...Melihat wajahnya yang polos tak bisa menjamin jika hati dan pikirannya sama polosnya. Bisa saja itu hanya sebagai topeng agar mereka bersimpati dan mendapatkan apa yang mereka inginkan....
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya tak ada lagi yang mampu merubah keputusan Humai. Mama Ayna dan Haidar menerima permintaan gadis itu dengan baik. Mereka tahu betul bagaimana jiwa Humai saat ini.
Pasti gadis itu masih terguncang akan apa yang sudah terjadi padanya. Humaira pasti merasa trauma dan takut tapi dia pendam sendiri. Gadis itu sudah tak bisa membedakan mana dirinya yang bahagia dan sedih.
"Sebagai permintaan maaf anak Tante. Kamu boleh minta apapun dari kami," tawar Mama Ayna yang membuat Humaira mendongak.
Dia menatap pasangan suami istri itu tak percaya. Dirinya terkejut ditawari hal yang sangat besar ini. Namun, mengingat bagaimana kehidupannya kali ini. Bagaimana keadaan Rein yang membutuhkan uang banyak di sela uang tabungannya habis.
Humai mulai berpikir suatu hal.
"Kamu bisa minta apa saja sebagai permintaan maaf dari Om dan Tante yang gagal mendidik anak."
Humaira menggelengkan kepalanya. "Tak ada yang namanya gagal, Tante. Semua sudah Om dan Tante lakukan. Tinggal kami lah, generasi anak yang seharusnya belajar untuk menerapkannya di dunia nyata."
Mama Ayna menatap Humaira dengan pandangan sendu. Dia kagum dengan cara berpikiran Humaira. Dia yang disakiti, dia yang dilukai tapi gadis itu tak marah sedikitpun.
Hal itulah yang terkadang membuat Mama Ayna menjadi takut. Dia takut terlalu banyak dikecewakan oleh keadaan maka sikap Humaira akan seperti ini terus.
"Katakan pada, Tante. Apa yang bisa Tante bantu untuk kamu," bujuk Mama Ayna dengan menggenggam tangan Humai.
Humaira seperti malu untuk mengatakannya. Namun, dia tak bisa menahan semuanya. Ia juga membutuhkan itu, bukan dirinya saja. Rein juga butuh banyak perawatan.
"Humaira ingin uang, Tante."
"Nah! Lihat, Ma, Pa!" seru Syakir dengan cepat. "Keluarlah bulu busuknya itu."
Syakir menatap remeh ke arab Humaira. Dia semakin menatap penuh kebencian sosok gadis yang sangat amat membuatnya ingin sekali pergi dari sana.
"Aku sudah tau niat busukmu itu. Kau hanya ingin uang. Jadi kau menjebakku."
"Syakir diam!"
"Kenapa Mama dan Papa terus membelanya?" seru Syakir tak terima.
Pria itu beranjak berdiri. Dia menatap Humai dengan pandangan semakin penuh kebencian dan amarah.
"Aku pastikan Mama dan Papa menyesal telah berbuat baik dengan wanita murahan ini!"
Setelah mengatakan itu, Syakir lekas berjalan menaiki tangga. Dia masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu dengan keras.
Hal itu sebenarnya membuat Humaira malu. Kepalanya menunduk tak mau menatap kedua wajah orang tua Syakir.
"Jangan dengarkan ucapan putraku, Humai. Maafkan setiap ucapannya yang menyakiti kamu."
Humaira menepis air mata yang kembali menetes. Dia berusaha menahannya sejak tadi tapi tetap saja tak bisa. Humaira benar-benar berada di titik bingung.
Di satu sisi, ia butuh uang untuk pengobatan Rein selanjutnya. Namun, di sisi yang lain. Dia memikirkan tentang nasibnya bagaimana jika ia benar-benar hamil.
"Kirimkan nomor rekening kamu, Nak. Tante dan Om akan mentransfernya."
Humaira akhirnya menatap sekeliling. Sampai ia menyadari jika tas lamanya itu ada di ruang tamu Syakir. Dia benar-benar sadar jika terakhir kalinya ada di kamar mandi. Lalu entah bagaimana caranya tiba-tiba ia terbangun ada disini.
"Ini, Om," kata Humai menyerahkan nomor rekeningnya.
Tak sampai lima menit. Bunyi notifikasi di ponselnya membuat Humai segera mengeceknya. Matanya terbelalak tak percaya membaca deretan uang yang dikirimkan secara langsung oleh orang tua Syakir.
"Ini terlalu banyak, Om," kata Humaira setelah hatinya mulai tenang. "Humai akan kembalikan…!"
"Tidak perlu, Nak!" Mama Ayna menggeleng.
Dia menggenggam kedua tangan Humai hingga kedua mata itu saling bertatapan.
"Tante hanya ingin kamu jangan menutupi apapun yang terjadi sama kamu. Jika kamu hamil, kamu harus kabarin Tante dan Om."
Mama Ayna menatap Humai penuh harap. Dia benar-benar menunggu saat itu tiba. Bahkan ibu kandung Syakir berdoa semoga apa yang dia inginkan, cepat Allah kabulkan.
"Tante juga minta nomor kamu boleh?"
"Boleh, Tante."
Humaira lekas memberikan nomor teleponnya. Setelah itu, dia segera melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari sahabat dan dua perawat yang menjaga adiknya, Rein.
"Humai mau pamit, Om, Tante," kata Humaira dengan sopan. "Humai harus pergi sekarang juga!"
"Kenapa tidak nanti saja, Nak. Tante masih ingin berbicara sama kamu."
Humaira menatap Ayna yang benar-benar menatapnya penuh harap. Namun, melihat banyak sekali panggilan kepadanya membuat Humai takut jika terjadi sesuatu pada Rein.
"Tante bisa hubungi Humai lain waktu dan kita akan bertemu. Untuk sekarang, Humai benar-benar harus pergi!"
Akhirnya Mama Ayna tak memaksanya. Tanpa diminta dia segera memeluk gadis yang telah dihancurkan oleh putranya itu.
Jika dibandingkan dengan kecantikan Rachel. Humaira tetap jauh dibawahnya. Namun, jika diadu oleh sikapnya, sifatnya dan tingkah lakunya. Rachel tertinggal jauh oleh Humaira.
"Ayo Om anter!" kata Papa Syakir yang langsung ditolak oleh Humai.
"Humai bisa naik ojek online, Om."
"No!" kata Haidar menggeleng.
"Kalau kamu tak mau diantar oleh Om dan Tante. Maka kamu harus mau diantar oleh Sekretaris Putra Tante."
Akhirnya Humaira tak mendebatnya lagi. Dia ingin segera sampai ke rumah sakit. Sebelum pergi, Humai segera mengambil tangan Haidar dan Ayna bergantian lalu menciumnya.
"Jangan lupa beritahu Tante apapun yang terjadi yah! Tante adalah salah satu orang yang akan menjagamu."
"Baik, Tante."
Sepeninggal Humaira. Ayna segera berjalan menyusul putranya. Dia sangat tahu tabiat Syakir sejak kecil. Pria itu akan mengurung dirinya di kamar jika ada masalah berat yang dia hadapi.
"Untuk apa Mama kemari?" tanya Syakir tanpa menoleh ke belakang. "Aku heran saja. Anak Mama itu aku atau dia?"
"Kamu!" balas Ayna dengan tegas. "Tapi dia juga akan menjadi calon anak Mama."
Syakir spontan beranjak duduk. Dia menoleh ke belakang dan menatap mamanya yang bicara tanpa main-main.
"Apa maksud, Mama?"
"Mama ingin dia benar-benar hamil agar kamu segera menikahinya, Syakir!"
"Apa Mama berharap putra Mama menikah dengan wanita sejelek itu?"
"Sudah cukup untuk menghinanya, Syakir!" kata Mama Ayna menatap putranya dengan tajam. "Kamu belum tahu bagaimana kehidupannya dan apa saja yang dia lakukan. Jadi jangan pernah menilai sebelum kamu melihat secara langsung!"
"Tak perlu melihatnya secara langsung, Ma! Melihatnya meminta uang sudah membuat Syakir yakin jika dia adalah wanita panggilan yang hanya ingin memeras uang kita."
Syakir lekas kembali beranjak membaringkan tubuhnya. Dia membelakangi mamanya yang sedang menatap ke arah punggungnya.
"Kita lihat saja nanti, Nak. Mama yakin Humai tak seperti yang kamu pikirkan!"
~Bersambung
Biarin sekarang mah terusin aja dajjalnya ya, Kir. Ntar lama-lama juga nanges hahaha.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Masripah Ipah
mama anya mertua idaman baget iiih
2023-03-15
0
andi hastutty
Syakir saya doakan nanti bucin ma Humairah
2023-02-07
0
Raffa Iskandar
kamu bakal nyesel syakir telah menuduh wanita soleha dan anak yatim piyatu yg telah kamu rusak atas jebakan kekasih tercinta mu
2023-01-26
0