...Terkadang musibah pernah membuatku hampir menyerah dengan keadaan tapi mengingat bahwa ujian tidak akan melebihi batas kemampuan manusia, aku mencoba untuk menerimanya....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya Humaira menghubungi Sefira. Dia mengabarkan kejadian terjadi pada ibu dan adiknya. Sefira adalah satu-satunya orang yang ia punya di dunia ini setelah Shadiva dan Rein.
Dia benar-benar sudah tidak tahu harus meminta bantuan siapa. Dirinya hanya ingin meminta tolong Sefira menjaga di rumah sakit dan memberikan kabar terbaru tentang Rein selama dirinya mengatur pemakaman ibunya.
Namun, sebelum jenazah dibawa pulang. Humaira dipanggil oleh dokter. Gadis yang sudah lemah dengan keadaan ibunya dipaksa harus siap mendengar apalagi yang terjadi pada adiknya.
Gadis itu hanya berharap semoga tak ada lagi berita buruk. Dia berdoa pada Tuhan semoga adiknya selamat. Dirinya benar-benar tak tahu bagaimana jadinya jika Rein pergi meninggalkannya juga.
Humaira tak mau sendirian. Dia belum sanggup kehilangan dua orang yang sangat ia cinta secara bersama-sama. Menurutnya ini benar-benar hal yang paling menyakitkan setelah kehilangan almarhum ayahnya.
"Bagaimana kabar adikku, Dokter? Dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Humaira dengan tak sabaran.
Saat ini gadis itu berada di ruangan seorang dokter syaraf yang membantu penanganan Rein. Jantungnya terus berdegup kencang menunggu apa yang akan dijelaskan oleh dokter kepadanya.
"Saya ingin menyampaikan tentang keadaan adik Anda," kata Dokter memulai pembicaraan. "Pasien mengalami benturan yang cukup keras pada mata dan kepalanya. Lalu kakinya juga terjepit karena hantaman keras mobil ke pembatas tol."
"Katakan secara jelas, Dokter. Jangan berbelit-belit. Apa yang terjadi pada adikku?" seru Humaira dengan perasaan campur aduk.
Nafas gadis itu tak beraturan. Dia merasakan jantungnya mencelos saat mendengar kabar tentang Rein barusan. Dirinya benar-benar ingin segera menemui adiknya walau sebentar. Namun, mendengar kabarnya, Humai tak yakin jika diizinkan untuk bertemu.
"Adik Anda mengalami gegar otak dan juga kakinya harus dioperasi. Untuk matanya, dugaan terberat menurut saya adalah adik Anda mengalami kebutaan."
Jantung Humai seakan ditarik dari tempatnya. Gadis itu mematung dengan mata tanpa berkedip. Dirinya benar-benar shock mendengar keadaan adiknya, Rein.
"Itu nggak mungkin, 'kan, Dok? Dokter bohong, 'kan?"
Dokter itu menggeleng. Dia memberikan ct scan kepala dan kaki Rein pada Humaira. Dokter juga menjelaskan apa saja yang akan dilakukan oleh Rein pagi ini juga.
"Kami akan melakukan operasi pada pasien pagi ini juga. Pasien harus segera ditangani, jika tidak. Kami takut nyawa…"
"Jangan membahas tentang nyawa seseorang, Dokter?" seru Humaira marah. "Dokter bukan Tuhan. Tak bisa memperkirakan kapan manusia hidup dan mati."
Humaira terlihat begitu marah. Dia tak suka mendengar kabar buruk tentang Rein. Gadis yang saat ini menopang harapannya pada Rein hanya bisa berdoa dan berharap semoga adiknya baik-baik saja.
Semoga Rein mampu bertahan untuknya, mau menemaninya di dunia yang jahat ini agar dirinya tak sendirian.
"Tolong tanda tangani surat ini sebagai persetujuan bahwa Anda setuju pasien melakukan operasi," kata dokter menyodorkan map itu pada Humai.
Gadis itu mengangguk. Tanpa pikir panjang, Humaira menandatangani berkas itu. Menurutnya saat ini yang terpenting adalah keselamatan Rein terlebih dahulu.
Dia tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang Humai tahu, dia hanya ingin berusaha terlebih dahulu. Apapun hasilnya semua ada pada takdir Tuhan.
"Mai, gimana?" tanya Sefira yang ternyata sudah ada di depan ruangan dokter.
Humaira merasa memiliki sedikit kekuatan saat melihat sahabatnya ada disini. Dia bahagia memiliki sedikit sandaran meski hanya sosok sahabatnya saja.
"Rein akan melakukan operasi pada kepala dan kakinya," lirihnya dengan pelan.
"Lalu, Tante?" tanya Sefira yang belum tau kabar ibu Humai.
Air mata gadis itu luruh saat Sefira menanyakan tentang ibunya. Dia benar-benar tak kuat dengan keadaan seperti ini. Namun, mau bagaimana lagi.
Semua yang terjadi tak bisa ia hindari. Salah satu jalan yang hanya bisa Humai lakukan adalah menerimanya dengan ikhlas.
"Ibuku meninggal di tempat, Fir."
"Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un." Sefira terlihat terkejut.
Gadis itu bahkan sampai menarik tubuh Humai ke dalam pelukannya.
"Aku tak punya ibu, Fir. Aku tak memiliki siapapun lagi," lirih Humai yang terlihat begitu lemah. "Semua meninggalkanku sendirian disini. Ayahku lalu sekarang ibuku. Apa aku ditakdirkan untuk sendirian?"
"Ustt!" Sefira menggeleng.
Dia mengusap punggung Humai dengan pelan agar perasaan sahabatnya menjadi tenang. Bahkan Sefira membiarkan sahabatnya menumpahkan segala hal yang ia pendam dalam hatinya.
Apapun yang dikatakan oleh Humai tak ia sela sedikitpun. Dirinya membiarkan sahabatnya merasa lega setelah semuanya tersampaikan dan keluar dari pikirannya.
"Aku ingin bebas tapi bukan bebas seperti ini, Fir. Aku ingin ibuku ada disini. Menyayangiku seperti menyayangi Rein. Bangga kepadaku lalu selalu memeluk tubuhku dan mengusap kepalaku. Aku hanya ingin itu saja. Tak ada lagi harapan lain."
Sefira mencoba menegakkan tubuh Humai. Dia menaikkan kepala sahabatnya agar pandangan keduanya bisa bertemu.
"Kamu tau, 'kan? Manusia adalah tempatnya berencana. Namun, rencana yang baik tetap pada Tuhan," kata Sefira penuh hati-hati. "Kamu memang menginginkan itu tapi menurut Tuhan. Jalan ini adalah jalan yang terbaik buat kamu, Rein dan Tante."
Sefira menggenggam kedua tangan Humai. Dia menyalurkan semangat dan kekuatan dalam diri sahabatnya itu.
"Aku sudah sendirian, Fir. Aku…"
"Jangan katakan itu!" seru Sefira dengan marah. "Kamu tak sendirian. Ada aku dan Rein disini. Kita akan berjuang bersama dan berdoa untuk keselamatan Rein. Aku yakin Tuhan memiliki rencana yang baik dari musibah yang terjadi hari ini."
Humaira mengangguk. Dia merasa pikirannya mulai terbuka. Bagaimanapun dirinya kalut, Sefira selalu mampu menenangkannya. Dua sahabat itu benar-benar saling membantu satu dengan yang lain.
Disaat Sefira sedih, Humai pasti ada untuknya. Begitupun sebaliknya. Jika Humai yang membutuhkan maka Sefira selalu siaga di sampingnya.
"Sekarang! Kamu harus kuat. Kamu harus mengantarkan kepergian Tante ke tempat terakhirnya," ujar Sefira yang membuat Humaira mengangguk dengan lemah.
...🌴🌴🌴...
Kabar tentang kematian Shadiva tentu menggemparkan seluruh tetangga yang mengenal keluarga Humaira. Mereka tentu langsung saling tolong menolong di rumah gadis itu.
Humai memang menghubungi Pak RT di rumahnya untuk membantu pemakaman ibunya. Semua itu tentu berjalan dengan lancar. Apalagi kebaikan hati Rein, Humaira dan Shadiva yang selalu peka akan kehidupan bertetangga. Membuat semua tetangga sangat menyukai keluarga itu.
Terlepas dari sikap Shadiva pada Humai. Ibu dua anak itu tak pernah membedakan tetangganya. Bahkan dia selalu mau membantu jika ada tetangganya yang susah. Hal itulah yang membuat pemakaman ibu Humai benar-benar tak mengalami kesulitan.
Saat tubuh yang sudah dibalut kafan putih itu tertutup sempurna oleh tanah. Disitulah Humai menjatuhkan tubuhnya. Dia memeluk gundukan tanah itu dengan menangis.
"Ibu benar-benar pergi ninggalin Humai dan Rein sendirian," ujar Humai dengan isakan yang terdengar menyakitkan. "Doakan Humai bisa kuat ya, Bu. Doakan Humai mampu meneruskan hidup meski semua yang Humai miliki telah pergi dan hilang."
~Bersambung
Ah setelah ini kehidupan yang sebenarnya bakal mulai dijalani oleh Humai. Kuat ya, Mai. Ada aku disini yang dukung kamu.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Rita Wati
apa &kenapa bisa terjadi kecelakaan....
2023-07-17
0
Pia Palinrungi
humai kamu bisa melewati semuanya yakinlah, akan indah pd wktnya
2023-03-31
0
andi hastutty
sabar dan kuat humai ikhlaskan segalanya semua menjadi ketetapan Allah masih ada adikmu dan Masya Allah punya sahabat sebaik dan sesetia i2
2023-02-07
0