...Pernikahan bukan tentang qobiltu nikaha dan sah. Akan tetapi bagaimana pasangan itu membuat rumah tangganya menjadi jalan untuk mereka menuju surga dan berakhir dengan sakina, mawaddah dan warrahmah....
...~Humaira Khema shireen...
...🌴🌴🌴...
"Bukan aku yang pengecut, Papa! Tapi dia yang melempar dirinya sendiri diatas ranjangku!" bela Syakir tak mau kalah.
Humai yang mendengarnya mulai tak tahan. Kedua tangan gadis itu terkepal kuat saat tak henti-hentinya pria yang baru kali ditemui terus menghinanya.
Jika boleh memilih, dia tak mau ada disini. Jatuh kedalam pelukan pria yang telah mengambil keperawanannya. Jika bisa, Humai lebih memilih bunuh diri. Dia memilih pergi jauh dari dunia yang kejam ini.
Humai sudah tak kuat. Dia bahkan hampir menyerah. Namun, bayang-bayang wajah adiknya, Rein. Terbayang dalam pikirannya. Bagaimana Rein yang saat ini berjuang untuk terus sembuh. Kenapa dia yang menyerah dan ingin mati?
"Kenapa diam, hee? Kau sadar bahwa kesalahan ini karenamu?" seru Syakir menunjuk wajah Humai.
Kakak kandung Rein itu mendongak. Dia menatap Syakir dengan lekat.
"Asal kau tau, jika aku mau, aku ingin tak ada disini! Aku bahkan tak mengenalmu!" kata Humai dengan tegas. "Aku saja tak mengerti bagaimana aku bisa ada disini."
"Halah, omong kosong!" kata Syakir mengibaskan tangannya tak percaya ucapan Humai. "Alasan kaum miskin seperti itu yang membutuhkan uang pasti membual."
"Syakir!" seru Mama Ayna dengan marah.
Wajah yang biasanya lembut itu mulai memerah. Dia benar-benar tak tahan dengan perkataan anaknya yang sangat amat menyakitkan.
Syakir sudah keterlaluan menurutnya.
"Dia itu perempuan. Kamu ada di dunia ini juga karena perempuan. Adikmu juga perempuan. Apa kamu ingin keburukanmu terjadi pada mama dan adikmu, hah?"
Mama Ayna memang terkenal lemah lembut. Namun, jika hatinya dikecewakan. Wanita yang sudah memiliki dua orang anak itu bisa menjadi sosok yang tegas dan berwibawa.
"Mama ini tak pernah mengajarkanmu seperti itu. Bagaimanapun dia!" Tunjuk Ayna ke arah Humai. "Kamu sudah menidurinya. Kamu sudah memperkosanya."
"Tapi aku dalam keadaan mabuk, Ma. Aku tak sadar."
"Mau tak mau, sadar atau tidak. Apa kamu bisa mengembalikan keperawanan yang sudah kamu ambil?"
Telak.
Syakir mulai bungkam. Anak pertama dari pasangan Haidar dan Ayna menunduk. Dia tak bisa membela apapun lagi. Ini juga salahnya.
Kenapa dirinya minum terlalu banyak?
Kenapa dia bisa melakukannya tanpa melihat siapa sosok yang ada di atas ranjangnya!
"Mama, aku…"
"Ustt!" Ayna meminta Syakir diam.
Di sudah tak mau mendengar apapun lagi. Menurutnya putra pertamanya sudah tak bisa dibiarkan berbicara sendiri. Syakir harus dijauhkan dari wanita gila itu.
Ternyata efek dari kedekatan keduanya membuat Syakir semakin brutal dan tak memiliki jiwa menghargai seorang perempuan.
"Mama mau kamu menikahinya. Mama mau kamu tanggung jawab!"
Jantung kedua orang tua itu mencelos. Syakir melipat tangannya menggenggam dengan erat. Dadanya bergemuruh dan dirinya ingin meledak.
Rasanya Syakir ingin menolak. Namun, melihat mata mamanya yang mulai berair membuat rasa bersalah kini membalut hatinya.
Pria itu menunduk. Syakir tak kuasa menatap mamanya menangis karena dirinya. Sejak dulu, Syakir memang selalu menurut pada mama dan papanya. Dia bahkan tak pernah menolak apapun yang mama dan papanya inginkan.
Namun, kekurangan syakir yang ada hanya satu itu. Dia tak bisa memilih pasangan mana yang benar-benar baik dan tidak. Mana cintanya yang terbalas dengan cuma dimanfaatkan.
"Syakir!" seru Haidar dengan pelan. "Sejak kecil, Mama dan Papa selalu mengajarimu tentang arti tanggung jawab. Jadi…"
"Baiklah…!
"Tidak!" tolak Humai yang membuat tiga pasang mata itu menatap ke arahnya.
Bisa ketiganya lihat bagaimana keadaan Humai yang kacau. Humai yang terlihat begitu tertekan dan sedih itu mampu ditangkap gerak geriknya oleh kedua orang tua Humai.
"Kenapa, Nak?" tanya Ayna dengan pelan.
Ibu dua anak itu berpindah tempat duduk. Dia mendudukkan dirinya di samping Humai dan mengambil salah satu tangannya.
"Kenapa?"
Humai menarik nafasnya begitu dalam. Dia memang sudah mengambil keputusan.
"Aku tak mau dia bertanggung jawab karena sebuah paksaan, Om, Tante," kata Humaira dengan pelan. "Humai tak mau pernikahan sakral itu menjadi bahan candaan."
Hati Mama Ayna tersentuh. Dari sini dia bisa melihat bahwa Humaira adalah gadis baik-baik. Dia yang dirugikan tapi dia tak menuntut.
"Tapi, Nak," sela Mama Ayna menggenggam tangan Humaira.
Dia mengusap punggung tangan itu dengan lembut.
"Kamu sudah dinodai, Nak. Kamu sudah diambil madunya oleh anak Tante," ujar Mama Ayna dengan hati-hati. "Tante hanya ingin dia bertanggung jawab."
Humaira memaksakan senyumannya. Dia menggeleng dengan hati yang sebenarnya hancur.
Wanita mana yang baik-baik saja setelah perawannya diambil?
Wanita mana yang hatinya utuh, setelah harga dirinya diinjak-injak oleh pria tak dikenalnya?
"Ini kecelakaan, Tante. Kami sama-sama tak menginginkannya."
Humaira menunduk. Dia menepis air mata yang mengalir. Tubuhnya mulai lelah. Dia ingin segera istirahat. Namun, wajah Rein yang terus terbayang dalam pelupuk matanya membuat Humai ingin ke rumah sakit sekarang juga.
"Bagaimana kalau kamu hamil?"
Jantung Humai seakan berhenti berdetak. Dia hampir melupakan hal itu. Dia hampir melupakan fakta bahwa hubungan badan bisa membuatnya berbadan dua.
"Tante tak mau cucu Tante menjadi gunjingan orang lain. Tante tak mau, cucu kandung Tante tersiksa karena kalian berdua. Tante mau dia dibesarkan oleh keluarga yang utuh!"
Mama Ayna terlihat kekeh. Dia benar-benar merasa ini adalah kesempatan terbaiknya. Kesempatan untuk melepaskan putranya dari jeratan wanita matre itu.
Ini mungkin jalan yang tuhan berikan. Jalan terbaik agar anaknya bisa lepas dari sosok bernama Rachel.
"Tante mohon, Humai. Tolong pikirkan baik-baik, Nak."
Humaira merasa sakit di kepalanya. Dia benar-benar berpikir keras. Sejak tadi kenapa otaknya tak berpikir tentang dampak itu.
Dampak besar yang pasti akan merubah segalanya. Merubah takdir keduanya yang entah seperti apa.
"Humaira tetap dengan keputusan ini, Tante. Maaf," ucap Humai dengan pelan karena takut menyakiti hati Mama Ayna. "Humai ingin pernikahan ini bukan hanya sampai di titik sah saja, tapi bagaimana bisa berakhir dengan Allah sendirilah yang akan memisahkan hubungan ini."
"Jangan egois, Nak. Jangan egois demi kepentingan anak ini," kata Mama Ayna tak mau menyerah. "Bagaimanapun, dia adalah cucu kandungku."
"Baiklah," kata Humai tiba-tiba yang membuat Syakir, Haidar dan Mama Ayna menoleh.
Ketiganya menatap sosok wanita yang wajahnya mulai terlihat tenang. Mereka sama-sama berpikir tentang apa yang akan disampaikan oleh Humai malam ini.
"Baiklah apa, Nak?" tanya Mama Ayna dengan pelan.
"Humaira mau menikah dengan anak, Tante. Dengan syarat…"
Humaira mendongak. Dia menatap Mama Ayna, Papa Haidar dan Syakir bergantian. Ini bukan untuk kebaikannya tapi untuk kebaikan anaknya jika memang dia benar-benar tumbuh dalam perutnya.
"Ketika Humaira benar-benar hamil keturunan Tante."
~Bersambung
Ada yang sepemikiran dengan Humaira?
Nikah bukan niatnya aja pen nikah tapi nikah itu ibadah paling panjang.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author makin semangat ngetiknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Pia Palinrungi
setuju humai, pernikahan sekali seumur hidup hanya kematian yg memisahkan...mdh2 syakir sadar dn mulai berlahan2 mencintai humai dn melupakan batu kerikil rachel
2023-04-01
0
andi hastutty
bagus Humairah
2023-02-07
0
Arin
semoga humai jdi Wanita yg kuat amiin...yg psti bkln bnyk bwang nich,psti nantiny juga si teh celup juga bkln nysel,dan klo udh nysel sy berhrp si humai jngn mudah luluh
2022-12-30
0