakan apa yang terjadi pada diri Humai adalah suatu yang begitu lucu di mata mereka.
"Kamu apa-apa'an sih, Chel?" seru Sefira dengan marah.
Dia menarik lengan Rachel hingga kedua gadis itu berhadapan.
"Oh oh…" Rachel bertepuk tangan.
Dia semakin menaikkan dagunya dan memandang Sefira dengan remeh.
"Ada yang mau jadi pahlawan kesiangan?" ujarnya dengan senyuman mengejek.
"Aku hanya ingin menuntut hak seorang mahasiswa yang memiliki kedudukan sama dengan kita!" seru Sefira tanpa takut. "Semua yang kuliah disini, memiliki hak untuk apapun."
"Apa kau sedang menceramahiku, heh?" seru Rachel mendorong dada Sefira dan membuat wanita itu sedikit terdorong ke belakang. "Kau menyamakanku dengannya?"
Rachel menunjuk sosok Humaira yang sejak tadi menunduk. Gadis itu benar-benar begitu kacau dengan bekas mie yang menempel di rambutnya.
"Apa kau buta, hah!" seru Rachel membentak. "Si buruk rupa disamakan dengan Rachel? Primadona kampus yang terkenal cantik, kaya dan seksi ini?"
Rachel tertawa dengan penuh kesombongan. Gadis itu berjalan mendekati Humai yang sejak tadi tak berani mendongakkan kepalanya.
"Sepertinya kau butuh ke dokter mata agar kau bisa melihat dengan jelas! Mana yang sempurna dan mana yang buruk seperti sampah!" kata Rachel dengan menatap sosok Humai di dekatnya.
"Chel…"
"Ustt!" Rachel menutup mulut dengan telunjuknya.
Seakan dia memberikan kode pada Sefira agar dia diam.
"Toh aku juga tak sengaja menyiram bakso itu di kepala Humai," ujarnya dengan nada menyindir. "Bukankah begitu, Humaira Khema Shireen yang memiliki banyak jerawat?"
Humaira hanya mampu menahan tangisannya. Jujur dia selalu lemah ketika berada di posisi seperti ini. Sejak dulu dirinya selalu tak mampu melawan sosok Rachel. Seakan dia memang ditakdirkan untuk menjadi wanita yang tertindas yang tak mampu melawan.
"Jawab, Humai!" seru Rachel meremas pundak Humai sampai gadis itu meringis.
Akhirnya kepala Humaira mengangguk pelan. Dia tak mau semakin membuat Rachel menggila akan aksinya. Lebih baik ia mengalah daripada urusannya semakin besar dan panjang.
Bagaimanapun, kembali lagi ke topik yang utama.
Si buruk akan selalu berada di belakang si cantik rupawan!
"Bagus!" Rachel menepuk pundak Humairah dengan pandangan jijiknya. "Kau sudah dengar, 'kan? Humaira saja tak masalah. Kenapa kau berusaha menjadi pahlawan?"
Rachel perlahan menjauh. Dia meminta salah satu temannya mengambilkan sebotol air putih yang dijual di meja kantin lalu dibuka tutup botolnya.
"Karena aku mau makan. Jadi aku harus cuci tangan," seru Rachel dengan mencuci kedua tangannya tepat di atas meja dimana terdapat mangkuk Humai yang sudah kosong.
"Cukup! Bakteri di tanganku sudah hilang."
Sefira hanya mampu mengalihkan pandangannya. Dia tak kuasa sahabatnya dihina oleh teman-temannya yang lain. Namun, hanya dirinya yang berada di pihak Humai, tak cukup untuk membuat gadis itu terlindungi.
"Lebih baik kau pergi dari sini, Si Buruk Rupa!" usir Rachel dengan lantang. "Betul, 'kan? Kalian juga ingin dia pergi dari sini, 'kan, Guys?"
Rachel berteriak menatap semua orang yang ada di kantin. Pertanyaan Rachel tentu langsung dijawab oleh mereka dengan setuju bahwa Humai harus pergi.
"Pergi kau!"
"Aku merasa mual saat makan dengan melihat wajahmu!"
"Kau membuat selera makanku hilang!"
Teriakan-teriakan yang berisi hujatan itu membuat Humaira semakin terpojok. Dia menutup kedua telinganya dan menggelengkan kepala. Suara-suara itu semakin berputar di kepalanya dan membuat dirinya menangis semakin kencang.
Tak kuasa akan semua yang ia dengar. Akhirnya Humaira lekas beranjak berdiri. Dia meraih tas punggungnya dengan cepat. Saat dirinya mulai melangkah. Sebuah kaki menghalangi langkah kakinya.
Bruk!
"Humai…Mai!" teriak Sefira dengan kencang.
Suara tawa semua orang terdengar begitu kencang. Mereka semakin merasa puas saat melihat Humaira terjatuh duduk di lantai.
"Ups! Maafkan kakiku yang sengaja nakal ini," kata Rachel lalu mensejajarkan tubuhnya dengan Humaira. "Sakit?"
Tanyanya dengan wajah penuh ledekan. Tak ada rasa iba dalam dirinya. Bahkan terkesan Rachel sangat puas telah berhasil menjegal kaki gadis yang tengah kesakitan ini.
"Kau sangat cocok berada di posisi ini! Wanita miskin dan si buruk rupa, harusnya selalu berada di bawah!"
...🌴🌴🌴...
Akhirnya tontonan itu berhasil bubar ketika Rachel selesai dengan antraksinya. Semua mahasiswa baik putra ataupun putri kembali duduk di posisinya. Seakan apa yang baru saja terjadi itu sudah menjadi hal biasa.
Tak ada yang peduli pada sosok Humairah. Hanya Sefira yang dengan setia mengulurkan tangannya.
"Ayo!" ajak Sefira saat dia berjongkok di depan Humai.
Wajah yang semula menunduk kini mendongak dengan pelan. Mata Humaira telah basah dengan hidung yang memerah.
"Apa aku terlalu buruk di mata mereka, Fir?" tanya Humai dengan suara seraknya.
Sefira menggeleng. Dia menggenggam tangan sahabatnya itu lalu menghapus air mata Humai dengan pelan.
"Yang buruk itu bukan kamu," kata Sefira menatap sosok sahabatnya. "Tapi mereka lah yang tingkah lakunya lebih rendah dari binatang."
Dengan pasti, Sefira meraih tangan Humai dan membantu membawa tas milik sahabatnya itu. Mereka mulai meninggalkan kantin yang terlihat kacau karena ulah Rachel.
"Ayo kita bersihkan ini di kamar mandi. Aku akan membantumu, Mai," kata Sefira saat keduanya berjalan di lorong kampus menuju kamar mandi.
Humaira tak menjawab. Namun, sejenak dia menghentikan langkahnya dan membuat Sefira menatap sahabatnya itu.
"Ada apa, Mai? Kenapa kamu berhenti?"
Humaira perlahan menghadapkan dirinya ke samping. Sampai sepasang sahabat itu saling berhadapan.
"Apa kamu tak malu bersahabat denganku, Fir?" tanya Humaira dengan air mata yang mulai menumpuk di kedua matanya. "Apa aku tak menjadi aib untukmu di kampus ini?"
Jujur dalam diri Humai tak ada lagi rasa percaya diri. Dia selalu merasa dirinya kurang. Bahkan dirinya tak memiliki pendirian sendiri karena semua yang ia lakukan bukan dari dasar hatinya sendiri.
"Kenapa kamu mengatakan itu lagi, Mai?" tanya Sefira dengan pandangan sendu. "Persahabatan kita bukan satu atau dua tahun. Tapi kita sudah bersahabat sejak bangku SMA."
"Tak ada kata malu untukku memiliki kamu. Kamu sudah menjadi saudara untukku. Meski kita tak sedarah tapi kamu lebih dari sosok yang memiliki darah yang sama denganku."
Ya, Sefira adalah sahabat Humaira sejak mereka duduk di bangku putih abu-abu. Keduanya adalah dua sosok yang berbeda dalam ekonomi maupun keluarga. Namun, kasih sayang di antara keduanya. Tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
"Terima kasih, Sefira. Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu."
~Bersambung
Inget ya guys! Novel ini isinya pasti ada umpatan sekaligus hinaan. Aku nulis kisah ini juga dari beberapa narasumber. Bukan kisah nyata tapi alur yang terjadi aku dapatkan dari cerita teman-temanku.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Milatus Lihah23
ceritanya persis sekali dengan ku
dg kata lain ditempatkan yg cantik dan pintar selalu dibanggain dan banyak teman sedangkan yang jelek dan bodoh akan diinjak-injak semaunya termasuk harta jika salah seorang itu miskin atau kurang mampu akan dikacangin dan ada yang menyebarkan untuk tidak menemaninya
2023-06-06
0
Pia Palinrungi
aneh yah koq masih ada aja perudungan begini dikampus, humai mestinya kamu lawan
2023-03-31
0
andi hastutty
jahatnya Rahel dan teman2 cuman menyaksikan dan mencemooh. Sahabat sejati yah baik buruk dan jelek bagusnya di terima
2023-02-07
0