...Aku sudah pernah dihancurkan melalui mental hingga sikapku selalu memikirkan perasaan orang lain daripada perasaanku sendiri....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
"Apa ini gak terlalu terbuka, Fir?" tanya Humaira saat dirinya dipakaikan sebuah gaun dengan bentuk leher sabrina yang menunjukkan bagian pundaknya.
Sungguh penampilan Humaira malam ini begitu cantik luar biasa. Meski gadis itu memiliki kulit coklat tak putih dan wajah berjerawat tak bisa menutupi kecantikan Humai saat ini.
Kulitnya yang begitu eksotik semakin terlihat seksi dengan dandanan minimalis dan mampu menutupi bekas jerawat Humaira. Tangan Sefira benar-benar berhasil menyulap gadis itu menjadi sosok yang berbeda.
"Nggak, Mai. Ini udah gaun yang paling pas buat kamu," buat Sefira pada sahabatnya.
"Tapi ini," kata Humai menunjuk pundaknya yang terbuka.
"Iya hanya itu saja yang terlihat. Yang lain, 'kan, tertutup?"
Humaira meneliti penampilannya lagi dari atas sampai bawah. Berulang kali gadis membenarkan bagian depannya agar sedikit ke atas.
"Percayalah padaku, Mai. Kamu harus percaya diri dan jangan pernah menunduk."
Akhirnya semua persiapan telah selesai. Tepat jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam, Humaira dan Sefira berangkat bersama menuju tempat dimana berlangsungnya ulang tahun Rachel.
Sejak tadi, Humaira terus menggerakkan jari jemarinya. Hal itu tentu membuat Sefira lekas menggenggam tangan Humai.
"Tarik nafas dan buang. Aku yakin kegugupan kamu bakalan hilang," kata Sefira pada Humai.
Gadis itu menurut. Humaira menarik nafasnya begitu dalam lalu membuangnya. Kemudian gadis itu perlahan merilekskan tangan dan kakinya agar tak tegang.
Jujur baru kali ini dia berpenampilan seperti itu. Di susunan lemari Humai, tak ada gaun seperti ini. Penampilannya yang selalu sederhana tentu membuatnya merasa takut ketika memakai pakaian seperti ini.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit. Mobil yang dikendarai oleh supir Sefira mulai memasuki perumahan dengan deretan rumah-rumah besar dan luas.
Humaira bahkan sampai menatap takjub kanan kirinya itu. Dia tak menyangka jika di Malang ada perumahan sebesar ini. Dirinya yang terlalu fokus dengan kuliah dan bekerja, membuat hidupnya selama hampir 21 tahun tanpa bermain kemanapun.
"Ayo, Mai," ajak Sefira mengulurkan tangannya.
Terlalu banyak melamun membuat Humaira tak menyadari jika mereka telah sampai. Gadis itu segera menerima tangan Sefira dan mulai turun.
"Bisa, 'kan, pakai heels?" tanya Sefira pada Humai.
Humai mengangguk. Heels yang ia kenakan hanya 5 cm dan membuatnya nyaman. Meski dirinya tak pernah memakai sepatu jinjit tapi jika tingginya sekecil ini, ia masih menguasai.
Dari tempat mereka berdiri, keduanya bisa melihat rumah besar yang sudah disulap bak ulang tahun seorang princess. Banyak kerlap kerlip lampu, hiasan bak princess dengan balon yang begitu cantik luar biasa.
Humaira dan Sefira mulai melangkah memasuki tempat acara. Dia terus menggenggam tangan Sefira saat keringat dingin mulai terasa.
"Mai, tenang," bisik Sefira saat mereka mulai mengantri untuk memberikan surat undangan sebagai syarat masuk.
Suara musik yang kencang membuat suasana rumah ini semakin meriah. Mereka langsung melangkah masuk saat keduanya sudah diizinkan.
"Rumahnya besar ya, Fir," kata Humai saat mereka mulai berjalan menuju tempat dimulainya acara.
"Jangan melepas pegangan tanganku, oke. Jangan menjauh sedikitpun. Kamu harus ada bersamaku," kata Sefira pada sahabatnya.
Humaira menurut. Dia juga tak mau sendirian disini. Dirinya akan terus ada di samping Sefira karena bersama sahabatnya ia merasa tenang dan nyaman.
Perlahan kedatangan keduanya menjadi pusat perhatian Rachel yang sedang bersenda gurau dengan sahabat-sahabatnya. Mereka menatap ke arah Humai dengan pandangan tak suka. Namun, berbeda dengan Rachel, perempuan itu menghampiri keduanya dengan langkah seksi dan dagu yang diangkat.
"Ah kalian benar-benar datang ke ulang tahunku," kata Rachel dengan senyuman manis. "Terima kasih yah. Semoga kalian nyaman berada di acara semewah dan sebesar ini."
Sefira merasa tak nyaman dengan nada suara Rachel. Namun, berbeda dengan Humaira. Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ini kado untukmu," kata Sefira dengan malas.
Gadis itu memberikan sebuah paper bag dengan pita lalu memberikannya pada Rachel.
"Oh, kau sangat romantis dan baik, Sefira. Terima kasih hadiahnya," kata Rachel dengan menerima kado itu.
"Ini dariku," kata Humaira memberikan sebuah kotak kecil dengan pita merah di atasnya.
"Ah kau membawa hadiah juga untukku, Mai?" tanya Rachel dengan menerima hadiah itu.
"Iya. Maaf mungkin hadiahku terlalu kecil untukmu."
Rachel tersenyum misterius. Dia menepuk pundak Humai dengan pelan.
"Sekecil apapun hadiah darimu, itu sudah berarti buat aku. Apalagi kedatanganmu disini sudah cukup membuatku bahagia."
Akhirnya Rachel mulai menjauh dari keduanya. Dia berjalan kembali ke arah sahabat-sahabatnya. Mata Sefira terus menatap kepergian Rachel. Hal yang membuat gadis itu takut saat Rachel membuka kado Humaira dan menjatuhkannya di bawah kakinya.
Lalu dengan sadis gadis itu menginjakkan dengan kuat. Tanpa sadar apa yang Sefira liat membuat gadis itu mengepalkan tangannya dan membuat Humai meringis kesakitan.
"Kamu kenapa, Fir?"
"Maaf, Mai. Maaf," ucap Sefira sambil mengusap jemari sahabatnya itu. "Aku tak sengaja melakukannya."
"Apa kamu lagi marah sama orang?"
Ya, aku marah pada diriku jika tak bisa melindungimu. Kamu terlalu baik untuk mereka yang tak bisa menghargaimu, batin sefira dengan menatap sahabatnya itu.
"Fir!"
"Ya gak papa, Mai. Aku lagi senam jari aja tadi."
Sefira menghela nafas berat. Dia bersyukur Humaira tak melihat apa yang dilakukan oleh Rachel.
Tak lama, acara ulang tahun dimulai. Semua orang mulai mendekat ke arah Rachel yang hendak melakukan potong kue dan tiup lilin. Mereka mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan diiringi tepuk tangan.
Humaira tersenyum lebar. Dia ikut menyanyi dengan bahagia. Sefira yang melihat wajah sahabatnya ikut tersenyum.
"Untuk semua teman-temanku, terimakasih atas kehadiran kalian semua di acara ulang tahunku ini. Aku merasa bahagia dengan adanya kalian di rumahku ini," kata Rachel memulai sambutannya setelah melakukan pemotongan kue. "Ah iya, aku juga berterima kasih pada, Humai. Telah meluangkan waktu untuk datang ke acaraku."
Akhirnya semua mata tertuju pada sosok Humaira. Banyak yang terpesona dengan penampilan gadis itu. Namun, tidak dengan para teman fake yang tetap menatap Humai dengan benci.
"Bisakah Humai naik ke sini. Aku ingin memberikan potongan kue ini sebagai permintaan maaf."
Sefira lekas menarik tangan sahabatnya. Dia menggelengkan kepala berusaha meyakinkan Humai untuk menolak.
"Plis, Mai. Aku ingin menyuapimu."
Hati Humaira yang lembut. Akhirnya mulai menatap Sefira dengan tatapan tulusnya. Gadis itu berusaha meyakinkan sahabatnya.
"Jangan!"
"Aku pasti baik-baik saja. Aku yakin itu."
Akhirnya Sefira dengan terpaksa melepas tangannya dari lengan Humai. Dengan pelan, gadis itu mulai melangkah menuju sebuah panggung kecil yang ada disana. Humai berjalan dengan hati-hati karena kanannya adalah sebuah kolam renang begitu jernih.
Hingga saat dirinya hampir sampai ke tangga panggung. Tiba-tiba sebuah kaki menjegal Humai dan membuat gadis itu terjatuh.
"Aghh!"
~Bersambung
Siapin stok sabar baca next bab yah. Rasanya ngetik ini bikin darting mulu. Huftt.
BTW kalau malam aku gak update berarti naskahku ketahan. Yang pasti aku sehari update dua bab yah. Jadi kalau gak nongol berarti ketahan. Kalian bisa liat di instagram aku, aku selalu info disana.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Like bab sebelumnya juga. Kalian keseriusan baca sampai lupa like loh, hiks.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Pia Palinrungi
beginilah kalau orang terlalu baik, nggak perna curiga sedikit pun
2023-04-01
0
andi hastutty
humai sudah sudah diingatkan ma Safira tetap ajha ngeyel yah malu kan
2023-02-07
0
Raffa Iskandar
hatimu terlalu baik humai selalu jadi bahan bulan"an orang ta berperasaan
2023-01-26
0