...Aku sudah tak memiliki apapun. Rasa percaya diri yang hilang dan harga diriku juga direndahkan. Kehidupan benar-benar jahat kepadaku....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
"Humai!" teriak Sefira dengan spontan.
Suara tawa anak-anak itu begitu kencang disana. Anak-anak yang diundang memang anak-anak kampus dan membuat mereka sudah mengenal dan mengetahui Humaira.
"Humai kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Rachel dengan wajah paniknya.
Gadis itu memegang piring kecil berisi kue dan berjalan ke arah tangga. Namun, saat Rachel hampir sampai, tubuhnya oleng dan dirinya hampir jatuh jika sahabatnya tak memegang tangannya.
"Agh, Mai. Maafkan aku!" kata Rachel dengan wajahnya yang pura-pura menyesal.
Piring kecil yang berisi kue itu jatuh tepat di atas kepala Humai dan membuat gadis itu menunduk. Penampilan gadis itu sudah sangat kacau. Bahkan gaun yang ia pakai sangat kotor.
"Kamu baik-baik saja, 'kan?"
Rachel membantu Humaira berdiri. Dia juga mengambil piring kecil berisi kue itu dari atas kepala Humai dan menyingkirkannya. Wajah gadis itu benar-benar seperti diliputi rasa bersalah.
"Ya. Aku baik-baik saja," balas Humai dengan mengangguk.
Dia berusaha untuk menahan air matanya. Kakinya juga terasa sakit karena mungkin terkilir.
"Gaun kamu kotor, Mai. Gimana dong?" tanya Rachel dengan nada suara seakan menyesal dan sedih.
"Gak papa, Chel. Aku mau ke kamar mandi dulu, boleh?"
Jujur sebenarnya Humai sejak tadi ingin menangis. Dia benar-benar menyadari jika ia menjadi pusat perhatian. Dirinya benar-benar merasa malu di hadapan semua orang yang hadir disana.
"Gak perlu ke kamar mandi, Mai. Disini saja, kamu bisa membersihkannya," ucap Rachel yang membuat Humai mendongak.
Tatapan keduanya bertemu. Bisa Humai lihat tatapan penuh kebencian masih ada dan tercetak jelas di mata Rachel.
"Apa maksud kamu, Chel. Dimana aku bisa bersihin gaun ini?"
"Ayo, aku antar kamu!"
Rachel memegang tangan Humaira. Dia dibantu berjalan oleh Rachel karena kakinya sakit. Sefira tak bisa melakukan apapun, karena antek-antek Rachel memegang tangan kanan dan kirinya.
Mereka berjalan dengan pelan. Humaira berada di sebelah kiri tepat sampingnya kolam renang. Lalu Rachel berada di samping kanan.
Humaira yang kesakitan terfokus pada kakinya. Ia bisa melihat kakinya mulai bengkak. Sampai saat langkah kaki Rachel berhenti, membuat Humai mendongak.
"Kenapa, Chel?"
"Kau ingin bersih, 'kan?" bisik Rachel pada Humai.
"Iya."
"Ayo kita lanjut berjalan!"
Saat keduanya melanjutkan langkahnya. Tiba-tiba tubuh Rachel seperti hendak kepeleset dan pegangan tangannya dengan Humai terlepas.
Rachel benar-benar hampir jatuh jika dia tak menjadikan Humai pegangan. Namun, kaki Humai yang sakit membuat kaki gadis itu oleng dan,
Byur!
"Aghh!"
"Humai!" pekik Sefira terkejut.
Humaira, gadis cantik dengan nasib malang itu tercebur di kolam renang. Bukannya banyak yang menolong. Gadis itu menjadi bahan candaan. Semua teman-temannya tertawa begitu bahagia.
"Mangkanya jangan sok jadi princess!"
"Upik abu mah tetap jadi upik abu!" Hujat teman-teman Rachel.
"Jelek mah jelek aja. Jan sok cantik!" ketus teman yang lain.
Humaira menangis. Namun, dia tetap berusaha menggerakkan kakinya agar mengambang. Tapi semua itu sia-sia karena Humai memang tak bisa berenang.
"Tolong!" lirih Humai dengan kepala mulai tercelup di dalam air.
"Lepas!" Sefira mendorong antek-antek Rachel hingga dia bisa terlepas.
Tanpa pikir panjang, gadis itu melepas heels yang dipakai lalu menceburkan dirinya di kolam renang. Sefira tak peduli dengan penampilannya. Dia hanya memikirkan keselamatan sahabatnya itu.
"Kamu baik-baik aja, Mai?" Sefira memeluk sahabatnya.
Dia berusaha berenang ke pinggir dengan tangan yang satunya memegang tubuh Humai.
Gadis itu mulai batuk-batuk. Humaira benar-benar merasa lemah. Air keluar dari mulutnya dengan nafasnya yang berat.
"Ya. Pahlawan selalu datang, Chel!" bisik teman-teman Rachel.
"Biarkan saja! Yang terpenting kita sudah berhasil mempermalukannya."
Rachel tersenyum penuh kemenangan. Dia memang dari dulu tak menyukai Humai. Gadis itu adalah saingan dirinya. Humai yang pintar membuat Rachel tak bisa mengalahkannya. Ditambah Humai yang selalu sok polos dan sok baik menurutnya semakin membuat Rachel muak dan memendam kebencian.
"Gimana? Bersih, 'kan?" tanya Rachel kembali ke sikapnya semula.
Gadis itu berdiri di depan Humai dan Sefiea yang telah basah kuyup. Rachel itu menatap keduanya dengan rendah.
"Sampah!" seru Rachel dengan pandangan penuh jijik. "Kalian cocok dengan penampilan seperti ini. Terlihat semakin cantik!"
"Kau!"
Humai menggenggam tangan sahabatnya. Dia berusaha menenangkan sosok Sefira.
"Ayo kita pergi!"
Sefira lekas membawa sahabatnya itu pergi. Mereka benar-benar terlihat sangat kacau dengan pakaian yang seperti ini.
"Kita ke kamar mandi dulu aja, Mai. Aku yakin kamu gak nyaman, 'kan?"
"Tapi kamar mandinya dimana?" tanya Humai dengan wajah yang sudah terlihat pasrah.
"Ayo!"
Sefira akhirnya bertanya pada orang yang bertugas seperti bagian dekorasi. Keduanya segera mengucapkan terima kasih dan menuju ke kamar mandi.
Tak ada kata apapun yang keluar dari bibir Humai. Kulit gadis itu kedinginan dan tanpa sadar air matanya mengalir.
Humai benar-benar merasa malu. Dia juga sadar telah dipermalukan di hadapan semua orang. Dirinya yang lemah terus tak bisa melawan. Hanya bisa menangis dan menerima segala hal yang dilakukan oleh orang-orang kepadanya.
"Masuklah dulu, Mai. Aku akan mengambilkan pakaian untukmu!" kata Sefira yang membuat Humai mendongak.
Tatapan sepasang sahabat itu saling bertatapan. Humaira merasa menyesal tak mengikuti perintah sahabatnya.
"Maafkan aku, Fir. Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini," kata Humai dengan meneteskan air mata.
Sefira menggeleng. Gadis itu menghapus air mata Humai yang mengalir lalu tersenyum.
"Semua sudah terjadi dan tak perlu kita sesali. Yang terpenting jadikan semua ini sebagai pelajaran kedepannya," kata Sefira menasehati. "Jangan mudah terkecoh dengan maaf seseorang. Jangan pernah merasa takut pada orang lain. Kamu harus berani!"
Humaira terisak. Dirinya benar-benar merasa rendah. Dia juga benar-benar menyadari bila semua orang yang disana bahagia melihat keadaannya yang kacau.
"Sudah jangan menangis, Mai. Aku masih disini dan setia bantuin kamu."
"Aku malu sama kamu. Aku menyesal," lirihnya dengan pelan.
"Aku baik-baik saja, Mai," kata Sefira meyakinkan. "Sekarang ayo kamu masuk. Aku akan menyuruh supir aku mengambil baju agar kamu gak kedinginan."
"Terus kamu mau kemana?"
Sefira menunjuk kakinya dan membuat Humai juga menunduk.
"Sepatu aku ketinggalan. Aku mau ambil dulu. Gapapa, 'kan? Kamu nunggu aku di kamar mandi. Sebentar kok!"
"Iya gapapa."
Akhirnya Humaira mulai masuk. Dia segera membersihkan wajahnya yang belepotan dengan tisu yang ada disana. Make upnya yang terkena air tentu meluber kemana-mana.
Dia membersihkannya sampai bersih meski tak bisa sebersih semula. Humaira mulai merasa kedinginan. Gadis itu duduk diatas closet duduk dengan mengusap lengan kanan kirinya.
Sefira telah mengatakan untuk menunggunya dan gadis itu akan mengetuk jika sudah ada di depan.
Tok tok.
Humai segera beranjak berdiri. Dia tersenyum lebar karena berpikir pasti itu Sefira.
"Kamu, Fir?"
Humai lekas keluar. Namun, dia menatap sekeliling dan kosong. Hingga saat dirinya hendak kembali masuk ke dalam kamar mandi. Sebuah pukulan di tengkuk lehernya membuat Humaira spontan mengerang.
"Aww!"
~Bersambung
Hiks, makin ngenes, 'kan. Kira-kira siapa yang pukul Humai dan apa yang akan terjadi dengannya?
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah..Biar author semangat ngetiknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Pia Palinrungi
humai kamu harus ubah sikap ttp baik tp jgn mau direndahkan kamu harus melawan
2023-04-01
0
andi hastutty
siapa lagi yg jahat main culik2 ?
2023-02-07
0
☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀
ya Tuhan... belum juga datang ganti baju nya, sudah ada pula yang memukulnya 🥺🥺🥺
2022-10-21
0