...Keadaan memang hancur tapi aku harus menyiapkan diri dan mental untuk menerima kejutan apa lagi yang terjadi dalam hidup ini....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
"Kamu beneran mau dateng ke ulang tahun Rachel, Mai?" tanya Sefira dengan pandangan ragu.
Humaira yang sedang merapikan buku-bukunya itu segera menoleh. Gadis itu tersenyum dan mengangguk.
"Dia sudah meminta maaf padaku, Fir. Untuk apa menyimpan dendam padanya?"
Sefira menghela nafas berat. Sahabatnya ini memang memiliki hati yang tulus, tak pernah dendam pada orang yang menyakitinya. Tak pernah membenci siapapun yang membuatnya sakit.
"Tapi bisa saja dia memiliki maksud buruk padamu, Mai," kata Sefira dengan was-was. "Jangan hadir yah? Biarin aku aja yang wakilin kamu."
Humaira tersenyum. Dia bersyukur memiliki sahabat yang begitu mengkhawatirkan dirinya. Sefira bahkan rela mengorbankan dirinya untuk melindungi Humira.
Sebuah ikatan persahabatan yang benar-benar kental. Bahkan keduanya bagaikan saudara kandung yang tak pernah terpisah. Meski harta dan ekonomi keduanya berbanding terbalik. Kehidupan mereka berbeda 180°. Namun, baik Humai ataupun Sefira tak pernah menilai hubungan mereka dari materi ataupun uang.
"Jangan berpikiran buruk pada orang lain," kata Humai dengan tatapan tulusnya. "Bukankah kita bisa datang bersama? Kamu bisa sambil menjagaku juga."
Akhirnya Sefira tak lagi membantah. Dia juga tak lagi memaksa. Apa yang dikatakan oleh Humaira ada benarnya. Dirinya ikut hadir sekalian menjaga Humaira dari orang yang mau menjatuhkannya.
"Baiklah. Kita akan berangkat bersama," kata Sefira dengan anggukan kepala. "Besok aku akan ke rumahmu."
"Eh mau ngapain?" tanya Humaira dengan kening berkerut.
"Ya biar bisa siapin kamu. Aku juga bakalan dandanin kamu biar gak ada yang bisa jatuhin kamu disana," ujar Sefira dengan tegas. "Jangan menolak. Aku akan membuatmu menjadi Humaira yang berbeda."
Humaira menatap Sefira dengan penuh sayang. Gadis itu selalu ada untuknya. Meski mereka hanya sebagai sahabat. Namun, disaat keadaan apapun baik Sefira maupun Humai, mereka selalu ada antara satu dengan yang lain.
"Baiklah," jawab Humai dengan pasrah. "Aku harus ke rumah sakit sekarang. Aku takut terjadi sesuatu dengan Rein."
Akhirnya Humaira dan Sefira segera keluar dari kelas. Mereka berjalan beriringan sampai berhenti di dekat mobil yang biasa menjemput Sefira.
"Hati-hati ya, Fir. Aku… Ehhh!"
Sefira dengan kuat menarik tangan sahabatnya. Dia mengajak Humaira naik ke mobilnya lalu segera menutup pintu setelah berhasil membuat sahabatnya duduk.
"Aku bisa naik ojek online, Fir. Aku…"
"Kamu gak anggap aku sahabat yah?" tanya Sefira dengan kesal. "Kamu gak pernah mau naik mobilku selama kita sahabatan. Kamu juga gak pernah mau ke rumahku. Kenapa?"
Apa yang dikatakan oleh Sefira memang benar. Mereka memang sahabatan. Namun, Humai tak pernah mau naik mobil atau bermain ke rumah Sefira. Pasti dia memiliki alasan apapun jika diajak main oleh Sefira.
"Bukan begitu," sahut Humai sambil menggeleng. "Aku hanya takut orang lain mengatakan kita sahabatan karena aku ingin manfaatin kamu doang. Aku takut orang bilang, aku sahabatan sama kamu karena kamu kaya. Aku…"
"Kenapa kamu selalu memikirkan perkataan orang lain, Mai?" tanya Sefira dengan tegas.
Dia menggenggam tangan Humai dan menyalurkan kehangatan melalui tangannya.
"Jadilah diri kamu sendiri. Jangan pernah memusingkan perkataan orang lain. Kamu adalah kamu. Jadilah versi terbaikmu tanpa peduli orang lain."
"Aku takut, Fir. Aku takut jika sikapku membuat orang lain tak suka."
Mental yang dihancurkan oleh ibunya. Setiap kata yang keluar seakan menghancurkan rasa percaya diri dalam diri Humai. Gadis itu selalu merasa ragu dan takut di setiap langkah yang ia ambil.
"Bangun rasa percaya diri kamu, Mai. Bangun!" kata Sefira tanpa tahu bahwa mobil yang membawa mereka telah sampai di depan rumah sakit dimana Rien dirawat. "Kamu terlalu sempurna untuk mereka yang berhati binatang. Jangan sampai kalah dengan ocehan mereka. Kamu paham?"
Humaira hanya bisa mengangguk. Dia tak yakin bisa membangun rasa percaya diri dalam dirinya. Yang Humai bisa lakukan sekarang hanyalah menjalani kehidupannya dengan semestinya. Berjalan dengan ikhlas, menerima apapun takdir yang menerpanya dan berusaha menjadi kuat demi sosok adik yang saat ini sedang berjuang dengan hidupnya.
"Sekali lagi terima kasih sudah antar aku ke rumah sakit, Fir. Kamu hati-hati ya," kata Humai saat dia turun dari mobil.
"Iya. Jangan telat makan ya dan sampai jumpa besok sore di rumahmu. Bersiaplah untuk didandani oleh Sefira, sahabatmu yang manis ini."
...🌴🌴🌴...
Seperti yang dikatakan oleh Sefira. Keesokan harinya, gadis itu benar-benar ke rumah Humaira. Gadis itu memakai piyama dengan kanan kiri membawa tas lumayan besar yang entah apa isinya.
"Kamu mau pindahan?" tanya Humaira sambil membantu sahabatnya untuk membawa tas kotak ditangan Sefira.
"Hehehe. Kalau boleh gak papa. Aku juga suka tidur disini," kata Sefira lalu duduk di kursi ruang tamu milik Humaira. "Akhirnya aku bisa kesini lagi ya, Mai."
Humaira mengangguk. Sefira memang sudah tak asing lagi dengan rumah sahabatnya itu. Gadis itu sering main ke rumah Humai bahkan menginap. Hal itulah yang membuat Sefira nyaman berada disini.
"Lama ya kamu gak nginap ke rumah. Semenjak Mama berubah sikapnya," ujar Humai dengan pelan.
Setiap mengingat mamanya. Humaira selalu merasa sedih dan sakit. Rasanya dia masih belum ikhlas tapi Humai mencoba menerimanya.
"Kamu udah mandi, 'kan?" tanya Sefira saat Humai sudah duduk di depannya.
Beberapa alat make up telah ditata oleh Sefira. Humaira bahkan sampai membelalakkan matanya tak percaya jika dua tas yang dibawa oleh sahabatnya adalah alat rias.
"Kamu niat banget, Fir," kata Humaira dengan memandang beberapa alat yang memutari dirinya.
"Itu harus. Aku akan menyulap dirimu menjadi Humaira yang baru. Humaira yang tak akan dikenali wajahnya oleh orang lain," ujar Sefira dengan yakin.
"Tapi aku malu, Fir. Aku juga belum menemukan pakaian yang cocok," ujar Humaira dengan nada terdengar lesu.
"Tenanglah. Serahkan semuanya pada Make Over, Sefira Cantik Sahabatnya Humai."
Keduanya terkekeh. Sefira perlahan mulai merias wajah Humai dengan penuh kelembutan. Tak ada yang terlewat sedikitpun. Sefira benar-benar sangat profesional.
"Jangan tebal-tebal ya, Fir. Aku gak PD," rengek Humaira saat takut jika Sefira memberikan warna mencolok pada wajahnya.
"Tenanglah. Aku yakin kamu suka dengan hasil karyaku."
Hampir satu jam proses make up itu dilakukan. Akhirnya semuanya finish. Sefira bahkan membantu sahabatnya merapikan rambutnya.
"Sudah, Mai? Apa aku sudah boleh membuka mataku?"
"Boleh. Bukalah mata kamu sekarang!"
Perlahan tapi pasti, Humai membuka matanya. Tatapan mata wanita itu tertuju pada cermin yang ada di depannya. Matanya terbelalak dengan bibir sedikit terbuka tak percaya dengan hasil akhir tangan Sefira.
Humai bahkan merasa seperti mimpi saat melihat pantulan dirinya.
"Ini aku, 'kan, Fir? Beneran?"
"Iya. Ini beneran kamu," ujar Sefira dengan yakin. "Aku yakin mereka tak akan bisa menghujatmu lagi."
Sefira mengangkat dagu Humai. Tatapan keduanya bertemu dan saling pandang dengan lekat.
"Untuk malam ini, jangan menunduk sedikitpun. Angkat dagu kamu setinggi mungkin dan buktikan bahwa kamu tak bisa direndahkan."
~Bersambung
Bab ini aku update malam. Kalau tampilnya besok pagi, berarti sistem NT yang emang lagi eror.
BTW siap-siap menuju sesuatu yang besar. Siapin hati ya geng dan inget besok puasa jan tiba-tiba semprot haha.
Jangan lupa like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Pia Palinrungi
pertemanan.sejati humai kamu harus kuat dn percaya diri jgn mau direndahkan lagi, kamu harus melawan setiap kamu dibully
2023-04-01
0
andi hastutty
senengnya punya sahabat kaya Safira
2023-02-07
0
Raffa Iskandar
memang humai cantik luar dalam cuman ga pernah bersolek diri
2023-01-26
0